Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 101. Tempat Yang Diinginkan 1


__ADS_3

Sella masih menangis dengan keras di dalam mobil sambil menepuk-nepuk dadanya, berharap dengan melakukannya akan bisa mengurangi rasa kesedihan yang menggumpal di dalamnya.


Leana miris, melihat Nona mudanya menangis seperti itu, ia tidak melajukan mobilnya, menunggu sampai Sella berhenti dan mengatakan kemana tujuan, yang akan mereka datangi selanjutnya.


Leana terus menepuk-nepuk bahu Sela sambil berkata, "Kenapa menangis nona?" Namun perkataanya tidak mendapatkan jawaban.


ysementara itu Alrega menyaksikan, dari kejauhan. Ia tidak melihat apa yang terjadi di dalam rumah itu sebelumnya. Untung saja Sella tidak bertemu dengan Delisa, ia tidak bisa membayangkan apabila istrinya itu bertemu dengannya, kemungkinan hal yang lebih buruk akan menimpa.


"Kenapa dia bertekad membayarnya, padahal uang itu bukan hutang." Alrega berkata pada Zen tanpa menoleh pada orang yang diajaknya bicara.


"Nona orang yang baik, Tuan."


"Aneh dia ke rumah Delisa sekarang, dia lagi sakit, kenapa tidak dari dulu waktu aku menyuruhnya," kata Alrega.


Alrega merasa bosan, hingga ia mengatakan hal yang sebenarnya sudah ia mengerti.


"Sepertinya memang Nona ingin membayarnya sekarang, mungkin Nona tahu Deli tidak ada di rumah."


'Jadi, dengan cara baik-baik seperti ini, uang yang Nona anggap utang itu bisa di bayar, sebab Delisa tidak bisa menolaknya, kemungkinan tadi Nona menitipkan uang itu pada ibu atau pelayan Delisa'


Sudah cukup lama mereka berada di sana, Alrega tidak sabar, hingga akhirnya ia pun turun dari mobil dan menghampirl Sella tanpa memperdulikan Zen, yang menggelengkan kepala melihat tuannya menjauh darinya.


Alrega melongok melalui kaca mobil dan melihat Sella yang sedang menundukkan kepalanya sambil menangis. Ia pun membuka pintunya.


Begitu Leanna melihat Alrega, ia segera keluar dan mempersilahkan Tuan mudanya itu masuk dan duduk di tempat duduknya.


"Sampai kapan kau akan menangis seperti ini?" kata Alrega sambil membelai rambut Sella yang acak-acakan.


Alrega bersikap seolah Sella anak kecil yang membutuhkan perhatian.


Mendengar suara itu Sella menghentikan tangisannya, menoleh dan menatap orang yang ada di sampingnya, dengan airmata yang masih berurai di pipinya.


Melihat wajah istrinya penuh dengan air mata, Alrega mengambil tisu dan membersihkannya. Sela menepis tangannya dengan kasar.


"Kau jelek sekali kalau nangis begini." Alrega berkata sambil menghela napas dalam, memegang tangan Sella yang menolaknya.


"Ya, aku memang jelek, jadi pergi sana!"


Seketika Alrega meraih bahu Sella dan membenamkan ke dadanya.


'Jangan berkata seperti itu, kau yang paling manis bagiku'


"Berhentilah menangis, nanti air matamu habis." Alrega berkata sambil membelai kepalanya. Namun airmata Sella, tetap keluar.


Selama beberapa saat Sella membiarkan dirinya dipeluk seperti itu oleh suaminya. Kemudian ia mendongak menatap Alrega dan berkata, sambil menghapus sisa air mata.


"Kenapa kau menyusulku, sejak kemarin kau tidak ke kantor. Kau sibuk. Jadi, pergilah, aku tidak apa-apa di sini. Aku masih mau sendiri."


"Aku tidak mau, memangnya kenapa aku harus pergi?"


Sambil menghela napas Sella pun berkata, "aku orang yang tidak pantas untukmu."


"Kau ini kenapa lagi, tadi sudah memaafkanku. Jadi jangan membahas hal itu lagi."


"Aku ingin bertanya satu hal, padamu."


"Apa?"


"Kenapa kau selalu mengancamku, pada hal kau tahu aku tidak bersalah, pada ibu juga keluargamu?"


