
Pintu tertutup secara perlahan bersamaan dengan Alrega yang membuka matanya. ia memikirkan apa yang baru saja ia dengarkan kan dari mulut Seila. Tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri, mendengar panggilan yang keluar dari bibir gadis itu untuk dirinya, Tuan Al. Sebuah panggilan yang tidak biasa baginya, bahkan belum ada yang memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi kata-kata itu terdengar begitu lembut di telinganya.
Alrega gelisah, ia tidak bisa memejamkan matanya sebentar saja. Padahal ketika ia pulang kerja, tubuhnya terasa sangat lelah. Tapi sekarang justru pikirannya kacau dan ingatannya dipenuhi dengan wajah Sella.
Ia adalah pemburu, orang yang mengeksekusi lawan dengan mudah, siapapun bisa tunduk, harus tunduk dan juga tunduk dengan suka rela padanya, tapi gadis itu sudah berkomentar polos padanya.
'Menurutnya aku orang yang lugu? Seberani apa dia mengatakan itu?'
Bagaimana hatinya tidak seperti digelitik mendengarnya. Tentu saja Sella berani mengataka itu karena ia menganggap Alrega sudah tidur.
Akhirnya Ia memutuskan untuk melihat apa yang hadis itu lakukan di kamar ibunya. Ia berjalan perlahan melewati tangga ke lantai tiga dan membuka pintu kamar Zania secara perlahan.
Seorang perawat yang melihatnya langsung terkejut sampai mulutnya terbuka tapi Alrega segera memberi isyarat agar ia diam dan mengabaikannya. Perawat itu bersikap seolah-olah ia tidak pernah melihat majikan mereka ada disana, melihat apa yang dilakukan oleh Nona mudanya bersama ibu mertuanya, dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
Alrega menahan geram dan kesal ketika melihat Sella kembali dipukuli Zania, namun ia hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia tak ingin ketahuan kalau ternyata ia sedang mengintip.
Sella kembali memeluk Zania. Para perawat memaksanya, ketika hendak diberi obat untuk terakhir kalinya, ini sejenis obat tidur yang membuat Zania tenang atau tertidur dalam waktu yang cukup lama, biasanya obat di berikan sebanyak empat kali.
Zania berteriak, meronta dan menolak untuk minum obat seperti biasanya. Sella kemudian memerintahkan para perawat untuk tidak lagi memberikan obat itu karena kemungkinan memang Zania tidak mau. Menurutnya, tidak perlu dipaksa dan Sella membiarkan Zania, meluapkan emosinya dengan memukul-mukul tubuhnya.
Seperti biasanya, ketika Naya memeluk Zania, ia akan terus memukul, menangis dan bergumam dengan gumaman yang tidak jelas, sampai akhirnya ia lemas dan menghentikan pukulannya. Saat itu pula Sella memegang tangannya, membawa tangan kurus wanita itu dalam dekapannya, menatap wajahnya dan tersenyum lebar, seolah-olah pukulan demi pukulan yang dirasakannya tidak berarti apa-apa.
Dan seperti yang sudah-sudah, ketika Sella bersikap seperti itu, maka Zanka akan menatap wajah Sella. Lama-kelamaan ibu mertuanya ini akan menjadi akrab dengan wajah Sella, di mata, pikiran dan hatinya, senyum Sheila terlalu manis dan tulus untuk diabaikan. Sehingga membuat Znia terus menatapnya. Seperti sedang mengamati atau mengenalnya lebih jauh.
Dalam kondisi mental yang seperti ini, biasanya manusia akan terlihat sangat riskan, bahkan menakutkan. Padahal hatinya justru lebih bersih, karena jiwa orang seperti ini hanya sadar dalam khayalannya sendiri. Ia tidak punya sifat iri dan dengki, apalagi jahat, pada sesama manusia. Kalau pun ada yang jahat itu karena latar belakang dari traumanya yang mengakibatkannya berbuat kejahatan, yang biasanya dipicu oleh rasa takut yang berlebihan.
