
"Bo, bo ... Apa?" kata Sella menyahut ucapan Alrega yang terputus.
'Apa kau kembali akan mengatakan Aku bodoh, bukan?'
Alrega berjalan ke samping Sella dari kursinya, ia merengkuh tubuhnya, hingga berada di antara dada dan lengannya. Sella mendongak menatap Alrega karena dagunya dipegang sedemikian rupa, hingga tak biss mengalihkan wajah kemanapun selain menatap ke arahnya.
Alrega berkata, "apa kau benar-benar tidak membutuhkan apapun dariku?"
Sella menarik nafas dalam, hingga aroma tubuh Alrega memenuhi rongga hidungnya, ia tidak bisa mengalihkan tatapan dari laki-laki di depannya. Entah mengapa matanya berkaca-kaca, airmata menggenang disana.
Ia berkata, "tuan Al, aku berada disini adalah untuk menebus semua kesalahanku padamu, bukankah aku orang yang harus menjalani hukumanku? Kalau kau memberikan semua seperti ini, memakai kartu kreditmu, menggunakan mobilmu, dan sekarang warisanmu, lalu bagaimana aku harus menyelesaikan hukumanku? apa kau tidak kasihan padaku, tuan Al?"
Alrega mencengkram dagu Sella lebih keras, hatinya entah mengapa menjadi sakit seperti dilubangi dalam-dalam, mendengar kata yang keluar dari mulut Sella, ia berpikir, mungkin kalau Sella merasa hukumannya sudah selesai, maka ia akan pergi meninggalkannya.
"Siapa yang bilang kau harus menyelesaikan hukumanmu?" Alrega bertanya sambil memejamkan matanya.
'Eh, iya. Tidak ada yang bilang berapa lama aku harus menjalani pernikahan ini... Itu artinya aku akan menjadi ... selamanya?'
Sella sejenak ragu, tapi kembali berpikir bahwa memang inilah yang ia inginkan, menjadi istri Alrega selamanya, dan dicintai sebagai satu-satunya wanita dalam hidup Alrega, tapi ia juga tidak tahu pasti apakah Alrega benar-benar mencintainya atau tidak.
"Uem... tidak ada."
"Kalau begitu, jangan pernah berusaha menyelesaikan hukumanmu..." Alrega berkata dengan suara rendah penuh tekanan.
"Kau akan memenjarakanku disini selamanya, walaupun ibu sudah sembuh?" kata Sella.
Alrega mendengar pertanyaan ini, sambil melepaskan pegangan pada dagu Sella. Kepalanya mendongak ke atas, dan matanya terpejam, kedua tangannya pun terkepal. Setelah berulangkali menghela napas, Alrega menoleh pada Sella.
Ia berkata, "iya, walau ibu sudah sembuh. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku!"
"Baiklah." jawab Sella.
"Aku sudah berjanji untuk tidak akan seperti ayahmu, dan kau juga sudah berjanji tidak meninggalkanku, jadi terimalah semuanya."
Kebanyakan wanita senang dengan laki-laki yang menjanjikan sesuatu, padanya. Tapi Sella tidak, ia tidak mengharapkan ada pria yang membuatnya begitu tergantung padanya.
'Apakah itu artinya kau mencintaiku?'
Sella masih menahan dirinya dengan sangat baik. Cara seseorang untuk mengagumi dan mencintai tidak boleh salah, kalau tidak ingin terluka hatinya parah. Menginginkan boleh, terlalu menggebu jangan.
"Tapi, sayang. Bisakah kau mengatakan pada kakek, aku tidak menginginkan warisan itu?"
"Kenapa?" Alrega bertanya, sambil menghimpit tubuh Sella diantara ketiak dan dadanya.
"Haha, aku sudah cukup senang hidup di sini, kau memberiku makan enak dan pakaian yang bagus, aku tidur di rumah yang indah, lalu apalagi yang aku butuhkan. Apalagi kau bilang tidak akan meninggalkanku, itu lebih dari cukup."
'Hais. Bukankah aku sudah membayarnya dengan tubuhku, aahh ... yang benar saja, bagaimana aku bisa lupa?'
"Ha. Jadi begitu?" Alrega menyeringai.
"Hm hmm..." Sella mengangguk.
"Mungkin kakek belum tahu, kau hanya butuh makan di sini." Alrega tertawa keras di akhir ucapannya.
"Sekarang, anggap Delisa ada disini dan dia akan membawaku pergi." Alrega berkata lagi.
Seketika Sella melingkarkan kedua tangannya di leher Alrega, lalu mencium bibirnya sekilas.
