
"Aaa ...!" Sella memekik tertahan.
Mendengar permintaan Sella, Alrega membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tentu saja Sella berteriak karena malu, ia kan belum pakai baju.
Alrega menegakkan separuh badannya, menggunakan satu siku untuk menopang, meletakkan sebelah tangannya di atas dada Sella dan mencengkram dengan kuat di sana. Ia menatap Sella dengan alis yang bertaut dan rahang yang mengeras.
Ia berkata dengan suara rendah, "apa kau mau menanggung resikonya,?"
'Memangnya apa yang akan terjadi pada ibu. Hei, ibu akan baik-baik saja. Aahk, hss... ini sakit, tau?'
Apa yang dilakukan Alrega membuat Sella mengkerut, ia justru mendesah karena permainan tangan Alrega di dadanya. Reflek ia mengangguk.
"Baiklah. Tapi kalau kau tidak siap, kuhabisi kau nanti." Alrega berkata sambil beranjak bangkit dalam keadaan polos.
'Dasar tidak punya malu'
"Tunggu, pakai dulu handukmu!" Sella berkata sambil mengasongkan handuk yang tadi dilepaskannya.
Alrega kembali mendekat, membungkuk di sisi tempat tidur dan berkata sambil menyeringai.
"Kenapa ...? Bukan kah kau suka aku seperti ini?"
Ahk, Sella sangat malu dikatai seperti itu. Tapi, yang dikatakan Alrega itu benar, ia memang mengagumi tubuh atletisnya, ia membelai otot ramping dilengannya dada, perut, punggung dan semua yang ada pada Alrega saat melakukan aktivitas intimnya. Pria itu sudah mampu mengacaukan prinsipnya. Buktinya ia begitu menikmati permainan Alrega.
Sella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saat Alrega mendekati wajahnya. Lalu Alrega menarik tangan itu dan mengusap lembut pipinya kehangatan yang diberikan Alrega, membuat Sella terbuai.
"Apa kau mau mengulanginya lagi, Sese ...?"
Sella membeliak, mendengar Alrega memanggilnya dengan panggilan kesayangan dari keluarga dan sahabatnya. Apa itu artinya ...
"Tidak!" Dengan cepat Sella menjawab dan segera bangkit, dengan menggulung selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sella melangkah cepat menuju kamar ganti dan segera memakai pakaiannya. Sementara Alrega terkekeh melihat tingkah Sella dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Alrega dan Sella beejalan menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Kedua tangan mereka saling menggenggam, dengan wajah yang malu-malu. Tentu saja itu memalukan, mereka sarapan kesiangan.
Alrega melihat suasana yang berbeda di rumahnya, banyak sekali bunga anggrek dalam pot di beberapa sudut ruangan, bahkan di atas meja. Ia belum sempat melihat dan memeriksa kamera CCTV, hingga ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia melirik pada Sim yang berdiri di dekat meja makan, tengah menunduk hormat padanya.
"Selamat siang, tuan." Ya, pak Sim, kau benar. Ini sudah menjelang siang.
"Hmm ... Apa yang terjadi?" tanya Alrega.
Mereka berdua sudah duduk di meja makan, Sella masih sibuk menaruh beberapa makanan di piring Alrega, sambil menatap pak Sim. Tidak ada siapapun selain mereka, karena semua anggota keluarga yang lain sudah melakukan aktivitas masing-masing.
Pak Sim melirik pada Sella, ketika mendengar pertanyaan dari Alrega.
Ia menjawab dengan wajah ceria, "Ini semua karena nona muda, tuan. Tadi nonya Zani turun dari kamarnya dan sarapan di meja ini."
Alrega menoleh pada Sella, yang masih mengunyah makanannya dengan acuh, seolah-olah pembicaraan antara pak Sim dan Alrega tidak ada. Mungkin karena aktivitasnya dengan Alrega yang membuatnya kembali merasa lapar.
Alrega menyimpan sendok dan garpunya lalu tangannya terulur untuk memegang dagu sella agar gadis itu menatap ke arahnya.
'Apa, apa memangnya? Apa aku salah kalau ibu makan di sini?'
"Kenapa ...?" Sella bertanya setelah wajah mereka saling berdekatan.
"Kenapa kau tidak mengajakku?" Alrega protes dengan Sella yang tidak memberi kabar tentang agenda membawa Zania keluar kamar. Ia tampak khawatir saja.
"Maaf ... Belum waktunya."
'Apa mungkin besok pagi, hari ini cukup dia makan sendiri. Dia tidak berulah saja, sudah membuatku bersyukur'
Alrega mengusap dagu Sella lembut dan menarik lebih dekat ke arahnya. Sella mengerti, ia mengangkat dagunya dan membiarkan Alrega mencium bibirnya sekilas.
