
Sella menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang dan saat itu Zania mendekatinya, dengan perlahan, wanita itu terlihat gusar, kedua alisnya bertaut.
Ia meraih tangan Sella dan bertanya, "ada apa apa?"
Sebelum menjawab, Sela menoleh kearah Alrega yang ada di sampingnya. Laki-laki itu pun sedang menatap tajam padanya, matanya mengisyaratkan sebuah pertanyaan, "Sebenarnya ada apa?"
Alrega tadi hanya menuruti langkah Sella, tanpa berpikir panjang dan tidak menanyakan sikap Sella yang tiba-tiba pergi. Ia belum pernah bersikap seperti itu pada beberapa wanita yang dekat dengannya. Ketika Zania memanggil Sella, laki-laki itu pun ikut berhenti dan menunggu jawaban yang keluar dari mulut istrinya.
Sella membalikkan badan, lalu berkata, "Ibu, maafkan aku, apa aku boleh pergi sekarang?"
"Apa ada yang terjadi?" Tanya Alrega sambil memegang bahu Sella.
"Oh, ibuku sakit aku harus segera pulang."
"Siapa tadi yang menelponmu?" Tanya Alrega lagi.
"Razan, dia bilang kalau ibu pingsan di depan kamar mandi."
"Apa, ibumu pingsan? Siapa ibumu. Apakah aku boleh ikut ke rumahmu?"
Sella sadar selama ini ia belum pernah memperkenalkan ibunya kepada Zania. Dua wanita yang saling berbesan itu belum pernah bertemu selama ini. Sella kembali menoleh kepada Alrega, meminta persetujuan padanya, agar bisa mengajak ibu mertuanya ikut serta, pergi menengok ibunya sekarang juga.
Saat ini Zania di rumah sendiri, tidak ada anggota keluarga yang menemani. Walaupun, rumah besar itu tidak pernah kekurangan karyawan, penjaga ataupun perawat yang selalu siap bila dibutuhkan kapan saja, tetapi kehadiran seorang anggota keluarga, adalah hal yang berbeda, untuk menemaninya.
Sella berpikir mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka berdua. Pertemuan ini bisa menjadi jalan untuk kebaikan dan masa depan kedua wanita itu. Bukankah hubungan perbedaan belum pernah mereka lakukan, untuk membicarakan kedua anak mereka?
Alrega mengusap wajahnya dengan sebelah telapak tangannya, lalu mengangguk. Setelah itu ia memberi isyarat pada Zen agar mempersiapkan mobil yang akan membawa mereka ke rumah Sella.
Tak lama kemudian Zen pun mempersiapkan mobil mereka dan setelah semua berada di dalam, mobil itu pun meluncur, dengan cepat meninggalkan rumah besar menuju pintu gerbang utama.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke rumah Sella. Gadis itu tidak sabar dan terlihat gelisah, sebentar-sebentar menoleh ke jendela, kemudian ke arah depan.
"Apa kau gugup?" Zaniah yang duduk disampingnya berkata sambil meraih pergelangan tangannya. Kedua wanita itu saling menatap dan Sella tersenyum, Zania tahu senyuman itu untuk menutupi rasa kegelisahan di hatinya
"Semua akan baik-baik saja." kata Zania sambil menepuk-nepuk punggung tangan menantunya. Ia melakukan seperti yang sering Sella lakukan padanya, ketika ia masih dalam keadaan sakit
Melihat perlakuan Zania kepadanya, Sella pun tertawa kecil lalu memeluk ibu mertua yang ada di sampingnya dengan erat.
Alrega dan Zen yang duduk di kursi depan, hanya melihat keakraban dua wanita yang ada di belakang mereka itu, dari kaca spion depan. Hati kedua laki-laki itu menjadi hangat.
"Ibu, terima kasih kau sudah menyemangatiku!"
"Kau juga sering melakukannya padaku."
"Ibu memang yang terbaik." Sella berkata sambil terus memeluk.
"Kau juga anakku yang terbaik!"
Tiba-tiba Alrega yang ada duduk di depan, membalikan tubuh menunjukkan wajah yang cemberut menatap Zania, sambil berkata, "Ibu, anakmu itu aku bukan dia."
