Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 46. Kenangan Yang Tajam Lagi


__ADS_3

Sella kembali ke rumah dan mengganti pakaiannya dengan dress yang ia kenakan saat datang. Ia harus lebih hati-hati mulai sekarang titik karena yang ia sandang saat ini adalah nama yang besar dari keluarga terhormat. Nama yang melekat padanya sebagai menantu dari keluarga Haquel dan Leosan. Nama yang sangat berpengaruh di Jinse.


Sella sudah menghafalkan beberapa lagu dan merekamnya di ponselnya. Ia sudah mencari lagu itu di dalam web dan internet yang yang ada dari rekomendasi ibunya. Sehingga ketika kembali ke kediaman keluarga Leosan, ia akan segera menyanyikannya bersama dengan Zania. Ia berharap usahanya kali ini benar-benar membuat reaksi yang berbeda dan Zania menunjukkan perkembangan yang baik. Sehingga ia bisa melakukan suatu yang lainnya lagi. Dan segala cara akan ia lakukan, membuat kesembuhan Zania lebih cepat, hanya itu harapan terbesarnya kali ini.


Sheila berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Zen. Mereka dalam perjalanan pulang ketika hari sudah hampir gelap. Zen mempercepat laju kendaraannya ketika Sela memulai mengajaknya bicara.


"Sekertaris Zen, apa kau kenal baik dengan Delisa?" tanya Sella sambil mengetuk ketukan jari di kaca jendela mobil yang tertutup. Zen tidak menjawab ia hanya melirik Sela melalui kaca spion di depannya.


"Aku lihat orang yang mirip Delisa, waktu perjalanan kemari, aku melihat Delisa dengan temannya. Apa kau juga mengenal siapa teman Delisa? Kalau kau mengenalnya, katakan padaku siapa namanya?" kata Sella, masih melihat keluar jendela.


Sella berpikir bahwa tidak mungkin Zen tidak mengetahui tentang Delisa dan temannya, mengingat semua rahasianya saja ia ketahui.


Tapi dengan tegas dan menjawab, " Saya tidak tahu nona."


"Hei, tuan penurut! Aku tau...kau bukannya tidak tahu tapi kau hanya malas memberitahuku! Iya kan?"


"Iya, nona. Anda benar."


'Kalian ini menyebalkan sekali'


Duk! kursi di depan, kembali ia tendang dengan ujung sepatunya.


Ck!


"Sekertaris Zen. Nenek bilang Delisa akan berkunjung kerumah." Sella berkata lagi, sangat tidak enak berkendara dalam.suasana sepi seperti ini. Ia sedang tidak bersama hantu yang menakutkan.


'Pasti dia juga tahu, kan?'


"Menurutmu apa aku akan disingkirkan oleh tuan Al, dan apakah mereka akan bersatu kembali?"


'Apa, anda panggil tuan, Al. Apa tuan tidak marah? Selama ini tuan sangat tidak suka dipanggil dengan nama seperti itu walaupun itu adalah sebagian dari namanya juga'


"Nona, sebaiknya anda memanggil nama seperti itu hanya dihadapan tuan saja," kata Zen.


'Hei, itu bukan pertanyaanku, tau?'


"Kenapa? Apa tuan tidak menyukainya? kalau begitu maka aku akan memanggilnya setiap saat dengan nama itu di manapun aku berada," sahut Sella sambil tertawa kecil.


'Rasanya senang sekali mengganggunya dan membuatnya kesal karena ia juga suka membuatku kesal hahaha'


Zen mengerutkan alisnya, ia melihat dari kaca spion, raut wajah Sheila yang berubah seperti menertawakan sesuatu. Ia mencurigai bahwa Sella akan berbuat hal yang tidak menyenangkan bagi tuannya. Zen merasa perlu untuk memberi penekanan pada nona muda yang ada dibelakangnya itu.


"Nona... Nona sebaiknya anda mengerti apa yang tidak disukai dan disukai oleh Tuan Rega. Karena mengetahui tentang itu akan sangat baik untuk Nona selanjutnya. Bukankah Nona tahu apa akibatnya bila Nona melakukan hal yang tidak disukai oleh Tuan Rega?" kata Zen memberi penjelasan.


Mendengar perkataan Zen itu, Sella seperti tersadar. Dan ia mendengus sambil menyandarkan kepalanya


"Sekertaris Zen, jawab saja pertanyaanku, kau belum menjawabnya. Atau aku akan mengatakan pada tuan Al, bahwa kau tidak menuruti perintahku. Bagaimana?"


