
"Hei, Davi. Apa kabar?" kata Hanza sambil mengulurkan tangan pada Sella. Ia tersenyum manis. Sepertinya senyum itu ia berikan hanya untuk Sella. Ia memakai setelan jas warna coklat, penampilannya sangat berbeda dengan saat mereka bertemu.
'Padahal aku berharap tidak akan pernah bertemuo dengan pria ini lagi'
"Aku baik," jawab Sella tanpa ekspresi.
"Ahk. Dugaanku benar kan, kamu menyukai nama yang kuberikan," kata Hanza.
"Maaf, tuan Han. Jangan panggil aku dengan nama itu lagi,"
"Lalu aku harus memanggilmu, apa?" tanya Hanza.
"Tuan Han, apa anda akan berbelanja juga?" Sella mengalihkan perhatian.
"Tidak. Aku hanya akan menemui temanku dan mengucapkan selamat padanya."
"Oh, jadi Delisa adalah temanmu?" kata Sella.
"Iya,. Kau tau, aku membeli gedung Daville dari seseorang yang lebih dulu membelinya dari Delisa. Bukankah itu bagus?"
'Apa. Apa itu artinya gedung itu adalah milik tuan Rega dan gedung itu yang dulu diberikan pada Delisa. Lalu kenapa Delisa menjualnya. Apakah gedung itu tidak berarti baginya?'
"Hei, Davi. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Hanza, ketika ia melihat wajah Sella berubah.
"Aku baik. Tuan, jadi gedung itu dulunya adalah milik Delisa?" tanya Sella. Penasaran.
"Iya."
"Maaf, tuan Han. Aku harus pergi," kata Sella mengambil langkah menjauhi Hanza, tapi tangan pria itu menahannya dengan memegang pergelangan tangan Sella.
"Tunggu, apa ada yang salah dengan apa yang aku katakan?" tanya Hanza. Ia tidak rela Sella meninggalkannya, ia masih ingin berbincang dengannya. Ia menganggap Sella hanya pengunjung biasa.
Sella menahan perasaanya, berbagai dugaan mengungkung hatinya, kalau memang benar Alregalah yang akan membeli kembali Daville, ia semakin merasa bersalah pada laki-laki itu. Sungguh semua itu adalah kesalahannya.
"Tuan, Han. Bolehkah aku bertanya dan jawablah dengan jujur," kata Sella. Matanya sudah berkaca-kaca.
Hanza melihat Sella. Penampilannya berbeda dari yang ia lihat saat ia bertemu di Daville. Gadis dihadapannya ini sangat cantik dimatanya, ia seperti seorang peri yang datang kepadanya dengan segala sihir yang membawa kegembiraan.
"Silahkan," kata Hanza tanpa melepaskan tanganny dari tangan Sella. Bahkan cekalan tangan itu lebih erat.
"Tuan...," kata Sella berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Hanza.
"Jangan panggil aku tuan. Panggil aku Han," sahut Hanza seraya melepaskan tangan Sella dsngan terpaksa.
"Baiklah, Han. Apakah benar pemilik Daville sebelumnya adalah tuan Alrega Leosan, dan sekarang beliau akan membelinya kembali?"
"Benar,"
"Mungkin, gedung itu akan ia berikan lagi pada Delisa, karena sekarang Delisa sudah kembali. Bolehkah aku memohon padamu agar menjualnya kembali padanya?" kata Sella sambil mengatubkan kedua tangannya didepan dada, membuat Hanza heran. Ia menautkan alisnya sambil menggelengkan kepalanya. Lalu berkata,
"Bukankah kau bilang aku harus membuat gedung itu jauh lebih indah?"
"Itu, benar. Tapi..."
"Nona, silahkan. Tuan menunggu anda," tiba-tiba Zen datang diantara mereka, mempersilahkan Sella kembali ke sisi Alrega.
Alrega turun dari panggung menuju tempatnya semula, sejenak kemudian ia menyadari Sella sudah tidak ada. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi karena ia menjaga wibawanya dihadapan banyak orang, maka ia hanya memberi isyarat pada Zen, untuk mencari keberadaan Sella. Ia ingin agar Sella kembali ke sisinya. Ia mulai pias ketika Delisa tak melepaskan tangannya sejak mereka turun dari panggung.
Untuk selanjutanya, ia melihat Sella berbicara begitu akrab dengan Hanza dari jauh. Mereka terpisah karena Alrega harus naik ke sana sebagai tamu kehormatan, ini memang sudah direncanakan sejak awal oleh pihak penyelenggara acara. Alrega membiarkan apa yang Sella lakukan, namun ketika ia mulai melihat Sella bergandengan tangan bahkan mengatubkan kedua tangan, ia menilai bahwa Sella sudah bersikap yang tidak pantas. Bagaimana mungkin istri seorang Alrega, salah satu orang paling berpengaruh di Jinse, bersikap demikian pada orang lain, apalagi laki-laki itu adalah rivalnya.