Dan ia berkata, "Aku mencintaimu, jangan tinggalkan Aku!" kembali mencium pipi. Alrega kembali tergelak.
Aahk, Sese ... Itu terlalu manis untuk orang yang mengerjaimu!
"Lalu apa yang kau katakan pada kakek?"
Mendengar perkataan Alrega, Sella mengerutkan alisnya, dan bertanya, "bagian mana yang harus aku katakan padamu?"
Waktu itu ia mengobrol sangat banyak dengan kakek Mett. Tentu saja ia bingung ucapan yang mana yang ingin di dengar oleh Alrega.
"Waktu kakek akan menyerahkan sebagian warisanku, untukmu." Kata Alrega.
"Aku bilang tidak perlu." Tidak sadar kalau kedua tangannya, masih melingkar erat di leher Alrega.
"Itu saja?" Alrega bertanya seius.
Sella sempat terdiam sejenak, lalu menjawab,
__ADS_1
"Tidak masalah semua warisan dan kekayaan itu menjadi milikmu, karena sama saja aku memiliki seluruh dunia dengan dirimu jadi milikku."
Mendengar ucapan Sella itu, Alrega mengulurkan tangannya, untuk merengkuh bagian belakang kepala Sella agar mendekat kepadanya, dan ia membenamkan bibirnya pada bibir Sella, menekannya dengan sangat dalam dan lama. Seolah-olah Sella adalah dunianya, yang ingin ia nikmati dan dihisap seluruh kekuatannya hingga ia hanya akan mengandalkan dirinya.
Alrega menghentikan ciumannya setelah Sella benar-benar kehabisan udara.
"Kapan kau akan menemui Delisa dan membayarnya?" Alrega bertanya sambil mengusap bibir Sella dengan ibu jarinya.
"Apa kau sudah menyelidikinya?" Sella bertanya sambil melepaskan pelukannya.
"Apa lagi yang ingin kau tahu?" Alrega balik bertanya.
"Memastikan aku tidak salah orang."
"Bukankah dia sudah mengakuinya sendiri, padamu?"
"Iya, tapi aku belum tahu dimana rumahnya dan aku juga perlu memastikan temannya. Kalau memang benar, aku akan segera membayarnya."
"Seandainya kau tahu sebuah kebenaran yang lain, apa yang akan kau lakukan?"
Sella kembali mengerutkan keningnya, tampak berpikir. Ya, kebenaran selalu saja tidak enak untuk didengarkan.
"Kebenaran seperti apa? Rasanya aku muak dengan semua orang yang terlibat dengan kejadian itu."
"Seandainya aku juga terlibat di dalamnya, apa kau juga akan muak dan membenciku?"
"Hanya, misalnya kan?" Tanya Sella heran.
"Ya, ya. Bagaimana kalau aku juga terlibat?"
"Mungkin aku akan pergi meninggalkanmu. Tapi kau tidak terlibat kan? Aku heran ada orang yang menghancurkan pernikahan mereka sendiri, padahal banyak manusia yang berusaha bertahan dengan segala cara agar pernikahan dan keluarganya tetap utuh untuk selamanya."
Alrega menatap Sella lekat-lekat, pandangan matanya menggelap dan rahangnya mengeras, ia merapatkan giginya. Lalu kembali memeluk Sella.
'Kau tidak akan bisa pergi dariku, walaupun kau hidup dalam kebencian seumur hidup bersamaku'
"Katakan sekali lagi kau tidak akan pernah meninggalkan aku walau apapun yang terjadi." Alrega berkata sambil menyimpan kepalanya dibahu Sella, menja.
Sella mengangguk dalam pelukannya.
"Ya, aku tidak akan meninggalkanmu, sayang."
***
Sella berlutut di depan Zania sambil menggenggam tangannya. Wanita itu tengah duduk di dekat jendela balkon, jendela itu tirainya terbuka, tapi daun jendelanya tertutup, tidak bisa dibuka karena tidak ada kuncinya.
Ia memandang wajah Zania dengan senyum secerah mentari.
"Ibu, coba tebak. Siapa yang bersamaku hari ini?"
Sella berkata dengan riang ia berdiri dan mengajak Zania juga berdiri dari duduknya, lalu memeluk Zania.
Perawat dan pelayan yang ada disekitar mereka melihat secara bersamaan ke arah pintu, tapi mereka tidak melihat siapapun disana.
Zania juga mengikuti pandangan para asisten ke arah pintu dan ia tidak menemukan seseorang di sana.
"Siapa yang paling ingin ibu temui hari ini?" Tanya Sella sambil merangkum wajah Zania dikedua telapak tangannya.