Sella menuntun tubuh Zania untuk duduk di sisi tempat tidur mengajaknya berbicara dari hatinya, memasukkan kata-katanya ke alam pikiran dan alam bawah sadar Zania, kata-kata Sella seolah meraba dan mengambil hati dan pikiran yang terdalam dimana Zania terluka.
"Ibu, apa ibu sudah puas memukulku? Sese tau, ibu juga sakit. Tapi Sese lebih sakit. Sese kan anak ibu, masa dipukul si?" kata Sella merajuk seperti anak kecil yang manja. Tapi yang lucu ialah ia berkata sambil tertawa.
"Ibu, dengarkan Sese, mulai saat ini, tidak akan ada yang akan meninggalkan ibu. Semua sayang ibu. Semua ingin ibu bisa jalan-jalan lagi, oke?" Sella terus bicara dengan jelas dan tepat. Ia memanfaatkan kondisi pikiran Zania yang sedang fokus menatap wajahnya.
"Iya,, ini aku. Sese." kata Sella dengan kalimat yang jelas. Bahkan ia mengulangnya beberapa kali. Ia membawa tangan Zania kewajahnya sendiri dan ia melakukan seperti saat ibunya tengah membelai pipinya.
Tanpa terasa air mata Sella menetes, ia ingat masa saat ibunya tidak merespon apapun yang dikatakannya, hingga ia selalu bersikap demikian. Menyimpan tangan ibunya diatas kepalanya dan menggerakkannya sendiri seolah ibunya tengah membelainya.
"Ibu, aku menyayangimu.." kata Sella sambil membawa Zania tidur. Dan ia mulai bercerita, tentang kelinci dan kura-kura, dilanjutkan dengan kisah itik si buruk rupa lalu burung Merak yang sombong, hingga akhirnya mereka berdua tidur sambil berpelukan.
Sementara seorang pria diluar sana tengah mengerutkan keningnya mendengar kata-kata yang Sella ucapkan. Selama ini ia hanya melihat apa yang dilakukan oleh Sella pada ibunya hanya melalui CCTV, yang tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
'Sese? Siapa lagi dia?'
***
Alrega bangun ketika ia mendengar suara seseorang yang sedang mengeringkan rambut. Mesin pengering itu bersuara lembut, tapi tetap saja mengganggunya. Ia baru tertidur beberapa jam saja semalam. Karena ia pergi ke kamar setelah Sellla dan Zenia benar-benar terlelap. Salah siapa coba ia bisa melihat lewat CCTV saja kan?
Alrega melihat tak ada orang disana, karena Sella mengeringkan rambutnya di kamar ganti. Ia tidak ingin mengganggu tidur Alrega. Karena kurang tidur semalam, wajah pria itu menjadi masam dan ia memanggil Sella dengan kasar,
"Hei, kemari kau!" masih dengan posisi berbaring. Tapi ia menendang selimutnya hingga jatuh ke lantai.
Tanpa menunggu lama Sella menghampiri Alrega, melihat apa yang terjadi pada laki-laki yang masih terlihat mengantuk dengan wajah yang cemberut.
"Anda sudah bangun, tuan?" tanya Sella dengan senyum manisnya. Ia baru selesai mandi dan berganti pakaian, karena ia membantu Zania mandi hingga seluruh pakaiannya basah.
"Mana sendalku!" kata Alrega, begitu melihat Sella berada di sisi tempat tidur.
'Kamu kan masih berbaring dan belum mau bangun, buat apa sendal?'
"Ini, tuan. Selamat pagi.." kata Sella sambil mendekati kan sandal rumahnya di dekat tempat tidur.
