
Sella terbelalak, begitu mendengar Delisa berteriak sangat keras, menggunakan pengeras suara. Wanita itu berdiri di antara tamu yang tengah menikmati pesta.
Di atas panggung, seorang artis papan atas kota, menghentikan nyanyiannya. Yorin sengaja mengundang penyanyi itu secara khusus, untuk memeriahkan acaranya.
Bukan hanya Sella yang terkejut, tapi seluruh tamu yang hadir pun demikian. Saat itu, Sella yang tengah duduk dan menjaga Zania, melepaskan genggaman tangan ibu mertuanya.
Suasana tiba-tiba menjadi hening.
Melihat reaksi Sella yang seperti itu, Delisa menarik sudut bibirnya, maju satu langkah untuk mendekati Sella dan melanjutkan teriakannya.
"Kau pikir, siapa dirimu berani berada di sini, ha? Dasar penipu!" Berhenti sejenak, lalu ....
"Kau lah yang sudah menipuku, memfitnah suamiku dua tahun yang lalu. Aku benar kan, Sella?!"
Yorin berjalan mendekati Delisa dan menarik pangkal lengan Delisa, agar menghadap ke arahnya, dan berkata.
"Apa maksudmu, Delisa! Awas kalau kau merusak pesta ulang tahunku kali ini!"
"Haha. Yorin ...." Kata Delisa lagi sambil menepuk-nepuk pundak Yorin, "kau mau membunuh orang, yang sudah memfitnah kakakmu dan merusak pernikahan kami waktu itu?!"
Yorin mengangguk, lalu bertanya, "Apa kau tau siapa orangnya?"
"Dia ...!" Sahut Delisa sambil menunjuk Sella.
Saat itu, suasana yang sudah hening semakin mencekam, mendengar kata-kata Delisa. Apalagi perempuan itu menyebutkan tentang pembunuhan. Perkataan yang mungkin menakutkan bagi sebagian orang.
Ini soal balas dendam dua tahun yang lalu. Sebagian orang yang hadir di sana tahu kejadian itu. Peristiwa yang sebenarnya hampir terlupakan oleh waktu.
Waktu memang bisa membuat kenangan buruk seseorang, menjadi terlupakan, tapi bukan berarti kenangan itu hilang, karena waktu tidak akan dapat menghapusnya secara sempurna dari ingatan.
Sella semakin terperangah dengan tindakan Delisa. Ia tidak menyangka wanita itu berani mengatakan semuanya di sana. Ia linglung, gelisah, takut dan khawatir. Ia tidak memiliki tempat untuk berpijak sekarang. Terasa olehnya, bumi yang dipijak seolah runtuh seketika. Semua orang berpaling menatap dirinya dengan pandangan menghina.
"Kau jangan bicara sembarangan, Delisa!" Yorin berkata karena ia hampir tidak percaya.
"Aku, tidak bohong pada kalian semua, aku tahu siapa penipu ini sejak pertama kali aku melihatnya!" Delisa menyahut masih dengan pengeras suara.
'Tidak akan ada membelamu sekarang, Sella. Alrega dan Ayah tidak ada'
Alrega pergi, semua orang pasti menyalahkan Sella. Tidak akan ada yang mempercayainya bila ia mengatakan bahwa bukan ia pelaku sebenarnya, melainkan Delisa. Tidak ada!
Sella memilih diam, sedangkan air mata yang sudah bercucuran karena rasa bersalah itu, kembali datang. Tubuhnya lunglai, kaki dan tangan gemetar, bibirnya kelu dan wajah yang pucat pasi tak bisa ia tutupi.
Tiba-tiba ....
Byur! Marla datang sambil menyiramkan segelas jus buah di wajahnya. Bukan hanya satu, wanita tua itu meraih lagi satu gelas jus, yang kebetulan dibawa oleh seorang pelayan yang lewat.
Lalu, byur! Ia menyiramkan jus itu kembali, ke kepala Sella, dan membuang gelasnya ke lantai hingga pecah begitu saja. Marla memperlihatkan kemarahan dan kekecewaan yang teramat dalam padanya.
__ADS_1
Sella terlihat berantakan dan kotor.