Zania diam saja dan ia kembali melihat keluar jendela. Raut wajahnya terlihat putus asa, ia terlihat seperti itu karena merasa anaknya, dan suaminya atau siapa saja, mungkin tidak mau bertemu dengannya. Mereka semua telah menganggap dirinya gila. Padahal ia waktu itu hanya membutuhkan perhatian lebih saja.
Saat ini, ingatannya mulai pulih, ia mengingat kembali bagaimana dulu ketika ia berusaha menghentikan Delisa, di hari pernikahannya. Agar pesta dan pernikahannya tidak hancur begitu saja. Ia berteriak-teriak dengan keras meminta suami adan anaknya melakukan sesuatu untuk menghentikan Delisa. Tapi semua tidak menghiraukannya.
Zania tidak tahu pasti saat kesadaran nya sedikit demi sedikit mulai hilang, yang terakhir ia mengingat terketika suaminya beberapa kali membawanya ke dokter dan memaksanya untuk berhenti menangis. Disaat yang bersamaan ia mulai menjauhi lingkungannya, menjauhi saudara dan kerabatnya, teman-temannya dan ia tidak bisa pergi keluar rumah karena rasa malu yang sangat besar yang menderanya.
Semua orang dalam keluarga itu, menerima traumanya masing-masing, tapi mereka berhasil bangkit, hanya Zania saja yang tetap terpuruk hingga keadaannya semakin hari semakin memburuk.
Zania tidak sadar waktu itu, sebenarnya ia tidak perlu merasa khawatir, orang lain akan mempermalukan dirinya di depan umum, sebab tidak akan ada yang berani melakukan hal itu. Bahkan semua media berita, atau pemilik akun gosip saja, tidak ada yang berani berkomentar dengan apa yang terjadi pada keluarganya.
Kesedihan tak berujung, harapan besar yang kandas, sakit yang tidak terlihat tapi terasa menyayat, yang berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri. Ia ngin melukai tapi tidak berani, yang akhirnya ia lakukan adalah mencoba untuk membunuh diri. Tindakannya justru membuat keluarganya mengurungnya seperti ini, tanpa mereka sadari, sikap dan keputusan mereka memperparah depresi.
Hingga kemudian Sella datang, membuka hatinya dan mengembalikan kesadaran, bahwa ia telah salah memberi penilaian pada siapa yang barus disalahkan. Bukan keluarga, apalagi anak dan suaminya, yang tidak mau menghentikan Delisa. Bukan. Tapi Delisa, seharusnya ia tidak pergi, hanya karena fitnah keji seorang wanita bodoh yang mengatakan telah dihamili. Ia seharusnya menghargai keluarganya setelah semua yang sudah ia dapatkan selama ini.
Kalau ia memang mencintai, bahkan mereka baru saja menikah, maka ia tidak akan aemudah itu mempercayai fitnah. Yang seharusnya pergi bukan dia, tapi wanita yang sudah merusak pestanya!
Zania belum tahu, bawa Sella lah yang melakukan itu ... Sementara Sella selama ini terus berpikir, bagaiman seandainya kebenaran terbongkar suatu hari nanti. Dan wanita ini mengetahui bahwa dialah orang yang sudah membuat menantunya pergi. Sella sempat merasa was-was, tapi yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Zania.
__ADS_1
Tidak ada yang mengetahui kejadian itu di keluarga ini, kecuali Alrega dan Rehandy, sedangkan mereka berdua berjanji bahwa tidak akan membuka rahasia ini untuk selama-lamanya? Jadi Sella merasa tenang dan ia tidak khawatir.
"Ibu ... ibu sayang." Sella berdiri di sampingnya dan merengkuh bahunya. Zania sudah sangat terbiasa dengan Sella, kata-kata, sentuhan dan kehangatannya.
Sella kembali berkata, "apa Ibu ingin menemuinya sekarang, menemui semuanya. Ayah Rehandy, Mama Marla dan Rega?"
Zania tersenyum, sambil mengusap kaca jendela yang bening menampilakan bayangan dirinya. Tetap diam.
Sella tidak tahu apa yang terjadi sebelum Zania menjadi seperti ini, tetapi ia punya misi bahwa ia harus mempertemukan Zanja dengan semua anggota keluarganya, sehingga ia benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter dan psikolog nya.
'Tidak ada yang ingin bertemu denganku. Aku memalukan bagi mereka, dan mereka menganggap ku gila'
"Ibu, kenapa?" Sella kembali berlutut.
"Percaya lah padaku, bu. Alrega ingin bertemu denganmu. Dia anak satu-satunya bukan?" Kata Sella dengan lembut.
