
Keesokan harinya.
Sella dan Alrega bersama Rehandy, menemui dokter Tina, ia adalah dokter ahli syaraf dan kejiwaan yang cukup terkenal di kota. Dokter perempuan itu datang ke rumah untuk memeriksa keadaan Zania sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Rangady. Mereka berdua duduk bersebelahan dengan Rehandy, di sofa besar yang ada di ruang tamu. Dokter Tina yang tengah menikmati secangkir teh, berada di hadapan mereka.Tak jauh dari mereka beberapa pelayan yang bersiap untuk memenuhi kebutuhan majikan mereka bila tuan dan nona mereka meminta sesuatu.
Empat orang yang ada di ruang tamu itu duduk dengan gaya mereka masing-masing. Dokter Tina duduk dengan gaya santai layaknya seorang dokter yang siap mendengarkan keluhan pasiennya, Sella duduk dengan tenang dan malu di samping Alrega, Rehandy duduk bersandar dengan tenang penuh wibawa dan keangkuhanny,a, sedangkan Alrega duduk sambil menumpuk kakinya secara bersilang seperti biasanya, ia nampak begitu elegan sangat mempesona, bahkan sebentar-sebentar Sella meliriknya.
"Terimakasih, tuan sudah menyempatkan diri untuk menemui saya." kata dokter Tina yang memang sengaja menghubungi Alrega dan untuk menemuinya. "Saya tahu anda sibuk."
Dokter Tina adalah sudah cukup senior, tapi karena kedudukan serta pengaruh keluarga Leosan terutama Alrega, membuatnya, bersikap sopan dan juga memanggil Alrega dan ayahnya sama-sama dengan sebutan tuan.
"Hmm," gumam Alrega.
"Tidak masalah dokter, sudah seharusnya begitu, ini demi ibu, kan?" Sella menimpali ucapan Alrega, sambil tersenyum..
"Kau benar, nona," kata Tina.
"Apalagi kali ini, apa kau ingin berhenti dari pekerjaanmu?" Sahut Rehandy.
"Oh, tidak," jawab Tina sambil menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih pada menantu anda, tuan Rehan. Karena dia pekerjaanku sedikit lebih mudah."
Menjadi seorang dokter yang dipercaya oleh keluarga Alrega Leosan, tentu mendapatkan bayaran yang sangat tinggi. Walaupun ia seorang dokter spesialis, tetap saja bayaran yang sangat menggoda itu tidak bisa ditolak oleh siapapun, termasuk oleh dokter seperti dirinya. Jadi ia berharap akan bekerjasama dengan keluarga ini sampai pasiennya benar-benar sembuh.
"Lalu?" Kata Alrega.
"Waktu itu aku belum sempat menanyakan secara langsung padanya," kata Tina. "Bagaimana nona bisa membuat Nyonya lebih baik seperti itu?"
Dokter Tina mengetahui perkembangan keadaan Zania, melalui penuturan psikolog Nia. Dua perempuan cantik ini lah, yang bekerjasama dengan keluarga Leosan dan saling bantu membantu dalam merawat Zania.
Dokter Tina melihat sendiri bagaimana dulu Zania, dan Al Rega sama-sama seperti seorang yang membutuhkan perawatan dari dirinya dan psikolog Nia, tetapi ternyata ia salah, hanya Zania yang membutuhkan pertolongan mereka berdua. Alrega, mempunyai fisik dan kejiwaan yang sangat bagus hingga ia hanya sebentar terjebak dalam keterpurukan dengan rasa kekecewaannya pada Delisa.
Dokter Tina menyaksikan sendiri, bagaimana laki-laki itu menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya, untuk mengatasi segala kemelut dalam hatinya, dan saat ini Ia tidak menyangka kalau Alrega justru bisa menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Mungkin, dia termasuk salah satu orang yang menggunakan keterpurukannya, untuk menjadi kekuatan yang sesungguhnya.
Apabila melihat keadaan keluarga Alrega saat ini, maka tidak ada orang yang tahu apa yang sebenarnya sudah mereka alami, atau apa yang yang terjadi dalam keluarga itu. Siapa yang menyangka ternyata keluarga itu banyak memiliki kisah yang menyakitkan di balik cerita kesuksesannya.
