Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 35. Motor Yang Bagus


__ADS_3

" Hei, Sese, apa kabarmu? Kenapa kau baru menelepon Ibu hari ini, apa kau tidak rindu? Tapi Ibu sangat merindukanmu," kata suara di seberang telepon yang membuat Seila tertawa renyah.


" Ibu aku juga rindu tapi aku tidak bisa sering-sering menelponmu maafkan aku ya bagaimana Rejan dan Runa apa mereka sekolah?" tanya Sella.


" Tentu saja mereka sekolah itu bagus untuk masa depan," jawab Flina.


"Ibu sepertinya aku tidak bisa sering-sering pulang, tidak apa kan? Kuharap kau marah kalau aku lama tidak menemuimu?"


" Tentu saja tidak, prioritas keluargamu bukan lagi diriku tapi adalah keluarga suamimu. Bagaimana apakah mereka baik kepadamu?"


"Hahaha. Ibu, mereka semuanya baik, sangat baik. Ibu tidak perlu khawatir, ibu senang kan kalau aku senang?"


"Kau tidak berusaha untuk menipu ibumu kan, agar ibumu ini terlihat senang? Katakan padaku kalau mereka tidak menyayangimu, maka aku akan menjemputmu saat ini juga, apa kau mengerti?"


'Bagaimana kau bisa melakukannya? mungkin kau bisa saja masuk ke dalam rumah ini tapi kita tidak akan pernah bisa keluar dengan mudah'


"Tidak, aku tidak menipumu, aku jujur kalau mereka semuanya baik padaku,"


'Bahkan ibu mertuaku menggigitku sampai aku berdarah'


"Baiklah kalau memang kau senang dan betah di sana, aku turut berbahagia untukmu. Jadilah istri yang baik dan jangan membantah suamimu. Apapun yang terjadi pertahankan keluargamu jangan seperti aku. Cukup aku saja yang seperti ini," kata Flina, panggilan teleponpun berakhir, setelah Sela menitipkan salam untuk adik-adiknya dan berpesan agar mereka rajin belajar.


Setelah itu Sella mengirim pesan pada sekretaris Zen, meminta izin dan bertanya apakah ia diizinkan untuk keluar rumah hari ini Iya hanya ingin berjalan-jalan saja karena ia merasa bosan.


Walau Sella sudah tahu seperti apa jawabannya, Ia tetap saja kecewa, ia sudah menduganya, tidak mudah untuk mendapatkan izin keluar rumah dari laki-laki itu


Sebagai gantinya Sella berjalan-jalan kembali keliling rumah dan mendekati garasi, di mana terdapat beberapa mobil mewah berjajar dengan rap. Sella menuju satu tempat, di sana terdapat sebuah benda yang ditutupi oleh selembar kain dan Ia segera membukanya. Betapa ia kegirangan seperti anak kecil, melihat sebuah motor besar merek terkenal teronggok, seperti menunggu untuk disentuh dan melambai-lambai pada Sela agar membawanya pergi untuk membelah jalanan kota.


'Ini motor yang bagus'


Sella menghampiri Pak Sim dan ia berkata sambil terengah-engah karena ia setengah berlari untuk menemuinya,


"Pk Sim... Bolehkah aku memakai motor itu? Apakah motor itu masih berfungsi dengan baik?"


"Motor yang mana. Apakah nona bisa memakainya?" jawab Pak Sim sambil mengerutkan kening.


"Aku bisa, aku akan membawanya untuk berjalan-jalan di sekitar sini, bolehkah?" Sellla mengatupkan kedua tangan didepan dada, ia memohon dengan raut wajah yang menggemaskan.


Pak si merasa ragu, tapi ia mengijinkan dengan syarat tidak boleh keluar dari gerbang rumah mereka. Tentu saja Sheila kecewa tetapi itu tidak masalah selama ia bisa berjalan-jalan untuk menghibur dirinya.


Sella mendekati motor itu dan mengusapnya. Iya seperti terkagum-kagum dengan desainnya, kemudian ia melihat kunci motor yang tergantung di sana, ia segera menyalakan nya dan melarikan motor itu dengan kecepatan sedang.


