Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 78. Hatiku Seperti Kaca


__ADS_3

Sella berjalan memasuki rumah dengan tergesa-gesa karena pulang terlambat lagi kali ini. Ia memasuki kamar dengan nafas yang masih terengah-engah dan melihat Alrega duduk di sofa dekat balkon, sambil membaca sebuah buku.


Sella mendekatinya seraya melirik buku yang tengah dibaca, dan menyimpan dua paper bag pemberian Yorin, begitu saja.


Laki-laki itu tampak asik dengan bukunya, membaca kata demi kata seolah-olah makanan lezat yang menggugah selera, dan menganggap Sella yang berdiri di sampingnya, seperti udara yang tak terlihat.


Alrega seorang pebisnis, tidak mungkin ia membaca buku novel, seperti yang sering dibaca Sella. Semua buku yang dibacanya, mengenai pemikiran beberapa ahli strategi dalam menguasai sumber finansial dan mempertahankannya.


'Kalau dia menyukai novel dan cerita percintaan antara pria dan wanita sepertiku, itu artinya dunia sudah terbalik'


Sella sedikit bernafas lega, merasa Alrega tidak akan marah kerena keterlambatannya. Ia baru saja hendak berbalik, ketika Alrega meraih dan mencengkram kuat pergelangan tangannya. Tanpa mengalihkan perhatian dari bukunya.


Ia berkata, "ke mana saja, kau, kenapa baru pulang?"


Sella menatap Alrega dengan ekspresi seperti orang linglung, tak menyangka Alrega menegurnya, bahkan menangkap tangannya tanpa melihat, atau mungkin ia punya mata di belakang kepala.


"Maaf ... Aku baru tahu kalau kau sudah pulang,"


Hanya itu kalimat yang bisa terucap dari mulut Sella, dengan posisi tubuh yang kaku. Ia tidak bisa mengatakan apapun selain kejujuran.


Alrega mendongak, mengalihkan pandangannya pada Sella seolah-olah melemparkan pedang ke atas kepalanya.


"Jadi, kalau aku tidak pulang, kau terus bermain diluar, ha?"


'Memang apa salahnya, ih tanganku sakit, tau?'


"Tidak." Sella menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Ingin rasanya Sella menepis tangan besar yang mencengkram pergelangan tangannya. Ia tidak berdaya, laki-laki ini selalu bisa membuatnya menyerah, bahkan sebelum ia melakukan sesuatu padanya. Kadang ia menyesali kepergan sifat kerasnya, hanya karena rasa bersalah yang begitu besar pada Alrega.


"Aku sudah menunggu lama di sini, tau?!"


"Maaf ...."


"Kau kira maaf bisa mengganti waktuku?"


Sella menggeleng, ia mengerti, Alrega kesal karena waktunya terbuang percuma hanya untuk menunggu. Ia menghargai waktu seperti menghargai benda langka, setiap jam baginya berharga untuk bekerja keras, menjalankan strategi dan mendapatkan uangnya.


Tentu tidak sama dengan beberapa orang muda jaman sekarang, yang menghabiskan waktu untuk menyelesaikan permainan secara online di ponsel. Mereka bersenang-senang, sambil berusaha mendapatkan penghasilan dari permainannya.


Sepulang dari Mall tadi, Yorin, ibu dan nenek memang sudah terlebih dahulu kembali ke kamar masing-masing, sedangkan Sella tidak. Ia menghabiskan waktu selama beberapa menit untuk mencoba mengemudikan mobilnya, di sepanjang jalan masuk rumah.


Melihat Sella tidak merespon apa pun lagi, Alrega menyimpan buku di meja kecil, lalu berdiri dan mencengkram dagu wanita itu dengan sebelah tangannya yang lain.


"Kenapa kau diam, kau merasa bersalah lagi?"


Sella masih diam, tidak berusaha melawan atau mencium pipi, untuk mengendalikan amarah Alrega seperti biasanya.

__ADS_1


'Lalu kau akan menghukumku lagi, untuk memuaskan keinginanmu dan membuat seolah-olah cuma aku yang salah seperti biasanya?'


"Lalu?" Tanya Sella, dengan wajah memelas dan mata yang mulai berkaca-kaca, membuat Alrega melepaskan cengkraman dari dagu serta tangannya karena hatinya melunak, ia tidak tega.


"Aku tau, aku hanya perempuan pengganti, tapi aku cuma terlambat sebentar, apa kau marah?"


'Aku juga perempuan, hatiku gampang pecah karena banyak hal, tidak mudah untuk mengembalikannya kebentuk semula. Walaupun itu bisa, tapi wujudnya tidak akan sama' Sella.


'Dari mana dia dapat istilah wanita pengganti? Ah, dia ini' Alrega.


"Tidak, untungnya kau datang sebelum aku selesai membaca."


Alrega beralih duduk ke sisi tempat tidur, dan menggamit tangan Sella untuk duduk di sisinya. Ia tahu apa yang dilakukan wanita itu karena ia melihatnya berganti posisi dengan Leana di belakang kemudi, dari jendela kamar.


"Kenapa, apa kau senang hari ini, apa yang kau lakukan tadi, siapa yang kau temui, apa cuma itu yang kau beli?" Alrega berkata sambil melirik tas jinjing yang tadi dibawa Sella.


Sella merasa lucu karena Alrega belum pernah bertanya sebanyak ini padanya.


