Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 48. Haruskah?


__ADS_3

Setelah kepergian Sella, Alrega dan Zen saling berpandangan, Alrega memberi isyarat untuk melakukan sesuatu di ruang kerja. zen mengerti dengan yang diinginkan Alrega, ia melangkah meninggalkan Alrega sambil berkata,


'Sepertinya nona benar-benar cemburu'


"Anda berhasil, tuan."


Alrega melepaskan tangan Delisa dengan kasar dari lengannya. Lalu ia melirik pada Zen yang menjauh. Pak Sim dan pelayan lain masih setia berdiri di sana melihat semua perubahan sikap Alrega.


"Pergilah, aku tak mau melihatmu di sini." kata Alrega. Ia membiarkan Delisa di sana karena ia masih menghargai nenek. Ia tidak ingin melihat nenek marah. Lagi pula ia ingin tahu sebesar apa kecemburuan Sella.


Alrega berdiri hendak menuju kamarnya di lantai dua ketika Delisa menarik tangannya dengan mesra. Delisa memegangnya dengan kuat seolah tak mau berpisah darinya.


"Rega, maafkan aku sudah meninggalkanmu, aku janji mulai saat ini aku akan tetap mendampingimu walau apapun yang terjadi."


Disaat yang bersamaan, nenek muncul dihadapan mereka dengan kursi rodanya. Wanita tua itu menatap Alrega dengan wajah kaku, ia berkata,


"Delisa sudah datang, untuk apa kau tetap mempertahankannya? Deli jauh lebih baik dari gadis itu."


Mendengar nenek bicara seperti itu Delisa merasa menang, nenek membelanya. Sedang Sella pergi ke kamarnya menandakan ia kalah.


Alrega menoleh pada Delisa, sambil berkata, "Tunggu aku di ruang kerja. Dan lepaskan tanganku!"


"Baiklah, aku akan menunggu sayang, jangan lama-lama ya?" kata Delisa sambil mencium tangan Alrega dan pergi menuju karmar kerja. Alrega menghapus bekas ciuman Delisa dengan mengusapkan tangannya ke baju pak Sim yang berdiri di sampingnya.


"Nenek. Aku sudah bilang kan, kalau sekarang aku akan bertanggung jawab dengan pilihanku sendiri? Jadi nenek tidak usah ikut campur lagi."


Setelah berkata demikian, Alrega meninggalkan nenek yang masih tidak rela bila Alrega tetap memilih Sella dari pada Delisa. Wanita tua itu hanya melihat dari penampilan fisik Delisa yang sangat mendukung sebagai menantu bila diperlihatkan kepada kolega dan teman-temannya.


Sebaliknya Alrega menilai Delisa hanya manis dan baik diawalnya saja, sebab bila ia sudah mencapai tujuannya maka ia akan sangat licik dengan memanfaatkan orang yang sudah berhasil ia berdaya. Alrega menyesali semuanya tapi ia tetap menghargai nenek, ia hanya menunggu hingga Delisa memperlihatkan keburukannya secara langsung dihadapan nenek dan keluarganya.


Dikamar kerja.


"Kau masih mau memaksaku pergi, Zen?" kata Delisa yang duduk di sofa dekat ruang kerja keluarga Leosan.


Ruang yang dipakai untuk menyimpan berbagai macam buku dan juga dokumen penting milik keluarga dan juga perusahaan. Tidak semua anggota keluarga juga pelayan bisa masuk kedalam ruang itu tanpa izin.


Zen berdiri dihadapan Delisa dengan memasukkan telapak tangannya kedalam saku celananya. Menatap Delisa dengan kesal karena perempuan ini sangat keras kepala.


"Iya. Seharusnya kau tidak perlu menunggu tuan Rega yang mengusirmu."


"Bagaimana kalau aku tidak mau pergi, apa yang bisa kau lakukan, apa kau akan mengusirku dihadapan nenek?"


"Ya, hanya karena nenek saja tuan Rega masih mengijinkan kau tinggal di sini."


"Ahk, tidak. Aku yakin Rega masih mencintaiku, sampai saat ini. Buktinya kau bisa lihat saat dia pulang tadi, Rega masih mau menerima pelukanku?"


'Itu hanya usaha melihat apakah nona Sella cemburu'


"Oh, itu. Tapi jangan harap setelah ini tuan akan seperti itu lagi."


Alrega masuk, ia lansung duduk di meja kerjanya, tanpa bertanya ataupun menyapa Delisa. Ia mengambil sebuah benda kecil berwarna hitam dari laci mejanya. Alrega berkata,


"Apa kau sudah membuatnya jera?" kata Alrega pada Zen.


"Seperti yang anda lihat, tuan. Dia tetap tidak akan menyerah, selama nenek mendukungnya." kata Zen sambil menundukkan kepala.