"Katakan apapun rencananya, atau akan kutambah hukumanmu." Alrega berkata sambil melepaskan tangannya dari dagu Sella dan kembali menghabiskan makanannya.
'Menambah hukuman ku seperti apa lagi hari-hariku sudah berat sekarang karena harus melayani minatmu!'
"Baik." Sella menyahut dengan malas.
Suasana hening, yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan piring, hingga makanan yang ada dihadapan mereka berdua habis.
'Aku kenyang sekali, aku sarapan dua kali'
Sella melihat makanan di piring Alrega sudah habis, dan ia sedang minum, ia berkata.
"Jadi, di mana kau menyimpan kuncinya, sayang?"
Alrega mengernyit, lalu menoleh pada sella, lalu berdiri dari kursinya, dan melemparkan tisu yang ia gunakan untuk mengelap mulutnya.
__ADS_1
Ia berkata, "jangan bermimpi aku akan memberikannya sekarang!"
"Tapi kenapa?" Sella beranjak mengikuti Alrega.
Alrega tidak menjawab, ia melangkah pergi keluar rumah sambil mengenakan jasnya.
"Hei ... Aku kan sudah berjanji untuk menanggung semua resikonya, tidak akan ada yang terjadi pada ibu, tidak akan terjadi apa-apa. Kenapa sih kamu tidak percaya, tuan Al? Sial... Harusnya hari ini aku sudah bisa melihat sesiap apa ibu menghadapi dunia diluar jendela!'
"Apa kau bosan menungguku?" tanya Alrega ketika berada didekat mobilnya, dan ia melihat Zen yang berdiri di sana seperti biasa.
"Saya tidak bosan tuan, Saya sudah menghabiskan dua gelas kopi." Berkata sambil tersenyum simpul.
"Lain kali kau tidak perlu menungguku."
Alrega menjawab sambil memasuki mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Zen. Hari ini ia bisa mengendalikan diri, karena harus menghadiri rapat penting di perusahaan. Tapi mungkin di lain waktu dia tidak akan menahan dirinya lagi. Bisa saja memakan waktu lebih lama, sehingga ia berpikir Zen tidak perlu menunggunya. Siapa tahu ia akan lebih sering terlambat di pagi hari.
Sella berjalan menghampiri dua orang sejoli itu lalu bertanya pada Zen.
"Hai, sekretaris Zsn, apa kau tahu tentang kunci balkon kamar nyonya, di mana Tuan menyimpannya?"
'Ayolah, katakan padaku sekarang cepat, Tuan ada di dalam mobil, dan dia tidak akan mendengar kita bicara. Kau pasti tahu kan? Tidak mungkin kau tidak tahu!'
Zen mengernyit, dan melirik Alrega dari balik jendela, sekilas. Lalu membungkukkan badannya, pada Sella.
Dan berkata, "maafkan saya Nona."
'Anda pikir saya siapa, tuan saja tidak memberikan jawaban pada anda. Kenapa saya harus memberitahu anda? Tuan menyimpannya di laci kamar kerja, dan tidak ada orang,nyang sembarangan masuk ke sana. Saya tidak akan berani memberitahu anda, karena saya masih sayang dengan nyawa saya'
Zen memasuki mobilnya tanpa melihat pada Sella yang bersungut-sungut dan menghentakkan kakinya, kesal.
'Apa-apaan dia itu. Ternyata dia pengecut!'
Sella baru saja hendak masuk ke dalam rumah, ketika ia mendengar suara sebuah mobil berhenti, didepan teras rumah besar itu. Sella segera membalikkan badannya melihat ke teras rumah, ia mengira Alrega kembali, karena berubah pikiran, dan memberikan kunci balkon kamar Zania yang dimintanya.
Sella pun melangkah dengan cepat ke arah mobil berhenti. Dan alangkah terkejutnya ia ketika kakek Mett ada dihadapannya.
"Kakek?!" Pekik Sella hampir tidak percaya.
Kakek Mett mendapatkan kabar dari perawat kepercayaannya, tentang semua yang dilakukan Sella dari kemarin, yang merencanakan akan membawa Zania keluar hari ini. Tentu saja hal ini membuat Mett ingin segera menemui anaknya itu. Rasa rindu kepada ada anak perempuannya, sudah ia tahan sekian bulan lamanya.
Pagi itu, ia begitu bahagia ketika melihat video yang diberikan oleh perawat padanya ia segera bergegas pergi ke Kaki Langit saat itu juga.
