Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 120. Menyukainya


__ADS_3

Alrega menatap wajah ibu dan ayahnya dengan tajam karena ia sebenarnya tidak ingin membicarakan hal ini. Hal yang ia sendiri malas untuk mengingat kembali apalagi mengatakan pada semua orang di hadapan Sella.


Sella sudah mengetahui semuanya, hanya saja ia juga ingin mendengarnya sendiri dari mulut suaminya, atas dasar apa laki-laki itu menikahinya. Perempuan itu menoleh pada pria yang duduk di sampingnya, tersenyum dan menggamit tangannya.


"Katakan saja dari awal, bagaimana pertama kali kita bertemu," katanya.


Alrega tersenyum tipis mendengar ucapan Sella, mengingat tentang pertemuan mereka, yang aneh menurutnya. Lebih anehnya lagi, ia tidak bisa melupakan pertemuan itu, bahkan sampai sekarang. Entah bagaimana ia bisa melihat gadis yang berpenampilan berantakan dan bukan seleranya, bisa menarik perhatian bahkan membuat Alrega mendekatinya dengan sengaja.


Ia tidak bisa melepaskan tatapan matanya dari Sella waktu itu, rambut ikal dan mata yang berbentuk bulan sabit, mengalihkan konsentrasinya sejenak. Membuat Alrega berpikir keras tentang siapa perempuan itu? Setelah ia melihat cara Sella membalikkan badan, ia kemudian teringat bahwa gadis itu adalah wanita yang sama, yang sudah menipunya hampir 3 tahun lalu.


"Apa Ibu begitu tertarik mendengar kisah cinta orang lain?" Tanya Alrega.


"Apa aku salah, ingin tahu bagaimana anakku bisa jatuh cinta dengan istrinya?"


Sella menyela ucapan Zania, "tidak ... Ibu tidak salah, aku senang sekali mendengar orang menceritakan bagaimana pertemuan mereka, kemudian mereka bisa menjadi pasangan suami istri, itu menarik sekali, ya kan, Bu?"


Zania mengangguk mendengar ucapan Sella.


'Kalian sama-sama perempuan, tentu kalian sama saja'


"Aku dulu tidak pernah berpikir kalau aku akan menyukainya," kata Alrega sambil menghela nafas berat.


'Apa dia bilang tidak pernah berpikir untuk menyukaiku. Apa itu artinya dia sekarang menyukaiku?'


"Apa?" tanya Zania dan Sella secara bersamaan.


Sementara Rehandi sibuk melihat layar ponselnya. Sejak mereka mulai bicara perhatian laki-laki itu terbagi, sesekali ia melihat dan menepuk-nepuk tangan Zania, kemudian ia kembali sibuk dengan ponsel di tangannya. Pria paruh baya itu sudah mengetahui semuanya dari awal, hingga ia tidak merasa perlu untuk menekan Alrega lagi.


Alrega mendekatkan wajah dan tubuh pada Sella, ia menjawab pertanyaan Zania tapi tatapan matanya tidak lepas dari Sella, sambil membasahi bibirnya dengan lidah.


"Ya, aku dulu melihat kamu seperti manusia kecil yang tidak berdaya, memakai pakaian pegawai kebersihan gedungku. Aku pikir dia memang pegawaiku, karena aku tidak pernah memeriksa satu persatu. Apa Ibu tahu, ternyata aku tertipu, dia bukan pegawaiku, tetapi dia memakai seragamnya."


Mata Sella melebar saat mendengar Alrega bicara, mereka saling bertatapan. Ia menyahut untuk membela dirinya, karena dikatakan sebagai penipu oleh suaminya.


"Maaf ... aku tidak tahu kalau ada larangan tidak boleh masuk gedung tanpa izin dan aku memakai baju itu karena terpaksa, bajuku kotor dan basah, tidak ada pakaian lagi, aku tidak mungkin pulang tanpa pakai baju. Akhirnya, aku pinjam baju Rere, dia yang jadi pegawai di sana."


"Apa kau tidak punya alasan lain selain terpaksa?" Selama ini semua orang tahu dan Sella juga selalu mengatakan hal itu, bahwa ia terpaksa.


