Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 44. Pulang


__ADS_3

Sella.mengambil beberapa pasang sepatu yang ada di lemarinya dan menjajarkannya di hadapan Alrega.


"Apa anda akan memakainya, tuan?" pertanyaan dari Sella itu membuat Alrega ingin sekali mencium untuk menghukumnya tapi ia masih bisa menahannya.


'Dasar bodoh'


"Bukan aku, tapi kau!"


"Apa. Tapi kenapa?"


"Kau besok mau pulang? Pakai sepatu itu satu-persatu, aku maublihat."


'Siaal..'


"Baiklah"


Sella menurut, ia memakai sepatu itu satu persatu dan berjalan mondar mandir dihadapan Alrega di kamar. Setelah semua sepatu berhak tinggi habis dicoba, barulah Alrega menyuruh Sella menghentikan aktifitasnya, ia tidak tahan melihat Sella sudah kelelahan, padahal ia masih ingin melihat gadis itu berjalan sambil tersenyum dihadapannya. itu pemandangan indah dimatanya.


"Kemarilah," kata Alrega sambil menjentikkan jari telunjuknya. Sella mendekat dengan malas. Ia sangat lelah.


Saat Sella berdiri di samping tempat tidur, Alrega menarik tangan Sella perlahan dan membuat tubuh Sella terjerambab dalam pangkuannya, menyimpan satu tangan Sella agar memeluk lehernya. Sella menatap Alrega dengan tubuh kaku dan punggung yang menegang dalam pangkuannya.


"Apa kau lelah?" tanya Alrega lembut.


'Sudah tahu kan, kenapa tanya?'


Sella mengangguk, melihat apa yang dilakukan Alrega padanya, laki-laki itu menggenggam tangan Sella yang lain dan menciumnya.


"Tanganmu yang sudah banyak bekerja. Tapi kakimu tidak."


'Sama saja! Memangnya tangan dan kakiku terpisah, apa? Apa karena ini kau mengerjaiku, menganggap kakiku tidak lelah?


"Tidak apa. Saya hanya harus istirahat saja."


"Ya. Jangan lakukan apa pun di sini. Sudah banyak pelayan. Kau hanya harus melayaniku saja. Sana!" kata Alrega.


'Apa maksudnya sana?'


Alrega mendorong tubuh Sella lalu ia bangkit dan Sella juga ikut berdiri dan menjauhinya berjalan menuju pintu.


"Siapa yang menyuruhmu pergi?"


'Lalu, yang tadi itu apa?'


"Tidak ada."


"Kalau begitu, istirahat. Kau bilang sekarang kau lelah?"


'Kapan aku bilangnya si?'


"Tidurlah di sini, jangan tidur di sofa lagi."


'Aku tidak mau!'


"Tuan, saya sudah janji dengan ibu mau tidur di kamarnya lagi malam ini."


"Kau boleh pergi lalau aku sudah tidur. Kau mengerti?"


” Baik."


***


Malam harinya sesudah makan malam, Alrega pergi ke kamar kerjanya sedangkan Sella duduk di ruang keluarga di mana ada televisi yang besar tengah menyala. Ia masih menunggu izin dari Alrega untuk pergi ke kamar Zania. Ia tahu saat ini waktunya ibu mertuanya itu minum obat.


"Kau senang bisa bersantai seperti ini?" kata Merla kepada Sella ketika melintas dengan kursi rodanya.


Kebetulan juga Yorin sedang ada di sana sibuk dengan ponselnya. Sella melihat Marla dengan senyum manis, ia masih belum tahu apa maksud pembicaraan nenek mertuanya itu.


"Nenek...Ayo bergabung bersamaku. Aku akan memijiti kakimu. Kau pasti lelah seharian ini?" kata Sella mendekti Nenek dan menunduk hormat padanya.


"Kau tidak perlu ramah padaku karena semua Itu tidak akan merubah penilaianku," kata Marla. Yorin yang mendengar ucapan Nenek nya tersenyum sinis. Seperti menyetujui semuanya.