Kemudian Zen melaporkan bahwa saat Sella pergi berjalan-jalan, secara tidak sengaja sudah bertemu dengan Hanza, dan mungkin saat itulah mereka mulai berteman. Alrega menahan geram, hatinya terasa seperti terbakar. Ini aneh, ia belum pernah merasakan hati sepanas ini.
Saat itu telapak tangannya mengepal kuat, Delisa melihat perubahan diwajah Alrega. Ia mengikuti arah pandangan Alrega, sehingga ia sangat cemburu bahkan ingin sekali membunuh wanita itu sekarang juga. Alrega tengah menatap gadis itu, sebenarnya siapa gadis ini.
Melihat Zen bersikap demikian sopan pada Sella, Hanza semakin heran.
"Zen. Apa Rega bersama Delisa? Ahk, sudah kuduga. Rupanya dia lebih pengecut dari yang kukira," kata Hanza bersikap pongah dihadapan Zen, seketika sikap ramah dan lembutnya hilang entah kemana. Dua pria itu kini sama-sama memasang wajah serius dan khas wibawa masing-masing.
"Tuan Han. Saya tidak menyangka anda akan ada di sini, dan tolong jaga bicara anda, ini tempat umum," sahut Zen. Ia bersikap formal, menatap Hanza lurus.
Mendengar kalimat yang diucapkan Zen, Hanza menyunggingkan senyum miring dibibirnya. Lalu ia menatap Sella,
"Davi, apa kau kenal dengan orang ini?" tanya Hanza.
"Sekertaris Zen, ayo kita pergi," kata Sella tanpa memperdulikan pertanyaan Hanza. Ia khawatir dengan apa yang ia rasakan, khawatir tidak bisa menahan air matanya. Kesedihan, rasa bersalah kecewa berkumpul menjadi satu dalam hatinya.
Ia melangkah beriringan dengan Zen mendekati Alrega, ia seolah pasrah melihat Alrega bergandengan tangan dengan Delisa. Kedua orang itu juga menatapnya dengan tatapan yang aneh. Sella mengabaikan tatapan itu, ia mendekati Alrega menyatukan pandangan dengan mengalirkan seluruh perasaan kesedihan di matanya, seolah-olah sorot mata itu mengatakan,
"Maafkan aku, bebanmu begitu berat bukan? Semua itu karena aku kan? Aku tahu betapa berartinya Delisa bagimu sehingga kau berusaha dengan keras untuk mendapatkan gedung itu kembali kuharap aku bisa membantumu."
Sella sudah berada di dekat Alrega, kembali menggenggam tangannya yang terasa hangat. Sementara Hanza juga berjalan di belakangnya, kemudian melangkah mendekati Delisa.
"Hei, Deli. Apa kabar?" kata Hanza sambil menyalami Delisa, seketika Dslisa melepaskan genggaman tangan kanannya dari tangan Alrega.
__ADS_1
"Aku, baik. Terimakasih sudah datang," kata Delisa ramah.
"Selamat atas dibukanya kembali butikmu, semoga lebih sukses," sahut Hanza lagi.
"Terimakasih, aku punya banyak hasil rancanganku saat aku diluar negeri. Semua ini karena Rega, semua pembeli sebanyak ini juga karena aku mencantumkan namanya," kata Delisa.
Kata-kata ittu memang terdengar sangat bagus seolah memuji dan berterimaksih, tapi justru yang terlihat adalah menjilat dan menjual nama seeorang demi kepentingan pribadi. Orang seperti Alrega, Hanza dan Zen yang sangat mengerti sifat dari Delisa hanya tersenyum tipis, sedang orang seperti Sella akan berpikir, bahwa semua itu menunjukkan betapa besarnya cinta Alrega pada Delisa.
'Kalau memang seperti ini, mengapa kau mengajakku, tuan Al? Apakah kau ingin menyakiti hatiku? Ya, anda berhasil, hatiku sakit, sangat sakit padahal aku tidak benar-benar mencintaimu'
Hanza mengalihkan pandangan pada Alrega, lalu berkata,
"Tuan Rega. Apakah anda senang akan hasil yang telah dicapai oleh Delisa? Dia luar biasa kan?"
"Biasa saja," kata Alrega lalu tatapannya mengarah pada Sella, kepalanya sedikit menunduk agar bisa melihat dengan jelas pada wajah Sella, sambil berkata,
"Bagaimana menurutmu?"