"Apa kau begitu yakin bisa menakhlukkan keluargaku kembali?" tanya Alrega beralih pada Delisa.


"Sayang..." Delisa menghampiri Alrega dan bergelayut mesra dilengannya, lalu kembali berkata, "Apa maksudmu, aku sangat mencintaimu. Apa kau tidak rindu padaku, kita sudah lama berpisah, kan?"


"Jangan berlagak bodoh," kata Alrega sambil melepaskan pelukan Delisa dilengannya.


"Ahk, Kenapa kau seperti ini? Apa karena wanita itu, Rega?" kata Delisa mulai emosi.


"Akhirnya kau mengerti,"


"Apa baiknya wanita itu? Dia seperti upik abu yang kau pungut karena sepatu kaca yang tertinggal di rumahmu, haha" kata Delisa.


"Tidak masalah, selama dia wanita yang baik."


"Baik, menurutmu? Apa bedanya dia denganku. Jelas sekali aku lebih baik dari dirinya."


"Zen, lanjutkan. Aku malas bicara lagi," kata Alrega sambil melempar flashdisk kecil ketangan Zen, lalu pergi keluar menuju pintu.


Zen menangkap benda kecil itu dari Alrega dan mengantarkannya pergi sambil berkata,


"Tuan, sebaiknya anda bersabar menghadapi nona. Pasti nona sangat bersedih kali ini."


Alrega menatap Zen dengan wajah ditekuk dan menjawab, "ya, aku tahu."


"Selamat bersenang-senang tuan." kata Zen sambil menutup pintu. Ia kembali menemui Delisa dan berkata,

__ADS_1


"Semua bukti bahwa kau yang merencanakan kehancuran pernikahanmu sendiri sudah ada di sini," sambil mengacungkan sebuah flashdisk ditangannya.


"Apa itu, aku tidak mengerti maksudmu,"


"Ini bukti kebenaran dua tahun yang lalu. Tuan besar juga sudah tahu termasuk kakek Haquel. Jadi sebaiknya kau menyerah saja."


"Hah. Memangnya siapa kau berani memerintahku?"


"Tuan Rega mempercayakan semua padaku."


"Jadi, semua sudah tahu siapa perempuan itu. Tapi tetap menikahkan Alrega dengannya?"


"Nona muda terpaksa melakukannya waktu itu."


"Tapi, tetap saja dia tidak ada bedanya denganku. Dasar semua orang munafik!"


"Nona muda tetap lebih baik darimu. Ini peringatan terahir, kalau kau tidak mau dipenjarakan oleh tuan, maka sebaiknya pergi dan tinggalkan tempat ini besok. Bersenang-senanglah dengan Nyonya tua untuk malam ini."


Zen membuka pintu dan meminta Delisa pergi dari ruangan itu. Delisa melangkah dengan kaki yang menghentak keras tanda ia sangat kesal dengan apa yang dialaminya.


Di dalam kamarnya, Alrega tidak menemukan Sella di sofa dan tempat tidur, Ia mencari ke kamar ganti dan kamar mandi, tidak ada juga. Hingga ia membuka pintu balkon kamarnya, ia menemukan gadis itu duduk di lantai dengan melipat kedua lututnya, dan membenamkan wajahnya di atas kedua pangkal lengannya. Tubuhnya nampak berguncang karena menangis.


Saat itu rambut Sella digulung keatas dengan rapi membentuk sanggul bulat yang lucu, hingga leher jenjangnya terlihat jelas dari posisi Alrega berdiri. Pria itu tampak menelan salivanya kasar melihat hal yang sangat menarik minatnya.


Alrega mendekat dan berlutut dengan satu kakinya lalu memeluk Sella dengan perlahan. Sella terhenyak dengan ingin melepaskan diri dari pelukan yang tiba-tiba itu. Tapi Alrega menahannya, sejenak ia diam. Dan setelah Alrega mengendurkan pelukannya, Sella mendorong Alrega sambil berdiri.


"Untuk apa anda kemari, tuan?" tanya Sella tanpa melihat kearah Alrega.


Ia masih marah tapi laki-laki ini justru memeluknya, membuat ia semakin kesal saja. Sedang Alrega menautkan kedua alisnya hingga matanya yang dalam terlihat semakin dalam, tidak suka mendengar Sella memakai kalimat formil padanya.


"Aku menemui istriku,," kata Alrega berdiri didepan Sella agar Sella menatapnya, pandangan matanya penuh minat kearah Sella.


'Ck! istri katanya. Istri kepalamu!'


"Bukankah kekasih anda ada di bawah, kenapa tuan menemui saya?"


"Siapa kekasihku?"


"Delisa!" menangis lagi tanpa bisa ditahan.


'Air mata, sialan'


"Apa yang sudah kau dengar tentang Deli?"