'Ah, dia pasti sudah tau semuanya, kan? Mana mungkin para pengawal itu diam saja, mereka dibayar jadi pengadu, dasar!'


"Aku menemani ibu melihat para artis menyanyi, aku belanja, menemani kakek, makan siang di sana, terus belajar menyetir ... Sudah itu saja."


"Sekarang sudah bisa?" Tanya Alrega dengan raut wajah datar.


"Bisa apa, nyetir mobil? Belum."


'Apa aku harus mengatakan semuanya?'


"Hmm ... Aku bertemu Zola."


"Siapa Zola?"


'Hei, kau tidak mungkin tidak tahu, kan?'


"Dia teman Delisa, aku minta alamat rumahnya."


"Dia bilang apa?"


"Dia minta maaf." Sella berkata sambil menghela nafas kasar.


Ia mengingat semua yang dikatakan Zola, sama seperti yang dikatakan Delisa, bahwa Alrega belum bisa melupakan mantan istrinya, ia masih mencintainya dan hanya menggunakan dirinya sebagai alat balas dendam saja.


"Hmm ... Apa kau memaafkannya?"


Sella mengangguk. Tidak ada gunanya mendendam karena semua sudah terjadi. Ia hanya ingin dicintai dan disayangi secara biasa karena ia hanyalah wanita biasa. Harapannya sederhana saja, hingga ia tidak merasa perlu harus merangkak untuk mendapatkan cinta Alrega.


Dulu, saat Sella mulai menyukai Alrega karena dinilai cukup menarik, tampan dan begitu baik sudah memberikan semua yang keluarganya butuhkan, ia merasa cinta Alrega berada di puncak menara yang tak tergapai. Hingga ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan pernah mendapatkannya. Ia bahkan tidak berusaha dan menjalani semua yang harus ia jalani, agar semua terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Sella punya sebuah tempat yang sering ia pakai untuk merenungkan jalan hidupnya atau saat ia kesal akan satu hal, ia akan berteriak sesukanya di sana. Tapi sekarang ia tidak bisa lagi melakukannya, walau ia sangat ingin berteriak dan menangis sejadi-jadinya.


"Benar, kau tidak marah? Dia sudah memaksamu." Alrega bertanya sambil mengerutkan alisnya.


"Seharusnya aku marah pada diriku, aku yang bodoh ... Aku dijadikan alat untuk menghancurkan pernikahanmu oleh Delisa, dan sekarang kau, menjadikan aku alat, untuk balas dendam padanya." Sella tertawa kecil diakhir ucapannya.


'Naif sekali bukan?'


Mendengar perkataan itu, Alrega meraih bahu Sella dan memeluknya. Saat itu Sella kembali berkata, "dia bilang kau sudah mengetahuinya sejak awal, apa itu benar?"


Alrega menunduk, melihat wajah Sella yang tengah mendongak menatapnya.


"Apa yang aku tahu sejak awal?"


'Ah, bodohnya aku, orang seperti dia mana mungkin tidak tahu, kau sudah memanfaatkan rasa bersalahku, Tuan Al!'


"Dia bilang, kau sudah tahu bahwa aku tidak bersalah dan kau hanya menggunakan aku untuk balas dendam."


"Omon kosong macam apa itu?"


"Zola mungkin benar, kau ingin Delisa merasakan seperti apa yang kau rasakan. Aku juga tahu, seperti apa rasanya dikhianati."


Alrega melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Sella yang tiba-tiba mengalir, dengan jari-jari tangannya yang ramping. Lalu menciumi seluruh wajahnya selama beberapa saat dan beranjak dari duduknya seraya berkata.


"Itu, tidak penting, yang penting kau istriku sekarang."


'Tapi bagiku itu penting'


Alrega berjalan ke meja rias dan membuka salah satu lacinya. Ia mengeluarkan sebuah kartu debit dan akta pernikahan. Lalu menyerahkannya pada Sella.


"Apa ini, aku sudah punya," kata Sella sambil menyimpan kartu debit itu di atas kasur dan melihat akta pernikahannya.


'Dia serius, benarkah ini? Dia mendaftarkan pernikahannya, ya Tuhan ... Ini surat cinta yang sesungguhnya, ya kan?'


"Apa kau senang?" Tanya Alrega sambil melipat tangan di depan dada.


Sella menatap Alrega dengan senyum yang sumringah di bibirnya, lalu mengangguk. Ia tahu, bagaimanapun cinta butuh pembuktian, tapi orang seperti Alrega, mungkin kah ia mencintainya?


Surat nikah, bisa menjadi bukti kesungguhan seseorang membina hubungan, yang akan membuat pertalian darah diantara anak-anak mereka kelak. Alrega menunjukkan bukti itu, tapi Sella masih meragukannya karena pria itu tidak pernah mengatakan perasaannya.


Bunga-bunga seolah beterbangan di atas kepalanya. Laki-laki di depannya yang berdiri dengan menunjukkan kemulyaannya itu tidak akan keliru mengambil langkah sebesar ini. Jadi ia tidak perlu khawatir, Delisa mengusiknya lagi.


"Ini bukan milikmu, berikan pada Delisa, kalau kau ingin membayar hutang padanya, jumlahnya sesuai dengan uang yang kau dapatkan. Pin- nya, tanggal lahirnya."


Alrega berkata sambil menyimpan kartu itu kembali ke tangan Sella dan duduk di sampingnya.


"Tunggu, dari mana kau tahu berapa uangnya, dan kau masih ingat hari ulang tahun Delisa?!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2