Ia berniat mengelilingi rumah hingga beberapa kali, namun baru saja ia sampai di sisi lain bangunan rumah itu, ia melihat sosok Rehan di berdiri sambil menatap ke atas balkon rumah di lantai tuga yang tertutup rapat.


Beberapa penjaga tampak hilir mudik di sekitar rumah itu, tentu saja para penjaga itu sudah mendapatkan informasi bahwa akan ada penghuni rumah baru yaitu Nona muda mereka. Karena itu itu mereka membiarkan Sella yang mengelilingi rumah dengan motor besar yang suaranya menderu-deru, kini bahkan gadis itu berhenti di dekat tuan besar mereka.


'Apa yang Ayah lakukan di sini dan mengapa ia melihat ke balkon kamar ibu. Kenapa ia tidak langsung masuk saja ke kamarnya atau menemuinya. Bukankah wanita itu istrinya?'


Rehan di menoleh kepadanya begitu Sella menghentikan motor dengan suara bisingnya. Ia pun turun dan mendekati Rehandi sambil membungkukkan badan, ia berkata,


" Ayah. Apakah aku mengganggu? Kalau memang mengganggu, maafkan aku."


" Apakah kau wanita jalanan dan biasa mengebut dengan menggunakan motor seperti itu? Ini belum satu hari dan kau sudah menampakan wajah aslimu?" kata Rehandi tersenyum miring.


'Aku aku sudah lebih dari satu hari ayah, Apa kau lupa?'


"Aku tidak biasa mengebut di jalanan ayah...tapi aku biasa menggunakan motor besar seperti ini hanya saja motorku sudah tua dan jelek, aku menggunakan motorku untuk mengantarkan barang pesananku," jawab Sella enteng, seolah-olah hal itu menyenangkan.


" Apa kau bangga dengan pekerjaan seperti itu?" tanya Rehan di setengah mengejek.


" Hahaha. Ayah, kau benar, aku sangat menyukai pekerjaanku. Karena pekerjaan ini aku bisa membiayai sekolah adik-adikku dan memenuhi semua kebutuhan kami," jawab Sheila dengan pandangan yang menerawang, ada senyum secerah mentari terukir jelas di bibirnya tanpa dibuat-buat.


Rehandii menatap perempuan di depannya takjub, apalagi Ia memikirkan cerita seorang perawat dengan sikap dan perlakuan Sella kepada Zania.


Sebenarnya ada kesan baik dalam hatinya, hanya saja kejadian dua tahun lalu menjadikan ia seperti berhati-hati pada Sella. Tapi yang dirasakannya ketika berbincang dengan Sella saat ini adalah seperti perbincangan antara ayah dan anak yang sebenarnya, ia melihat kepolosan dan kejujuran di wajah Sella.


" Ayah, bolehkah aku bertanya?" Kata Sella memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang berkecamuk di kepalanya sejak semalam.

__ADS_1


" Apakah menurut ayah, kakek Matt sudah tahu tentang kesalahan yang aku lakukan dua tahun yang lalu?" Sella bertanya sambil meremas jari-jarinya sendiri ia terlihat gugup dan takut, wajahnya sudah memucat tapi matanya menatap Rehandii lekat.


"Menurutmu?" jawab Rehandi membuat Sella mengerutkan kening dan kembali bertanya,


"Oh oh tidak apa, memang kita tidak bisa menutupi keburukan selamanya bukan? Aku hanya tidak ingin melukai orang lain lagi."


" Apa kau tahu siapa saja orang yang sudah kau lukai karena perbuatanmu?" tanya Rehandi lagi, tatapannya mengintimidasi hingga Sella seperti membeku.


" Ayah, maafkan Aku aku, mungkin dirimu adalah salah satunya. Tapi aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh dulu aku sangat terpaksa, aku sudah menyesal. Sekali lagi maafkan aku. Apa yang bisa aku lakukan untukmu, untuk menebus kesalahanku? Seandainya aku bisa merubah semuanya maka aku akan membiarkan kan saat itu ibuku saja yang tiada." kata Sella sambil setengah membungkuk dan kedua tangan yang dikatupkan di depan dada, air matanya sudah menetes tanpa terasa.