Sontak Hanza dan Delisa yang melihat itu menjadi terpana kaget, sikap Alrega sangat lembut dan menunjukkan kasih sayang. ia juga mengerjabkan matanya seolah memberi isyarat pada Sella.
"Sayang, mengapa bertanya padaku. Tentu saja acara ini cukup bagus karena kehadiranmu," kata Sella sambil tersenyum menyembunykan perasaan yang sebenarnya.
'Sayang. Perempuan ini memanggil Rega, sayang? Siapa dia?'
Alrega tersenyum puas, sambil berkata,
"Ya, aku tau." menjawab sambil tersenyum puas. Menurutnya, Sella paling baik dalam memuji secara tulus.
"Rega, siapa dia. Bahkan kau belum menjelaskannya padaku?" tanya Delisa masih terus memegangi tangan Alrega.
Alrega menjawab dengan tenang sambil menarik nafas panjang,
"Dia istriku."
"Apa?" kata Dslisa dan Hanza bersamaan.
"Davi. Benarkah kau, istrinya?" tanya Hanza.
"Iya, aku sudah menikah dengannya," sahut Sella mantap.
"Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan Davi?" kata Alrega pada Hanza.
"Sayang, itu tidak penting. Tuan Han hanya bercanda saja," kata Sella mencoba menenangkan Alrega agar tidak marah.
"Davi, seharusnya kau mengatakan siapa dirimu," kata Hanza, sambil berlalu.
'Aku merasa kau tidak perlu tahu!'
"Apa kau, lapar?" tanya Alrega pada Sella, ia mencoba mencari alasan agar bisa ssgera pergi dari tempat itu.
"Sayang, sekarang belum waktunya makan siang," sahut Sella membuat Alrega merasa lucu.
Sella memanggilnya sayang sudah berkali-kali dan tidak ia minta, entahlah itu ucapan tulus dari hati atau tidak, Alrega tidak menganggapnya penting. Yang ia pikir sekarang adalah tanggapan Delisa dan apa reaksinya melihat wanita yang kini menjadi pendampingnya.
"Rega, katakan padaku kalau dia ini bukan istrimu yang sesungguhnya, kan?" kata Delisa sambil menarik tangan Alrega.
'Apa kau mau membalasku saja kan? Ahk, sudahlah. Aku tau kau masih mencintaiku. Kau ingin aku cemburu kan?'
"Rega, aku masih mencintaimu, kenapa kamu membawa wanita lain?" kata Delisa dengan suara yang meninggi. Beberapa orang mulai mencuri-curi dengar. Demi menjaga immage dan perasaan Alrega, Delisa memperbaiki bahasa tubuhnya kembali elegan dan tenang.
"Rega, kamu bercanda kan?" tanya Delisa lembut.
"Menurutmu, apa aku sama dengan perbuatan seseorang dua tahun yang lalu?" mendengar ucapan Alrega, Delisa tercekat suaranya ditenggorokan. Sedang Sella membelalakkan matanya.
"Maaf, nona Delisa, sekarang waktunya tuan akan pergi, semua rangkaian acara sudah dilaksanakan," Zen mencoba menengahi agar tidak menarik perhatian.
Alrega berjalan bergandengan tangan dengan Sella. Ketika akan memasuki mobil, Sella hendak melepaskan tangannya tapi Alrega tidak memberinya kesempatan. Sella masuk terlebih dulu Kemudian disusul Alrega.
"Ini sudah tidak ada orang, jadi lepaskan tangan anda tuan," kata Sella setelah mobil mulai melaju.
Ia melihat pada tangannya yang berada diatas paha Alrega, laki-laki itu duduk sambil menyandarkan kepala dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. Sella masih berusaha melepaskan tangannya.
"Diaam.." kata Alrega dengan suara rendah sambil melirik Sella disampingnya.
"Tuan, saya tidak lapar. Lebih baik saya pulang saja karena saya akan makan setelah sampai dirumah." kata Sella dengan suara khasnya.
"Lalu?"
"Lalu.. .mungkin saya akan menemani ibu,"
"Lalu, saya mungkin akan menelpon ibu dirumah,"
"Bagaimana dengan aku?"
__ADS_1
"Apa maksudnya, anda..."
Belum sampai selesai Sella berkata, bibirnya sudah dibekap oleh bibir Alrega, ia mencium bibirnya dengan kasar. Karena kaget, Sella mendorong tubuh Alrega dengan kuat.
Sella tidak menyukai ini, ia seperti dip****sa. Ciuman pun terlepas. Pandangan Sella penuh kebencian, rasa kasihan dan rasa bersalah yang tadi ada, hilang ditelan amarah. Dan ia segera menggeser posisi duduknya menjauhi Alrega.
'Hei, ada orang lain di sini. Memalukan'
Sella melirik ke depan, entah sejak kapan kaca spion depan kemudi sudah miring dan Zsn terlihat memakai headsetnya.
