
"Apa yang membawa kamu kemari, apa kau sekarang jadi pengangguran?" Kata Marla begitu mereka sudah saling berhadapan.
"Nenek..." Kata Sella dan Alrega secara bersamaan.
"Apa?" Marla mendengus, sambil mengasongkan sebuah dokumen pada Alrega.
"Apa ini?" Tanya Alrega menyambut dokumen dari Marla, dan membukanya.
"Jangan gunakan kelemahan orang lain untuk kebutuhanmu." Marla berkata sambil melirik Sella.
'Apa maksudnya. Kupikir dia senang menantunya sembuh'
Sella mengernyit, sementara Alrega melihat tampak menarik nafas. Ia melihat sesuatu yang tidak baik dalam dokumen itu.
"Kau harus membantu ayahmu kalau kamu masih berhati." kata Nenek.
"Ini masalah pencuri kecil. Apa ayah tidak bisa menangkapnya?"
"Bukan soal pencurinya... aku ingin kau cari titik kelemahan dari rancangan desain plagiat itu, dan itu informasi terahkir yang aku dapatkan. Biar ayahmu yang mengurus pelakunya, dan kau urus perusahaannya, itu juga kelak akan menjadi milikmu."
Setelah berkata seperti itu, Nenek masuk ke dalam kamar Zania dan melihat keadaannya, ia tersenyum melihat menantunya yang tidur dengan tenang seperti bayi. Itu ekspresi yang tidak ia lihat selama setahun terahir, semenjak depresinya memburuk.
Wanita tua itu keluar dengan kursi roda yang di dorong oleh asisten dibelakangnya, menuju lift. Namun sebelum ia memasuki lift, sekilas ia melihat sepasang manusia yang saling berciuman ditangga. Sejenak kemudian mereka pun berpisah.
'Cih! Seperti mau berpisah sekian tahun saja. Rega, kau sudah lepas kendali sejauh ini?'
Marla memasuki lift, sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara Alrega, setelah puas mencium bibir Sella, ia pergi ke ruang kerja. Ia harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh Nenek padanya. Membantu ayahnya menyelesaikan masalah di salah satu cabang perusahaan keluarganya. Biar bagaimanapun juga, Nigiro grup tetaplah bagian dari keluarga, walaupun ia tidak terlibat secara langsung. Rehandy yang bertanggung jawab mengurusnya. Tetapi beberapa spesifikasi keahlian Alrega tetap dibutuhkan di sana.
Seperti saat ini, ayahnya sejak kemarin tidak pulang hanya karena menyelesaikan masalahnya sendiri. Rehandy sengaja tidak mau melibatkan Alrega, karena ia ingin, anaknya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Sella.
Sella baru saja hendak masuk ke kamarnya, ketika Yorin memanggilnya dari bawah tangga, dan melambaikan tangan kepada Sella, memberi isyarat agar Sella mengikutinya.
"Kakak! Aku kenalkan kau pada keluarga baru." Kata gadis itu ketika Sella sudah bersamanya. Ia merangkul lengan Sella dengan kedua tangannya, dan membawa Sella ke halaman belakang.
Anggota keluarga baru? Sella bertanya dalam hati. Menurut pada Yorin, tanpa ekspresi. Memangnya kejutan seperti apa lagi, yang dimiliki keluarga ini? Sella harus membiasakan diri untuk akrab dengan kejutan demi kejutan, begitu ia memasuki rumah besar yang ia tempati.
Yorin mengajak Sella memasuki sebuah pintu, yang tertutup oleh semacam semak atau daun tanaman merambat, di sepanjang dinding pembatas yang tinggi. Selama ini, Sella hanya melihat dinding ini sebagai batas halaman belakang, yang merupakan batas tanah atau mungkin batas pekarangan rumah. Ya, ia hanya berpikir bahwa tembok itu adalah dinding pembatas antara tanah milik pribadi dan tanah milik orang lain.
Siapa yang menyangka kalau dinding yang tinggi ini adalah batas antara halaman rumah dan kebun binatangnya.
Begitu pintu dibuka oleh seorang pelayan, Sella dibuat tercengang dengan apa yang dilihatnya. Ada sebuah sarang burung yang sangat besar dipenuhi oleh aneka jenis burung kecil yang berkicau riang terbang kesana-kemari. disekitarnya ada tanaman hias yang terawat rapi dan indah. Ada seekor burung merak yang dibiarkan bebas berkeliaran dengan ekor yang mengembang. Ada sarang burung elang yang terpisah, burung yang mengerikan, tapi tetap saja menarik perhatian karena tidak hanya satu jenis, melainkan ada beberapa dan itu semua binatang langka.