"Ah, nenek." kata Sella sambil tertawa kecil, lalu berkata lagi, "kau tidak perlu menilaiku. Tidak ada ujian sekolah di sini. Dan nenek, untuk apa berubah kalau perubahan akan menyakitkan? Nenek tetaplah seperti ini. Awet muda dan cantik," kata Sella sambil berlutut dan menepuk tangannya.


Entah mengapa hati Marla sedikit hangat, ia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sella tidak dibuat-buat. Tapi nenek Marla menarik tangannya dan berkata,


"Kau tahu, menantu yang sebenarnya sudah kembali dan ia akan berkunjung kemari kalau ada waktu. Aku sudah mengundangnya untuk datang kapan saja ia ada waktu luang."


'Siapa maksudnya, si?'


"Benarkah, Nek?" tanya Yorin menegakkan kepalanya dan berkata lagi, "Akhirnya kak Deli kembali?" ia tersenyum miring menatap Sella. Sementara nenek mengangguk.

__ADS_1


"Kapan nenek melihatnya?" tanya Yorin.


"Tadi saat aku makan siang di Well LyLy Cafe. Dia semakin cantik dan menarik. Kalau bukan karena wanita bodoh itu, Zania pasti sudah memiliki seorang cucu." kata Marla.


"Wah, kau benar, nenek," sahut Yorin.


Sementara itu pak Sim melangkah menuju ruang kerja Alrega di rumah. Pak Sim memberitahukan apa yang sudah ia dengar pada Alrega. Seketika Alrega keluar kamar dan ia melihat sendiri nenek dan Sella saling berhadapan.


"Nenek, apa nenek senang kalau menantu yang nenek sukai itu datang?" kata Sella.


"Tentu. Dan kalau Alrega tahu bahwa Delisa sudah kembali. Apa yang akan kau lakukan? menjadi perawat untuk Zania? Jangan harap aku akan membiarkannya?" kata nenek.


Sella berdiri, lalu melihat nenek sambil tersenyum, lalu berkata,


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan dipilih oleh cucu nenek. Kalau aku tidak terpilih, maka aku akan pergi dengan senang hati," Sella berhenti sejenak.


Alrega menatap Sella dengan tatapan suram. Ia tampak mengepalkan telapak tangannya. Dan menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Tapi, kalau aku yang terpilih, maka aku akan bertahan walau seluruh dunia membenciku," kata Sella lagi.


Dan kali ini kata-kata itu membuat Alrega seperti digelitiki. Geli sekali. Ini berlebihan, kan? Seluruh dunia membencinya? Ahk yang benar saja.


Sella melangkah ke kamar dengan senyum tipis tapi ragu. Bila ia pergi bagaimana dengan janjinya, tapi kalau tidak pergi, bagaimana hubungan dirinya dan Alrega? Ia tidak siap dikatakan pelakor atau apapun istilahnya bagi pasangan ini bila datang ke rumah. Ia akan tersingkir dengan sendirinya.


Sella sudah tahu Delisa seperti apa, gadis yang sangat cantik dan bertubuh indah, sangat sempurna untuk ukuran laki-laki seperti Alrega. Sangat jauh bila dibandingkan dengan dirinya. Ia tak akan menang bersaing dengannya.


****


Di dalam kamar Sella merebahkan diri di sofa, memikirkan kata-kata nenek, bahwa Delisa akan berkunjung suatu hari nanti. Ia ingat bagaimana sikap Alrega dan Delisa saat bertemu di butik itu. Mereka cukup mesra dan hangat. Cemburukah ia? Tapi segenap hati dan pikirannya menolak.


'Hei, cemburu itu hanya untuk pasangan yang saling mencintai, tapi aku? ahk...'


Sella melempar ponsel yang dipegangnya di sampingnya. Menbiarkan beberapa notivikasi masuk dari adik-adiknya yang menanyakan jam berapa ia akan datang besok.