Ahk, apa ia harus mengatakan semua hal yang menurutnya sangat memalukan? Ia tidak akan bisa mengungkapkan alasan konyol dibalik sikapnya yang sering mengerjai Sella. Kecuali ia dalam keadaan tidak sadar atau di hipnotis.


Alrega berpikir kalau wanita itu tidak mencintainya, bagaimana mungkin ia mau menuruti semua keinginannya dan mau menjadi istrinya. Oleh karena itu ia selalu mengancam juga memaksa.


'Ahk, dia ingin orang lain mencintainya, padahal Ia sendiri tidak mau mengatakan hal yang sejujur-jujurnya'


Sella pun berbicara dengan hatinya, "Kau mencintaiku, bukan? Tapi kau tidak mau mengatakannya, padahal mengatakan cinta itu tidak akan menghancurkan harga dirimu, apalagi mencabut jiwamu."


Tingginya rasa gengsi setengah mati, bila harus mengatakan ia butuh orang lain, atau menunjukkannya, tidak sama sekali. Alrega senang orang lain membutuhkan dirinya, tapi dia tidak akan membutuhkan orang lain,. padahal sebenarnya ia sangat membutuhkan Sella saat ini.


Alrega tetap tidak mengakui perasaannya, ia kukuh dengan pendiriannya, yang tidak akan mengatakan secara jujur tentang perasaannya. Ia menyampaikan pesan lewat matanya dan ingin Selma mengerti isi hatinya melalui tatapanya.

__ADS_1


Akan tetapi, tidak mungkin setiap manusia bisa menyelami isi hati manusia lainnya, hanya lewat tatapan mata.


"Oh, itu tidak penting. Lebih baik kita pulang."


"A, aku tidak mau pulang." Sella enggan pulang, rasa malu dan bersalah itu kian besar menggelayuti hatinya. Bagaimana ia harus bertatap muka dengan semua anggota keluarga, termasuk kakek Mett. Pasti pria tua itu sudah tahu sekarang.


"Semua baik-baik saja sekarang."


"Ah, entah kenapa aku tidak percaya padamu, walaupun kau bilang semua akan baik-baik saja, ibu dan Nenek menerima aku apa adanya, tapi apa buktinya kalau kau jujur?"


"Kalau kau mau bukti, kau harus pulang sekarang."


"Tidak mau. Aku mau ke suatu tempat." Sella berkata sambil bersiap membuka pintu mobil.


"Kemana?"


'Ke mana saja yang tidak ada dirimu di sana'


"Kau pergi sana ke kantormu Aku tidak membutuhkanmu di sini."


"Ingat cincin yang kau pakai itu, ingat janjimu."


Sella memandang cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia menerima cincin itu sambil berjanji tidak akan pernah meninggalkan Alrega pergi.


"Kau masih berani mengancamku?" Sella berkata sambil mendorong dada Alrega. "Aku benar-benar mau pergi, Al. Masa bodoh dengan janjiku!"


Sella hampir saja keluar, saat Alrega kembali memeluknya dan berkata, "Kembalilah, ibu membutuhkanmu."


"Ibu, ibu, selalu yang kau jadikan alasan! Cuma ibu, kan, yang menginginkanku?"


'Al, kenapa kau tidak bisa bilang bahwa dirimu yang membutuhkan aku?'


Sella kembali melepaskan pelukan Alrega dan hendak pergi keluar, saat ia mendorong pintu mobilnya, Alrega pun mengalah dan mengabaikan gengsinya, ia menggamit tangan Sela dan berkata, "kembalilah aku juga membutuhkanmu."


"Ah, begitu ya, lalu apa kau merasa bersalah karena sudah mengabaikanku?"


"Ya, aku bersalah maafkan Aku."


Alrega saat itu bercerita tentang kepergiannya untuk mengurus surat perlengkapan Daville untuk dirinya. Pria itu mengatakan semua yang di alaminya dan membeberkan siapa Hanza sebenarnya.


"Ck! Mana bisa begitu. Ayo! mau pergi kemana Biar aku antar."


"Kau mau mengantarku, atau Zen ... atau Lea? Ha, sepertinya kau tidak bisa membawa mobilmu sendiri ya." Sella meremehkan Alrega, karena sejak ia menikah dengannya, ia belum pernah melihat laki-laki itu menyetir, selalu ada Zen yang mengemudikan mobilnya.