"Itu, memang begitu, aku juga menikah denganmu karena terpaksa!" Saat itu juga Sella langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.



Perempuan itu menyesal sudah mengucapkan kata-kata itu dihadapan Zania, ia tidak ingin hati ibu mertuanya terluka.


"Ya Tuhan aku sudah kelepasan bicara bagaimana nanti dengan ibu?'


'Apa maksudmu, bodoh ... kenapa bicara seperti itu di hadapan ibu?'


Sella mengerjap-ngerjapkan mata sipit berbentuk bulan sabitnya, menahan air yang tiba-tiba saja menggenang di pelupuknya, ia merasa bersalah. Ia terburu-buru mendekati Zania.


"Ibu ... bukan seperti itu maksudku, awalnya aku hanya tidak ingin meninggalkan Ibu dan pekerjaanku tapi kemudian, Al meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja, akhirnya aku menurutinya."

__ADS_1


"Se, kemari, duduklah." Alrega bangkit dari duduknya, mendekati Sella yang tengah berlutut di hadapan Zania.


Ia menarik Sella agar kembali duduk di sofa. Setelah itu, tangannya terulur untuk merangkul bahu Sella, merapatkan ke dadanya. Kepalanya menunduk, untuk melihat wanita yang tengah dipeluknya, saat itu udara yang keluar dari hidung mengenai wajah Sella, yang mendongak menatap Alrega dengan sedikit gusar, khawatir suaminya marah. Namun, kekhwatirannya tak terjadi, pria itu justru menatap dengan tatapan yang teduh dan erat memeluk bahunya.


"Apa kau tidak bisa diam sebentar saja? Jangan bicara kalau aku tidak mengizinkan bicara, kau mengerti?"


Sheila mengangguk, sekali lagi tatapan mata Alrega sudah mengalahkannya. Saat itu juga bibir Alrega sudah berada di bibirnya dan terasa hangat.


'Hais, dia ini kenapa menciumku di depan ayah dan ibu, hei ... aku malu!'


Seketika wajah Sela memerah, terasa hangat merayap ke semua bagian wajahnya. Sebaliknya Alrega menyeringai penuh arti, di matanya menyiratkan sesuatu yang manis dan Sella tidak bisa lawannya, laki-laki itu justru ingin menampakan kemesraan di hadapan kedua orang tuanya.


Zania dan Rehandy, melihat semuanya mereka tersenyum sambil menggelengkan kepala.


Rehandy berkata, "Apa kami harus menonton kalian seperti itu atau kamu akan melanjutkan bicara?"


Alrega melepaskan rengukuhan di bahu Sella, ia kembali duduk dalam posisi tegak. Selanjutnya, kedua ibu dan anak itu saling bicara.


"Sebenarnya apa yang Ibu dengar dari wanita itu tentang aku dan Sella?"


"Siapa wanita itu?" Zania kembali bertanya.


"Zola, sahabat Delisa, pasti dia yang sudah mengatakan semuanya," tandas Alrega.


"Wanita itu benar ...." Sahut Zania.


"Wanita itu ada benarnya, tapi selebihnya dia salah."


"Yang benar adalah, awalnya memang aku ingin membalas perbuatan Delisa. Aku ingin menikah untuk membalaskan sakit hatiku kepadanya."


"Apa kau juga teman dari Delisa?" tanya Zania, berpaling ke arah Sella.'


Sella menggeleng, menatap Zania dan berkata, "bukan, Bu ... aku tidak berteman dengannya, aku hanya bertemu ketika dia memintaku untuk melancarkan sandiwaranya, itu saja. Setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi, kecuali setelah aku menikah dengan Al, dan dia mengancamku berulang kali dan mengatakan yang tidak-tidak tentang suamiku."


"Lalu apa tanggapanmu?" Zania kembali bertanya.


"Kata-katanya, tentang Alrega itu salah," sahut Sella.


"Apa yang salah?"


"Zola mengatakan bahwa Al, adalah laki-laki yang suka mempermainkan wanita, tetapi sepertinya tidak," Sella berkata sambil menoleh pada Alrega dan tersenyum, "ya kan, sayang?"


