
Sella menatap Alrega dengan raut wajah bingung. Ia menyerahkan ponsel pada Zen, sambil berkata, "aku tidak menemukan apapun, ayo. Aku lapar."
Sella menggamit tangan Alrega seperti sudah kebiasaan, dan berjalan mendahuluinya sambil memalingkan pandangan, berharap Alrega tidak melihat perubahan diwajahnya. Hatinya malu, sekaligus merasa bersalah, hanya karena sebuah nama. Sepertinya sampai di rumah nanti, Sella akan mengganti nama Alrega diponselnya, tapi siapa?
Sementara, Zen melihat pada layar ponsel tanpa eksoresi. Pensel itu masih menyala, ketika diberikan padanya. Pada layar ponsel menunjukkanisi pesan lama antara Sella dan Alrega, yang hanya beberapa kalimat saja. Ia pun kembali menyimpan ponsel di saku bagian dalam jasnya.
Alrega mengimbangi langkah kaki Sella. Walaupun wanita itu berjalan mendahuluinya, ia tetap bisa mensejajarinya. Karena kakinya lebih panjang dari kaki Sella. Hingga mereka sampai di lobi gedung pemerintah kota, dimana perjanjian kontrak dibuat, Alrega mempercepat langkahnya. Sella kini terlihat kesusahan mengikutinya, tapi dengan gerakan tangan dan kaki Alrega selanjutnya, begitu menjaga dan melindunginya.
Ini gedung pemerintah kota, banyak para pemburu berita di sekitarnya. Saat mereka tiba, Zen tidak begitu kerepotan karena jumlah para pencari berita itu tidak banyak, tetapi sekarang, para pencari berita itu menyerbu meeeka menanyakan bagaimana hasil dari penjanjian kontrak dengan pemerintah kota. Meski demikian, penjagaan yang bagus dan pengawal Alrega selalu siap menjaga orang penting itu dari kerumunan. Alrega merengkuh bahu Sella dengan satu tangan dan menutupi wajahnya dengan tangan lainnya, hingga sampai di mobil.
Cara Alrega memperlakukan Sella, seolah-olah dirinya seorang artis yang butuh perlindungan privasi darinya. Sella merasa sikap Alrega itu berlebihan, sebab para wartawan itu tidak akan ada yang perduli dengan dirinya.
'Ck! Mereka itu hanya butuh berita tentang bisnismu, bukan tentang aku. Justru mereka lebih senang merekam gambarmu yang tampan itu'
Tetapi bagi Alrega, tidak boleh ada berita tentang Sella kecuali saat hari pernikahannya saja. Ia tidak ingin wajah Sella terpampang dimana-mana hingga membahayakan atau merusak kebebasannya.
Zen menjalankan kendaraan mereka menuju sebuah restoran. Seperti biasa mereka memesan private room untuk makan siangnya. Sekali lagi Alrega menunjukkan sikap perduli pada Sella.
Ia menaruh beberapa makanan diatas piring Sella, sambil berkata, "makanlah yang banyak, agar kau tidak kurus."
Sella melakukan hal yang sama pada Alrega. Ia tersenyum, lalu berkata, "kau juga, Sayang, makan yang banyak agar tidak lapar."
Alrega melirik Sella sekilas, dan menikmati makanannya sampai habis. Ia selesai lebih dulu, dan terus memperhatikan gadis itu makan dengan lahap, seperti belum pernah makan sebelumnya.
"Apa makanannya enak?" kata Alrega sambil menghapus sisa makanan di bibir Sella dengan jari tangannya. Sella memundurkan lehernya ketika menyadarinya.
"Iya, ini enak. Seandainya ada makanan seperti ini di rumah. Hehe."
"Hamm."
"Aku cuma bercanda, sayang."