"Kurang ajar kau, penipu!" Marla berkata sambil menarik kalung berlian yang tergantung indah di leher Sella.
Sementara ia hanya memegangi bagian lehernya yang sakit karena bekas tarikan kalung Marla.
"Aku sudah memberimu kepercayaan, tapi ternyata kau penipu itu?! Apa kau mau menipu lagi, kali ini?!" Marla melanjutkan perkataannya sambil mendorong tubuh Sella hingga ia terjengkang beberapa langkah kebelakang.
Yorin mendekat Sella dan menjambak rambut nya dengan kuat, lalu berkata dengan tatapan mata penuh amarah.
"Kau? Benarkah kamu pelakunya, kenapa kau diam, berarti itu benar, iya?!"
"Tidak! Apa yang kalian katakan, ini tidak mungkin benar?!" Kata Zania sambil menarik pundak Sella, tapi gadis itu tidak mengatakan apapun, melainkan hanya menangis.
'Bukan, bukan aku pelakunya, tapi Delisa juga terlibat di dalamnya!'
Sella menggelengkan kepalanya, tapi bagi semua orang yang ada di sana menganggapnya tidak berarti apa-apa.
"Ibu, maafkan Aku." Sella berkata sambil berlutut dan mengatubkan kedua telapak tangannya.
Disertai tangisan, Sella berkata, "Aku terpaksa, waktu itu aku dibayar, Bu. Percayalah."
"Kau pikir siapa yang akan percaya padamu, pembohong?" Yorin berkata dengan nada suara yang keras, lalu ....
Plak! Gadis itu menampar Sella dengan keras, bukan hanya sekali tapi Yorin melakukannya lagi dan lagi.
"Yorin, lakukan lagi, sampai kamu puas. Tapi jangan bunuh aku." Sella berkata sambil mengusap kedua pipinya yang merah dan bengkak karena tamparan dari Yorin.
"Bukan, bukan karena aku takut. Lakukan kalau bisa membuatmu puas, tapi aku tidak ingin kau menjadi pembunuh."
"Kau, hah!" Yorin mengeraskan cengkeramannya, hingga wajah Sella sangat pias. Ia benar-benar tak berdaya, mau melawan tapi gadis itu bukan lawan yang seimbang baginya.
"Jadi kau yang sudah memfitnah kak Rega berbuat kotor padamu, ha? Kurang ajar!"
Saat Yorin terus bicara, asupan oksigen yang mengalir di kerongkongan Sella sudah menipis. Ia hanya bisa berharap keajaiban datang, setidak-tidaknya Alrega mau membantunya.
Laki-laki itu berada jauh di Kota lain, kota yang Sella tidak tahu di mana lokasinya. Ia juga kecewa pada Alrega yang pernah menjanjikan rahasia masa lalunya aman dan tidak akan ada orang yang berani mengusiknya. Namun, kali ini yang terjadi adalah sebaliknya. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat dibongkar di hadapan semua orang, sedangkan orang yang bisa ia andalkan untuk membelanya tidak ada. Apa yang harus ia lakukan?
Marla mendekat, lalu menarik tangan Yorin yang berada di leher Sella, sambil berkata, "Lepaskan tanganmu. Dia memang penipu, tapi dia benar. Jangan kotori tanganmu karena perempuan seperti dia, cih!" Marla meludahi Sella, tapi Sella hanya memalingkan mukanya. Ia tidak bisa menghindar lebih jauh.
Yorin terlihat kecewa dan kesal, karena tidak bisa membunuhnya. Ia berjalan menuju meja hidangan dan mengambil semangkuk besar makanan dan menyiramkan pada kepala Sella hingga seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya kotor karena makanan.
Semua yang dilakukan Marla dan Yorin, terjadi di hadapan Zania, hingga wanita itu begitu tercengang.
"Cukup!" tiba-tiba Zania berteriak dan menangis histeris. Ia terkulai ke lantai dari tempat duduknya dan memukuli dadanya.
Melihat Zania seperti itu, Sella mengusap wajahnya yang penuh kotoran makanan, lalu ia segera memeluk Zania.