Alrega bangkit dan duduk di sandaran tempat tidur dan akan mengambil segelas anggur. Ini adalah kebiasaannya. Sella tiba-tiba mencegahnya dengan mengambil botol anggur dari tangan Alrega dan menyimpannya di atas meja rias. Alrega menatap Sela dengan tatapan tidak suka karena menurutnya gadis ini sudah mencampuri urusannya, dan dengan ketus ia berkata,
"Kau berani melawanku, ha?"
__ADS_1
'Siapa yang berani? Aku tidak...'
"Tuan, sayangi tubuh anda, minum segelas air putih jauh lebih baik dari segelas anggur." kata Sella.
Mendengar kata-kata Sella, Alrega menjentikkan jarinya memberi isyarat agar Sela mendekat padanya. Ia menyipitkan matanya ketika Sela sudah berada di hadapannya lalu berkata,
"Kau harus dihukum untuk ini, karena kau berani melarangku melakukan apa yang ingin aku lakukan."
'Mati aku. Aku Tidak mau kau cium lagi!'
"Oh, Maaf..." kata Sheila sambil berbalik. Ia mengambil kembali gelas dan botol anggur yang ia simpan di atas meja rias dan memberikannya kepada Alrega, bahkan mengisi penuh gelas itu dengan anggur.
"Ini, tuan. Silahkan minum sampai anda puas," katanya sambil tersenyum manis. Berharap Alrega akan memaafkan dirinya.
'Menyebalkan'
Ahk, tidak. Ia sudah terlambat Alrega sudah terlanjur marah, ia tampakkan dengan menarik satu sudut bibirnya dan menatap Sella dengan tatapan licik, lalu berkata,
"Kau tahu, tidak ada yang berani melarangku? karena hukumannya akan sangat berat, kemari kau!" mendengar apa yang diucapkan oleh Alrega, tangan Sella gemetar dan berkeringat dingin.
Ia mendekat dengan ragu, mendongak pada wajah Alrega, saat itu Alrega berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan perutnya. Sella berkata sambil mengatupkan kedua tangan didepan dada, memohon agar kesalahannya diampuni.
Ini seperti jadi kebiasaan bila ia memohon agar diampuni oleh suaminya. Alrega tidak mendengarkan ucapan Sela, ia menekan dua nomor pada telepon kecil yang ada dimeja samping tempat tidur. Tempat yang biasa dipakai untuk menyimpan botol anggur. Setiap malam, pak Sim selalu menyiapkan sebotol anggur dan gelasnya di sana. Segelas anggur seperti ucapan selamat pagi baginya.
Tak lama dari tombol telepon itu ditekan, pak Sim muncul dengan raut wajah cemas. Pria paruh baya itu membungkukkan badan sambil berkata,
'Apa yang terjadi, nona?'
"Apa yang bisa saya bantu Tuan? Apakah anda baik-baik saja?" ia menatap nona mudanya dengan posisi yang menyedihkan, berlutut sambil menunjukkan wajah memelas.
'Apa itu semacam panggilan darurat? Hei, ada apa ini? Kami baik-baik saja, pak Sim! Cuma orang satu ini saja yang gila, kuharap kau tidak ikut gila'
"Bawa beberapa pakaian yang belum dipakai kemari!" kata Alrega penuh tekanan, bibirnya masih menyeringai.
Tak lama pak Sim datang embawa setumpuk pakaian yang sangat banyak dari berbagai model dan warna, pria tua itu menyimpan semua baju bermerk terkenal, dan beberapa baju rancangan para desainer kondang di dekat meja rias.
Alrega memberi isyarat pada Pak Sim untuk keluar kamar. Ia sudah selesai melaksanakan tugasnya dan iapun menuruti perintah tuannya menutup pintu kamarnya kembali.
Kemudian Alrega berkata sambil berkacak pinggang,
"Pakai semua pakaian ini apakah cocok atau tidak."
"Semuanya Tuan?" tanya Sella merasa tidak percaya kalau ia harus memakai baju yang begitu banyak saat ini juga.
