Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 121. Seandainya


__ADS_3

Rehandy dan Zania keluar dari kamar kerja secara beriringan, diikuti oleh Alrega dan Sella, untuk menikmati makan malam, bersama kerabat yang masih menginap.


Mereka pun menikmati makan malam dengan hening, tanpa kehangatan karena suasana dukacita masih melingkupi mereka. Selama tiga hari, mereka akan berada dalam suasana berkabung, sama halnya dengan saat Nigiro meninggal dunia.


Setelah makan malam berakhir, ada beberapa kerabat yang berpamitan, tetapi ada juga yang masih menginap karena di antara mereka rumahnya cukup jauh, sehingga mereka memerlukan tiket pesawat atau tiket kereta dan mereka menginap karena menunggu jadwal keberangkatannya.


***


Sella terlihat begitu lelah, karena ia membantu mengurus semuanya di rumah itu. Saat malam tiba, Sella dengan setia menunggu Alrega, duduk di ruang tengah. Sementara pria itu masih terus menemani kedua orang tuanya untuk menerima para pelayat dan juga beramah tamah dengan para kerabatnya.


Jumlah para peziarah sudah berkurang, tapi mereka masih saja siap siaga di ruang tamu, menerima ucapan bela sungkawa.


Sejak mereka masih berada di rumah sakit, Sella selalu mendampingi Alrega dan memberinya kekuatan. Menghangatkan hatinya, agar ia yang dulu sangat takut dengan kematian, kini bisa menghadapinya dengan tenang. Berbeda dengan saat dulu ia menghadapi kematian Kakeknya, ia mengurung diri selama sepekan di dalam kamar karena begitu besarnya rasa kehilangan.


Laki-laki itu sadar, bahwa semua orang juga akan dan pernah kehilangan dalam hidupnya, termasuk kehilangan sebuah nyawa. Sudah biasa bila setiap kehilangan akan disertai dengan tangisan, penyesalan serta khayalan dengan mengucapkan kata 'seandainya saja ... seandainya saja pasti akan begitu dan begini


Berkat Sella kini Alrega bisa menghadapi kematian neneknya, lebih tenang dari saat ia menghadapi kematian kakeknya, Nigiro Leosan.


Sudah sejak dua hari yang lalu, saat itu Alrega dan Sellaa tidak pernah tidur, dengan benar. Bahkan ketika mayat Marla belum dikuburkan, mereka tidak bisa tidur semalaman. Semua itu untuk menghormati mendiang dan para pelayat yang datang.


Malam itu telah larut, Alrega meminta ibu dan ayahnya untuk istirahat dan ia menyanggupi akan menjaga rumah duka seorang diri.


Kini, kedua pasangan, Sella dan Alrega, sedang duduk di sofa besar yang ada di tengah rumah. Mereka sama-sama bersandar sambil menyilangkan kedua kaki saling bertumpuk.


"Tidurlah kalau sudah mengantuk," kata Alrega sambil menepuk -nepuk lembut kepala Sella.


"Kau sendiri tidak tidur. Apa kau tidak lelah?"


Alrega menunduk, melihat wajah Sella yang terlihat letih. Ia tidak menyukai pemandangan itu dan ingin wanita itu kembali ceria.'


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu." Alrega menyimpan jarinya di dagu Sella, agar wanita itu melihat kearahnya. Sella menggeleng, ia menunjukkan empati yang tinggi pada suaminya.


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Sella mendongak, menatap wajah Alrega sambil tersenyum, membiarkan tangan laki-laki itu berada di dagunya.


Ia memegang tangan Alrega sambil berkata dengan lembut. "Lalu, bagaimana dengan dirimu, apa kau baik-baik saja, apa tidak lelah?"


Mendengar pertanyaan itu, Alrega tersenyum tipis.

__ADS_1


"Aku juga lelah, tapi siapa yang akan berjaga di sini, selain aku?" Alrega melepaskan tangannya, tapi kemudian ia mencium pucuk kepala Sella. Pria itu adalah tuan rumah di keluarga Leosan


"Ada saudaramu yang lain, kan?"


"Biar mereka istirahat, ini malam terakhir kita berkabung, besok mereka pulang," ujar Alrega tenang.


'Aku tidak tega melihatmu di sini berjaga seorang diri, sedangkan aku tidur nyaman di kamar'


Kembali Alrega tersenyum menanggapi Sella.


"Apa kau ingin tidur tapi tidak tega padaku? Jangan memikirkan aku, biar aku saja yang memikirkanmu."


'Kok dia bisa tahu si?'


Sella diam menyandarkan tubuhnya ke bahu Alrega. Ia berkata sambil memainkan rambutnya sendiri.


"Aku boleh bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Nenek sebelum meninggal, pernah bilang padamu, dia sudah melunasi janjinya, memangnya, apa yang dijanjikan Nenek padamu?"


"Kau ini kenapa si? Selalu saja seperti itu. Tahu tidak, yang menurutmu tidak penting, tapi bagiku itu penting." Sella mengoceh sambil menegakkan tubuh, tapi Alrega menariknya kembali bersandar dan menahannya agar tetap dalam posisi yang sama.