"Maauklah, kakek." Kata Sella dengan senyum sumringah.
"Ya, kau tuan rumah sekarang, lihat ... Kau tidak seperti Sese ku yang dulu." Mett berkata sambil tertawa kecil.
Saat itu mereka berdua sudah duduk saling berhadapan di sofa besar ruang tamu.
Sella menanggapi ucapan Si tua Mett dengan tersenyum malu, ia membayangkan dirinya beberapa bulan yang lalu, yang masih berpakaian dengan gaya anak jalanan ketika bertemu dengan Mett.
"Kakek ... Kau terlalu memujiku, aku masih seperti yang dulu," jawab Sella.
"Apa kau masih suka mengendarai motor? Rega punya motor yang bagus, kau suka memakainya bukan?"
Saat berkata seperti itu, ada seorang pelayan menyediakan teh hangat di atas meja. Pak Sim berdiri tegak tak jauh dari mereka.
"Tidak kakek, dia tidak mengizinkanku," kata Sela cemberut.
"Dia hanya jadi penakut, makanya kau tidak boleh naik motor itu."
"Mengapa harus takut?"
"Dia takut kalau terjadi apa-apa denganmu."
"Hais, itu berlebihan, benarkah dia takut kalau aku mengalami sesuatu?"
"Seperti itulah, kalau orang mencintai wanitanya dengan tulus. Kau tahu kan, cinta yang tulus itu seperti apa?"
"Seperti apa memangnya?"
"Dia akan cukup puas melihat orang yang dicintainya baik-baik saja, dia tidak menuntut apapun dari orang yang dicintainya."
'Haha, kalau begitu Itu dia tidak mencintaiku dengan tulus, karena dia selalu menuntutku, bahkan menghukumku, kalau aku berbuat salah sedikit saja, apa yang akan aku harapkan darinya?'
"Kakek. Cucumu orang yang sangat baik."
"Aku tahu."
Sementara itu Sella menikmati teh yang dihidangkan di hadapannya. Tak lama muncul lah Rehandy dan Marla. Mereka saling menyapa dan berbasa-basi, kaku dan tidak biasa sangat jelas terlihat diantara mereka.
__ADS_1
Dulu, saat peristiwa yang mengakibatkan depresi Zania terjadi, mereka saling menyalahkan. Padahal tidak ada yang salah dari mereka, dan semua orang. Kalau pun ada yang bisa disalahkan, maka Delisa lah orangnya yang sudah membuat malu semua keluarga.
'Hubungan antara orang kaya yang aneh'
"Kalau papa mau melihat Zania, tanyakan pada orang yang sudah merawatnya. Apakah Zania akan menerima atau tidak." Rehandy berkata sambil berdiri dan menatap Sella dengan tajam.
"Tentu. Kenapa tidak. Kakek adalah ayahnya." Sella menyahut dengan tersenyum dan meraih tangan Mett dengan lembut. Tidak ada kecanggungan padanya. Untuk apa ia harus canggung pada Si tua Mett. Toh ia juga adalah kakeknya.
"Apa kau yakin?" tanya Marla menatap Sella ragu. Dan Sella hanya mengangguk.
Sella mengajak Mett menaiki lift yang langsung menuju kamar Zania berada. Lift yang biasa digunakan untuk membawa makanan ke kamarnya.
Sesampainya di depan kamar Zania, Sella meminta Mett untuk berhenti, membiarkan bpintunya tetap terbuka. Sella masuk sendiri dan menghampiri Zenia, yang tengah duduk di depan jendela balkon kamarnya. Melihat pemandangan diluar dari kaca yang tertutup.
Sella memeluk Zania dari melakang, lalu memutar dan berlutut di depannya, menggenggam kedua tangannya, tersenyum rqmah.
Lalu berkata, "ibu siapa yang paling ingin Ibu temui, selain Alrega?"
Zania diam.
"Ibu, apakah ibu ingin menemui kakek Mett?"
Zania tetap diam, ia menatap Sella sambil mengerutkan alisnya.
Sella mengulangi perkataannya, "ibu, siapa yang ingin ibu temui selain Alrega? Apakah ibu ingin bertemu dengan papa?"
Raut wajah ekspresi Znia masih sama, dan Sella pun mengulangi kata-katanya kembali. Hingga Zania terlihat menarik nafas panjang.
Setelah itu ia berkata, "papa ada disini, papa ingin menemui ibu, papa juga merindukan ibu, papa merindukan ibu ... Bu, temui dia."
Sella memegang tangan Zania dan merangkul bahunya agar Zania berdiri dan berjalan mendekati Mett. Tampak di belakang Kakek Mett Rehandy dan Marla. Berdiri dengan waspada. Bahkan nenek tidak memakai kursi roda.
