
"Sayang, aku melihat Delisa di luar tadi, apa kau juga melihatnya?" tanya Sella.
Sementara mobil terus melaju kencang.
Alrega melirik Sella, kemudian dia berkata, "Tidak. Kau salah lihat," sambil mencubit kecil dagu Sella, mengarahkan wajahnya menatap dirinya, lalu berkata lagi, "lihat aku saja."
'Ck! memengnya apa yang harus dilihat dari kamu?'
"Uem..," Sella bergumam.
"Bukankah aku tampan?"
Sella mengangguk, lalu melepaskan tangan Alrega, dengan perlahan dari dagunya, ia tersenyum agar pria itu tidak marah. Setelah itu ia menggenggam tangan itu, agar tidak mencubit dagunya lagi,
'Sakit tau'
"Ah, iya. Aku tahu kau tampan."
"Tuan, kita hampir sampai," kata Zen dari balik kemudi begitu mobil itu berbelok kesatu jalan yang sedikit kecil namun berpenduduk padat. Hal itu bisa dilihat dari rumah-rumah penduduk yang bertebaran di sisi kiri dan kanannya sangat dekat seperti berhimpitan juga diselingi beberapa pertokoan dan mini market.
"Kau sudah membawa semua pesanannya?" tanya Alrega.
'Hei, pesanan apa?'
"Sudah tuan."
'Mana mungkin saya bisa lupa, saya masih sayang nyawa saya'
"Semua ada di bagasi."
"Hmm."
"Kau memesan apa sekertaris Zen?"
Zen tidak menjawab, karena ia melihat Alrega melirik padanya melalui kaca spion depan, seperti memberi isyarat agar tidak usah menjawab pertanyaan Sella.
'Bagaimana saya akan menjawab kalau tuan juga tidak menjawab nya'
Duk! Tiba-tiba Sella menendang kursi kosong di depannya, ini seperti jadi kebiasaan Sella kalau kesal pada Zen. Melihat tingkah Sella yang seperti itu, Alrega melotot tajam ke arah Sella sebentar, lalu menyandarkan kepalanya, sambil berkata,
"Kau pikir kau bisa menggantinya?"
'Memangnya berapa sih harga mobil ini?'
"Maaf..."
Sella tidak tahu kalau mobil yang ia tumpangi ini adalah Bugatty edisi terbatas yang hanya ada beberapa unit saja dengan harga diatas lima puluh milyar, bahkan harga karpetnya seharga sebuah rumah.
Mereka akhirnya tiba di tempat tinggal Sella dan Flinna serta adik-adik Sella menyambutnya dengan bahagia. Alrega tidak masuk kedalam rumah, ia hanya mengantarkan Sella sampai halaman, seolah-olah cukup baginya menunjukkan bahwa hubungan mereka baik-baik saja.
Zen menurunkan beberapa barang yang tertutup, entah apa itu isinya, hanya sekeranjang buah saja yang terlihat jelas.
"Sayang, banyak sekali oleh-oleh yang kau bawa. Kenapa kau tidak bertanya padaku dulu apa yang keluargaku butuhkan? Tentu aku akan sangat berterimakasih padamu?" tanya Sella, ia berdiri di sisi Alrega. Sangat dekat, Alrega menghadap pada Sella sambil tersenyum,.
"Apa yang keluargamu butuhkan..." jawab Alrega dengan kalimat yang menekan, bukan pertanyaan. Sella tidak begerak dibuatnya, lidahnyapun kelu, karena tiba-tiba saja ia merasakan sedang dikelilingj hantu disekitarnya, dingin.
"Aku pikir semua yang dibutuhkan oleh keluargamu, ada dalam kotak itu."
"Be benarkah?"
"Kau harus membayar dengan nyawamu untuk kebenarannya."
'Apa. Apa kau bilang, nyawaku? Apa itu artinya Itu juga hutang yang harus kubayar dengan hidupku di sisimu? Mati aku. Lalu bagaimana aku bisa lepas darimu kalau seperti ini?'
Flinna mendekat setelah Zen selesai memasukkan beberapa barang.
__ADS_1
"Masuklah, nak." kata Flinna.
"Maaf, tuan sibuk hari ini, tuan hanya mengantarkan nona saja. Nanti sore aku akan menjemput kembali," jawab Zen.
"Kapan-kapan kalau kau ada waktu, mampirlah lagi," kata Flinna ramah.
