Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 118. Mengusirnya Pergi, Tapi ...


__ADS_3

"Terserah! Sekarang, katakan padaku di mana Delisa?" Kata Zola, sambil menarik napas dalam mencoba tenang.


"Aku tidak tahu."


"Kau membunuhnya?"


"Sudah kubilang aku tidak tahu!"


Zola meringsek ke depan mendekatkan Sella hingga merapat ke dinding yang ada di belakangnya.


"Katakan terus terang atau aku akan berteriak kalau kau seorang wanita yang sudah menghancurkan pernikahan Tuan Rega, demi uang!"


"Hei, aku terpaksa, kau tahu ibuku sakit waktu itu, Kau pikir semua orang akan menyalahkan aku?"


'Lagipula, semua orang sudah tahu kebenarannya'


"Hah, tidak semua perbuatan terpaksa bisa dimaklumi, termasuk perbuatanmu, mau mmenipu hanya karena ibumu? Yang benar saja!"


"Kat ...." Ucapan Sella terputus saat sebuah suara dari arah samping menyahut dengan keras.


"Apa semua ini benar, Sese?!"


Sella sontak menoleh, melihat ibunya berdiri di sana, menatap dirinya dengan nanar.


'Ibu?'


Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, rasa sesal dan sedih memenuhi benaknya, menggumpal di sana bahkan naik hingga ke tenggorokan membuat suaranya tercekat dan berubah menjadi air mata. Tangan Sella yang semula di samping, bergerak mendorong Zola dan berkata, penuh kepanikan pada suaranya.


Berlari mendekat, sambil berkata, "Ibu ... tidak, itu tidak benar ... percayalah, Bu?" Lalu memeluk ibunya erat.


Zola berbalik, menyeringai, ia berkata sambil mengusap hidungnya dengan punggung tangannya. "Jadi, ini ibumu?"


Sella menoleh, melepaskan pelukannya pada Flinna, tubuh wanita itu seperti terhipnotis dan kaku. Ia mendengar sesuatu yang menyerupai bom meledak di sisinya, keras menghantam tubuh dan jiwanya, bahwa Sheila anak yang paling disayanginya itu sudah melakukan sebuah perbuatan buruk demi dirinya. Ia lebih terluka dari saat ia ditinggalkan oleh suaminya. Tubuhnya tiba-tiba bergetar dan perasaanya menjadi hampa.


"Diam kau!" Pekik Sella.


"Kenapa aku harus diam, bukankah seharusnya ibumu tahu kalau kau mendapatkan uang dengan cara menipu untuk biaya rumah sakitnya, benar kan, Bu?"


"Tutup mulutmu, sialan!"


"Hai kau kasar sekali, Sella, padahal kau sudah jadi nyonya besar di rumah ini? Ibumu juga harus tahu, kau menjadi nyonya besar karena balas dendam Tuan Rega."


Sella kembali memeluk ibunya, namun Flinna mendorong Sella dan mencengkram bahu anak kesayangannya itu dengan keras.


"Katakan dengan jujur, Sese ... apa yang di katakan perempuan itu benar?"

__ADS_1


Sella bukannya menjawab, ia justru menangis tersedu-sedu tubuhnya meluruh ke bawah, berlutut dan memeluk kaki ibunya, sambil memohon agar diampuni. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada ibunya, ia ingin semuanya baik-baik saja, tapi sepertinya sudah waktunya terbuka dan semua orang mengetahui yang sebenarnya.


Suara geduh itu pun memancing beberapa orang yang ada di dalam, untuk melihat, termasuk Zania, wanita itu segera meraih tangan Flina ketika sudah ada di sisinya, ia melihat besannya yang terdiam kaku dengan air mata yang berderai, juga melihat Sella yang bersimpuh di bawahnya.


"Ada apa ini?" Tanya Zania, heran.


Wanita itu seolah tidak mendengar ucapan dan pertanyaan dari Zania, ia menunduk, melihat anaknya yang masih menangis dengan bersimpuh di kakinya.


'Katakan terus terang di sini, dari semua yang kau tutupi sekarang. Benarkah Rega menikahimu karena dendam dan kau menipu seseorang, hanya demi aku?"


Sella tidak menjawab, ia hanya menagis, namun Zania yang menyahut, dengan nada penuh keheranan.


"Apa, apa kau bilang menikah karena dendam? Siapa yang dendam?!"


Tiba-tiba Zola menyahut dengan suara keras


"Tuan Rega dan Sella!"


Secepat kilat sebuah tangan besar menyambar lengan Zola, menariknya keluar dari kerumunan. Lalu menampar pipi wanita itu dengan tamparan yang sangat keras bahkan suaranya pun terdengar oleh orang yang sekitarnya. Seketika pipi Zola memerah dan rasa panas serta perih merebak. Reflek gadis itu memegangi pipinya.


"Dengar, kalau kau masih ingin hidup maka pergi dari sini sekarang juga!" Kata Zen dengan tegas ia masih menahan emosinya karena ada banyak orang yang tengah berkabung di sana.


Mereka tidak mengenal siapa Zola, melainkan hanya segelintir orang saja.


'Kalau bukan karena ibu Delisa, aku tidak akan mencarinya dan itu merepotkan!'


"Nah, katakan di mana dia. Apa kalian sudah membunuhnya hanya karena Delisa yang menipu kalian dengan kehancuran pernikahannya sendiri?" Zola berkata dengan keras, tidak bisa menahan emosi, menantang Zen tanpa rasa takut walau ia harus mati.