"Apa yang ingin Anda ketahui, dokter cantik?" Tanya Sella masih dengan senyum ramahnya.
Mendengar dirinya dikatakan cantik oleh Sella, dokter Tina tertawa. Dan ia berkata, "Nona, kau tidak perlu memujiku, aku sudah tua. Nona, kau sangat baik memperlakukan nyonyo Zania. Seolah-olah nyonya adalah ibumu sendiri, dan merawatnya dengan baik, kau sudah membuat perubahan yang sangat bagus hanya dalam waktu beberapa bulan."
Mendengar ucapan dokter Tina itu, Sella tersenyum, dan menyahut ucapan dokter Tina.
Sella berkata, "Dia memang ibuku juga, karena dia adalah ibu dari suamiku, dan aku seperti melihat ibuku sendiri padanya."
"Apa maksud anda, Nona?" Tanya dokter Tina.
"Dokter, ibuku juga punya penyakit yang sama dengan ibu Zania, semua yang aku lakukan pada ibu Zania adalah, yang pernah aku lakukan pada ibuku sendiri."
"Benarkah?"
Dokter Tina hampir tidak percaya dengan apa yang diucapkan Sella, hingga kemudian Sella bercerita tentang keadaan ibunya yang menjadi depresi karena ditinggal ayahnya. Ia tidak menceritakan seluruhnya tentang kejadian bagaimana ayahnya, secara tragis meninggalkan ibunya yang terus berteriak dan menangis. Sella hanya mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah bercerai, dan perceraian itulah yang membuat ibunya depresi, sehingga ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Saat itu Sella sangat mengharapkan ibunya memperhatikan dan melihat semua yang sudah ia alami untuk bertahan hidup. Ia menganggap ibunya mengerti dan bisa berbicara dengannya. Jadi ia pun berbicara seolah-olah mereka berdua sedang bercakap-cakap, berbuat seolah-olah ibunya mengelus kepalanya, memeluknya dan tersenyum padanya, meskipun kenyataannya sang ibu tetap diam tak merespon apapun padanya.
Tapi ia tidak menyangka waktu itu, bahwa apa yang ia lakukan itu secara terus menerus, ternyata membuat perubahan yang besar pada ibunya. Flinna bisa kembali pulih sedikit demi sedikit, setelah selama berbulan-bulan wanita itu tidak berbicara dan hanya menangis sebagai ungkapan kesedihan perasaannya.
"Jadi, anda hanya melakukan semua berdasarkan pengalaman anda sendiri, ya?" kata dokter Tina.
Sella mengangguk dan berkata, "Emm, iya, aku hanya menambah sedikit pengetahuan ku melalui internet, tapi aku tetap saja melakukan apa yang aku bisa," katanya.
"Itu luar biasa Nona. Aku sangat berterima kasih kepadamu, pengalaman adalah guru terbaik."
Bahkan seorang dokterpun tahu bahwa learn by dooing itu akan lebih membekas dalam hati dan kehidupan seseorang daripada hanya ucapan semata. Orang bijak akan belajar dari pengalaman orang lain dan juga pengalamannya sendiri.
"Lakukan apa yang menurut anda baik, nona. Anda sudah melakukan lebih dari, yang harus dilakukan oleh seorang dokter kepada pasiennya. Mungkin ucapan terima kasih saja tidak cukup, tapi orang-orang yang ada disekitar Anda, bisa melakukan lebih baik dari saya, yang hanya mengucapkan terima kasih saja," kata Tina di akhir obrolan mereka.
"Oh, kau tidak perlu berterima kasih padaku, dokter. Itu kewajiban saya juga sebagai orang yang menyayanginya."
Sebenarnya itulah maksud Tina berbicara dengan Alrega Dan Rehandy, karena ia sebenarnya meminta secara tidak langsung, agar dua pria itu memperlakukan Sella dengan istimewa, karena menurutnya Sella adalah wanita yang istimewa.