Alrega tersenyum membalas senyuman Flinna dengan senyum samar di bibirnya dan menjawab,
"Tentu."
Setelah Alrega dan Zen pergi meninggal tempat itu, Sella memeluk ibunya sambil menangis, mereka duduk berdampingan di sofa. Runa dan Rejan hanya melihat pada kakak perempuan mereka tidak mengerti mengapa ia menangis.
"Ibu, ternyata seperti ini rasanya berjauhan denganmu. Aku menahan setiap hari ingin bertemu dengan Ibu..." ia menangis karena rindu.
"Iya, iya. ibu tahu. ini pasti akan terjadi. Tapi lama kelamaan kau akan terbiasa tanpa ibu bersamamu,"
"Tidak, aku tidak akan terbiasa tanpa ibu." kata Sella masih memeluk Flinna.
"Lihat, oleh-oleh apa yang kau bawa untuk kami." kata Flinna sambil melepaskan pelukan Sella.
'Itu bukan oleh-oleh dariku. Itu dari dia, bahkan aku tidak tahu apa isinya'
Mereka berempat, membuka semua bingkisan itu yang membuat Sella dan semua ternganga. Isi satu kotak adalah daging kualitas terbaik dengan segel terpercaya diataanya bahkan daging ini bergaransi. Apa, bergaransi? Ini juga ikan abalon ukuran premium sudah siap diolah dengan lisensi pabrik pengolahan terbaik, ada juga cake buah segar yang diawetkan dan bisa disantap kapan saja, ada juga teh herbal merk terkenal dalam satu kemasan, harga satu kotak ini saja bisa mencapai ratusan ribu, dan ini ada satu pak yang masih utuh dan satu lagi, apa ini?
Sella membuka satu kotak lagi yang ternyata isinya adalah uang tunai dan jumlahnya...fantastis.
"Waw, kakak! Sepertinya tuan Rega sangat mencintaimu!" kata Runa.
'Sembarangan bicara. Kau tau. Semua ini harus kubayar dengan nyawaku! Apakah kalian akan bersenang-senang di atas penderitaanku? Ahk, yang benar saja!'
Sella mendengus pelan dan ia hanya bisa tersenyum, Flinna memeluknya erat dan berkata,
"Sampaikan terimakasih kami padanya, dia benar-benar membahagiakanmu, kan? Aku tahu kalau dia tidak akan seperti ayahmu. Dia laki-laki yang setia."
"Haha. Ibu, kau benar. Akan aku sampaikan. Aku senang kalau kalian semua senang."
"Ibu, tidak usah kuatir, aku baik-baik saja dan mereka semua baik padaku!" Sella tersenyum lebar.
Ia yakin bahwa semua akan seperti itu pada akhirnya. bukankah ia selama ini juga demikian? Setelah melalui banyak hal, namun semua kembali berjalan normal. Jangan berpikir buruk pada keadaan kalau tidak ingin keadaan semakin bertambah buruk. Sebab setelah beberapa waktu berlalu, maka orang akan sadar bahwa sejauh ini ujian demi ujian bisa dilewati dan semua baik-baik saja.
Sella memanfaatkan waktu singkatnya di tempat ini dengan mengunjungi kakek Mett, ia ingin tahu sejauh mana kakek Alrega itu menetahui tentang dirinya. Tidak mungkin menurut Sella, kalau orang berpengaruh seperti si tua Mett tidak tahu apa-apa tentang istri cucunya. Ia sangat ingin tahu bagaimana reaksinya bila tahu siapa dirinya.
Sella mengendarai motor tuanya menuju ke toko herbal kakek Mett. Pompa udara yang Sella minta sudah dikirim oleh orang kepercayaannya langsung ke kediaman keluarga Sella.
Sella hampir sampai di toko itu ketika ia melihat seorang pria sedang berlari seperti terburu-buru, Sella melihat gelgat pria itu mwncurigakan,ia sudah banyak bergaul dengan macam-macam orang selama ia harus bekerja paruh waktu. Hingga ia tahu kalau orang ini seperti sedang menghindari sesuatu. Dengan cepat Sella memarkirkan motor dan menjegal kaki pria itu sampai terjatuh dan benar saja setelah Sella berhasil menjatuhkannya, pria itu melepaskan sesuatu yang dipegangnya, itu dompet seorang wanita! Sella menarik tubuh pria itu dengan paksa, pria itu hendak melayangkan pukulan, dan Sella berhasil menangkisnya, lalu pria itu melayangkan tendangan ke arah Sella tapi dengan cepat Sella bisa menangkis tendangannya dengan lengan atas dan sikunya dengan sigap Sella memutar tangan pria yang ia tarik kebelakang dan mengunci gerakannya.