"Iya, kau anakku juga."
'Ck! Seperti itu saja dia cemburu, awas kau nanti ya kalau kau masih tidak juga mau bilang, kalau kau mencintaiku aku akan mencium Zen, di depanmu!"
Selama perjalanan, Zania dan Sella tidak henti-hentinya bercerita dan saling menguatkan perasaan mereka. Kedua wanita itu terlihat sangat cocok. Secara kebetulan, mereka sama-sama tidak menyukai sesuatu yang glamor dan berlebihan. Padahal Zania dibesarkan dengan keadaan yang sangat mewah, tetapi kepribadiannya dan sakit depresinya membuat wanita paruh baya itu berubah.
Sella juga orang yang hidup dalam berkecukupan ketika ayahnya masih ada, dia juga berubah menjadi wanita yang sederhana, dan tidak menyukai kemewahan ketika, keadaan hidupnya yang berbalik arah, memaksanaya menjadi seorang kepala keluarga sekaligus perawat bagi ibunya. Tidak ada waktu baginya saat itu untuk memanjakan diri.
Di dalam obrolan mereka tidak membicarakan tentang fashion, model tas mahal, ataupun baju rancangan desainer. Mereka juga tidak membicarakan tentang sepatu yang sedang tren tahun ini, tidak ada. Mereka membicarakan tentang bunga, burung merak, anggrek dan juga tentang kehidupan.
Ada yang sedikit berbeda dan terlihat bagi Sela sangat mewah, adalah mengenai makanan. Wanita ini senang sekali makan, tetapi anehnya walaupun ia banyak makanan, tapi tubuhnya tidak gemuk juga.
Hanya sedikit perubahan yang terjadi pada tubuh Sella, sejak dia menikah dengan Alrega, beberapa bagian tubuhnya mulai terlihat montok. Ia banyak makan makanan yang enak dan bergizi di sana, tetapi tidak banyak melakukan aktivitas sesudahnya.
"Ibu, kapan terakhir kali datang ke rumah kakek?"
Mendengar pertanyaan Sella, Zani mendesah pelan. Tentu sudah lama sekali ia tidak mengunjungi rumahnya sendiri.
"Bagaimana kalau nanti kita mampir ke rumah kakek?"
Zania tersenyum, "Sepulang dari rumah ibumu."
__ADS_1
"Tentu, pasti Kakek senang sekali ibu mengunjunginya."
Zenia mengangguk, tersenyum dan berkata sambil menepuk-nepuk tangan Sella.
"Nanti, ayo kita main catur. Aku punya bidak catur yang cantik di kamarku."
Sella tersenyum geli.
"Ibu apa ada catur yang cantik atau tampan? kurasa semua catur itu sama."
"Oh ada. Aku mau mesan bidak catur ini khusus waktu itu, aku meminta orang untuk mengukir nya seperti bentuk boneka yang sangat cantik."
"Emm... apa Ibu jago main catur? Pasti aku akan kalah."
"Oh, hanya sedikit, tapi aku menyukai apa yang ayahku sukai."
"Ibu tahu tidak, kakek Met senang sekali bermain denganku karena aku pasti akan kalah!"
"Jangan mengalah padanya, kalau kau mengalah padanya dia akan selamanya meremehkanmu!"
"Al, apa permainan catur ibu, sebagus permainanmu?" Sella berkata sambil menoleh pada Alrega.
"Kau memanggilnya Al? Cuma kamu mungkin yang diizinkan memanggil Al?"
"Apa salahnya? Ibu bukankah Alrega memang namanya, aku memanggilnya Al biar tidak terlalu panjang."
Ck! Alrega mencibir dalam diam.
"Sese ... aku bersyukur, Rega benar-benar mencintaimu." Zania mengusap lembut kepala Sella sambil melirik Alrega.
Zen juga tersenyum sambil melirik Alrega. Tuan mudanya tidak marah ada orang lain yang memanggil namanya dengan kata yang tidak disukainya.
"Rega, kau tidak marah kan, Sese memanggilmu dengan nama itu?" Zania kembali bertanya dan mengusap bahu anaknya dari belakang.