"Anda masih mencintainya, kan? Dan ibu seperti itu karena saya, kan? Semua karena kesalahan saya sampai Delisa meninggalkan anda, kan?" Sella menangis lagi sampai tubuhnya melorot kebawah dan ia berjongkok dengan memukuli dadanya sendiri berharap sesak di sana bisa pergi.


Alrega tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Sella, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Kalau Sella tahu kebenarannya, maka gadis itu akan pergi meninggalkannya saat ini juga.


Alrega menurunkan kelopak matanya kebawah melihat Sella yang menangis seperti itu, ia tidak tega. Ingin rasanya memeluknya lagi. Tapi ia tidak melakukannya karena Sella akan menolaknya.


"Diam! Berdiri kataku!" kata Alrega tegas, membuat Sella menghentikan tangisannya dan mengikuti perintah Alrega. Ada sedikit senyum diujung bibirnya.


"Aku mau mandi!" kata Alrega sambil melepaa kancing kemejanya satu persatu.


"Baik," jawab Sella sambil menghapus air matanya dan melangkah ke kamar mandi, lalu menyiapkan keperluan Alrega seperti biasanya.


"Silahkan, tuan," kata Sella ketika sudah selesai.


"Pergilah," kata Alrega yang sudah berdiri di pintu kamar mandi.


'Dasar tak tahu malu!'


Sella hanya mengangguk melihat Alrega sekilas yang masuk dengan keadaan tanpa busana, lalu membuang pandangan ke tempat lain.


"Tetap di sini. Jangan pergi kemanapun," kata Alrega sebelum menutup pintunya.


Ck!


"Baik" kata Sella sambil duduk di sofa menunggu Alrega selesai mandi.


'Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Tadi bilang pergi, sekarang bilang jangan pergi. Semau sendiri saja!


Sella menunggu sambil meringkuk di sofa. Alrega mendekatinya dan Sella buru-buru duduk serta menghapus airmatanya. Kini laki-laki itu duduk di samping Sella. Ia masih mengenakan bathrobe-nya, sepertinya enggan mengganti pakaian.


"Apa kau menangis lagi?" tanya Alrega sambil menjulurkan tangan untuk menggeser tubuh Sella hingga berada dalam pangkuannya.


Sella menggeleng, tampak linglung melihat dirinya sudah berada dalam pangkuan Alrega.


"Lihat, dirimu. Tambah jelek kalau menangis," katanya lagi sambil mengusap pipi Sella dengan jari-jari tangannya yang ramping.


'Terserah'

__ADS_1


"Kalau saya jelek, lepaskan saya," kata Sella berusaha melepaskan diri dari pelukan Alrega. Tapi satu tangan Alrega memeluk erat pinggangnya.


"Jangan perdulikan mereka. Kau istriku sekarang." kata Alrega lag, sambil mengalihkan tangannya kebelakang tengkuk Sella dan mendekatkan kepalanya, berbisik ditelinga Sella, "Bernafaslah.."


Sella merasakan tengkuknya ditekan mendekat pada Alrega hingga ia bisa melihat wajah tampan itu begitu dekat, aroma Alrega memenuhi rongga hidungnya. Ia sudah sering seperti ini, berjarak begitu dekat dengannya tapi ia tetap saja gugup dan berdebar-debar.


Alrega memiringkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya kebibir Sella menekan dan menggerakkan bibir sambil memainkan lidahnya hingga ciuman mereka semakin dalam dan cukup lama.


'Sialan! Kau bilang aku jelek. Tapi kenapa menciumku? Kekasih yang kau cintai ada di sini. Apa kau lupa ha?'


"Euh.. tuan Al" kata Sella dengan tersengal, Alrega melepaskan ciumannya dan mengusap bibir Sella dengan ibu jarinya.


"Hmm.." gumam Alrega sambil menjilat bibirnya sendiri seolah mengecap rasa manis.


"Apa anda tidak lapar? Apa anda mau makan malam?"


"Apa kau lapar?" Alrega balik bertanya.


'Aku tidak lapar'


"Tidak," jawab Sella.


"Akan kusuruh pak Sim membawa makananmu ke sini," kata Alrega sambil menurunkan Sella dari pangkuannya.


'Hei, Aku tidak lapar'


"Maksud saya, yang penting itu anda, mau makan malam atau tidak?" kata Sella.


"Aku? Tidak penting, yang penting itu apa yang kau inginkan," kata Alrega sambil menuju meja kecil dan menekan tombol telepon.


"Bawa makan malam ke atas." lalu menutup telepon kecil itu tanpa menunggu jawaban. Entah mengapa Sella merasa begitu tersanjung dibuatnya.