Alrega tidak menjawab, Dia hanya mengangguk, kemudian ia melanjutkanlk bicara.


"Bu, aku menikahinya bukan karena ingin membalas dendam pada Delisa saja, tapi karena aku menyukainya."


Mendengar ucapan Alrega, Sella tersedak ludahnya sendiri, beberapa kali terbatuk dan tiba-tiba udara di sekitarnya terasa sedikit.


'Hei, apa yang kau katakan itu benar, kau bukan menipuku kan? Kalau kau menyukaiku, kenapa kau selalu mengerjaiku? Kenapa tidak terus terang, kau bisa mengatakan semuanya tanpa harus menyiksaku!'


"Kenapa kau batuk? Apa kau butuh minum?" Tanya Alrega.

__ADS_1


Sella menggelengkan kepalanya, sambil menggerakkan tangannya, "oh, tidak tidak perlu."


'Lihat, awas kau nanti, ya!'


"Jadi, apa itu cukup, apalagi yang ingin Ibu dengar? Aku tidak pandai bercerita," kata Alrega sambil menyandarkan tubuh dan melipat kedua tangan di atas perutnya.


"Menurutku, sudah cukup ... yang penting adalah, bagaimana kalian menjalaninya saat ini, lupakan masalah dendam dan semua yang menyakitkan, hiduplah dengan baik mulai sekarang," kata Rehandy sambil menyimpan ponselnya di atas meja, lalu kembali meraih tangan Zania dan menciumnya. "Benar kan, sayang?"


Suasana sedikit mencair, Sella dan Alrega terlihat bernapas lega.


Zania menggangguk, menatap kedua pasangan suami istri yang duduk di hadapannya lekat-lekat.


"Aku hanya ingin menyimpulkan." diam sejenak dan ia menarik nafas dalam.


"Ibu mau menyimpulkan apa?" pertanyaan Alrega membuat suasana kembali serius.


"Kau bertemu dengan Sella di saat yang sama dengan kepulangan Delisa ... aku tidak tahu kemana Delisa pergi, Sebenarnya kau menyukai Sella, tapi dia tidak menyukaimu, akhirnya kau memaksanya untuk menjalankan rencanamu, agar tepat waktu, seperti yang kau inginkan, bukankah begitu?"


Alrega mengangguk dan menjawab, "ya kira-kira seperti itu."


"Kenapa kau tidak mengatakan terus terang, kalau kau menyukainya dan mengajaknya untuk menikah?"


Mendengar pembicaraan ini, Sella merasa urat syarafnya menegang.


"Ibu kira segampang itu? Ibu tahu apa yang menjadi prinsip hidupnya?"


'Eh, memangnya kau tahu apa soal prinsipku?'


"Apa prinsipnya?" Tanya Zania penasaran.


Alrega meraih kembali bahu Sella, melihatnya dan berkata, " dia membenci semua laki-laki, bahkan dia tidak ingin menikah seumur hidup! Aku tidak mungkin langsung bilang bahwa aku menyukainya dan aku ingin menikah dengannya saat itu juga, dia pasti akan menolakku."


'Eh, dari mana dia tahu, si?'


Zania menganggukan kepala dan tersenyum pada Sella. Yang terlihat kaku dan wajahnya memerah.


"Jadi bagaimana, Se ... apa kamu sekarang masih membenci laki-laki, atau kau sudah mencintai anakku?"


Sella tidak menjawab, ia berjalan mendekati Zania, membungkuk dan mengarahkan bibirnya ketelinganya dan membisikkan sesuatu. Saat itu juga Zenia mengangguk-angguk dan menatap Alrega dengan nanar.


'Hei apa yang kalian katakan?'


"Kenapa kau harus berbisik, bicara saja sekarang." Alrega berkata dengan kesal.


'Aku tidak mau, kau menyebalkan!'


"Hais, apa yang dia bisikkan pada Ibu, awas kalau dia bersikap bodoh. Dia kira bisa menghindariku? Dia harus berkata jujur tentang apa yang sudah dia katakan pada ibu'


Sella mengerling pada Zania, "Bu, itu rahasia, ya!"


Zania mengangguk.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2