Kali ini Zen ikut makan bersama mereka, tapi laki-laki ini hanya diam, ia makan tanpa suara. Ekspresinya datar, seakan-akan makanannya tidak berasa, bahkan sulit membedakan, apakah ia sedang makan siang atau membaca sebuah dokumen.
"Ayo," kata Alrega ketika Sella sudah menghabiskan makanannya.
Iya menggamit tangan Sella dan berjalan keluar dari ruang privat. Sella mengikutinya sambil melihat tangannya yang kembali digenggam oleh Alrega Dia mendongak pada Alrega, sambil berkata, "apa kita akan pulang?"
"Mengapa kau selalu ingin pulang. Kau bosan bersamaku?" tanya Alrega, dan menghentikan langkahnya.
Mereka kini berada di halaman restoran. Sementara Zen meninggalkan mereka untuk mengambil mobilnya.
"Hehe. Bukan bukan seperti itu," jawab Sella sambil menggelengkan kepalanya. "Aku hanya memikirkan ibu."
"Bagaimana dengan ku, apa kau tidak memikirkanku?" Tanya Alrega.
'Memangnya apa yang harus aku kuatirkan tentang dirimu?'
Sella menjawab, "sayang, aku tidak perlu khawatir padamu, kan?" Sambil menepuk-nepuk dada Alrega. "Kau bisa menjaga dirimu dengan baik."
__ADS_1
Alrega mencibir sambil berkata, "justru kau harus lebih khawatir padaku, bagaimana bila ada wanita lain selain dirimu, apakah kau mau?"
Deg. Jantung Sella berpacu lebih kuat. Ia teringat masalalu ibunya kembali. Ya, inilah yang membuatnya menahan perasaannya untuk Alrega karena tidak ingin menjadi seperti ibunya yang ditinggalkan ayahnya karena wanita lain. Tapi bukankah ada Delisa dihatinya?
Sella mengerutkan alis, dalam hati ia berkata, 'memangnya aku bisa apa Kalau kau melakukan itu?'
Setelah diam sejenak, Sella akhirnya menjawab, "tentu aku tidak mau, aku hanya ingin kau menjadi milikku."
"Bagus! Kalau begitu, tetaplah bersamaku sampai tiba waktunya pulang." kata Alrega terdengar ambigu.
Maksud Alrega menahan Sella hari itu, antara ingin menghindarkannya dari Delisa, dan membuat Sella mengerti dirinya sekaligus ia ingin lebih dekat dengannya.
"Baiklah." Sella menjawab pasrah. "Aku akan tetap bersamamu..."
Mereka masuk ke dalam mobil secara bersamaan, dan duduk duduk, Alrega menarik tubuh Sella hingga mereka duduk dengan posisi tubuh yang saling menempel.
Sementara mobil terus melaju. Alrega memiringkan kepalanya melihat wajah Sella lebih dekat, hingga hembusan nafasnya terasa menyapu wajah Sella. Ia memegang dagu Sella agar fokus menatapnya.
"Apa kau takut aku akan seperti ayahmu?" tanya Alrega. Tatapannya seperti menghunjam tepat dibola mata Sella.
Seketika Sella terhenyak, karena tidak menyangka Alrega mengerti pikirannya, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Satu tangan Alrega mencengkram dagunya dan satu tangan yang lain menahan punggungnya. Sorot mata Sella mengatakan segalanya, mata itu mulai berkaca-kaca.
"Dengat.." Suara Alrega pelan tapi penuh penekanan.
"Kau harus percaya padaku, seperti aku percaya padamu, kalau kau tidak bersalah. Apa kau mengerti?"
Sella mengangguk dan Alrega mencium bibirnya sekejab tapi terasa hangat. Mengalirkan rasa yang berbeda hingga bulu kuduk Sella meremang seolah-olah hantu yang mengerikan sedang lewat di belakangnya.
"Masih, tuan," jawab Zen. Mendengar jawaban dari Jen, Alrega memejamkan mata sambil menggeretakkan giginya.