Sella keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan keras, berjalan dengan cepat tanpa alas kaki di atas trotoar. Tubuhnya sudah lebih kuat, hingga ia tidak merasa khawatir melakukannya.


Sikap Sella itu membuat Alrega kesal, sehingga ia memutuskan untuk mengendarai sendiri mobilnya. Ia melajukan kendaraannya seiring langkah kaki Sella, menoleh dan berteriak dari jendela yang terbuka.


Tingkah dua orang suami istri ini membuat Zen dan Leana tersenyum. Dua orang pengawal pribadi itu pun mengikuti Alrega, dengan melajukan mobil di belakangnya.


"Hei, masuk. Ayo! masuk." Pekik Alrega.


Sella menghentikan langkahnya sejenak lalu menoleh menatap wajah Alrega yang tersembul dari jendela yang terbuka. Gadis itu menggeleng pelan, tak percaya laki-laki itu menuruti kata-katanya, lalu melanjutkan langkahnya kembali dan Alrega pun mengikutinya secara perlahan.p


"Masuk, kubilang, masuk!"??


"Aku tidak mau!" Sella sudah terlanjur malu. Ia menjawab sambil terus berjalan.



Tak sabar menghadapi wanita itu, Alrega keluar dari mobilnya dan membopong tubuh Sella dengan paksa. Lalu memasukkan tubuh Sella ke dalam, tanpa penolakan.


Sementara Sella hanya menetap Alrega takjub.


Mereka berdua sudah duduk, Alrega melirik Sella yang masih bengong, tidak segera memakai sabuk pengamannya. Ia pun mencondongkan tubuhnya ke samping, guna meraih sabuk pengaman dan memasangkannya di tubuh Sella.


Sella memundurkan kepalanya untuk menghindari pertemuan wajahnya dengan wajah Alrega yang begitu dekat. Laki-laki itu cemberut menyadari Sella menghindarinya, tapi apa yang tidak bisa ia lakukan, hingga ia pun mendekat lalu mencium bibir Sella, dengan lembut dan mesra. Sementara sabuk pengaman terlilit dengan sempurna.


"Apa yang kamu bicarakan di rumah Delisa tadi?" Alrega bertanya sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, seperti itulah ia mengendarai mobil, tidak bisa pelan atau sedang, ia selalu senang kecepatan tinggi.


"Bukan urusanmu." Sella menjawab sambil memejamkan mata, terkejut dengan cara suaminya mengendarai mobilnya.

__ADS_1


"Ck! Kau istriku, semua urusanmu, jadi urusanku, gimana kalau terjadi apa-apa sama kamu."


"Kau bisa cari istri yang lain lagi."


"Hmm ... tidak ada yang sama sepertimu."


'Apa dia menyanjungku, itu pujian, aku satu-satunya dan tidak ada perempuan lain yang seperti aku baginya. Ah yang benar saja'


Sella tidak memperdulikan Alrega lagi dan juga yang akan ia katakan padanya. Ia memejamkan mata, bersandar dan mencoba untuk tidur. Membiarkan jendela mobil terbuka dan angin membelai serta memainkan rambutnya.


Ia menganggap dirinya sedang berjalan di atas kereta kuda dan dibawa oleh pangeran tampan yang akan membawanya ke istana.


Hingga tak terasa Sella benar-benar tertidur.


Setelah beberapa waktu lamanya, mobil itu pun akhirnya berhenti di suatu tempat.


Antara sadar dan tidak, Sella mendengar suara kicauan burung mirip suara camar yang berterbangan, sedang menyambar-nyambar mencari ikan yang terbawa gelombang di lautan. Aroma pantai tercium dengan yang sangat kuat, bahkan deburan ombaknya jelas terdengar begitu dekatnya, seolah ini nyata adanya. Ia merasakan semilir angin yang membelai pipi dan rambutnya, tapi tidak dengan tubuhnya.


Sella tersenyum dalam tidurnya, membayangkan dirinya berada di pantai yang sangat indah dan belum pernah ia lihat sebelumnya, bahkan berbeda dari pantai yang kemarin malam ia datangi bersama Rejan, adiknya.