Saat Tina keluar, dan Sella mengantarnya sampai di depan pintu, Tina berbisik.
"Nona, kulihat tuan Rega sangat menyayangi anda, jaga dia, Nona. Aku melihat sendiri bagaimana keadaannya waktu ditinggalkan istrinya. Delisa, istrinya itu sudah menceraikannya," katanya.
"Apa maksudmu dokter menceraikannya?"
"Nona, istrinya yang lebih dulu mengajukan perkara perceraian itu padanya, tapi tenang saja Nona, aku berpikir bahwa itulah yang terbaik, karena sekarang tuan Rega memiliki anda."
Tina mengetahui banyak hal tentang keluarga Alrega, ketika ia mulai merawat Zenia. Waktu itu ia hampir setiap hari datang ke sana untuk merawatnya, hingga ia tahu tentang seluk-beluk kejadian yang sangat tidak terduga. Mereka keluarga terhormat, tapi perbuatan Delisa tidak terhormat, karena mempercayai ucapan orang lain begitu saja. Ia menilai bahwa, sebagai wanita yang sudah dijadikan istri dan mendapatkan segalanya dari Alrega, Delisa tidak seharusnya bersikap sangat memalukan dan pergi meninggalkan suaminya.
__ADS_1
***
Sella duduk di sisi tempat tidur, sambil mencari berita tentang kejadian dua tahun yang lalu di internet, tapi ia tidak menemukan sedikitpun berita yang dicarinya. Sella hanya penasaran saja setelah mendengar cerita dari dokter Tina. Sella tidak menyadari kalau berita itu sudah dihapus saat itu juga. Tentu saja keluarga seperti mereka mampu melakukannya, menghapus berita yang tersebar di internet dalam sekejap dengan kekuasaan yang dimilikinya.
Dalam pikiran Sella, masih menduga-duga bahwa wanita yang sudah melakukan perjanjian dengan dirinya dua tahun yang lalu adalah Delisa. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana mencari kebenarannya. Ia terus saja berpikir apabila benar Delisa yang melakukannya, maka wanita itu tidak berhak untuk kembali pada suaminya, dan ia bertekad untuk mempertahankan pernikahannya. Ia ingat nasehat ibunya, apapun yang terjadi, ia tidak akan mengalami perceraian seperti yang dialami oleh ibunya.
Sella begitu sibuk dengan ponselnya, hingga ia tidak menyadari Alrega masuk ke kamar, dan duduk di sebelahnya. Seketika Sella menoleh dengan menyembunyikan keterkejutannya. Ia tersenyum saat Alrega melingkarkan tangan di pinggangnya, dan menyimpan dagu di pundaknya.
Ia berkata, "apa yang kau lakukan?"
Sella tergagap dan langsung menutup ponsel ditangannya, ia menyembunyikan apa yang sedang ia cari di internet. Ia menoleh, melihat wajah Alrega yang begitu dekat menempel dipundaknya.
"Oh tidak, aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya mau menelepon ibu tapi ia tidak mengangkatnya," jawab Sella dengan mata berkedip-kedip, berusaha menyembunyikan kebohongan agar tidak terlihat.
Alrega merasa mimik muka yang ditunjukkan Sella itu lucu karena ia menangkap kebohongan di matanya. Ia menarik ujung bibirnya, karena ia tahu Sella tidak bisa menyembunyikan apapun diponselnya.
"Kalau kau merindukan ibumu lihat saja ibuku, mereka sama saja kan?"
'Hei, kau ini pandai sekali ya Tuan Al, menyamakan ibuku. Kalau urusan rindu, tentu saja tidak sama, mereka orang yang berbeda. Dasar!'
"Ibu sedang tidur."
"Kapan kau akan menciumku?"
'Aah, kenapa kau selalu ingat hal ini, si? Aku tidak menciummu tapi kau selalu menciumku. Itu sama saja. Aku tidak menyangka ternyata kau bodoh juga, haha'
"Sayang. Kau belum menghiburku setelah aku kesakitan, jadi aku belum sembuh."
"Apalagi memangnya yang kau mau?" kata Alrega sambil menjauhkan kepalanya dari pundak Sella.