"Hmm.." gumam Alrega sambil duduk di single sofa di dekat jendela balkon kamar mereka. Sella terlihat enggan, dengan malas menatap tumpukan baju yang sama sekali bukan seleranya. Melihat hal itu Alrega kembali membentaknya,
"Cepatlah! Apa kau mau aku mengganti hukumanmu?"
'Ahk, kau pasti tidak serius kan? Ini baju siapa si? apa hukuman yang lain itu? siaal...! Seharusnya aku tidak melarangnya minum'
"Baik," kata Sella mulai mencoba satu baju, ia pergi ke kamar ganti dan keluar sudah menggunakan baju yang lain, menunjukkannya pada Alrega. Saat Sella menunjukkan bajunya, Alrega mengangguk. Setelah itu Sella mencoba baju yang lain, lalu menunjukkannya pada Alrega lagi. Setelah Alrega mengangguk, ia baru mengganti baju yang lain lagi. Seperti itu berulang-ulang, hingga Sella terlihat sangat lelah, ia sudah berkeringat. Seakan tidak ada bekas dari mandinya tadi.
"Tuan, sebenarnya baju siapa yang harus saya pakai ini? Kenapa semua ukurannya sama dengan ukuran saya? Apa semua baju ini dulunya adalah baju istri anda? Dimana dia sekarang? Kenapa anda tidak berusaha mencarinya? Bukankah anda maaih mencintainya?" Sella bertanya.
Ia tidak melihat ekspresi Alrega, terus saja menatap dirinya di depan cermin sambil membolak-balikkan badannya. Melihat baju yang sekarang sedang dikenakannya, menurutnya baju ini baju yang paling sederhana tapi indah. Ia tetap menunjukkan senyumnya walaupun sebenarnya ia sudah lelah.
Alrega menahan geram dihatinya mendengar semua yang sudah dikatakan Sella. Ia tidak ingin berdebat, ia hanya menggeretakkan giginya membuat rahangnya mengeras. Ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk mencari mantan istrinya karena Delisa-lah yang telah meninggalkan dirinya.
Harga dirinya sangat tinggi hanya untuk mencari seorang wanita, yang telah menghianatinya, lalu memohon agar dia kembali. Untuk apa? Dia tidak butuh cinta dari wanita seperti dia. Sangat mudah baginya untuk mendapatkan wanita yang serupa dengan Delisa.
'Apa dia bodoh? Bagaimana mungkin dia berpikir kalau baju-baju itu milik wanita lain? Apalagi mantan istriku. Hei, belum ada wanita yang aku bawa ke kamar selain dirimu!'
"Semua itu bajumu!' kata Alrega sambil beranjak menuju kamar mandi.
__ADS_1
'Apa. Apa aku tidak salah dengar, kan? Semua yang ada dilemari itu. bajuku?'
Begitu Alrega tak terlihat lagi, Shela terduduk di lantai karena lemas ia lelah. Lelah bukan hanya karena berganti-ganti pakaian sampai berulang-ulang kali, tapi juga karena mendengar kenyataan bahwa ternyata semua baju yang ada di lemari dan belum pernah ia sentuh adalah miliknya.
Ia tidak habis pikir bagaimana mungkin semua baju itu dibeli atau dipesan untuk dirinya, karena Sella melihat beberapa baju itu adalah hasil rancangan edisi terbatas yang hanya bisa dimiliki dengan memesannya terlebih dahulu.
Ia merasa bahwa dia menjalani pernikahan ini karena hukuman tapi ia sekali lagi merasa bahwa dirinya seolah-olah sedang dicintai.
Sheila tetap menggunakan bajunya yang terakhir Ia coba. Ia sudah mengelap keringatnya dan sedikit merias wajahnya yang pucat karena kelelahan. Lalu menunggu Alrega keluar dari kamar mandi. Ia sudah menyiapkan semua pakaian Alrega di atas tempat tidur.