Sella kembali mendongak, lalau berkata, " apakah aku boleh bertanya sesuatu?"
Alrega menoleh kembali pada Sela sambil mengerutkan alisnya, lalu bergumam, "hmm..."
"Sayang, kalau kau percaya bahwa aku tidak bersalah, lalu siapa sebenarnya bersalah?" mendengar pertanyaan dari Sellaa kedua laki-laki itu terlihat mengepalkan tangan mereka.
Zen melihat pada Alrega melalui kaca spion depannya, wajah tuannya menunjukkan ekspresi dingin seperti biasa. Ia berharap Sella tidak berbicara lebih jauh lagi mengenai prasangkanya pada Delisa. Ia belum tahu kemaran Alrega seperti apa.
Alrega menjawab dengan tenang, "suatu saat kau juga akan tahu."
"Eumm. Bolehkah aku menebak Siapa orangnya?" tanya Sella.
Alrega menyahut, "Siapa?"
"Delisa." jawab Sella, ragu kemudian kembali berkata, "Entahlah itu perasaanku saja. Maaf kalau aku menyinggung mu."
'Aku tahu kau masih mencintainya, kan?
Melihat Alrega diam dan menarik nafas dalam, Sella khawatir akan kemarahan Alrega. Dia orang berpengaruh di kota, siapa yang bisa menyinggungnya?
__ADS_1
Ia dengan buru-buru berkata, "Sayang. Jadi maafkan aku ya? Aku hanya berpikir seperti itu karena dia sangat mirip dengan wanita yang menemuiku di cafe waktu itu, bahkan suaranya pun sama. Apa kau marah kalau aku menuduhnya? Maaf..."
"Tidak mungkin, kan? Dia adalah wanita yang kau nikahi, bagaimana mungkin dia merencanakan untuk menghancurkan pernikahannya sendiri? Bukankah itu lucu? Maaf, sekali lagi maafkan aku kalau tebakanku salah. Jangan marah, ya?" Sella terus berbicara. Suaranya yang lembut dan agak sengau dihidung memenuhi suasana dalam mobil itu yang tanpa terasa sudah masuk ke wilayah Kaki Langit.
Alrega hanya diam, sengaja membiarkan Sella mengeluarkan isi hatinya. Alrega tidak membantah ataupun membenarkan ucapan Sella. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Untung saja Sella tidak memperhatikannya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan bila kau tahu siapa pelaku sebenarnya?" tanya Alrega membuat Sella mengatupkan bibirnya rapat.
"Eumm, aku sudah mendapatkan sejumlah uang darinya, sebagai imbalan atas kerjasama yang kami lakukan. Jadi aku ingin mengembalikan uang itu kepadanya. Aku merasa bahwa harga diriku sudah tergadai karenanya, tapi aku harap orang itu bukan dia." kata Sella.
Ia diam sebentar dan kembali berkata, "Aku dulu pernah mengatakan padanya bahwa aku akan mengembalikan uangnya suatu saat nanti, karena aku menganggapnya sebagai hutang. Aku merasa aku sudah tidak mempunyai harga diri. Aku adalah orang yang jahat yang sudah menghancurkan pernikahanmu. Maafkan aku sayang," kata Sella sambil mengusap pipi Alrega lembut, rasa bersalah memenuhi benaknya.
Alrega meminta Zen untuk memberikan kartu debit miliknya dan ia memberikan kartunya kepada Sella, sambil berkata,
"Kalau kau menemukan orangnya gunakan kartu ini untuk membayarnya, gunakan kartu ini sesuka hatimu dan untuk membeli semua yang kau butuhkan."
"Itu, tidak perlu. Aku sudah menabung untuk itu. Kalau aku menggunakan uangmu, sama saja harga diriku tergadai olehmu." kata Sella sambil mendorong kartu dsbit dari tangan Alrega.