"Sudah kubilang kan, aku mau pergi jalan-jalan."
"Kita sudah jalan-jalan, bahkan kita sudah berkencan."
'Bukan itu maksudku, aku ingin jalan-jalan naik motormu, tahu?'
"Sayang, boleh nggak aku pinjem motornya besok, sebentar saja, ya?" Sella merengek manja.
CK!
"Aku tidak mau kau menemui laki-laki itu dan kabur dariku!"
"Sayang, Aku cuma mau jalan-jalan saja, beli makanan yang dulu sering aku beli di pinggir jalan," kata Sella sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada, wajah tersenyum manis dengan senyuman sejuta wattnya.
"Cuma itu?" tanya Alrega dengan tatapan mengejek, dan Sella mengangguk cepat.
Alrega mengambil ponsel yang ada dibalik saku jasnya, lalu mencari sesuatu di dalamnya. Saat Zen tidak ada, Alrega akan memegang sendiri ponselnya. Ia enggan berurusan dengan suara dering benda itu, apalagi untuk urusan yang tidak penting, atau hanya salah sambung. Padahal nomor ponselnya adalah nomor unik yang sudah dipesan dan tidak mungkin orang lain akan salah sambungan dengan nomor cantik seperti itu.
"Ini, pilih saja," kata Alrega, sambil menunjukkan beberapa gambar mobil sport satu pintu yang ada di ponselnya, pada Sella.
"Apa ini?" Kata Sella tak mengerti maksud laki-laki yang di sampingnya. Ia melihat ponsel Alrega dengan keningnya yang berkrlerut.
"Pilih mobil mana yang kau suka."
'Apa maksudmu akan membeli mobil untukku begitu? Itu tidak perlu, aku hanya ingin naik motor saja!'
"Sayang, aku tidak butuh mobil, aku tidak menyukai mobil seperti itu, aku juga tidak bisa menyetir."
"Kenapa? Aku tahu seleramu. Mobil ini sudah yang paling murah."
'Apa kau gila ya? Mobil sport satu pintu kau bilang murah. Kau pikir aku tidak tahu harga mobil seperti itu, yang termurah itu tetap saja di atas 5 miliar, kan?'
"Bukan soal harga. Tapi aku hanya merasa tidak ada gunanya karena aku tidak bisa, aku tidak punya surat mengemudi."
"Aku akan mencari orang, yang bisa menjadi sopir pribadimu." Sambil mencium pipi Sella sekilas.
"Aku tidak akan kemana-mana, buat apa punya sopir pribadi? Dia akan lebih banyak menganggur nanti, haha."
"Dari pada nanti kau pergi dengan motor." Sahut Alrega sambil menyimpan ponsel di atas meja kecil dan melepaskan jas serta kemejanya.
'Memang apa salahnya ...? Terserah!'
Merasa tidak ada gunanya menolak. Sella tersenyum tipis diujung bibirnya, ia akan lihat besok, mobil apa yang akan Alrega berikan untuknya. Ia tahu, mobil sport satu pintu yang termurah dikelasnya seperti Toyota Bought itu saja sudah mencapai milyaran. Ahk, yang benar saja.
Sella masih diam di posisinya semula, sambil meremas ponselnya, tapi tiba-tiba ia melepaskannya begitu saja, saat Alrega sudah memeluk tubuhnya dari belakang dengan keadaan bertelanjang dada, dan hanya memakai celana panjang saja.
"Apa kau masih tidak mau menciumku sekarang, hah?" Berkata sambil mengusap-usap pipi Sella dengan pipinya.
__ADS_1
'Tidak. Aku tidak mau!'
"Sayang, apa kau tidak mau makan malam, bukankah sekarang sudah waktunya makan malam?" Sella berkata sambil menjauhkan kepalanya, mencoba menghadirkan dirinya dari ciuman Alrega yang mendarat tiba-tiba di lehernya.