'Entahlah'


Alrega masuk dengan perlahan ia mengira Sella sudah tidur. Ia melihat Sella terbaring di sofa tanpa selimut dan bantal, ia berjalan menuju lemari tempat menyimpan selimut dan bantal. Lalu menyelimuti tubuh Sella, dan mengangkat kepalanya agar ia mudah meletakkan bantal dibawahnya. Saat Alrega melakukannya, tiba-tiba mata bulan sabit itu terbuka. Wajah keduanya berjarak begitu dekat, hingga nafas mereka seperti saling berbenturan.


Sella tersenyum, ia baru saja tertidur karena lelah menunggu Alrega. Ia membutuhkan izinnya agar dapat tidur di kamar Zania. Sella sepertinya mengira dirinya bermimpi, hingga senyum itu semakin lebar, bahkan tangannya membelai pipi Alrega lembut. Tubuh Alrega kaku, ia seolah-olah terhipnotis oleh tatapan lucu dan penuh damba yang ia lihat dengan jarak begitu dekat, sedang satu tangan masih berada di bawah kepala Sella.


" Al.. nenek bilang istrimu akan datang. Dia sangat cantik, aku takut kau akan jatuh dalam pelukannya lagi..." Sella diam sejenak, menurunkan tangannya lalu memalingkan pandangan, memejamkan mata sambil berkata lirih,


"Al.. biarkan aku tetap di sisimu yaa...walau hanya menjadi perawat buat ibu..Euh."


Alrega menyelesaikan menaruh bantal. Lalu menyelimuti Sella sambil bergumam, "Bodoh..."


Ia duduk di dekat kaki Sella yang tertekuk. Ia terlihat tidak nyaman. Alrega menarik nafas dalam, melirik Sella sambil pergi ke kasurnya sendiri. Ia memang tidak akan membiarkan Sella tidur di kamar Zania karena ia akan kesepian. Ahk, perasaan apa ini?


'Kau curang, tidur setelah menggodaku. Awas kau nanti, berani sekali memanggilku, Al. Ck!'


***


Keesokan harinya, Sella bangun lebih pagi dengan bersemant, ia akan pulang. Ia akan bertemu dengan Ibunya setelah lebih dari satu pekan. Ia belum pernah berpisah dengan Flinna selama ini seumur hidupnya. Bagaimanapun ia sangat rindu.


Sella sedikit heran dengan keadaan dirinya yang memakai selimut serta bantal. Seingatnya ia sangaja tidak memakai benda itu di sofa. karena ia akan tidur dengan Zania, hari ini ia akan meninggalkannya. Bahkan ia ingin menginap di rumah ibunya.


Tapi ia tidak memusingkannya, walau ia juga ingat sudah bermimpi aneh, bicara dengan Alrega bengan posisi tubuh yang berdekatan.


'Itu cuma mimpi, kan?'


Sella keluar menemui Zania yang masih tidur karena semalam perawat kembali memberinya obat penenang.


"Kenapa kalian tidak memanggilku?" tanya Sella. Para perawat saling menukar pandangan, mana mereka berani melakukannya walau mereka ingin. Nona mudanya tidak akan marah, tapi tuan muda? Belum tentu.


Karena Zania tidak juga terbangun dan sepertinya akan tidur dalam waktu yang lama, Sella kembali ke kamarnya. Berniat membersihkan diri sebelum Alrega bangun. Betapa terkejutnya Sella ketika membuka pintu kamarnya. Ia melihat Alrega sudah rapi dengan pakaiannya dan masih mengancingkan mansetnya saja.


"Darimana kau?" tanya Alrega sambil memasang dasi dan mendekati Sella dengan langkah mantap yang menakutkan. Karena merasa bersalah dan gugup Sella reflek memegang kedua tangan Alrega yang masih merapikan dasinya.


"Biarkan aku melakukannya untuk anda, tuan. Kenapa anda bersiap sepagi ini?" tanya Sella dengan senyum tipis nya merapikan dasi untuk Alrega, ia pernah mempelajarinya dulu dengan ibunya.