Alrega tidak menjawab, ia hanya diam tapi bibirnya tersenyum tipis.
"Ibu, jangan bicara soal Al. Kita bicara soal catur saja, bagaimana Ibu bisa pandai main catur, apa Ibu pernah memenangkan kompetisi?"
"Jadi, Ibu pernah menang bertanding, kapan?"
"Ah, tidak ... aku hanya menyukainya. Tapi aku tidak pernah mengikuti perlombaan, membosankan."
"Oh, begitu ya?"
"Sese, sakit apa ibumu, kenapa sampai pingsan?"
"Entahlah, Bu. Aku juga tidak tahu."
"Ibumu pasti baik-baik saja."
***
Suasana di rumah Sella sepi, tokonya tutup, pintu dan jendela pun tertutup. Sella mendahului Zania dan Alrega turun dari mobil, ingin segera melihat keadaan ibunya. Sella segera menghambur keluar dan membuka pintu itu rumah dengan tergesa-gesa, namun pintu rumah itu terkunci.
Sella berteriak, agar seseorang segera bukakan pintu untuk mereka.
Setelah menunggu beberapa lama pintu pun terbuka, begitu melihat Sella, Runa yang saat itu membukakan pintunya langsung memeluknya, sambil menangis.
"Kenapa kau menangis? Di mana ibu? kenapa kau menangis, di mana Ibu," kata Sella sambil melangkah masuk ke dalam rumah dengan cepat.
Di saat yang bersamaan Alrega pun menuntun Zenia masuk ke dalam rumah dengan langkah yang perlahan-lahan, wanita itu masih memakai pakaiannya yang tadi pagi, ia tidak berniat untuk berdandan sebelum pergi. Bahkan dia tidak sempat mengganti sandalnya, penampilannya sangat sederhana.
Runa yang melihat kedua orang itu masuk ke dalam rumah, merasa heran, dalam hati ia bertanya siapa Zania? waktu pernikahan kakaknya, ia tidak melihat wanita itu, berada di antara keluarga Alrega. Akan tetapi sekarang ia melihat wanita itu dituntun oleh kakak iparnya. Ia pun mempersilakan Zania duduk di sofa ruang tamu mereka.
Sementara itu, di dalam kamar Flinna, Sella dan Rezan duduk di sisi tempat tidur, wanita itu mengusap kepala ibunya dengan lembut. Flina terbaring lemah, ia baru saja siuman setelah seorang dokter wanita yang entah dari mana, tiba-tiba datang dan mengobatinya. Dokter yang datang adalah dokter yang tidak dikenal oleh Runa dan Rezan, tapi dokter itu sangat baik juga berpenampilan elegan, memperlakukan keluarga Sella dengan sangat hormat.
Flinna tampak membuka matanya secara perlahan, wajahnya pucat bibirnya gemetar tangannya terulur untuk menyentuh kepala Sella.
"Sese ... Apa kau baik-baik saja?" tanya Felina dengan suaranya yang bergetar karena masih lemah. Ia hanya syok berat dengan segala macam prasangka buruk atas mimpinya.
"Ibu seharusnya aku yang bertanya, gimana kabar ibu, apa Ibu baik-baik saja?"
__ADS_1
"Sese, jangan kuatirkan aku, aku baik-baik saja. Apa kau datang ke sini sendiri, di mana Nak Rega?"
"Dia ada di sini, bu. Di ruang tamu. Sebenarnya, Apa yang dirasakan Ibu kenapa ibu bisa sampai pingsan?"
"Oh, entahlah, aku hanya memikirkanmu, Se ... aku terus berpikir buruk kalau kau mengalami sesuatu."
"Ibu lihat, kan. Aku tidak mengalami apa-apa, aku baik-baik saja, aku hanya tidak enak badan kemarin tapi sekarang sudah baik-baik saja, banyak dokter yang menjagaku, jadi ibu tidak perlu khawatir."
"Syukur lah, kau memang berada di tangan orang yang tepat."
"Iya, benar ibu tidak usah khawatir.'