Mereka berdua saling menatap lekat. Alrega tampak kesal mendengar ucapan Sella yang berani menoaknya. Padahal, tidak masalah kalau harga seorang istri tergadai pada suaminya, bahkan hidup atau nyawanya kalau bisa, akan ia kuasai sepenuhnya. Ia ingin melakukan sesuatu pada Sella sebagai ungkapan kekesalannya tetapi mobil sudah sampai di gerbang pintu Kaki Langit.
Alrega hanya berkata, " jadi begitu." Sambil mengusap wajahnya dengan satu tangan.
Mobil memasuki halaman dan ketika sampai di teras rumah, Alrega keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk Sella. Semua pemandangan itu bisa dilihat dari dakam rumah oleh semua orang.
Alrega menggandeng tangan Sella masuk rumah, mereka berdua disambut oleh Pak Sim. Dii ruang tamu Yorin, Delisa dan nenek mereka semua menatap Alrega dengan muka masam. Alrega melewati mereka begitu saja tapi Delisa menghentikannya dan memeluk lengan Alrega.
Ia menghadapkan tubuhnya pada Alrega, sambil berkata, "bukankah kau sudah memaafkan aku, sayang?"
Al Rega memundurkan tubuhnya menjauhi Delisa sambil mengangguk. Delisa merengek seperti anak kecil, sambil berkata, "Kalau kau sudah memaafkan aku, kenapa kau masih seperti ini? Seharusnya kau bersikap lebih baik padaku, kan?"
Sella melirik pada mereka berdua kemudian ia melepaskan genggaman tangan Alrega dan berjalan melangkah menuju kamarnya sendiri di lantai dua.
Zen masih berdiri dibelakang Alrega seperti biasanya, kecuali bila Alrega menyuruhnya untuk pergi, maka ia akan pergi.
"Bukankah kau hanya ingin maaf dariku?" sahut Alrega.
"Iya." kata Delisa.
"Bukankah itu cukup. Jadi pergilah."
Delisa melepaskan pelukannya dari Alrega, ia merasa sudah putus asa. Dulu ketika ia menjadi kekasihnya, Alrega akan sangat melindungi dirinya dan ia juga membenci wanita-wanita yang mendekatinya atau berusaha menyakitinya. Sekarang Delisa sadar bahwa Alrega akan melakukan hal yang sama untuk Sella. Ia merasakan kebencian lebih hebat dari sebelumnya, seperti tumpukan awan mendung yang menggumpal, siap menurunkan badai di hatinya kapan saja.
Alrega pergi menuju ruang kerja, Zen berjalan di belakangnya sambil menyeringai, ia memberi Delisa senyuman itu tanda mengejek. Pak SIM membukakan pintu ruang kerja, sambil berkata, "Apakah Tuan akan makan siang?"
Zen yang menjawab, "kami sudah makan."
Mendengar jawaban itu, Pak Sim pun pergi menemui Sella. Siapa tahu Nona mudanya itu membutuhkan sesuatu darinya. Pak Sim mengetuk pintu dengan perlahan, sambil memanggil, "nona, apa nona muda membutuhkan sesuatu?"
Tidak ada jawaban, di dalam kamar Sella sedang menangis. Pak Sim sudah cukup lama menunggu, hingga ia berpikir kalau Sella mungkin ingin sendiri dan tidak mau diganggu.
__ADS_1
Sementara, Delisa menangis memeluk nenek, ia merasa sedih dan putus asa pada Alrega, hingga yang ada dalam hatinya adalah dendam untuk menghabisi Sella. Ia bertekad kalau ia tidak bisa memiliki Alrega maka wanita lain pun tidak bisa memilikinya.
* Maaf novel ini sedang mengalami revisi. Mungkin akan banyak perbaikan dalam beberapa bab. Jadi mohon maaf bila ada notifikasi, tapi bukan episode baru, melainkan hanya pembaruan. Terimakasih atas dukungannya *