"Aku menantumu, aku tahu semuanya, dia sangat merindukan Ibu, dia ingin memelukmu. Percayalah aku tidak akan meninggalkan nya. Aku mencintainya, aku mencintai Rega."
Sella kembali merangkul bahu Zania dan mengajaknya mendekati pintu ia memanggil nama Alrega dengan lembut.
"Alrega, dia ada di sini. Dia merindukan ibu."
Sella berdiri di belakang Zania dan memberikan kesempatan kepada Alrega yang sudah ada di dekatnya dan mereka saling menatap.
Zania melangkah lebih dulu mendekati Alrega dan Alrega menyambut dengan merentangkan kedua tangannya. Mereka berpelukan. Alrega menatap Sella yang berdiri di belakang Zania dengan tatapan penuh arti, sambil mengu*um senyuman.
Zania menangis dan ia memukuli punggung Alrega seperti yang pernah ia lakukan pada Sella dulu. Tangisannya sangat kuat dan para perawat khawatir. Tapi Sella memberikan isyarat agar Alrega memeluk lebih erat, dan mengusap punggung ibunya dengan lembut.
Kejadian ini berlangsung cukup lama, hingga Zania tampak lelah karena menangis sambil memukul dengan sekuat tenaga, namun tindakan ini membuat perasaan yang sudah mengendap sekian lama, larut begitu saja. Suasana mencair.
Alrega membawa tubuh Zania dalam gendongannya, dan ia menidurkan ibunya di tempat tidurnya. Ia mengusap kepala ibunya dengan lembut, sambil berkata.
"Ibu, istirahat lah. Maaf aku sudah membiarkan Ibu selama ini. Aku berjanji tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi. Tidurlah kalau ibu lelah. Aku menyayangimu."
"Rega ... Lihat." Zania berkata sambil bangkit dari berbaringnya dan ia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Sella.
"Dia istrimu ...?" kata Zania ketika Sella sudah mendekat dan duduk di sisi tempat tidur. Alrega mengangguk sambil melirik Sella.
Zania membawa tangan Alrega berada di atas tangan Sella dan merangkumnya dengan tangannya sendiri.
"Aku merestui kalian berdua. Berbahagialah. Aku senang kau memilih wanita yang menganggapku ibunya sendiri. Dia begitu menyayangiku, pasti kasih dan cintanya padamu lebih besar lagi."
"Benarkah?!" Alrega tersenyum dengan mata yang bersinar-sinar karena senangnya. Zania mengangguk.
Seorang istri yang menyayangi ibu mertua pasti karena begitu besar kasih dan sayangnya pada suaminya.
Zania menatap Sella dengan lembut, ia menepuk bahu Sella dan berkata, "berjanjilah padaku kau tidak akan pernah meninggalkan anakku sampai akhir."
Sella mengangguk, dan berkata, "Iya, bu. Aku tidak akan pernah meninggalkannya."
"Rega, jaga dia dengan baik. Apakah kalian sudah lama menikah?" Zania tiba-tiba bertanya sambil melepaskan genggaman tangannya.
Sella dan Alrega saling melempar pandangan dan diam menunggu siapa yang akan terlebih dahulu mengatakan tentang perihal pernikahan mereka dengan jujur.
"Belum." Sella akhirnya yang menjawab.
"Oh, pantas saja."
"Pantas apanya, bu?" tanya Sella.
"Pantas kalau kalian belum punya anak. Aku hampir saja menanyakan, dimana cucuku. Aku sudah dikurung di kamar ini sangat lama."
'Apa. Apa ibu tahu kapan ia mulai di kurung. Apakah mungkin selama ini ibu tidak benar-benar gila? Bodohnya aku, kenapa selalu saja menuruti kata-kata nenek. Sial'
"Apa ibu ingin cepat-cepat menimang cucu?" Alrega bertanya sambil tertawa.
"Tentu saja. Sese ... Lahirkan cucu yang manis untukku, ya."
'Bahkan ibu juga memanggilnya seperti itu?'
"Jadi sekarang ibu lekas tidur, biar aku segera mendapatkan anak dari menantu ibu." Kembali tertawa.
'Aaah, apa maksudnya itu. Hei jaga bicara anda tuan Al. Tidak sopan! Dasar!'
Alrega menuntun tangan Sella berjalan keluar kamar, membiarkan Zania yang hendak beristirahat. Ketika sampai di depan pintu yang sudah tertutup. Mereka berpapasan dengan Marla yang tengah duduk di kursi rodanya.
__ADS_1
Bersambung