__ADS_1
"Ibu, tenanglah. Aku tidak bersalah, percayalah." Sella berkata setengah berbisik pada Zania. Ia mengatakan secara berulang-ulang sambil terus mengusap-usap kepalanya. Ia tidak perduli bila pakaian Zania juga menjadi kotor karena tubuh mereka yang saling menempel.
Setelah beberapa saat, Zania mulai tenang. Yorin dan Nenek dan Delisa, masih berdiri di dekat mereka. Raut wajah Delisa sangat puas melihat apa yang terjadi pada Sella.
'Kau tidak akan mendapatkan tempat istimewa itu lagi sekarang'
Rrejan yang dari tadi berada di luar aula, berjalan menyibak kerumunan orang. Mereka mengerumuni Sella dan melihat kejadian sambil merekam dengan ponsel mereka.
Ia terbelalak ketika melihat kakaknya menjadi sangat kotor. Ia heran dengan Sella yang menangis dan berpelukan bersama seorang wanita, dalam keadaan berlutut di lantai.
"Nah, ini dia laki-laki penggoda sudah datang!" Teriak Delisa, begitu ia melihat Rejan, yang kaget melihat Sella.
"Apa kamu bilang?" Sella berkata sambil menoleh pada Delisa dan Rejan, secara bergantian.
Sejenak ia mengabaikan Zania. Ibu mertuanya itu sudah tidak menangis lagi, ia terlihat tenang dan percaya pada Sella bahwa gadis itu tidak bersalah.
Sella berdiri perlahan, sesekali ia mengusap cairan makanan yang menetes di wajahnya, dengan punggung tangan. Ia menghadap Delisa lurus dan menatapnya nanar.
Ia berkata sambil melangkah mendekati Delisa, ia tidak terima adiknya dikatakan penggoda.
"Siapa yang kau bilang penggoda, ha?!"
"Haha. Jangan berlagak suci ... kau wanita jak Lang! Sudah berani berselingkuh, karena Rega tidak ada di sini, kan?"
Plakk!
Sella mendaratkan tamparan di pipi Delisa dengan keras. Ia sudah diam dan tak melawan, diperlukan dengan rendah karena sadar, ia sudah bersalah menipu keluarga itu. Ia tahu diri, tidak akan dipercaya apa pun yang dikatakannya, mengingat posisinya hanya sebagai menantu di rumah ini. Ia maklum karena orang yang ia hadapi, bukan orang biasa, yang mungkin bisa berbuat lebih kejam pada diri dan keluarganya.
Namun, ketika ia dikatakan selingkuh, ia tidak bisa menerima. Naluri keberaniannya, muncul begitu saja, sebab ia tidak selingkuh dan adiknya bukan pria penggoda. Tuduhan itu tidak benar, maka ia bangkit melawan Delisa.
"Kau, berani menamparku?!" Kata Delisa sambil menggerakkan tangan hendak memberi tamparan serupa pada Sella, tapi hap! Sella berhasil menangkisnya dengan cepat.
"Iya, aku berani. Sebab yang kau katakan itu tidak benar. Aku tidak pernah berselingkuh!"
"Kau pikir semua orang percaya dengan yang kau katakan?!" Delisa menyahut sambil tertawa lebar.
"Delisa! Kalau kau pikir semua perbuatanmu tidak akan terungkap, maka kau salah. Aku diam sekarang bukan karena aku takut, tapi karena aku tidak mau memperpanjang masalah. Ingat itu!"
"Apa kau menantangku?!" Delisa berkata sambil
"Ya. Tapi bukan aku yang akan melawanmu!"
"Kau?!" Delisa berkata sambil mendorong tubuh Sella, tapi Sella bertahan dengan meraih tangan Delisa, hingga mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
"Apa?!" Sahut Sella.
"Kau penipu?!" Pekik Delisa.
__ADS_1
"Siapa yang kau sebut penipu, bukankah itu dirimu sendiri?" Kata Sella dengan suara rendah penuh tekanan. "Aku tidak akan mengatakan siapa dirimu pada mereka, sebab aku bukan orang jahat seperti kamu. mempermalukan keluarga dan menganggap ...."
Bersambung