"Lihat Bu, papa ada disini, papa ada disini, papa merindukan ibu ... pasti ibu juga ingin bertemu papa bukan?"
Saat Zania melihat Mett yang berdiri di depan pintu, tiba-tiba wanita itu mendekat, dengan langkah yang cepat, lalu memeluk Mett sambil menangis dan memukuli dadanya. Itu pukulan yang halus, pukulan itu tidak keras, seolah-olah menyesali mengapa laki-laki itu baru menemuinya, setelah sekian lama. Tangisnya pilu seolah-olah menyalahkan laki-laki itu dan merasa dirinya tidak diharapkan lagi lagi oleh papanya. Ternyata rindu itu Zania pada papanya.
Mett Haquel memeluk Zunia dengan erat dan berulang kali ia berkata, "maafkan aku, maafkan aku ..." Ia memang bersalah.
Kakek Mett menganggap Zania tidak bisa menemuinya, karena akan memperparah depresinya. Padahal sebenarnya bukan, yang tidak bisa Zania ditemui adalah Delisa, Alrega dan Rehany. Perasaan Zania begitu tersakiti dengan ketiga orang ini, yang membiarkan semua peristiwa memalukan itu terjadi.
Kekecewaan begitu besar terhadap mereka, sehingga perasaannya yang lemah, manja dan tidak siap menanggung rasa malu yang begitu besar, membuatnya harus seperti ini. Berbeda dengan kakek Mett, di dalam alam bawah sadarnya, Zania tidak akan menyalahkan ayahnya. Ia tetap mengharapkan ayahnya datang dan menemaninya, atau membawanya pergi. Tapi semua orang salah menanggapi.
Saat melihat bahwa tidak ada kejadian yang perlu dikhawatirkan, Rehandy dan Marla pun turun kembali ke bawah, dan membiarkan keluarga kecil itu, membayar semua waktu yang terbuang selama ini untuk mengisinya kembali.
Sella memerintahkan pada para pelayan untuk mendekatkan kursi, hingga kakek Mett bisa duduk, bersama dengan Zenia dan dirinya. Mereka pun memulai obrolan, dengan suasana yang hangat.
"Ibu... Ibu senang sekarang kan, papa ada disini?" Kata Sella sambil tersenyum dan menepuk-nepuk tangan Zania.
Wanita itu tersenyum dan menoleh pada Sella, dan mengangguk. Mett melihat semua itu, dan tanpa ia sadari setitik air mata mengalir dari mata tuanya, yang cekung dan keriput.
Laki-laki tua itu berkata,
"apa yang bisa aku berikan padamu? Sepertinya seluruh hartaku pun tidak cukup untuk membalas kebaikanmu." Sambil menepuk bahu Sella.
"Kakek tidak perlu memberikan apapun padaku, karena aku sudah memiliki cucu mu. Bukankah sudah aku bilang kalau Alrega adalah dunia bagiku?"
"Seandainya aku tahu, bahwa kau akan berbuat seperti ini kepada anakku, aku tidak akan mewariskan dan memberkan seluruh hartaku pada Rega, sebagiannya akan kuberikan padamu."
"Hahaha, kakek sudah memberikan seluruh harta warisan pada Alrega, tapi aku memiliki orang yang memiliki warisannya. Apakah itu tidak cukup?"
"Ya, itu cukup, ternyata kau benar-benar menantuku yang sangat cerdas."
"Benarkah? tapi ada orang yang mengatakan aku orang bodoh."
"Siapa yang berani mengatakan itu padamu?"
'Itu, cucumu, kira-kira apa yang akan kakek lakukan, kalau aku mengatakan bahwa cucunya itu sering mengatakan aku bodoh, apa dia akan mencabut seluruh warisannya, dan memberikannya padaku? Sepertinya seru!"
"Bukan siapa-siapa, hanya saja cucu kakek pernah mengatakan aku bodoh."
"Apa?" Mett cemberut ketika berkata seperti itu.
Tiba-tiba dari arah pintu, datang Yorin yang masuk sambil berteriak.
"Kakek...! Kau di sini?!"
Gadis itu menghamburkan diri ke dalam pelukan kakek Mett dan laki-laki itu tersenyum, menepuk-nepuk pundak cucunya, lalu menyuruhnya duduk. Saat itu Yorin menunjukkan sebuah voucher belanja dari sebuah mall besar yang baru dibuka.
Gadis itu berkata, "kakek, sekarang ibu sudah sembuh, aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Boleh ya, boleh ya ... Kakek?"
__ADS_1
bersambung