"Apa kau senang?" tanya Alrega sambil berjalan ke tempat tidur untuk memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Sella. Melirik pada Sella yang duduk tenang di sofa tanpa melakukan apapun.
'Senang apanya?'
"Iya, tuan. Terimakasih sudah memberikan saya banyak sekali baju yang bagus."
"Hmm..." jawab Alrega dengan bergumam.
Sebenarnya semua karena Zen yang mengatakan kalau Alrega tidak harus membeli pakaian baru untuk Sella. Baju yang akan dipakainya dipesta Delisa, karena sejak pertama ia pindah ke Kaki Langit, ia belum pernah melihat nona mudanya memakai pakaian yang ada dilemari selain baju yang ia bawa dari rumah lamanya.
Karena itu, Alrega menyuruh Sella mencoba hampir semua pakaian itu agar ia punya alasan untuk membeli baju baru untuk Sella. Semua pakaian yang ada dilemari sekarang, sudah pernah dipakai Sella. Zen tidak akan mempunyai alasan lagi, kecuali menuruti Alrega.
Kebetulan Sella berbuat kesalahan, hingga Alrega mempunyai alasan untuk melakukan apa yang ia inginkan. Wajah Alrega sekarang tampak senang, ia sudah puas mengerjai Sella hingga ia kelelahan dan menyisakan warna pucat diwajahnya.
"Kemari," kata Alrega setelah menyelesaikan mengancingkan kemejanya, ia berkata sambil mengancingkan manset di engan kemejanya.
Sella mendekat dengan wajah yang terlihat pasrah, ia begitu putus asa dengan dirinya sendiri. Ia menghadap Alrega dan menatap matanya tanpa suara.
"Ayo, tenangkan aku sekarang."
'Apa maksudmu, si?'
"Heu...?" Sella menatap Alrega dengan ekspresi bodoh dan memiringkan kepala, ia memang tidak mengerti apa makaud Alrega. Apa ia seekor banteng yang sedang mengamuk hingga perlu untuk ditenangkan, begitu?
Melihat ekspresi itu, hampir saja tawa Alrega meledak, ia menahan sekuat tenaga agar tidak tertawa dihadapan Sella. Bisa-bisa harga dirinya jatuh sampai ke dasar jurang yang paling dalam dan gelap gulita.
"Bagaimana kau memperlakukan ibu kalau sedang menangis" kata Alrega.
'Oh, seperti itu'
"Kalau begitu menangislah, maka aku akan menenangkan anda," kata Sella datar.
'Kena kau, tuan! haha'
"Apa itu harus?" tanya Alrega sambil mengerutkan alisnya.
"Tentu saja, aku tidak melakukan apapun kalau ibu juga tidak berbuat ulah." jawab Sella mengalihkan pandangan.
"Jadi aku harus berbuat ulah, baru kau akan memelukku?!"
'Hei, jangan bilang kalau... apa ada CCTV. Ah, yang benar saja. Aku tahu sekarang, mengapa dia tau soal luka gigitan itu. Apa aku benar-benar harus memeluknya? Ibu, bolehkah aku pulang sekarang?'
Sella mendekat, lalu mengulurkan kedua tangannya kepinggang Alrega, lalu menarik tubuhnya sendiri hingga menempel pada tubuh Alrega.
Alrega menunduk, separuh kelopak matanya tertutup memandang wajah Sella yang mendongak padanya.
"Lalu apa yang biasa kau katakan pada ibu?" tanya Alrega.
'Kau seperti anak yang kurang kasih sayang, ya?'
Kedua mata mereka bertemu, saling bertukar nafas, bahkan aroma Alrega begitu mendominasi. Tangan Alrega mencoba menyentuh bahu Sella, agak keras ia menekannya, hingga Sella terlihat meringis menahan sakit.
"Apa masih sakit?" tanya Alrega.
__ADS_1
"Sedikit," kawab Sella datar.
"Biar kulihat,"