Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 125. Gelisah


__ADS_3

Keesokan harinya, dipagi yang cukup cerah, Sella bangun lebih dahulu dari Alrega. Setelah membersihkan diri, ia berdiri di balkon kamar hotel, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Melihat pemandangan yang sangat jarang ia lakukan selama hidupnya, menikmati keindahan kota Jinshe dari ketinggian, sangat luar biasa.


Dari tempatnya berdiri, terlihat seolah-olah seluruh kota diselimuti kabut, mengingat sekarang masuk musim hujan. Hotel yang ia tempati adalah bangunan yang tertinggi di tengah kota dan balkon kamarnya salah satu tempat dengan sudut pandang yang paling indah untuk menikmati keindahan kota.


Sella berulang kali menarik nafas dalam sambil meraba perutnya yang masih rata ia bergumam, "benarkah aku akan memiliki anak darinya ...?" Ia menoleh ke tempat tidur di mana Alrega masih tertidur pulas.


Ia kembali bergumam, "benarkah aku akan menjadi seorang ibu, sanggup kah aku mengurus anak keturunan Leosan? Ya Tuhan, aku hanyalah wanita biasa yang tidak pernah terpikirkan untuk memiliki seorang bayi, bahkan hamil pun tidak pernah terbersit sedikit pun. Namun, sekarang aku mengalaminya?"


Sella memikirkan bila ia harus melahirkan keturunan dari keluarga Leosan dan Haquel, seperti menyangga sebuah beban berat baginya. Memang benar ia tidak perlu repot untuk mengurus segala keperluan bayi itu, bahkan mungkin Alrega pun akan berbuat sesuatu, lebih dari yang ia harapkan, tetapi ia masih ragu dengan kemampuannya sendiri.


'Menjadi seorang ibu? Ck!'


Sejak semua kejadian masa lalunya terbongkar, ia merasa tidak perlu, menuruti Alrega, selama ini pria itu terlalu mengekang dan memaksanya dalam banyak hal. Sekarang, Sella ingin hidup normal seperti seorang istri dan seorang wanita pada umumnya. Tidak harus selalu di dalam rumah dan mengurus mertuanya yang mengalami gangguan jiwa. Tidak.


Namun, ia merasa bahwa ujian hidupnya belum selesai, sekarang ketika Zania sudah sembuh, justru Ia mengetahui bila dirinya hamil. Kemungkinan, hal ini akan membuat dirinya tidak bisa bebas melakukan apa yang ia inginkan.


Tiba-tiba, sebuah tangan besar melingkari pinggangnya, membuat Sella terkejut. Ia baru saja melihat laki-laki itu masih nyenyak di atas tempat tidurnya dan sekarang Alrega sudah berdiri dan memeluknya dari belakang.


"Di sini dingin," bisik Alrega di telinga Sella.


Sella Sella membalikkan tubuhnya seraya membalas pelukan Alrega dan mencium pipinya, membuat pria itu tersenyum.


"Aku tidak tahu kau sudah bangun."


"Memangnya apa yang kau tahu tentang aku?"


'Ah. iya ... aku tidak tahu banyak tentang dirinya'


"Apa itu masalah, kalau aku tidak banyak tahu tentang dirimu?"


Alrega tidak menjawab dan ia balik bertanya, "apa yang kau lakukan disini?"


Mereka masih saling berhimpita.


"Tidak ada, aku hanya melihat pemandangan di luar, aku belum melihat kota Jinshe dari sini sebelumnya, ini luar biasa."


Alrega mengangguk tanpa ekspresi, lalu dia berkata, "jendela balkon kita ini tempat yang paling tepat untuk melihat keindahan kota di pagi hari. Kalau kamar Nenek, tempat yang paling baik untuk melihat pemandangan kota di sore hari."


"Benarkah?"


Alrega kembali mengangguk, dan kembali bertanya, "apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


'kau yang menggangguku, tahu?'


Sella menggelengkan kepalanya.