"Apa kalian punya surat izin resmi untuk memiliki semua binatang ini?" Sella bertanya disela-sela keterkejutannya.
"Tentu saja, itu hal mudah untuk kakek."
"Kakek, kakek Mett?"
"Iya. Siapa lagi. Kakek selalu bekerjasama dengan kakek Nigiro sejak lama. Soal izin seperti ini, mudah bagi kakek."
'Aah iya, orang seperti kalian tentu mudah ya, mengurus semua hal yang kalian inginkan. Haha. Orang seperti kalian apa masih punya hak untuk tinggal di surga kelak, padahal pintu surga tidak pernah tertutup? Rasanya tidak adil bagi orang seperti kami, kalau orang seperti kalian akan mendapatkannya juga di sana, padahal kalian sudah memiliki tempat seperti surga di dunia?'
Sella mendengus keres saat melihat beberapa binatang buas langka yang juga ada, Leopart, Ceetah, berbagai macam kuda yang terawat, dengan istal yang terpisah. Termasuk lokasi berpacu yang cukup luas.
"Lihat, kak! Itu dia anggota baru kita!" kata Yorin ketika sampai disebuah kandang singa dengan dua bayinya yang masih sangat kecil.
Sella terbeliak melihatnya. Itu singa yang tidak bisa dibilang kecil. Binatang buas tetaplah buas. Walaupun ia sudah jinak, tetap saja ia punya naluri untuk berburu dan membunuh. Sella bergidik ngeri ketika melihat seorang pawang yang dengan tenang memasuki kandang, mengambil anak singa dan memberikannya kepada Yorin.
"Kak Sese. Beri dia sebuah nama. Aku sudah menamai kakaknya," Yorin berkata sambil mengusap lembut tubuh bayi singa itu, dan menunjuk seekor anak singa lain dalam kandang, dengan dagunya.
"Haha, kenapa harus aku?"
"Ini adalah isyarat untukmu, kak. Mungkin kau akan memiliki dua anak, atau bayi kembar nantinya."
Sella tertegun, ia seperti tercekik ludahnya sendiri.
Entah ia harus menangis atau tertawa mendengar Yorin berkata tentang anak. Ia belum berniat memeriksa kan dirinya, apakah ia bisa hamil atau tidak, sebab ia dulu pernah bersumpah, tidak akan memiliki anak kalau hanya akan menderita seperti dirinya!
Sungguh apa yang dilihatnya adalah kejutan yang lain. Bagaimana bisa selama beberapa bulan berada di sana, ia tidak melihat hal seperti ini. Yang ia urus hanya ibu dan Alrega. Mungkin kalau pria itu tidak terlalu sering mengerjai dirinya, ia akan sempat melihat kebun binatang itu, atau hanya sekedar belajar naik kuda. Ahkk... Lalu sekarang, Yorin dengan mudahnya mengatakan tentang anak dari kelahiran seekor anak singa? Yang benar saja!
"Apa maksudmu?"
"Leosan, nama keluarga ini. Setelah kakek buyut kak Rega, sukses dengan bisnisnya, ayah kakek Nigiro membeli Leondemon satu sebagai simbol. Tapi ia sudah mati setelah pasangannya melahirkan seekor anak. Lalu kakek Nigiro membeli lagi Leondemon dan pasangannya, Begitu lah setiap kali satu dari pasangan mati maka kakek akan membeli seekor singa yang lain. Dan Leondina sekarang melahirkan dua anak ini."
__ADS_1
"Yorin, dari mana kau tahu kalau ini isyarat aku akan melahirkan dua anak?"
"Instingku!"
Sella tertawa keras mendengar ucapan Yorin.
"Kau bukan cenayang ... Bagaimana aku bisa percaya?"
"Mungkin saja, sebab biasanya, singa akan melahirkan, setelah terjadi pernikahan, atau sebelum kelahiran seorang bayi di keluarga Leosan."
"Kau tahu banyak, ya?" Sella sedikit menyindir Yorin. Sok tahu menurutnya.
"Keluarga ayah, keluargaku juga." Sahut Yorin terdengar bijak.
"Tapi kenapa kau tidak pernah pulang, apa ayahmu tidak mencarimu."
"Aku menghabiskan waktu siangku bersama ayah di kantor."
