Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 133. Tetaplah Di Sini


__ADS_3

Lonisa hampir beranjak pergi dari sofa karena tiba-tiba saja dia gugup melihat Zen tersenyum padanya. Ia tidak pernah menyangka jika majikannya yang selalu berwajah tanpa ekspresi, memiliki senyum semanis itu.


Ia masih terus berfikir tentang keputusan yang diambilnya untuk pergi, tapi pria itu tidak mengizinkannya. Dirinya adalah dirinya bukan orang lain, ia tidak akan mengikuti apa kata orang kalau ia bisa sendiri.


Dulu dia mau mengikuti kata Bibi tua untuk menjadi pelayan bagi Zen, menggantikannya karena ia sudah tidak punya apa-apa dan kelaparan. Lalu melihat peluang besar dengan bekerja sebagai pelayannya.


Namun sekarang setelah ia sudah punya cukup uang, ia bersikap seperti dulu, saat dia tidak pernah mau menuruti ibunya karena ia pikir ibunya kuno dan tidak mengerti dirinya. Sama seperti sekarang, ketika ia ingat Sella yang berkata bahwa cinta tidak pernah salah dalam menaruh harapan.


'Lalu apa aku harus berharap dan tinggal dengan orang seperti dia? Dia sama saja denganku keras kepala, apa yang akan terjadi bila kami terus bersama?'


"Tetap di sini," kata Zen sudah memegangi tangannya. Lonisa melihat tangan besar pria itu yang ada di pergelangan tangannya, lalu melepaskannya.


'Tidak, saya tidak mau kalau terjadi sesuatu pada kita!'


"Maaf, Tuan. Saya ingin istirahat."


Zen mendekat, satu tangannya pindah memegang pangkal lengan dan yang lainnya melingkari pinggangnya.


"Tuan! Anda sudah tidak sopan!" Gadis itu bergerak mencoba melepaskan diri.


"Memang kenapa? Kita tinggal di kota yang bebas. Hanya ada kau dan aku, lalu apa yang kau takutkan?"


Lonisa melebarkan matanya mendengar ucapan Zen, meluncur begitu saja dari mulutnya yang jarang bicara. Gadis itu menyunggingkan senyum miring di sudut bibirnya.


"Kau? Ternyata kau lelaki buaya. Tidak kusangka orang yang aku pikir bermartabat dan bicara bahwa orang tidak perlu membalas budi, ternyata orang seperti ini. Mau berbuat cabul pada pelayan rendahan seperti aku."


Zen mengeratkan pelukan, tangan Lonisa berada di dada Zen, bersiap mendorong.


'Ahk, sial! Dia kuat sekali. Tuhan ...! Tolong aku!'


"Ayo kita buktikan ucapanmu, kalau aku cabul padamu. Memangnya apa salahku?"


"Anda memeluk saya!"


"Aku hanya ingin kau tetap di sini ..."


'Hais, pantas saja Tuan Rega sulit sekali bilang pada istrinya soal perasaannya, ternyata memang sesulit ini?'


"Saya Tidak mau?"


"Kenapa? Apa aku sudah membuatmu tidak betah? Bilang saja kau mau apa sekarang?"


"Aku mau pergi."


"Kenapa? Apa aku sudah membuatmu tidak betah?" Zen mengulangi kata-katanya, bicara dengan suara rendah, lebih mendekatkan kepalanya ke telinga Lonisa.


Gadis itu menjadi kaku, punggungnya menegang dan bulu kuduknya berdiri seolah-olah banyak hantu mengelilinginya. Ia memundurkan kepalanya dan menggeleng.


"Bukan, masalahnya bukan Anda, Tuan."


"Lalu?"


"Saya ingin bebas, saya ingin mengatur hidup saya sendiri. Saya mau mencari uang sendiri."


"Apa kau tidak berencana menikah?"


'Apa maksudnya?'


Lonisa menggelengkan kepalanya, "tidak, menikah akan selalu penuh aturan dan posisi wanita selalu saja ... ahk, pokoknya tidak."


"Kau tidak ingin hidup normal seperti orang lainnya, memiliki anak dan hidup dengan mereka sampai kau tua dan ada yang menemanimu saat kau kesepian dan sakit?"


Lonisa mengendurkan perlawanan, tubuhnya mulai rileks dan wajahnya terangkat menatap Zen lekat-lekat, air mata tiba-tiba menetes dan ingatan pada ibunya melintas. Bagaimana ia bisa lupa saat mereka tinggal di kontrakan yang sempit dan kumuh, tak ada makanan dan obat. Ia yang terbiasa manja tidak tahu, harus melakukan apa, sampai ibunya meninggal.