Ia membayangkan dirinya menatap lautan yang luas dan indah, awan yang berarak di atasnya bersentuhan menjadi satu dengan batas laut yang ada di bawahnya.


Perlahan-lahan matanya terbuka, kepalanya menoleh ke segala arah untuk melihat sekelilingnya. Lalu pandangannya berhenti pada Alrega yang duduk di sebelahnya, sedang menatapnya. Sella menarik napas dalam sambil mengumpulkan seluruh kesadarannya, ia sudah tertidur cukup lama.


Secara spontan terkejut melihat matahari sudah miring, seolah merindukan peraduannya.


Lalu menyadari bahwa tubuhnya juga sudah ditutupi oleh selembar jas milik suaminya.


"Uh, di mana kita?" Tanyanya.


"Negeri dongeng." Jawab Alrega tani ekspresi seperti biasanya, bahkan tidak merubah posisi duduknya.


Sella melepaskan jas yang ada di tubuhnya dan meletakkan di atas pangkuannya.


Ternyata dirinya tidak berada di negeri dongeng, tapi berada di pantai sama seperti mimpinya. Jadi, inilah kenyataannya, ia tidak menyangka jika Alrega akan membawa dirinya ke sana.


Jauh di luar jendela ia melihat Zen dan Leana sedang berbincang-bincang berdua.


'Ahk, asyiknya memiliki hubungan seperti mereka tidak ada beban, tidak ada tanggung jawab, yang harus mereka pikul sebagai konsekuensi dari hubungannya'


Hubungan pertemanan adalah hubungan yang paling baik dan paling ringan di dunia, di antara teman biasanya mereka bisa lebih terbuka dan tidak menjaga image diri di antara sesama teman lainnya.


"Kenapa kau membawaku kesini?" Sella bertanya sambi menegakkan punggungnya, rupanya saat ia tengah terlelap, Alrega merubah posisi kursinya agar ia lebih nyaman menikmati perjalanan.


"Bukannya kamu ingin pergi ke suatu tempat, biasanya tempat seperti ini yang diinginkan oleh orang yang sedang bingung?"


'aku bingung bingung apa maksudnya?'


Mungkin memang benar, ia sedang bingung. Kemarin ia terlalu sakit, ketika masa lalunya dibuka di depan umum oleh Delisa. Lalu ia pergi hingga Alrega menemukannya, tapi ia marah dan menangis hingga ia pingsan. Ia kembali senang dan mau memaafkan, ketika di hotel Alrega memberinya banyak bunga yang memenuhi ruangan tidurnya. Hari ini ia kabur dan marah lagi, lalu sekarang senang lagi. Wajar jika Alrega mengatakan Sella bingung.


Sella merasa sekarang ia bisa lebih terbuka, sebab semua orang sudah tahu siapa dirinya dan masa lalunya. Ia pun merasa cukup pantas berdampingan dengan Alrega, sehingga layak untuk mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Jadi ia tidak perlu lagi menjalani hubungan ini, sebagai hukuman seperti sebelumnya.


Apalagi menyadari ternyata Alrega sudah mengetahui semuanya dari awal, itu sangat menjengkelkan. Wajar bila Sella selalu kesal, setiap kali mengingatnya. Alrega selalu mengerjai dirinya dengan alasan hukuman dan memanfaatkan rasa bersalahnya, padahal ia tidak perlu merasa bersalah sedalam itu padanya.


Alrega menuntun Sella keluar mobil, merengkuh bahunya dan berjalan menyusuri pantai, tanpa alas kaki, sama seprti saat Alrega menemukannya.


Sella melihat ke kaki mereka berdua dan tersenyum dibuatnya.


"Al, kemana sepatumu?"


"Panggil aku sayang seperti dulu."


'Aku tidak mau'


Sella diam.


"Aku ikut denganmu, kau tidak pakai sepatu jadi aku juga tidak memakai sepatu." Alrega berkata sambil mengeratkan rengkuhannya.


'Ahk, ternyata kekanak-kanakan sekali dia:


Sementara dua orang anak manusia di kejauhan sana, menatap tuan dan nona mudanya sambil tersenyum.

__ADS_1


'Seharusnya Anda tahu Nona, bahwa Tuan melakukan semua ini dan bersikap seperti itu, hanya untuk menyenangkan Anda'


bersambung


__ADS_2