"Dimana kantor ayahmu?"
"Dekat dengan kantor ayah Rehan."
"Oh."
Cukup mengherankan bagi Sella, ada seorang anak yang lebih betah tinggal bersama orang lain, dari pada bersama keluarganya sendiri. Tapi mengingat bahwa ia tidak memiliki seorang ibu, dan Zania lah yang ia anggap sebagai ibunya, maka hal itu menjadi masuk akal.
"Ayo, berikan namanya, kak?" Yorin kembali bertanya.
"Kau beri nama siapa kakaknya?"
"Kimilea."
"Apa dia betina?" Sella bertanya sambil menunjuk pada anak singa yang ada digendongan Yorin.
"Bukan, nona. Dia jantan" kata sang pawang yang sejak tadi hanya menunggu dengan waspada. Dia memang harus tetap waspada, kan? Yang dia jaga adalah anak singa!
"Oh, kenapa tidak Leondamon tiga atau leondamon emapat?"
"Haha, kak. Dia ini bayi kembar. Bukan singa yang dibeli. Jadi jangan pakai nama itu."
"Hmm ... Baiklah, beri dia nama Koroleon?"
"Haha. Kakak itu nama yang lucu. Tulis namanya dan buatkan kalungnya!" Kata Yorin sambil menyerahkan anak singa itu pada pawangnya.
"Baik." Pawang singa segera berlalu, menyimpan anak singa dalam kandang.
"Kapan, singa itu melahirkan?" Sella bertanya sambil melihat-lihat taman dan binatang yang lain, yang ada di sana. Yorin berjalan di sisinya.
"Sudah hampir sepekan. Pawang itu baru mengatakannya kemarin malam."
"Apa semua keluarga tahu?"
"Tahu. Dan mereka minta kau yang memberinya nama."
"Nama itu tidak bagus..."
"Tidak apa, itu hanya seekor singa."
"Tetap saja singa itu simbol keluarga, bukan?"
'Mengapa harus mengambil singa sebagai simbol keluarga Leosan? Padahal singa binatang yang tidak setia, bahkan mereka sanggup kawin puluhan kali dalam sehari. Gila! Tapi tuan Al pernah bilang kalau kesetiaan laki-laki adalah harga dirinya. Simbol yang aneh, hanya karena nama zodiak yang sama, Leo'
Sella menggelengkan kepala karena heran, sedangkan Yorin mengangguk membenarkan ucapan Sella.
Saat mereka berbincang, mereka tengah melihat aneka macam kupu-kupu yang cantik, berada dalam sebuah tabung kaca yang besar. Banyak sekali bunga bermekaran di dalamnya.
"Kak, bawa ibu melihat Kimi dan Koroleon, dari pada kakak harus buka jendela balkon." Tiba-tiba Yorin menawarkan sebuah solusi untuk Zania.
"Nanti, bawa ibu melihat anak singa itu, dan juga membuka jendela balkon!" Sahut Sella.
'Aku tidak menyangka kalau kakak ipar ini keras kepala'
"Kakak tidak khawatir, kalau ibu melompat lagi dari sana?"
Kalau ibu melompat dari balkon, aku juga akan melompat dari sana."
__ADS_1
"Iya, lalu kakakku juga akan menyusul kalian." Yorin menyahut dengan kesal. Membuat Sella tersenyum.
"Yorin, kau ingin membawa ibu menikmati voucher belanjamu, bukan?"
"Iya."
"Apa kau pikir kita akan berhasil membawa ibu ke mall, sedang melihat jendela balkon saja dia ingin melompat dari sana?"
"Ah, iya. Kemungkinan tidak." Jawab Yorin, pandangannya tertunduk.
"Jadi, sekarang kamu tahu kan, kalau kita harus membuka jendela balkon itu, memastikan ibu baik-baik saja. Barulah kita bisa membawanya berbelanja."
Sella menghentikan ucapannya dan menoleh ke samping, ketika tiba-tiba ada seorang pelayan mendekatinya, dan menunduk hormat padanya. Pelayan itu melihat Sella sekilas.
Ia berkata, "nona muda, ada yang mencari anda."
"Siapa?"
"Seorang laki-laki."
"Seorang laki-laki, apa dia bilang, untuk apa mencariku?"
"Dia adik anda nona. Mereka menahannya di gerbang utama."
'Rejan, ada apa dia ke sini, bagaimana bisa?'