"Nenek juga sudah tidak ada, buat apa membehasnya?"


"Aku cuma mau tahu, apa salahnya?" Sella cemberut. Ia hendak merajuk, tapi justru sikapnya itu dinilai lucu oleh Alrega.


"Cuma itu alasanmu, cuma mau tahu?"


Sella mengangguk cepat. Tingkah wanita itu membuat Alrega bisa melupakan rasa sedihnya.


"Apa kau ingin membahas janji Nenek? Padahal dia baru saja dikubur dan aku sedang berduka?"


Mendengar ucapan Alrega, Sella tersadar dari kesalahannya, yang terlalu mementingkan rasa penasaran disaat dukacita keluarga tengah berlangsung. Ia dengan cepat menyentuh ujung telinganya, menatap Alrega dengan memelas sambil berkata pelan. "Maaf ..."


"Coba ulangi lagi."

__ADS_1


"Maaf ...." Sella berkata sambil menghadap alog


Alrega tertawa kecil melihat Sella bertingkah seperti itu. Ia ingat dulu pernah mengerjai Sella untuk melakukan kebiasaan orang di negara Hindustan atau negara bagian Eropa itu, secara berulang-ulang, bahkan disertai gerakan berdiri duduk secara bergantian.


Ada rasa bersalah yang menyusup dalam hati saat Alrega mengingatnya. Ia tidak menyangka akan menyayangi gadis itu seperti sekarang. Bahkan seolah dunia terlihkan padanya, serta semua yang ia usahakan tidak sebanding dengan kebahagiaannya. Tawa dan senyuman Sella lebih berarti, dari pada kebahagiaanya sendiri.


"Kenapa ketawa?" Sella heran. Sedangkan Alrega hanya menggeleng, sambil menatap Sella lembut, seolah-olah matanya bicara 'tidak kenapa-kenapa, kau memang lucu'


'Memang apa si, yang lucu?'


Saat itu, ingin sekali Alrega menciumnya karena begitu gemas dengan tingkah Sella, yang buru-buru meminta maaf sam'bil memegang kedua telinganya. Namu, ia tidak bisa melakukan ciuman di tempati itu karena bisa dianggap tidak sopan.


Alrega menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan aman, lalu mengulurkan tangan meraih pinggul Sella dan meemasnya dengan cukup keras...


Sella mengeluarkan desisan tanpa bisa menahannya, seketika matanya melebar dan secara refleks menyingkirkan tangan Alrega dari pinggangnyanya.


'Hei! Apa yang kau lakukan? Kau bilang sekarang kita sedang berkabung dan ku tidak boleh membahas tentang janji Nenek, lalu yang kau lakukan tadi, apa?''


"Al, cukup ya, malu kalau dilihat orang."


"Tidak ada yang melihat, kalau ada yang melihat juga aku tidak perduli." Alrega tersenyum tipis, rupanya memberi dirinya sendiri sebuah kesenangan sebagai hiburan, dengan menggoda Sella merupakan obat, yang paling mujarab untuk melupakan kesedihannya.


Alrega melihat ke sekeliling, keadaan di sekitar mereka benar-benar sepi, semua orang sudah beristirahat dan malam sudah sangat larut dalam kegelapan.


Mereka sudah dalam suasana berkabung selama tiga hari, wajar saja kelelahan sudah tidak bisa dihindari, mereka butuh istirahat.


Rasa berkabung seperti ini tergantung bagaimana seseorang itu mencintai dia yang sudah pergi. Ada yang begitu merasa kehilangan ketika orang yang sangat dicintai tidak ada lagi, hingga ia menjadikan hari berkabung lebih dari tiga hari, bahkan selama setahun penuh.


Alrega memiringkan tubuhnya dan menunduk untuk kemudian mengulurkan tangannya untuk membopong Sella. Gerakan tangannya sangatp cepat, hingga perempuan itu terlambat untuk menghindarinya.


Begitu tubuhnya terangkat, Sella berkata, "lepas! Lepaskan aku sekarang!" sambil menggerakkan tubuh mencoba melepaskan diri dan ia menggoyangkan kaki agar segera di turunkan. Sementara Alrega hanya fokus berjalan dengan membawa tubuh Sella dalam pelukannya.


'Ya Tuhan, ini memalukan sekali ...."


"Lepas, tidak?"


"Diam!" Alrega berkata sambil menunduk, melihat wajah Sella yang tiba-tiba memerah, justru ia akan lebih menggemaslan lagi bagi Alrega bila seperti ini. Ia terus berjalan menuju lift ke lantai atas, masih menggendong Sella.

__ADS_1


Berbeda dengan Sella, ia rasanya seperti ini ingin masuk ke dalam lubang semut dan tidak pernah kembali lagi. Malu. Laki-laki itu benar-benar bisa membuatnya salah tingkah. Ia merasakan bahwa Alrega sangat menginginkannya, namun entah mengapa laki-laki itu tidak pernah mau mengungkapkan perasaannya sendiri padanya.


Bersambung


__ADS_2