"Tapi, tapi aku bermimpi kau basah kuyup."
Sheila tertawa kecil kemudian dia berbisik pada ibunya.
"Ibu, siapa tahu, itu adalah tanda kebaikan yang akan terjadi, suatu saat nanti."
Lina tersenyum, dan disaat yang bersamaan, Zania dan Alrega masuk, kedua orang itu senyum simpul di bibirnya.
Melihat kedatangan Alrega dan Zania, Flinna berusaha untuk duduk, Rezan yang sejak tadi hanya diam, membantu ibunya untuk duduk bersandar di ujung tempat tidur.
"Apa kabar Bu?" tanya Alrega.
"A, aku baik, hanya saja entah kenapa aku tadi tidak sadar, aku terus berpikir buruk tentang Sella, tapi ternyata dia baik-baik saja."
Flina tertawa kecil lalu melanjutkan ucapannya, "Aku khawatir terlalu berlebihan, ya?"
Zania mendekat ke tempat tidur, saat itu Sella memberikan ruang pada Zania untuk duduk di sisi tempat tidur, berdekatan dengan Flina.
"Maaf, aku ibunya Alrega, kita belum pernah bertemu sebelumnya ..."
Flinna mengamati wajah itu, ia mengenali Zania sebagai seorang anak konglomerat terkenal. Dia adalah salah satu sosialita yang kekayaan dan warisannya tidak tertandingi wanita manapun di Jinsei.
Flina tersenyum kemudian meraih tangan Zania dan menepuk-nepuknya.
"Aku tidak menyangka, aku sudah berbesan dengan orang seperti Anda, Nyonya?"
"Jangan panggil Aku Nyonya, lebih baik kita memanggil nama saja, sepertinya kita seumuran," jawab Zania tenang.
"Oh begitu ya, apa tidak apa-apa, kalau Aku memanggilmu nama, sepertinya terdengar tidak sopan."
"Oh, tidak perlu sungkan."
"Baiklah kalau begitu, Zania, apa kabar? Oh iya, kenapa waktu anak kita menikah kau tidak ada?"
"Ibu ... Maaf," Sella menyela perbincangan kedua ibu itu dengan cepat, sedangkan matanya melirik Alrega.
"Aku belum memperkenalkan ibuku. Nama ibuku adalah Flinna, panggil saja begitu."
"Baiklah," kata Zania masih terus tersenyum.
"Siapa yang paling tua di antara kita, yang lebih muda harus memanggilnya dengan sebutan kakak," kata Flina dengan semangat, sepertinya sakit kepalanya sudah hilang, entah karena bertemu Zania atau karena sudah melihat Sella baik-baik saja.
"Aku lahir bulan Januari," sahut Zania masih dengan tenang, sementara Sella dan Alrega terlihat menarik nafas lega karena pembicaraan tentang pernikahan mereka tidak dilanjutkan.
"Oh, kalau begitu aku yang harus memanggilmu, Kakak karena aku lahir di bulan September," kata Flinna.
Kedua wanita itu tertawa ringan.
"Flinna, kau tahu? Sese, anakmu luar biasa. Dia sudah menghadapi ujian berat akhir-akhir ini, tapi dia sudah membuktikan, bahwa dia memang perempuan yang benar-benar layak untuk anakku. Aku tidak khawatir pada hubungan mereka berdua, bahkan ayahku memberikan setengah dari kekayaannya, tapi anakmu menolaknya." Zania tiba-tiba bicara panjang lebar tanpa bisa di hentikan oleh Sella, karena ia merasa sungkan, tidak seperti saat dia menyela ucapan ibunya.
Flinna spontan menoleh pada Sella dengan tatapan penuh selidik.
"Sese ... Memangnya apa ujian seperti apa yang sudah kau hadapi, apa maksudnya? Apa kau bisa mengatakan terus terang pada ibu, sola apa yang sebenarnya kau alami?" Flinna bertanya dengan penuh tekanan.
Sella diam, gugup dan cemas.
"Katakan, Se, ujian apa yang dimaksud Ibu mertuamu?"
"Ibu, itu ... eu ... bu, aku .. "
__ADS_1
Bersambung