Mendengar kata-kata Sella, Zen menyunggingkan senyum miringnya. Ia berpikir rupanya Nona mudanya ini sudah pandai dalam memanfaatkan Alrega agar Zen mau menuruti keingintahuannya.

__ADS_1


"Soal, tuan Rega dan Delisa? Itu itu tergantung Bagaimana Nona bersikap kepada tuan Rega. Semakin baik anda memperlakukan tuan Rega dengan manis, maka tuan Rega akan mempertahankan anda," kata Zen dengan senyum licik di bibirnya.


'Benarkah? Tapi bagaimana aku harus beesikap manis?'


"Dan sekarang, bolehkah saya yang bertanya nona?"


"Ah, tentu saja kau ingin bertanya apa? Aku akan menjawabmu selama itu bukan soal matematika!" sahut Sella sambil tertawa.


"Kalau Nona ingin tahu bagaimana nanti tuan Rega bersikap kepada anda? maka seharusnya anda tahu bagaimana perasaan Anda terhadap tuan. Apakah anda mencintainya? Apakah anda ingin tetap berada di sisi-nya atau tidak?"


"Tentu aku ingin tetap berada di sisinya. Kalau tidak, maka bagaimana aku harus membayar hutangku? Semua yang sudah Ia berikan padaku, juga semua hadiah-hadiah itu, ia menganggapnya sebagai hutang yang harus kubayar dengan nyawaku."


"Ahk, jadi hanya Seperti itu perasaanmu nona. Apa anda tidak menyukai tuan, misalnya karena ketampanannya?"


"Haha. Sekertaris Zen. Tuan memang tampan, aku suka itu, tapi aku tidak layak di sisinya, aku ini adalah orang yang sangat jahat padanya, memisahkan tuan dari orang yang dicintainya. Mana mungkin tuan bisa mencintai orang sepertiku." Sella berkata dengan nada putus asa.


"Jadi aku lebih baik tidak mencintainya karena aku tidak ingin mengalami nasib seperti ibuku!"


'Ahk, kasian sekali anda nona. Harus kah aku bilang semua dugaanku padanya? Tidak, aku khawatir kalau nona akan pinsan bila aku mengatakan saat ini'


Sementara itu di kediaman Leosan, Alrega sudah berada di ruang kerjanya sejak sore hari. Ia memaatikan dokter mengunjungi Zania hari ini sesuai jadwalnya. Dokter Tina. mengatakan tentang perkembangan Zania yang sangat bagus yang ia sendiri tidak menyangka bahwa itu akan terjadi.


Dokter Tina berpesan bahwa sebaiknya Alrega dan keluarganya memperlakukan Sella dengan baik karena Sella berpengaruh baik juga terhadap perkembangan kesehatan Zania.


" Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya hari ini. Padahal aku ingin tahu seperti apa istrimu yang satu ini?" kata Tina sambil tertawa ringan.


"Ya, ya Aku bercanda. Apakah dia mempunyai pengalaman atau pernah belajar ilmu psikolog sebelumnya?" tanya Dokter Tina, di ruang kerja Alrega, Rehandi duduk di diantara mereka berdua dengan raut wajah datar.


Alrega melirik pada Rehandi, lalu ayah itu menjawab, "Tidak, dia tidak memiliki pendidikan tertentu. Dia hanya pernah mengalami masa lalu yang buruk dengan keluarganya, ibunya mengalami nasib yang sama seperti Zania, ia merawatnya seorang diri sampai akhirnya ibunya sembuh, sampai saat ini."


Mendengar penjelasan dari Rehandi itu, Tina sempat tidak percaya tapi kemudian ia yakin bahwa inilah kekuatan dari ilmu, sebuah pelajaran yang diambil dari sebuah pengalaman hidup yang berharga.


"Baik-baiklah dengan istrimu, jaga dia jangan sampai pergi lagi," kata Tina dan kemudian ia berlalu setelah berkata seperti itu. Ia pergi meninggalkan tempat itu diantar oleh pak Sim sampai ke pintu.


"Terimakasih Dokrer atas waktu anda" kata pria tua itu sambil menunduk sopan.


Sheila sampai di rumah Karena begitu lelah, Iya langsung menuju ke kamarnya dan merebahkan diri di tempat tidur Alrega.. Menikmati kasur empuk yang tidak pernah ia gunakan kalau si pemilik tempat tidur ada disana. Pikirannya menerawang dan matanya menatap ke langit-langit kamar.