"Apa ada yang kau pikirkan?"


"Tidak, tidak ada ada."


"Apa kau ingin makan sesuatu, atau ada yang kau inginkan? Katakan saja, nanti pelayan akan membawakan apa pun yang kau mau."


"Sudah kubilang, aku tidak mau apa-apa, aku baik-baik saja."

__ADS_1


"Apa kau yakin? Atau ada sesuatu yang mungkin ingin kau katakan padaku?"


Sella menggelengkan kepalanya lagi.


Mereka melepaskan pelukan dan kini berdiri berdampingan di sisi dinding pembatas balkon.


"Hmm ... Al,"


Alrega menoleh, "apa?"


"Apa kau tidak bekerja? Ini sudah siang." Sella melirik jam dinding.


"Tidak, aku akan di sini saja, aku sudah mengambil cuti hari ini."


'Kenapa kau harus cuti? Ah, aku mau pergi dan aku ingin bebas hari ini!'


"Apa ada sesuatu, sampai kau cuti?"


'Ck! Itu, kan kantormu sendiri?'


"Aku ingin menemanimu, seharian di sini."


'Aku tidak perlu kau temani, justru akan merepotkan'


"Tidak perlu repot menemaniku, kau kerja kerja saja ..."


"Aku tidak repot, apa kau tidak senang kalau aku seharian disini? Anggap saja Ini bulan madu."


'Ahk, sepertinya tidak ada bulan madu untuk kita, sekarang aku sudah hamil. Mana ada pasangan yang bulan madu tapi sudah hamil?'


"Kenapa kau tertawa, apa kau tidak mau berbulan madu denganku?" Alrega bertanya dengan raut wajah yang keruh.


"Bukan begitu ..." Diam sejenak. "Bukankah kau sibuk?"


"Aku bisa meninggalkan semua kesibukanku demi dirimu."


"Benarkah? Apa itu artinya kau mencintaiku?" Sambil berkata, Sella berbalik dan menatap Alrega lekat-lekat.


'Hei, apakah harus mengatakan seperti apa perasaanku? Apa tidak cukup bagimu, dengan melihat semua yang sudah aku lakukan, selama ini, apa kau tidak bisa menilai semuanya sendiri, sepenting itukah sebuah pengakuan?'


Pada akhirnya, sebuah pengakuan dari setiap insan tetaplah membutuhkan pembuktian, walau berkata lebih mudah ... tapi bagi sebagian orang perbuatan adalah bukti yang tidak terbantahkan walau tidak ada perkataan.


Mendengar pertanyaan Sella, Alrega menatap Sella sekilas, lalu meninggalkannya pergi menuju kamar mandi.


Saat mulai melangkah, ia berkata, "baiklah aku akan pergi bekerja kalau memang itu maumu."


'Hais, dia ini sensitif sekali, mengutarakan perasaan tidak akan membuat kita mati'


Bukankah Tuhan memberikan perasaan dalam hati manusia sebagai ukuran untuk saling berempati antar sesama? Hati menjadi wadah segala rasa, terutama cinta, sebab tanpa rasa itu, manusia tidak layak disebut sebagai manusia karena dia hanya akan menjadi kerangka, yang berjalan tanpa makna.


Bahkan dalam hati manusia hanya ada satu buah rongga yang apabila sudah terisi oleh satu orang, maka akan sulit diisi oleh orang lainnya. Pada hakekatnya manusia hanya memiliki satu hati saja, di mana hati itu hanya untuk mencintai satu orang.


Walaupun, ada orang yang mampu mencintai atau memiliki pasangan lebih dari satu, namun kenyataannya hatinya tidak bisa memungkiri bahwa ia hanya akan mencintai satu orang saja di antara mereka.

__ADS_1


Apakah itu bisa dikatakan adil apabila memiliki banyak pasangan, padahal hanya mampu mencintai satu orang saja? Di dunia ini, tidak akan pernah ada keadilan yang benar-benar mutlak.