"Mereka belum tahu aku punya satu adik laki-laki, aku maklum."
Setelah Sella berkata demikian, pengawal yang berdiri tak jauh dari pelayan itu berbicara melalui earphone di telinganya. Mereka berkomunikasi melalui alat itu untuk mengizinkan tamu laki-laki itu masuk.
Sella berjalan dengan cepat mendahului pelayan, diikuti Yorin, keluar dari area kebun. Gadis itu terlihat penasaran. Dan ketika mereka tiba di teras, Rejan sudah berdiri di sana dengan sepeda motor yang dikendarainya, hingga sampai di Kaki Langit.
"Kak Sese. Apa itu adik laki-lakimu, kak?" Tanya Yorin, begitu melihat seorang pria berpakaian rapi dan modis gaya anak muda.
Sella mengangguk pada Yorin, membenarkan tebakannya, sedang Rejan tersenyum pada Sella.
"Kak, adikmu tampan juga." Yorin kembali berkata, membuat Sella mengernyitkan dahinya.
Sella mengajak Rejan duduk di taman, ia masih sungkan membawanya masuk dan mengobrol di ruang tamu. Rejan menyambut ajakan Sella dengan baik, karena ia tidak ingin orang lain mendengar apa yang akan mereka bicarakan.
"Kakak, apa yang harus kita lakukan?" Rejan bertanya dengan khawatir dan terlihat gusar.
"Ada apa ... Apa yang terjadi? Kemarin aku menelpon kalian, dan semua baik-baik saja, kan?"
Saat bicara, mereka sudah duduk di salah satu kursi taman yang berada di dekat garasi mobil.
"Ini soal ayah, kak. Dia ada di rumah kita!"
"Kenapa laki-laki itu, untuk apa dia datang ke rumah kita?" Sella berkata sambil mengepalkan kedua tangannya dan wajah yang menunjukkan kemarahan.
Gemuruh di hatinya seolah terdengar dari luar, karena begitu kerasnya degupan jantungnya. Pria yang tidak mereka harapkan kehadirannya.
Rejan meminta kakaknya untuk tenang, duduk di kursi taman. Ia bercerita bahwa tadi pagi pria itu datang, dan meminta agar rumah yang mereka tempati saat ini dijual, lalu uang hasil penjualan harus di bagi dua, sebagai harta gono gini dari pernikahannya dengan ibunya.
Laki-laki yang diceritakan Rejan ini sekarang masih berada di rumahnya dan merongrong ibunya untuk menjual rumah saat ini juga.
Mendengar hal ini Sella semakin marah, bagaimana bisa laki-laki itu meminta harta gono-gini, yang sangat tidak pantas untuk diperebutkan. Sella menilai bahwa ayahnya itu sudah tidak memiliki harga diri. Meminta sesuatu yang sudah ia tinggakan sekian lama, dengan mengabaikan keluarga, lalu kembali karena ia sudah tidak memiliki apa-apa.
Karma, ia ada dan mengamati setiap tingkah laku manusia, lalu membalasnya dengan tindakan yang setimpal padanya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan memberikan apa yang dia inginkan. Aku akan melawannya. Apa yang ia berikan untuk kita, selama ini? Dia tidak berhak atas rumah kita. Dimana tanggung jawabnya sebagai ayah? Cih! Bahkan dia tidak berhak di panggil ayah. Harga rumah itu, tidak akan cukup untuk membayar biaya hidup kita selama dia pergi!" Sella berjalan meninggalkan taman, dengan menahan geram.
"Kak, aku juga akan melawannya!" Rejan menyusulnya dari belakang.
"Tentu saja." Sella menoleh pada Rejan. "Menurutmu untuk apa kita belajar beladiri?"
Sella seketika bersikap tegas. Naluri melindungi keluarga yang ada padanya, bangkit. Ia tidak rela bila orang yang sangat dibencinya itu tiba-tiba datang dan seenaknya sendiri meminta sesuatu yang seharusnya ia berikan. sebagai wujud kasih sayang.
Entah, sebenarnya apakah cinta itu benar-benar nyata, dan dimana hilangnya makna kasih sayang itu ketika keserakahan sudah mengalahkannya, dan egoisme sudah mendominasinya?
"Tunggu di sini, aku akan ikut denganmu." Sella berkata ketika sudah sampai di teras rumah.
"Tapi, kak. Bukan itu maksud keinginanku datang kemari."
"Lalu, apa maksudmu?"
__ADS_1
Bersambung