Iya mengingat kakek Mett dan juga mengingat masa lalunya yang menuedihkan, berdamai dengan keadaan yang saat ini harus hadapi. Masa lalunya hanyalah sebuah kenangan. Kenangan memang tajam, kenangan tidak pernah berbentuk seperti apa, kotak atau bulat, Tapi kenangan itu bisa tajam lebih tajam dari sebilah pedang bisa juga indah seindah matahari bila terbenam.


Sella tidak melihat ke sekitarnya dan tidak menyadari kalau sebenarnya Alrega sudah pulang. Saat itu Alrega berada di ruang kerja. Sella menganggap Alrega tidak ada,


'Dia belum pulang, kan? Ahk..mungkin ia sedang ada di kantornya'


Sella beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mengganti pakaiannya dengan piyama setelah itu ia kembali merebahkan diri, menikmati nyamannya tempat tidur Alrega, hingga tanpa terasa ia tertidur di ranjang, tanpa selimut dan bantal sedangkan posisi tubuhnya menyilang dengan kaki yang terjuntai ke bawah di sisi tempat tidur.


Di kamar kerja, Alrega sedang mengerjakan sesuatu dengan Zen. Kedua laki-laki itu membicarakan tentang pertanyaan Sella yang diajukan pada Zen selama di perjalanan tadi. Tampak Alrega bermuka masam setelah ia tahu bahwa Sella ternyata belum membuka hatinya, ia sangat menjaga dirinya karena trauma di masa lalunya.


Alrega ingin sekali membuat gadis itu benar-benar terikat padanya, memberikan seluruh hatinya dan tergantung sepenuhnya pada dirinya. Hanya saja gadis ini terlahir dengan prinsip yang kuat, walau sebenarnya hatinya sangat lembut. Butuh perjuangan yang lain dari Alrega untuk menunjukkan rasa cintanya dan meluluhkan hati Sella.

__ADS_1


Saat sudah hampir tengah malam, Alrega menyudahi pekerjaannya dan meminta agar Zen kembali ke apartemennya. Setelah Zen berpamitan dan dan keluar rumah, Alrega ke kamarnya diantar oleh Pak Sim seperti biasa.


Begitu Alrega masuk ke kamarnya, wajahnya dibuat mengernyit dengan melihat Sella yang berada di tempat tidurnya. Gadis itu tertidur dalam posisi yang tidak biasa, sedangkan lampu juga masih menyala.


'Lihat, dia. Beraninya tidur ditempatku. Tanpa seizin dariku. Awaa kau nanti'


Alrega dengan perlahan, menutup pintu dan menuju kamar mandi untuk menyelesaikan hajatnya. Setelah itu ia kembali ke tempat tidur, secara perlahan memindahkan posisi tidur Sella hingga terasa lebih nyaman. Saat itu pula ia tidur disamping Sella, mengambil posisi yang nyaman untuk bisa memeluknya.


***


Di Pagi harinya ketika Sella membuka mata, ia merasakan sesuatu yang hangat di pipinya, ia melirik sebentar ke arah jendela, sinar matahari menembus cerah ke arah tirai jendela yang tertutup. Ssejenak ia merasakan bahwa tubuh dan kakinya seperti ditindih oleh benda yang berat, dan ia sedang memeluk sesuatu yang yang keras.


Ia pun mengumpulkan kesadarannya menajamkan pandangan matanya yang terarah dada Alrega yang terlihat naik turun dengan nafas yang teratur. Ia mendongak dan melihat Alrega sedang memeluknya, mereka saling berpelukan.


Deg! Hati Sella berdebar dan jantungnya berdegup lebih kuat.


Sella secara perlahan berusaha melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Tapi satu paha Alrega menimpa di atas pahanya sehingga ia sulit bergerak kecuali harus membangunkannya. Dengan terpaksa Sella bertahan dalam posisinya, ia tidak ingin laki-laki itu terbangun hingga berbuat sesuatu yang tidak dia inginkan.


Siapa yang menyangka kalau Alrega sudah bangun dan tampak menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibirnya. Ia merasakan tubuh mungil yang ada dalam pelukannya tidak lagi bergerak bahkan terasa begitu tegang dan kaku di tangannya. Alrega pura-pura masih tertidur, ia bergerak sambil mengeratkan pelukannya pada Sella. Posisi wajah mereka berdekatan, bahkan udara yang keluar dari hidung Alrega pun terasa di wajah Sella.