__ADS_1


'Ahk, dia benar... bagaimana kalau aku mati seperti ibu yang tidak ada siapapun untuk dimintai pertolongan? Aku anak tidak berguna!'


Tangan Zen terulur untuk menghapus air mata di pipi Lonisa. Namun sedetik kemudian air matanya kembali mengalir.


"Kau menangis?" Zen kembali tersenyum miring, "kupikir kau tidak bisa menangis!"


'Trnyata dia normal'


Zen membawa bahu Lonisa ke dadanya dan mendekapnya erat.


'Sialan! Dia mengambil kesempatan, tapi nyaman seperti ini pelukannya ... terima kasih Tuan'


"Tetaplah di sini ..." Zen melepaskan pelukan.


"Tidak, saya harus pergi."


"Walau aku bilang aku menyayangimu?"


Lonisa kembali melebarkan matanya, tersedak oleh ludahnya sendiri, lalu kembali menatap Zen lekat-lekat dan mengangguk


'Apa tadi, bilang sayang, aku tidak salah dengar?"


"Justru karena Anda sayang, maka harus mengizinkan saya pergi."


"Tidak ... aku tidak bisa membiarkan kau jauh sendiri di luar sana."


"Tapi Tuan harus ... karena kita tidak mungkin tinggal serumah."


'Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada kita! Apalagi kita punya rasa yang sama. Ayolah! Kita ini manusia berlawanan jenis yang normal'


"Hmm ...." Zen bergumam sambil mencium bibr Lonisa membuat gadis itu menggoyangkan kepalanya melepaskan ciuman Zen. Ciuman pun terlepas.


"Apa yang mau kau lakukan?" Lonisa bertanya sambil mendengus kasar. "Apa kau mau memaksaku? Hah! kupikir kau laki-laki yang bermartabat dan tidak melakukan hubungan sebelum menikah."


Zen melepaskan pelukannya. Dia menyesal tidak menahan diri. Mungkin karena ia begitu ingin Lonisa tetep tinggal.


"Aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak bisa menghargaiku!"


"Kalau begitu kita menikah sekarang."


Lonisa tertawa keras. Sebenarnya selama ini Zen sudah berhasil menahan dirinya sebaik mungkin. Kedua orang itu berulang kali meyakinkan diri tentang perasaan mereka dan bersikap wajar serta tidak melakukan hal apa pun selain pekerjaan antara pelayan dan majikan.


"Jadi hanya karena alasan itu kau mau menikahiku, karna ingin segera menggauli tubuhku? Naif!"


"Tidak. Aku menyukaimu. Aku sebenarnya sudah menyukaimu sejak ..."


"Kapan?"


"Pertama kali aku mengenal dan menatap matamu. Kau cantik."


'Aku juga menyukaimu sejak aku tahu kebaikanmu!'


Lonisa diam begitu pula dengan Zen. Udara disekitar seolah berubah menjadi lautan cinta dan kata-kata yang mereka simpan dalam hati keluar dalam bentuk bunga-bunga di udara.


Lonisa mengulurkan kedua tangan dan melingkarkannya di leher Zen, lalu memiringkan kepala dan mencium pipinya sekilas.


"Kalau begitu, biarkan aku pergi."


'Kau keras kepala sekali! Bagaimana kalau aku rindu, aku hampir tidak punya waktu untuk pergi ke tempat lain selain Kaki Langit dan kantor lalu tempat rapat'


"Kau nekat mau pergi? Kau tidak betah tinggal bersamaku?"


'Bukannya setiap orang yang sudah saling cinta ingin selalu berama, tapi dia?'

__ADS_1


'Aku sangat ingin tinggal di sini tapi aku takut tidak bisa menahan diri! Kau begitu menggoda, akh ... aku ini mudah tergoda!'


"Bukan, bukannya aku tidak betah ..."


"Kau ingin mandiri?"


Lonisa mengangguk. "Jangan kuatir, aku akan sering-sering mengunjungimu di kantor kalau kau tidak punya waktu mendatangi rumah ku."


'Ahk, ternyata dia pengertian'


"Akan kucarikan rumah yang dekat dengan kantor."


"Tidak perlu."