Kata-kata Sella membuat Rehandi tertegun alisnya berkerut lebih dalam. Ia tahu kenapa dulu Sella melakukan penipuan itu, tapi ia tidak menyangka bahwa sejauh ini keterpaksaan Sellla hingga ia baru saja berkata siap menukar nyawa ibunya. Mungkin seandainya Sella tidak melakukan hal itu dua tahun yang lalu maka bisa saja ibunya akan meregang nyawa.


Karena melihat Rehandi diam, Sellaa segera naik kembali ke motornya sambil berkata,


"Ayah aku ingin menengok ibu sekarang."


-


Setiap orang punya rahasianya sendiri, biasanya semakin buruk rahasia seseorang maka ia akan serapat mungkin menyembunyikannya. Seperti tersembunyinya sebuah gurun yang berada di Peru dskat pemukiman Huacachina Amerika Selatan.


Sella duduk di sisi tempat tidur Zania. Memandang wajah wanita itu dengan tatapan yang lembut.


"Nyonya sudah makan siang?" tanya Sella. Semua orang yang bertugas menjaga, mengangguk.


"Berapa kali nyonya harus minum obat?"


"Empat kali nona, semua biar nyonya tenang."


"Apakah ada dokter yang melakukan pemeriksaan?"


"Ada, nona. Dokter Mika akan datang setiap dua pekan atau saat dibutuhkan," jawab salah satu diantara mereka.


"Apa yang biasanya dokter lakukan, apakah memeriksa kejiwaannya?"


"Semuanya, dokter Mika akan melakukan berbagai tes."


"Tahun ini mengalami penurunan, nyonya akan lebih sering menangis dan memberontak."


"Biasanya karena apa, selain karena ganti pakaian atau dibersihkan?"


Para perawat diam, mereka menggeleng dan mengankat bahu karena tidak tahu.


Sella mencoba membuka jendela balkon, tapi ia tidak bisa. Udara terasa pengap baginya. Mungkin kalau jendela ini terbuka, suasana akan sedikit beebeda. Kemudian ia menemukan kalau jendela itu sudah digembok hingga tidak bisa dibuka.


'Sebenarnya apa yang mereka sembunyikan dariku, mengapa jendela ini digembok?Mengapa sejak awal aku tidak diperkenalkan pada ibu'


Ia berada di dalam kamar Zania dan kebetulan wanita itu sedang tidur.


"Siapa yang menyimpan kuncinya?" tanya Sella pada semua yang ada dihadapannya.


"Dulu nyonya pernah mencoba bunuh diri dari sana?" kata seorang pelayan.


"Lalu kenapa nyonya harus tidur dikamer ini? Bukankah dilantai dasa ada dua kamar tamu yang kosong?" tanya Sella memuaskan rasa penasaran.


"Lebih sedikit yang kau tahu itu akan lebih bagus," kata nenek tiba-tiba sudah ada di sana entah sejak kapan.


Sella menoleh kearah nenek begitu mendengarnya menjawab pertanyaan Sella dengan jawaban yang sangat arogan dan hanya pantas bila kata-kata itu keluar dari mulut seorang laki-laki. Alrega misalnya.


"Oh, nenek. Kau sangat cantik. Apa nenek akan pergi keluar dan berjalan-jalan?" kata Sella sambil meraih tangan nenek dan bersikap manja seolah ia adalah orang yang sangat dekat dengannya.


Marla mengerutkan keningnya, wanita itu sudah lama tidak diperlakukan dengan manja. Ia menjadi agak risih, tapi hatinya menjadi hangat, ketika tangannya juga berada dalam pelukan Sella. Ia merasa kalau gadis di sampingnya ini bersikap tulus.


"Jangan campuri urusanku. Aku mau pergi kemanapuun, bukan urusanmu." kata nenek sambil mengibaskan tangan Sella.


"Nenek, kau hanya terlihat cantik. Apa aku boleh ikut? Aku bosan seharian di rumah."


"Kalau kau bosan, kau bisa mengurus Zania, kan? Kau berlagak jadi pahlawan, padahal kau hanya perempuan yang dipungut dari jalanan. Dokter saja sudah menyerah, akhir-akhir ini kondisinya semakin memburuk. Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"

__ADS_1


Mendengar kata-kata Marla, Sella tertegun. Ia melepaskan tangannya dari Nenek dan berkata,


"Nenek Aku memang bukan siapa-siapa, aku hanya memberi perhatian padanya dan memberinya kasih sayang yang aku punya, aku menganggapnya sebagai Ibuku sendiri, itu yang aku lakukan padanya dan aku berharap Ibu bisa cepat sembuh itu saja,"


Hal seperti itu memang terdengar sederhana tapi apabila keluar dari mulut seorang seperti Sella menurut nenek itu adalah sesuatu yang tidak mungkin karena sejak awal wanita tua itu sudah memandangnya sebelah mata.