Tapi suara Sella yang lembut memohon, justru membuat Alrega lebih bersemangat. Ia melancarkan serangannya lebih banyak lagi keseluruh wajah Sella, sementara tangannya membalikkan tubuh Sella hingga kini ia duduk di atas tempat tidur saling berhadapan. Satu tangan Alrega berada di belakang punggungnya dan satu tangan lagi, berada di balik baju Sella, sibuk melakukan aktivitas yang lain yang ia inginkan.
"Sayang, aahk... Jangan seperti ini, aku ... emm _ _ " kata-kata terputus karena ditekan oleh bibir Alrega.
Sella merasa tidak bisa lagi melawan, atau mencari alasan yang lain, hingga ia menyambut serangan Alrega, membiarkan pakaiannya dilepaskan sehelai demi sehelai olehnya. Ia sudah tidak takut lagi pada laki-laki yang kini berada di atas tubuhnya. Ia hanya merasa tidak ada gunanya lagi rasa takutnya.
Alrega tersenyum puas saat Sella menerima ciuman-ciumannya bahkan membalasnya dengan lembut, melingkarkan kedua tangannya pada lehernya saat ia melakukan hal yang ia inginkan. Wanita yang kini berada dalam rengkuhannya itu adalah wanita yang dulu sudah ia abaikan, tidak ia perdulikan, tapi kini menjadi satu-satunya orang yang sangat ia inginkan.
Ia seperti bukan jadi dirinya sendiri, ia tidak bisa menahan keinginannya dan mengendalikan dirinya, setiap kali berada di dekat Sella. Setelah ia melakukannya saat ini ia pun tahu kalau Sella hanya berusaha menunda-nunda saja.
Alrega mengecup kening Sella setelah ia menjatuhkan dirinya ke samping. Ia berniat untuk memeluk tubuhnya lagi, setelah ia selesai menyalurkan minatnya.
"Uuh." Sella mendesah keras sambil mendorong dada Alrega yang masih polos.
"Kenapa?" tanya Alrega lembut sambil merapikan rambut Sella yang berantakan menutupi wajahnya.
Sella tidak menjawab, ia memalingkan wajah dan tubuhnya membelakangi Alrega, menutup wajahnya dengan selimut, iya malu. Beberapa hari yang lalu ia menolak dengan alasan masih sakit, tapi yang sudah ia lakukan sekarang adalah kegilaan diluar imajinasinya. Laki-laki yang ia benci itu, justru seperti membuatnya hampir mati karena kenikmatan, entah berapa kali ia merasaknnya saat melayaninya.
Alrega mengumpulkan rambut Sella yang berantakan dalam satu genggaman tangannya dan meletakkannya keatas kepalanya, lalu mengusap punggung Sella yang terbuka dan ia memeluknya dari belakang, hingga mereka tertidur sampai melewatkan makan malam.
***
Sella terbangun saat ia merasakan hangat dipipinya, itu ciuman Alrega, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja, ia duduk di sisi tempat tidur sambil membungkukkan badannya mendekati Sella.
Tercium bau harum parfum khas miliknya, memenuhi ruangan serta hidung SelIa. Ia membuka mata dan melihat jendela, yang sudah terbuka, mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, sambil mengumpulkan kesadarannya.
"Kau sudah bangun?" kata Alrega.
Sella mengangguk. Ia melihat ada beberapa makanan yang sudah tertata rapi di atas meja. Menyadari hal itu ia segera merapatkan selimut yang memang sudah menutupi seluruh tubuhnya. Ia khawatir saat pak Sim menaruh makanan itu di sana akan dirinya yang tidak berpakaian.
Alrega mengerti apa yang dikawatirkan Sella, hingga ia berkata sambil membelai pipinya, "jangan khawatir, aku menutupi seluruh tubuhmu tadi, waktu mereka menyiapkan makanan."
Lalu Alrega mengulurkan pakaian, menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuh Sella.
"Aahk ... !" pekik Sella, dengan cepat ia mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya kembali.
Tingkah Sella membuat Alraga tertawa keras, untuk apa menutupinya? Pikirannya, karena ia sudah melihat seluruhnya bahkan sudah merasakan setiap inci darinya.
"Pakai bajumu, ayo sarapan." katanya dengan lembut.