***


Sella menghampiri makam yang sepi dan dipenuhi tanaman bunga Kamboja, dengan langkah tenang. Alrega yang membimbing jalannya dengan hati-hati. Ia membawa sekeranjang bunga dan menaburkannya lalu menyimpan buket besar bunga yang lain dekat batu nisannya. Nama Leana Sasmatia tertulis di sana.


Alrega berdiri di sampingnya sambil mengusap-usap bahu Sella dalam rengkuhannya. Kedua orang itu menunduk menatap batu nisan sambil mengucapkan do'a.


"Apa sudah kau hukum pembunuhnya?" Kata Sella tak lama setelah diam.


Kematian Leana, adalah hal diluar kendali Zola saat ia ingin membunuh Sella. Bila menurut penyelidikan, kematiannya adalah sebuah kecelakaan tapi dialah korban yang sesungguhnya. Dia hanya mendampingi dan melindungi Sella sesuai tugasnya, ia berusaha melindungi nona mudanya, tapi justru dirinya, yang terpental karena posisinya berada di tangga.


Sella ingat, berulang kali Leana memperingatkannya tapi dia selalu tidak percaya, ia menganggap Leana berlebihan. Setelah ia tahu bahwa Lea sudah tewas di tempat itu, Sella menganggap bahwa sebenarnya, perasaan tidak enak yang menyelimuti hati Leana itu merupakan peringatan untuk dirinya sendiri.


"Kau ingin hukuman seperti apa untuk Zola?" Tanya Alrega.


"Hukuman seumur hidup, mungkin. Membiarkannya membusuk di penjara, akan menyenangkan Lea. Nyawa dibayar nyawa ..."


Alrega menoleh menundukkan kepalanya untuk melihat Sella lebih jelas, ia seperti tidak percaya ucapan itu keluar dari mulutnya. Lalu ia tersenyum tipis.


"Keinginanmu sudah terkabul sebelum kau memintanya, Nona ..."


'Ck! Nona, nona, apa dia susah sekali bilang sayang?'


"Aku kasihan padanya, karena aku dia mati." Sella mulai menitikkan air mata, menyadari hal itu, Alrega segera menghapus air mata dengan jari-jarinya, membawa tubuh istrinya dalam pelukannya.


Sementara Zen menunggu kedua majikannya, di luar pekarangan makam. Ia menyandarkan tubuhnya di mobil, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia berulangkali menggelengkan kepalanya karena masih ingat kejadian tadi pagi, bersama Lonisa.


Zen mencoba mengajak gadis itu keluar apartemen di pagi buta, mengendarai mobil sport pribadinya yang sangat jarang ia gunakan. Semalam ia mendapatkan petunjuk seperti sinar dari cahaya, yang keluar dari matahari di pagi pertama musim semi.


Lonisa ingin bebas bekerja dan tidak tinggal bersamanya, hingga ia berinisiatif untuk membuat Lonisa menjadi pengganti Leana. Ia menguji kepandaiannya dalam mengendarai mobil.


"Kau bisa menyetir, kan?"


Lonisa mengangguk. Dia hobi sekali mengendarai, tapi ia bukanlah pengudi yang baik. Dia senang sekali bepergian kesana kemari dengan teman-teman hanya untuk hal yang sia-sia. Mengandalkan kekayaan orang tuanya, ia sama sekali tidak tahu bila orang tuanya ternyata tidak sekaya itu. Mereka punya hutang banyak pada rentenir. Semua karena kesalahannya, ia benar-benar merasa bersalah.


"Kau punya SIM?" Tanya Alrega saat sudah membuka pintu mobil di bagian kemudi untuk Lonisa.


"Sudah aku buang." Gadis itu menjawab dengan tenang seolah membuang identitas bukanlah kesalahan. Lonisa masuk dengan Zen meliindungi kepalanya dengan telapak tangannya.


"Kenapa dibuang?"


"Buat apa, tidak ada mobil lagi." Lonisa berkata sambil memasang sabuk pengaman.


Zen duduk di kursi penumpang disamping Lonisa, sambil berkata, "Kau tidak berpikir panjang bila suatu saat bisa punya mobil seperti ini?" lalu memasang sabuk pengaman.


"Saya putus asa waktu itu, Tuan. Hampir tidak punya harapan dan saya berulang kali mau bunuh diri."


'Jangankan berharap punya mobil, yang ada hanyalah bagaimana untuk tetap bisa hidup!'


Zen mengusap kepala Lonisa lembut. "Jangan panggil aku Tuan, lagi. Kita bukan lagi majikan dan pembantu." katanya.

__ADS_1


" Lalu kita ini apa?"


Bersambung


__ADS_2