Akan tetapi, di lain sisi ia tidak ingin kehilangan sahabatnya, karena itu tanpa ragu ia membuka semua tentang Sella. Ia rasa perlu menuntut keadilan, sebab Sella juga bersalah, tapi ia mendapatkan segalanya, namun tidak dengan Delisa, ia tidak berpikir panjang jika dia sendiri akan mendapatkan akibat dari perbuatannya


"Delisa baik-baik saja, kau tidak usah mengurusnya." Saat Zen berkata seperti itu, Zania mendekatinya meraih bahu Zola, menariknya agar menghadap padanya.


Sementara itu Alrega sedang menenangkan Sellla yang menangis, keras sambil terus meminta maaf pada ibunya yang tetap bungkam. Laki-laki itu bebeluk Sella dan menenangkannya. Ia baru saja kehilangan neneknya dan sekarang ia harus menghadapi kenyataan bahwa, kesalahan yang ia tutupi selama ini terbongkar, dengan cara yang tidak ia duga sebelumnya.


Zania menatap Zola tajam, setelah mereka saling berhadapan dan ia berkata, "katakan padaku Apa maksud dari semua ucapanmu?"


Zola terlihat kaku ia tahu persis siapa wanita ini dan ia tahu dari Delisa apa yang terjadi setelah perceraiannya dengan Alrega, wanita ini menjadi depresi berat, bahkan menjadi parah sejak satu tahun yang lalu, tapi ia juga heran sekarang wanita ini baik-baik saja.


"Nak, aku tahu kau bohong, Sella sangat baik dia tidak mungkin menikahi anakku hanya karena dendam."


"Nynya," Zen menyela. "Anda lebih baik mendengar penjelasan dari tuan Rega, bukan dari wanita ini."


"Zen, kau tidak usah ikut campur ... ayo! katakan yang kau ketahui tentang anakku dan juga Sese."


Zen akhirnya diam tapi tetap waspada dan berdiri di samping Zania, begitu juga dengan Rehandy yang sudah ada di dekat istrinya. Kedua pria itu berwajah keruh dan memerah menahan amarah.

__ADS_1


"Maafkan saya, kalau saya mengatakan yang sebenarnya, maukah Anda menolong saya, tolong lindungi saya, Nyonya, saya takut Tuan Rega akan membunuh saya, juga Delisa!" Zola memegang tangan Zania, tapi wanita itu menepisnya.


"Iya, aku berjanji."


"Nyonya sudah tahu kan bahwa Delisa sendiri yang merusak pernikahan Tuan Rega? Sela hanyalah orang yang melakukan sandiwara itu, dia melakukannya dengan terpaksa."


"Hmm, iya aku tahu."


"Jadi, begini Nyonya, saat Delisa pulang, secara kebetulan Tuan Rega menemukan Sella dan beliau menjadikannya sebagai istri untuk menyakiti Delisa, sama seperti saat Delisa menyakitinya. Seperti itu yang saya pikirkan waktu saya tahu, bahwa Tuan Rega menikah dengan Sella."


"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan?"


"Maaf, Nyoya ... itu hanya dugaan saya saja, anda bisa menanyakannya pada Tuan, setidak-tidaknya anda tahu seperti itulah gambarannya."


Zania saat itu menoleh pada Rehandy yang berdiri di sisinya.


Zen kesal sekali dengan perempuan ini yang mengatakan semuanya dengan jelas di depan Zania, ia ingin sekali memukul, bahkan membunuh wanita itu saat itu juga, itu hal mudah baginya, tapi ia tidak mungkin melakukannya di depan orang yang ia hormati seperti Zania.


"Apa kau tahu semua ini, sayang?" Tanya Zania pada suaminya. "Jadi itu artinya mereka tidak menikah karena cinta?"


Rehandy hanya diam, ia merengkuh bahu Zania dan menusapnya perlahan.


Zola kembali bersuara tanpa keraguan.


"Nyonya Kalau menurut saya, awalnya memang tidak ... Tuan Rega tidak mencintai Sella, tetapi sekarang Anda bisa melihat sendiri Tuan Rega terlihat sangat menyayangi Sella, bahkan Nyonya besar juga sudah mempercayainya,


dengan memberikan kalung berlian itu untuk dia."


'Hei, siapa sebenarnya gadis ini, dia tahu banyak soal keluargaku?'


Zania pun berkata, "baiklah, aku percaya padamu ... Zen jangan lukai gadis ini, dia sudah mengatakan yang sebenarnya dan katakan kepadanya di mana kalian menybunyikan Deli."


"Delisa ada di rumah Tuan Haquel, Nyonya?" Jawab Zen tenang, sekaligus menjawab keingintahuan Zola.


"Oh, begitu. Apa yang dilakukan Ayah padanya?"


"Jangan kuatir, Nyonya, tuan besar hanya memberi sedikit pelajaran, agar Delisa bisa bersikap lebih baik." Zen kembali berkata sambil menunduk pada Zania dan Rehandy, setelah mendengar semua itu, dua orang suami istri itu pun pergi menghampiri Sella dan ibunya.


Zen menoleh pada Zola lalu berkata dengan sinis.


"Dengar, kau sudah tahu kan, temanmu baik-baik saja? Kau tidak akan dilukai, jadi pergilah, jangan tampakkan wajahmu di kota ini lagi, apa kau mengerti?"


Setelah itu Zola pun pergi dengan wajah pias, tangan yang terkepal dan Gigi geraham yang saling beradu. Menahan ketidak berdayaan. Ia putus asa untuk membawa kembali Delisa. Mencari seseorang yang sudah berada di tangan Haquel, sama saja mencari kesia-siaan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2