Sella tersenyum masam, melihat punggung Alrega yang berjalan menjauh.


Sementara Alrega menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan kamar mandi, sambil menarik nafas dalam dan menatap langit-langit kamar.


Ia membiarkan Sella yang belum mau jujur kepadanya untuk mengakui kehamilannya. Ia tidak akan memaksanya bicara karena apabila memaksanya, ia khawatir bila Sella akan menyembunyikan segala sesuatu dari dirinya. Saat ini, yang bisa ia lakukan adalah menunggu bagaimana sikap Sella selanjutnya.


Alrega takut bila Sella membencinya, ia ingin membuat Sella lepas dari rasa bersalah yang selama ini selalu mengganggunya, ia ingin wanita itu benar-benar terikat secara lahir dan batin padanya, hanya mengandalkannya dan tidak bisa lepas dari dirinya. Oleh karena itu ia membiarkan Sella berbuat yang diinginkannya.


***


Hari itu di kamar Zania, Sella sedang membantu memilihkan pakaian yang akan dikenakan untuk arisan pertama, setelah ibu mertuanya itu sembuh.


Yorin juga bersama mereka karena memilih gaun adalah kegemarannya, gadis itu seperti model saja. Memadu padankan beberapa pakaian ke tubuh Zania. wanita itu mengajak Sella untuk ikut arisan bersamanya, tetapi ia menolak karena ingin pergi ke suatu tempat.


Setelah Sella pulang dari Hotel tadi, ia merasakan sakit kepala, juga mual yang luar biasa, tapi ia tidak mengatakannya kepada Alrega dan siapa pun karena khawatir laki-laki itu akan membatalkan kepergiannya ke kantor.


Akhir-akhir ini, Alrega selalu menunjukkan kekhawatirnya yang berlebihan pada Sella.


"Benar kau tidak mau ikut dan menemani Ibu?" Tanya Zania pada Sella yang masih sibuk melihat-lihat pakaian di lemari besar di kamar Zania.


"Tidak, Bu, mungkin lain waktu, sekarang ada kakek yang menemani Ibu, kan?"


"Iya, tapi kau akan sendiri di rumah, sebab hari ini Yoorin juga mulai bekerja ...."


Sella tampak senang mendengar kabar bahwa Yorin akan mulai bekerja, padahal Ia pikir bahwa perempuan seperti Yorin, tidak perlu sibuk-sibuk bekerja pun tetap mendapatkan segalanya. Orang tua dan kakeknya sudah memberikan cukup uang untuk memanjakannya, dia sudah kaya, tidak perlu lagi bekerja.


Namun, pada kenyataannya lebih banyak anak orang miskin yang menjadi kaya, dari pada anak orang kaya yang tambah kaya raya.


"Iya Kak, aku hari ini akan bekerja."


"Baguslah kalau begitu."


"Se ... kamu juga kapan-kapan harus pergi ke arisanmu sendiri," kata Zania, membuat Sella tertawa kecil.


"Ah ... Ibu, aku tidak punya teman di sini siapa yang bisa aku jadikan teman arisanku?"


"Kak, aku akan mengenalkanmu pada beberapa orang yang bisa kau jadikan teman arisan. Apa kau mau?"


"Tidak ... tidak usah, aku mungkin akan mencari teman beruang, biar kami tidak akan miskin sesudah arisan."


Yorin dan Sella sama-sama tergelak, sementara ponsel Sella berdering beberapa kali. Sella melihat ponselnya dan itu panggilan dari nomor asing yang kemarin sudah menghubunginya. Wanita itu mengabaikan panggilan itu karena baginya menemani Zania dan Yorin lebih penting, hingga kedua orang itu selesai dengan aktivitas mereka.


***


Saat hari melewati siangnya, Sella meminta Lea mengantarkannya pergi ke suatu tempat.


"Kita akan kemana, Nona?"


Sella berdiri di samping mobil, ia menatap Lea dengan nanar, lalu berkata, "berjanjilah kau tidak akan mengadu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2