"Copet..!!" teriak beberapa orang yang berlari mendekat kearah Sella dan pria itu, mereka berhenti lalu berkata,
"Copet! Mana dompetnya!" kata salah seorang dari mereka, dan seorang wanita mendekat untuk mengambil dompet yang terjatuh, memeriksa isinya dan mengucapkan terimakasih pada Sella. Untunglah dompetnya masih utuh.
Tidak menunggu lama, masalahpun selesai, wanita yang kehilangan dompet sudah mendapatkan apa yang menjadi miliknya. Sedang laki-laki yang sudah berhasil dilumpuhkan Sella dibawa ke kantor pihak berwajib.
Sella menuntun motor tua itu ke depan toko si tua Mett. Lalu ia masuk dengan sopan dan memanggil kakek Mett.
"Permisi kakek, apa kabar?" tanya Sella mendekati meja kasir, dimana Mett tengah duduk menatapnya dari balik etalase.
Tentu saja si tua itu melihat semua adegan heroik cucu menantunya itu. Ada beberapa CCTV yang terpasang dibeberapa tempat disekitar toko. Bahkan sekarang laki-laki tua itu sedang mendownload gambar dimana Sella melumpuhkan seorang laki-laki seorang diri. Kemudian mengirim gambar video itu pada Alrega.
"Aku baik," kata kakek Mett pelan, ia melihat Sella dengan tatapan gelap. Ia Sebenarnya sangat khawatir dengan tindakan Sella. Biar bagaimanapun, keselamatan keluarga Haquel adalah yang utama. Tapi perempuan ini sudah mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi orang lain.
"Ah, Syukurlaj, kakek. Maaf aku baru bisa mengunjungimu,"
'Kau bahkan tidak perlu menyempatkan diri kemari!'
"Apakah kau sendiri ketempat ini?"
__ADS_1
"Tentu saja, kakek. Kuharap kau tidak memberi tahukannya pada Alrega kalau aku kemari."
"Kau takut dia marah?"
Sella mengangguk dan menipiskan bibirnya lalu berkata, "Kakek, aku hanya tidak ingin menambah masalah."
'Tapi kau justru membuat masalah karena sudah membuatku khawatir'
"Begitu? Lalu apa Alrega tidak mengirimmu seorang pengawal?"
"Kakek, itu tidak perlu. Memangnya siapa aku?" kata Sella sambil tertawa kecil. Ia sadar siapa dirinya dimata Alrega sehingga ia merasa tidak perlu mendapatkan keistimewaan seperti itu.
Sella tidak tahu kalau sebenarnya ada beberapa orang yang mengawasinya dari jauh, tapi sepertinya orang-orang ini tak berdaya dengan gerakan Sella yang cepat dan diluar dugaan kalau ternyata nona mudanya mampu melumpuhkan penjahat itu seorang diri.
"Kau sudah jadi bagian keluarga Haquel. Ingat itu. Jadi kau tidak boleh sembarangan seperti tadi. Dan lihat pakaianmu, Sese. Apa Alrega tidak memberikan pakaian yang pantas untuk seorang menantu Haquel?"
Deg. Sella merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ia merasa semakin bersalah sudah melukai kehormatan keluarga berpengaruh di Jinse itu.
"Kakek, maafkan aku. Alrega sudah memberiku segalanya, bahkan dia seperti sudah menyerahkan seluruh dunianya untukku. Tapi kakek, aku pikir di sini tidak ada yang mengenalku, jadi aku berpakaian seperti ini."
Sella saat itu memakai pakaian rumahnya berupa kemeja pendek dan jeans belel dan spatu ketsnya.
"Baiklah, kali ini kau kumaafkan. Lain kali kau tidak boleh pergi seperti ini, harus ada pengawal bersamamu. Walaupun aku tahu kau tidak membutuhkan semua itu. Tapi peraturan keluarga tidak bisa dirubah."
"Tapi, kakek. Bagaimana menurutmu kalau aku bukanlah orang seperti yang kau pikirkan?" tanya Sella sedikit ragu.
"Seperti apa misalnya?"