Mereka bertukar pandangan sejenak, Sella mendongak dan Alrega menunduk. Tatapan mereka melukiskan perasaan masing-masing. Alrega menangkap kelinci kecil yang ketakutan dikejar pemburu di hutan belantara yang sepi. Ia menyeringai sambil berkata,


"Apa kau lupa mengajakku kemana hari ini?"


'Oh. oh. Ya Tuhan, apakah harus sepagi ini, kau tidak perlu mengantarku, tau?'


"Saya meminta izin pulang, anda tidak perlu terburu-buru. Saya bisa pergi sendiri,"


"Lalu kau bisa kabur dariku, begitu?"


'Siapa yang mau kabur, si?'

__ADS_1


"Tidak. Saya tidak akan kabur. Saya hanya merasa anda tidak perlu repot mengantar saya, tuan," kata Sella menyudahi aktifitasnya.


"Siapa yang mau mengantarmu, ha?"


'Lalu apa maksudnya tadi bilang mengajakkmu hari ini? Sialan!'


"Baiklah, saya senang tidak harus merepotkan anda," Sella berjongkok memakaikan kaus kaki dan sepatu Alrega. Tapi ia baru ingat kalau ia sendiri belum mandi.


Setelah selesai dengan Alrega ia segera mandi secara kilat, ia khawatir kalau pria itu marah karena harus menunggu terlalu lam. Sella memakai pakaian dan sepatu yang sudah ia siapkan dari semalam yang juga sudah disetujui Alrega. Ia tampak sangat anggun dan terlihat berbeda.


"Apa kau akan membuatku mati menunggu?" tanya Alrega di teras rumah.


'Tuh, kan. Benar kan dia marah? Padahal sudah kubilang tidak usah mengantarku. Dasar tidak bisa dipercaya, aku tahu kamu tadi cuma mengerjaiku, bilang tidak akan mengantarku. Kenapa takut sekali aku kabur? Kalau kau seperti ini aku merasa begitu di cintai, ah ah ah, tidak mungkin'


Sella dan Alrega kembali saling berpandangan, sebelum mereka masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan Zen. Ini mobil yang berbeda dari biasanya. Mereka belum sarapan. Alrega berniat sarapan di kantor saja. Sepulang dari mengantar Sella.


Kini mereka duduk berdua di kursi penumpang bagian belakang. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Kaki Langit sangat jauh dari rumah Sella, dan Alrega harus kembali bekerja setelahnya, ini sebenarnya melelahkan tapi Alrega tetap mau melakukannya. Ini tidak biasa. Ketika masih bersama dengan Delisa, Alrega hanya akan menyiapkan sopir atau pengawal untuk menemaninya, bila Delisa menginginkan pergi kesuatu tempat.


"Ingat, kau harus memanggilku apa, dihadapan ibumu?"


"Iya, saya ingat, tuan."


"Apa?"


"Memanggil anda, sayang kan?"


"Katakan sekarang juga."


'Tidak perlu'


Sella diam, entah kenapa ia tidak lagi ingin membohongi ibunya, ia ingin menumpahkan semua sesak di dadanya pada Flinna. Ia ingin menjadi egois saat ini, ia ingin hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain juga ibunya. Ia ingin jujur pada Flinna, mengatakan seperti apa sulinya menanggung beban ini sendiri tanpa banyak bicara.


"Sayang," kata Sella akhirnya setelah itu ia menggigit bibirnya.


Melihat Sella menggigit bibir seperti itu membuat Alrega menelan ludahnya kasar. Ia mendekati Sella dan dengan sadar menjulurkan tangan memegang dagu Sella dan mendekatkan wajahnya sampai sangat-sangat dekat. Sella membelalakkan matanya saat Alrega memiringkan kepalanya dan menyapu daun diteling dengan bibirnya. Alrega berbisik dengan bibir yang masih menempel, hingga Sella merasa geli,


"Ingat, buka bibirmu sedikit dan bernafaslah," setelah mengatakan itu, kini bibirnya menempel di bibir Sella lalu menekannya sedemikian rupa dengan gerakan lembut memainkan lidahnya ketika Sella mulai membuka bibirnya memberi akses agar ciumannya bisa lebih dalam. Sella menegang dan gugup sampai ia tidak menyadari sudah memegang lengan Alrega dengan sangat kuat.