'Ahk, sepertinya kalian ini orang yang sangat kompak ya?'
"Tuan, bukankah anda..."
"Aku bukan tuanmu,"
'Lalu aku harus memanggilmu sayang lagi? Tidak akan. Sekarang sudah tidak ada orang'
"Kemarilah.." kata Alrega sambil menjentikkan jari telunjuk.
Sella mendekat dengan perlahan, ia memandang Alrega ragiu lalu Alrega meraih pinggang Sella dan didudukkan tubuhnya ke atas pengkuannya.
"Apa kau lapar?" tanya Alrega mengulang pertanyaan yang sama.
'Kau belum pernah ditolak sebelumnya, dan karena itu kau marah dan menciumku sembarangan?'
Sella mengangguk, ia tidak bisa berkata apapun karena ibu jari Alrega mengusap-usap bibirnya.
"Apa aku membuatmu sakit?" tanya Alrega lagi membuat Sella menggeleng, menunjukkan bibirnya tidak sakit, ahk...itu jawaban yang salah.
Melihat Sella menggeleng, Alrega mengulukan satu tangannya kebelakang leher Sella dan tangan yang lain menggenggam pergelangan tangan Sella. Ia kembali mencium bibirnya. Sella tak bisa meronta kali ini. Ia pasrah dalam pelukan pria tampan dibawahnya. Lama kelamaan ******* bibirnya semakin dalam, Sella mulai terhanyut, ia rileks dan mengikuti irama permainan bibir Alrega.
'Gila, gila. Aku menikmatinya, hentikan, sialan!'
Sementara mobil terus melaju, tangan Alrega masih menekan tengkuk Sella agar tetap diposisinya. Alrega melepas ciumannya ketika Sella sudah kehabisan nafas.
"Bernafaslah. dan buka bibirmu kalau aku melakukannya, apa kau mengerti?" tanya Alrega setelah ia menghapus sisa ciuman dibibir Sella dengan ibu jarinya.
"Zen, ke restoran Royal Food Lux sekarang," Alrega memerintahkan untuk pergi ke restoran mewah langganan Alrega.
"Baik, tuan,"
Mobil yang semula berjalan perlahan. kini melaju dengan kecepatan tinggi, menuju lokasi yang diinginkan Alrega.
***
Sementara di Butik D'Lisa
"Kau tahukan siapa wanita yang dinikahi tuan Rega?" tanya Zola pada Delisa yang Delisa. Yang ditanya menggeleng. Kedua sahabat karib itu sedang menikmati makanan, pesta hampir saja usai.
"Aku tidak perduli dia siapa, yang aku perdulikan kenapa Rega menikahinya!" kata Delisa dengan wajah suram. Kemarahnnya seperti hendak menghancurkan seluruh bangunan. Ia menatap Zola dan berkata,
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kapan mereka menikah?"
"Aku tidak tahu dan kurasa sudah lama."
"Kau bohong!" kata Delisa.
Sewaktu Alrega menikah dengan Sella, Zola mengajak Delisa kesebuah tempat yang eksotis dan penuh tantangan, sebuah kawasan wisata yang terkenal indah dan nyaman dengan suasana pantai. Zola beralasan sedang mendapatkan bonus discount
hingga mereka bisa bersenang-senang. Mungkin Alrega atau Zen, harus memuji keberhasilan Zola untuk menyelamatkan pesta pernikahan Alrega, dari gangguan Delisa.
"Delisa, aku tidak tahu dan aku berkata jujur"
"Lalu, kenapa kau diam tadi?"
"Aku hanya tahu siapa wanita itu, jangan bilang kau lupa siapa wanita itu?"
"Memangnya, siapa dia?"
"Kau tidak sedang menipuku, kan?"
"Tidak,"
"Kalau kau ingat wajah perempuan hamil itu, maka kau akan menyangka istri tuan Alrega adalah dirinya!”
Tiba-tiba dunia tempat Delisa berdiri seolah hancur. Tubuhnya lemas karena kakinya tidak berpijak pada tanah. Jantungnya berdegup keras.
" Dia benar-benar tahu aku menipunya? Dan karena itukah dia menikahi wanita itu, hanya untuk membalasku?" Delisa mengepal kan tangannya dengan geram. Ia melangkah kedepan cermin, melepaskan mahkota kecilnya dan melemparnya kasar.
"Lalu bagaimana bisa, gadis seperti itu mengenal Hanza?" tanya Delisa. Zola hanya mengangkat bahunya , ia masih menikmati makanannya.
"Aku akan pergi, apa kau mau ikut?" tanya Delisa pada Yola.
__ADS_1
"Memangnya kau mau kemana?"