Hingga beberapa waktu terlewat akhirnya Sella merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana, karena terkejut, ia mendorong tubuh Alrega menjauh darinya dengan gugup. Wajahnya tegang dan memerah. Setelah terbebas dari Alrega. Ia langsung turun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Alrega melihat tingkah Sella seperti ketakutan melihat hantu, ia tertawa geli dan menarik nafas panjang, sebenarnya ia masih ingin memeluknya lebih lama.


Alrega berpura-pura masih tidur, ketika Sella sudah selesai membersihkan dirinya. Maksud Alrega adalah agar Sella tidak terlalu malu ketika melihatnya. Setelah gadis itu selesai menyiapkan air hangat untuk mandi Alrega dan menyiapkan baju kerjannya. Sella keluar menuju kamar Zania. Sudah sehari semalam ia tidak menemui Zania, karena pulang dari kampung halamannya. Ia merasakan tubuhnya begitu lelah, hingga dengan cepat ia tertidur.


Begitu ia melihat Zania Ia pun memeluknya dan mengatakan bahwa ia sangat merindukan dirinya. Sella bersikap seperti anak yang baru bertemu ibunya setelah terpisah bertahun-tahun lamanya. Ia mencium dan memeluk Zania penuh dengan kasih sayang menumpahkan seluruh perasaan rindunya yang menggebu-gebu. Entah karena geli atau karena Sela menciumnya dengan bertubi-tubi, Zania sampai mengeluarkan suara tawa. Walaupun kecil tapi suara itu cukup terdengar jelas. Sehingga membuat Sella berteriak,


"Ibu! ibu, kau tertawa? Ayo.. Tersenyumlah untukku, bu! Ayolah, aku ingin melihat seperti apa senyum Ibu, semanis apa senyumanmu untuk ku. Aku Sese. Ingin sekali melihat ibu tersenyum... euh"


Setelah bercerita dan mengajak Zania berbicara, walau tidak ada lagi reapon yang berarti, Sela kemudian menyenandungkan sebuah lagu yang ia hafalkan bersama ibunya di rumah kemarin. Saat mendengar lagu yang Sella nyanyikan, Zania menoleh dan mengikuti lagu itu dengan gumaman yang lembut.


Bibir yang tidak pernah mengucapkan kata-kata apapun dan tidak pernah menyanyikan lagu apapun, selain teriakan dan tangisan, kini mulut Zania menggumamkan nada yang dinyanyikan oleh Sella. Walaupun samar dan perlahan tapi cukup jelas didengar oleh semua yang ada disekitar mereka berdua.


Di tempat yang lain ada dua orang laki-laki yang tertegun melihat pemandangan yang mereka lihat dari layar monitor di hadapan mereka.


Siang Hari ini terasa cukup panas. Meskipun demikian di dalam kamar Zania tetaplah terasa sejuk dan nyaman. Saat itu Sella yang sedang bersantai sambil bernyanyi di kamar Zania, mendengar lamat-lamat suara seseorang berteriak dari lantai bawah.


Suara teriakan itu adalah teriakan yang menunjukkan suasana hati orang sedang gembira. Ketika ia melihat kebawah, dilantai itu ia melihat seorang wanuta yang berjalan dengan anggun menghampiri nenek dan mereka berdua berpelukan.


Sosok wanita yang ada di lantai dasar itu, dalam pikiran Sella adalah orang yang selalu ia ingat. Ia adalah sosok seseorang yang ia simpan dalam memori otaknya dengan baik. Seseorang yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya. Pada orang itulah ia berjanji akan membayar hutang dari uang yang sudah ia dapatkan dengan cara yang tidak terpuji.


Dari kamar Zania, ia mendengar lagi suara Yorin, ia berteriak dengan keras dari kamarnya,


" Kak Deli! akhirnya kau datang, Kak. Apa kabarmu?" kata Yirin sambil berlari kebawah menyongsong seorang wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Kak Deli.


Wanita itu sangat cantik berpenampilan glamor dan elegan, rambutnya lurus dan indah seperti rambut artis iklan shampo di televisi.


'Dia adalah Delisa?!'


Sella hampir tak percaya. Seolah dunia yang dipijaknya terbalik dan ia berharap ia mati saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2