Alrega kini duduk di sisi ranjang dan menjentikkan jari memberi isyarat pada Sella agar mendekat padanya. Ketika Sella mendekat, Alrega meraih pinggangnya dan mendudukkan Sella di sampingnya, ia memutar badannya menghadap Sella. Mengusap lembut pipinya, Sella tengah menatap lekat pada Alrega.


"Ingat, jangan dengar papun yang mereka katakan." kata Alrega begitu dekat dengan Sella hingga nafasnya terasa diwajahnya.


Sella menangkap tangan Alrega yang berada di pipinya sambil berkata, "Tuan, maafkan aku. percayalah aku benar-benar terpaksa waktu itu. Aku tidak bisa membiarkan ibuku mati," hampir menangis lagi.


"Aku percaya," setidak-tidaknya Alrega bisa sedikit menghibur Sella.


Gadis itu menyunggingkan senyum, dan berkata, "terimakaaih, tuan," dan dalam sekejab memeluk Alrega, ia tidak menyadari sikapnya membuat Alrega tertawa. Sella melepas pelukannya dengan malu-malu dan wajah yang merona.


"Baiklah, kalau aku bilang, aku percaya maka kau harus memelukku seperti tadi." Saat itu Sella memeluk dengan melingkarkan kedua tangannya dileher Alrega.


'Ahk, mati aku' Sella.


'Kena kau' Alrega.


Setelah mereka selesai berpelukan, pak Sim masuk membawakan makan malam untuk tuan dan nona mudanya. Lelaki itu menyususn beberapa menu makan di meja sofa kamar dengan rapi. Sementara Alrega berganti pakaian santai yang sudah disiapkan oleh Sella.


"Silahkan, nona.." kata Pak Sim kemudian keluar dan pergi setelah menutup pintunya kembali.


"Makanlah dan jangan pergi kemanapun!" kata Alrega sambil membuka pintu kamar, melirik Sella yang terlihat enggan makan.


"Makanlah kalau kau tidak ingin kelaparan nanti malam!" kata Alrega sambil menutup pintu kamar.


'Memangnya apa yang akan terjadi nanti malam? Aku tidak akan melakukan apapun, kan? Jangan bilang dia berselera padaku Padahal ada kekasihnya di sini. Akh..yang benar saja'


Sella makan dengan malas, ia hanya mengambil sedikit makanan tanpa carbonat.


'Sudah kubilang aku tidak lapar, dasar keras kepala. Memangnya apa yang akan terjadi kalau aku tidak makan. Dia pasti sedang bermesraan dengan Delisa sampai tidak mengijinkan aku keluar. Kau kira bisa menahanku untuk melihat ibu?'


Selesai makan, Sella keluar kamar menuju kamar Zania. Ketika sampai di tangga, ia melihat ke bawah, tidak ada seorang pun yang terlihat disana. Sepi. Bagai tak berpenghuni.


'Pasti mereka sedang memadu kasih di kamar tamu. Ahk..memangnya apa yang bisa aku harapkan?'


Sella sampai di kamar Zania dan ia terkejut melihat Zania masih menangis sambil dipegang tangan dan kakinya oleh perawat dan pelayan yang berjaga.


"Ada apa?"


Perawat menceritakan, ketika Zania terbangun, ia melihat Rehandi di sebelahnya, hingga traumanya kembali dan ia jadi seperti itu lagi. Walaupun Rehandi sudah pergi tapi Zania tetap saja mengamuk dan menangis tidak berhenti. Sella meminta mereka melepaskannya dan membiarkan Zania melampiaskan amarahnya.


"Kalian tidak memberinya obat penenangkan?" tanya Sella. Ia mulai menenangkan Zania dengan memeluk dan mengusap-usap kepalanya.


"Tidak, nona."


"Bagus." kata Sella sambil mengeratkan pelukan pada Zania, tanpa di duga, Zania berhenti meronta dan mengamuk, ia kini hanya memeluk Sella dan menangis sejadi-jadinya.


"Maafkan aku, ibu. Aku baru datang menemuimu. Maaf..." kata Sella berulang-ulang, hingga Zania tenang.


Cukup lama Zania menangis hingga ia berhenti karena lelah, Sella membantu menidurkannya dengan perlahan kemudian menemaninya hingga ia benar-benar terlelap. Sella menyanyikan beberapa lagu yang sering ia dengar dari gumaman Zania. Itu lagu cinta!

__ADS_1


Sella teringat pesan Alrega untuk tidak pergi keluar kamar, ia bergegas meninggalkan Zania begitu wanita itu tertidur. Alangkah terkejutnya ia begitu sampai di tangga yang menghubungkan lantai dua dan tiga, ada Alrega yang menatap Sella dengan tatapan dingin sedingin salju dikutub Utara.


'Lihat dia, kenapa menatapku? Kau habis bersenang-senang, kan?' Sella membuang pandangan.


__ADS_2