Alrega menghentikan aksinya saat Sella sudah mencengkramnya lebih kuat.


"Kau menyakitiku," katanya sambil mengibaskan tangan dan mengendikkan bahu sedikit keras.


'Salah sendiri menciumku seperti ini'


"Maaf..." mendengar Sella meminta maaf, Alrega tidak rela memaafkannya, ia kembali mendekati Sella tapi gadis itu menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Melihat kelak'uan Sella, Alrega merasa geli.


"Aku belum memaafkanmu. Dan kau sudah menutup bibirmu?" kata Alrega sambil menarik pinggang Sella hingga gadis itu berada dalam pangkuannya.


Entah muncul inisiatif dari mana, Sella ingin melunakkan hati Alrega yang akan marah kalau tidak diberi sesuatu yang menyenangkan. Ia pebisnis, ia tidak akan melakukan sesuatu bila tidak menguntungkan.


Saat itu Sella berkata, dengan senyum manis dibibirnya, "Sayang, maafkan aku yaa.."


Cup. Sella mencium kedua pipi Alrega dengan lembut. Alrega sampai tersihir oleh gerakan yang tidak ia duga.


Lalu ia tersenyum, dan berkata, "Kau tau apa kesalahanmu?" menatap penuh cinta pada gadis dalam pangkuannya.


"Saya menyakiti tangan anda, tuan,"


"Ada satu lagi, jadi cium aku lagi." berkata sambil menunjuk pipinya. Sela mengernyit, lalu bertanya,


"Kesalahan yang mana lagi?"


"Tadi malam." menjawab singkat.


"Apa yang sudah saya lakukan pada tuan?"


"Kau menuduhku akan selingkuh, dan kau memanggil namaku!"


'Apa. Apa semalam aku tidak bermimpi? Memanggilnya Al'


"Maafkan saya juga atas semua itu. Saya akan memanggil anda sayang, mulai saat ini," kata Sella penuh rasa sungkan, lalu kembali mencium kedua pipi Alrega. Alrega tertawa dibuatnya.


"Aku tidak meminta, tapi karena kau mau, maka lakukan dengan baik," kata Alrega terdengar sangat puas, lalu menurunkan Sella dari pangkuannya, mengusap bibir Sella dengan ibu jarinya perlahan. Lalu membasahi bibirnya sendiri.


Sampai di perempatan jalan, mobil berhenti saat lampu merah menyala. Sella melihat keluar jendela, lalu ia hampir tersedak sesuatu, matanya menajam kearah itu, ia melihat dua orang berdiri di dekat sebuah cafe, dua orang yang sangat ia ingat dan tidak akan ia lupakan mungkin seumur hidupnya. Ia menyimpan ingatan dua orang itu dengan baik di sudut memori otak nya. Sekarang dua orang itu ada dihadapannya.


Sella reflek hendak membuka kaca jendela mobil untuk memastikan pandangannya tidak salah. Tapi lampu sudah menyala hijau dan ia melihat pada Alrega, ia melihat wajah pria di sampingnya ini. berubah masam, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal.


'Apa yang aku lihat tidak salah kan? Tapi Kenapa orang yang aku lihat itu mirip dengan Delisa. Apakah tuan tahu siapa dua wanita itu dan kenapa wajahnya berubah?'


Sebenarnya Sella sudah mempunyai rasa curiga ketika ia bertemu dengan Delisa di butik saat peresmian. Tapi saat itu Delisa tampil dengan menggelung rambutnya, membuat Sella menepis semua prasangkanya. Kemudian ia bertemu dengan gadis berkacamata itu di tempat yang sama. Kecurigaannya mulai muncul. Tapi pertemuannya kembali dengan Hanza membuat Sella waktu itu melupakannya.

__ADS_1


Tapi sekarang yang ia lihat adalah dua gadis yang pernah Ia temui dua tahun yang lalu. Itu mereka!


__ADS_2