Bagaimana mungkin orang yang keluar dari jalanan bisa menyembuhkan orang yang depresi hanya karena modal kasih sayang? Bagi Marla itu terdengar menggelikan.


Sambil berbalik dan pergi nenek berkata,


"Baiklah, lakukan apa yang kau inginkan asal kau jangan lupa, dari mana dirimu berasal."


Sella menepiskan bibirnya, andai ia bisa menjadi embun dipagi hari dan menempel dijaring laba-laba yang terbentang di atas ranting pohon, ia memang tidak berarti, tapi menjadi sangat indah bagai berlian yang turun dari langit.


***


Alrega tengan duduk di kirsi kerjanya, dengan menyandarkan kepala sisandarannya sambil memijit pelipisnya. Tidak ada masalah dengan perusahaan atau dengan saham dan lainnya, ia hanya mencoba mengusir ingatannya pada gadis yang sudah ia buka bajunya dengan paksa lalu mengobati lukanya dengan tangannya sendiri.


Sungguh pemandangan indah yang ada didepannya saat itu membuat dirinya ingin segera memiliki gadis itu seutuhnya. Ia sudah berusaha menahan diri dengan sangat baik. Tapi apa yang dilihatnya tidak bisa menghilang dengan baik, sebaik pertahananan dirinya.


Ia melihat gadis yang lugu dengan mata bulan sabit berkulit kuninglangsat dengan tulang selangka yang bagus dan dada yang indah. Meski saat itu dadanya tertutup oleh kain penutup dada, masih bisa ia lihat dengan jelas keindahannya. Hanya luka itu saja yang membuat bahu mulusnya sedikit jelek.


'Apakah luka gigitan itu bisa dihilangkan?'


"Dasar bodoh..." gumam Alrega lirih, sambil mengepalkan kedua telapak tangan.


"Apa tuan mengatakan sesuatu?" tanya Zen.


Ia melihat gelagat yang tak biasa pada Alrega. Wajah kaku seperti ini akan muncul bila ada masalah berat dialaminya. Saat itu Zen melihat dari tempat ia duduk, wajah Alrega yang mengeras, seperti menahan geram.


"Hmm..." jawab Alrega sambil menggeleng.


Zen kembali memahami bila tuannya itu memiliki masalah yang tidak bisa ia ungkapkan padanya. Tapi ia tak menghiraukannya, ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan.


'Apakah ini berkaitan dengan nona?'


"Tuan, apakah nona tidur di sofa? Dan anda tidak mengajaknya tidur bersama?"


"Tidak. Dia sepertinya takut padaku."


'Bagaimana kau tahu kalau tidak mencoba'


"Saya yakin nona pasti begitu, dia bukan hanya takut pada anda,"


"Hmm" sambil mengangguk.


'Dia seperti kucing kecil yang memelas karena kelaparan dan tercebur ke dalam got'


"Tuan apa anda akan mengajak nona di pesta Delisa? Dia akan membuka gerai bitiknya, beberapa hari lagi," Zen mengalihkan pembicaraan.


"Carikan pakaian yang cocok,"


'Aku yakin baju yang dilemari juga belum ada yang nona sentuh'


"Baik." kata Zen.


Tak lama setelah itu Zen menerima sebuah peaan, dan membuatnya tersenyum.


"Tuan, apa nona akan diizinkan untuk membawa motor lagi bila hendak keluar rumah?" pertanyaan Zen membuat Alrega mengerutkan keningnya dan menatap Zen penuh tanda tanya.


"Apa dia tidak bisa membawa mobilnya sendiri?"


"Tidak, tuan. Sepertinya nona senang mengendarai motor besar anda dulu,"


"Carikan dia sopir perempuan,"


'Wah, nona. Ternyata anda merepotkan saya'

__ADS_1


__ADS_2