Sella segera memakai pakaian yang diberikan oleh Alrega padanya, lalu mereka berdua duduk bersebelahan disofa dan menikmati sarapan bersama. Ini sudah terlambat untuk sarapan di meja makan bersama keluarga.
Alrega meminta pak SIM untuk membawa sarapan ke kamarnya, karena ia tidak tega membangunkan Sella yang masih tertidur dengan sangat nyenyak. Ia menaruh beberapa makanan di atas piring Sella, ia meminta agar Sella menghabiskan makanannya sebagai pengganti tenaga yang sudah ia habiskan semalam untuk melayaninya.
Kata-kata Alrega membuat Sella malu, tetapi laki-laki itu tidak peduli, dan ia terus memberikan makanan yang banyak di atas piringnya. Tapi ia merasa bahwa dirinya dikerjai Alrega lagi. Ketika Alrega akan memberikan satu jenis makanan lagi di atas piringnya, ia menahan punggung tangan Alrega.
Ia pun berkata, "cukup, nanti aku gendut kalau harus menghabiskan semua makanan ini."
'Ck! Kau pikir aku domba, yang bisa terus makan dan tidak berhenti mengunyah apa?'
Alrega kembali tertawa mendengar ucapan sella.
"Haha, tidak apa-apa kau gendut asal kau tidak akan pergi kemana-mana."
Sella hanya berpikir tidak ada orang, yang berani meninggalkan Alrega, saat pria itu masih menginginkannya atau belum puas dengan dirinya, kecuali orang itu akan diseretnya kembali dalam sebuah pusaran kemarahan yang tidak tahu seperti apa akibatnya.
Sella hanya berharap ketika ia menuruti laki-laki ini, maka tidak akan ada yang terjadi dengan dirinya dan keluarganya, karena ia bertanggung jawab pada ibu dan adi-adiknya, ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada dirinya, selama ibu dan adik-adiknya baik-baik saja.
Perasaan bahwa dirinya dihargai, oleh Alrega, sedikit demi sedikit muncul dalam benaknya. Apalagi ia melihat sikap Alrega saat ini kepadanya. Ia menduga kalau Alrega melakukan itu, karena sudah puas dengan tubuhnya, tapi ia menepis prasangka buruk bahwa, Alrega hanya memanfaatkan tubuhnya selama ia masih menginginkannya.
Sella mengenang kembali masa lalunya, di mana ia dulu melihat ibunya sudah berbuat banyak untuk ayahnya. Tapi pada akhirnya ayah tetap pergi meninggalkan mereka.
Kadang, seseorang merasa sudah beebuat baik dan menyenangkan orang lain dengan segala kemampuannya, namun pada akhirnya orang lain itu hanya peduli pada dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang di sekitarnya.
Ia akhirnya berpikir bahwa ia hanya perlu peduli pada orang-orang yang benar-benar peduli pada dirinya. Sebab seberapa banyak perbuatan baik yang dilakukan, apabila orang lainnya itu tidak menyukainya maka perbuatan baik itu tidak akan dihargainya, dan orang-orang seperti itu akan terus ada.
Setelah mereka selesai sarapan, Alrega membantu Sella, menggendonya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sella tersipu malu dibuatnya, karena ia tidak biasa diperlakukan seperti itu, apalagi oleh seorang laki-laki walaupun laki-laki itu kini sudah menjadi suaminya, bahkan sudah memiliki dirinya seutuhnya.
Kini Mereka berdua sudah sama-sama rapi, dan mereka berjalan bergandengan tangan menuju teras, Sella berniat mengantarkan Alrega berangkat ke kantor. Nenek dan Yorin memperhatikan mereka berdua, dengan raut wajah yang sulit diartikan, tapi sepertinya mereka berdua cukup maklum, dengan apa yang ada dihadapan mereka berdua, yaitu kemesraan Alrega dan Sella.
Saat sudah berada di luar rumah Sella melihat sebuah mobil baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Apa itu mobil barumu?" tanya Sella.
__ADS_1
"Bukan. Itu milikmu."
bersambung