"Ah, tidak. Aku hanya berpikir, semua sudah baik padaku, tapi bagaimana kalau suatu saat aku melakukan kesalahan yang sangat besar. Apakah keluarga Haquel akan memaafkanku?"
"Tetgantung, sebesar apa kesalahanmu"
"Sangat besar, kakek. Sangat besar. Tapi aku siap menanggung semua kesalahanku"
"Apa kau berbuat kesalahan?" kakek Mett menatap dengan tatapan yang menellisik tajam.
"Kakek, semua orang pernah berbuat salah, bukan?"
Si tua Mett mengangguk dengan senyum tipis yang sulit diartikan Sella. Gadis itu menyimpulkan bahwa sebenarnya kakek Mett tahu kalau ia sudah berbuat kesalahan dimasa lalu. Hanya saja ia tidak mengerti, mengapa kakek tidak mengatakan sesuatu ataupun berbuat sesuatu untuk menghukumnya, seperti yang dilakukan oleh Al Rega.
Kemudian kakek berkata, " Apa kau sudah merasa sangat bersalah pada seseorang?"
Sella menjawab, "iya, dan aku ingin menebusnya, seandainya aku bisa."
"Menurutku," kata kakek sambil menarik nafas dalam, dan berkata lagi, "kalau kau merasa sudah berbuat salah yang sangat besar pada seseorang dan kau bisa mengganti atau menebus kesalahanmu, maka lakukanlah dengan sebaik-baiknya."
"Jadi menurut kakek aku hanya perlu melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahanku, begitu?"
Kakek Mett mengangguk dan tersenyum kemudian berkata, "benar, lakukan selagi kau mampu melakukan yang terbaik, tidak usah takut."
Tentu saja si tua Mett sudah tahu siapa sebenarnya Sella. Alrega sudah mengatakan padanya, siapa calon istrinya, orang dengan kemampuan seperti kakek Mett tentu sangat mudah mengetahui latar belakang kehidupan seseorang. Alrega menegaskan kepadanya beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika Sella merasa dia sangat takut kalau kakek Mett membencinya, maka Alrega mengatakan secara jujur dan terus terang apa maksud dirinya menikahi perempuan itu. Kemudian Kakek Mett pun mengerti dan ia bisa menerima Sella dengan baik.
Ketika seorang perawat kepercayaannya sudah mengatakan hal-hal yang baik tentang Sella, yang sudah merawat Zania dengan kasih sayang, keyakinan si tua Mett pun bertambah. Ia percaya dengan Alrega yang bermaksud menikahi Sella karena demi ibunya. Seorang perawat yang bekerja di dalam kamar perawatan Zania adalah kepercayaan dari kakek Mett, sedangkan seorang lagi adalah kepercayaan dari Rehandi. Mereka, para perawat itu bertugas melaporkan kepada masing-masing orang yang telah mempercayai mereka setiap harinya, dari kejadian demi kejadian, dari perkembangan keperkembangan yang ada.
Sella pergi meninggalkan toko kakek Mett tua, setelah ia mengambil kesimpulannya sendiri. Sebenarnya kakek Mett tidak membencinya, selama ia bisa memberikan bantuan demi kesembuhan Zania dan kasih sayang kepada wanita itu dengan tulus. Muncullah tekad lebih kuat dalam hati Sella untuk lebih memfokuskan dirinya, memberi perhatian dan kasih sayangnya pada Zania hingga wanita itu cepat sembuh dan membuat kakek lebih senang kepadanya.
Sementara itu di tempat lain, Alrega meremas ponsel yang ada di tangannya sambil memejamkan mata ia melihat apa yang ada dalam video itu dan membuat ia ingin membawa perempuan itu kembali padanya saat ini juga. Zen melihat wajah Alrega yang berubah masam karena memendam kemarahannya.
Zen menghiburnya dengan berkata,
"Ambil Sisi positifnya tuan, bahwa Nona muda tidak membutuhkan seorang pengawal dan Nona muda ternyata seorang yang sangat pemberani," tersenyum simpul sambil membereskan beberapa berkas.
Mendengar ucapan itu, Alrega menoleh dan melirik Zen dengan tatapan tidak suka sambil berkata, "aku lebih suka dia menjadi penakut daripada bersikap sok jagoan seperti itu."
'Aku ingin dia benar-benar mau bertekuk lutut padaku dan tidak bersikap maskulin!'
__ADS_1
"Hubungi semua pengawal dan pecat mereka saat ini juga."