Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 109. Sudah Jujur


__ADS_3

"Jelaskan apa artinya ini." Sella berkata sambil menyimpan benda kecil yang merupakan perangkat keras komputer, di atas meja.


"Memangnya apa itu?" Alrega hanya meliriknya, ia jelas tahu apa yang dipertanyakan Sella. Benda itu miliknya, ia hapal betul apa saja yang ada di dalamnya, semua rekaman pengakuan dari orang-orang yang terlibat dalam penipuan hampir tiga tahun lalu, ada di sana. Bahkan rekaman CCTV juga foto mereka.


"Jangan berpura-pura." Sella mendelik ke arah laki-laki yang kini melipat kedua tangan di atas perutnya.


"Aku tidak harus menjelaskan apa isinya padamu."


Kembali Sella dihadapkan pada dilema menghadapi laki-laki yang ada di hadapannya, antara apakah ia harus mencintai atau membencinya. Dia menyebalkan sekali.


"Kenapa, apa kau takut ketahuan kalau kau juga penipu?" Sella menyeringai sambil memalingkan wajahnya.


'Dasar bodoh, bukan itu ... aku hanya tidak ingin kau kecewa padaku, membenciku dan ... ahk, sudahlah'


"Itu isinya kebenaran, yang sering kau tanyakan. Kalau kau mau tahu, maka kau harus berjanji satu hal."


Alangkah baiknya seseorang mengetahui sebuah kebenaran meskipun, kebenaran itu menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan lagi, bila hidup tanpa tahu sebuah kebenaran, yang artinya ia hidup dalam kebohongan.


"Janji apa lagi, aku sudah berjanji banyak padamu." Sella nampak kesal.


"Baiklah aku akan jujur kali ini." Alrega tidak memiliki pilihan selain berterus terang tentang apa yang ia sembunyikan.


"Ayo, cepat katakan." Sella sudah tidak sabar.


"Aku menikah denganmu karena aku ingin membalas perbuatanmu juga Delisa."


Sella menatap Alrega nanar, tentang apa yang dikatakan Alrega itu, ia sudah tahu. Ia ingin pria itu mengakui hal yang lainnya. Sepertinya, tidak ... Alrega tidak akan mengakuinya, tidak akan pernah.


Menyadari Sella yang bungkam, Alrega mengangkat kedua alisnya, dan berkata, "Apa kau puas sekarang, aku sudah jujur." Lalu bersandar sambil menyimpan kedua tangannya bertumpuk di belakang kepala.


Sella mengambil kesimpulan sendiri, bahwa Alrega sudah mengetahui kebenaran tentang Delisa yang sebenarnya, bersamaan dengan saat mengetahui dirinya hanya terpaksa melakukannya. Akhirnya gadis itu berpikir berbeda, bahwa ia tidak memerlukan kebenaran lainnya. Semua yang dikatakan Alrega, benar, bahwa yang terjadi dimasa lalu tidak penting lagi sekarang.

__ADS_1


Ia memikirkan hal lain, dalam diamnya dan matanya masih menatap Alrega lekat-lekat. Wajahnya belum menunjukkan kepuasan atas rasa penasarannya.


"Kalau begitu, kau pasti tahu alasan Delisa melakukannya kan?"


Mendengar pertanyaan yang tidak diduga, Alrega kembali menegakkan badannya, membalas tatapan Sella sambil tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara rendah.


"Iya, aku tahu. Apa itu penting bagimu?"


Selal mengangguk. Ia memang ingin tahu.


"Sepenting apa ... apa sama pentingnya dengan diriku?"


Sella mengerutkan alis mendengar pertanyaan Alrega, mencoba menerka maksud dari kata-katanya. Lalu ia mengangguk lagi, seperti orang linglung.


Setelah melihat reaksi Sella, Alrega pun mengatakan semuanya, bahwa Delisa melakukan sandiwara cinta itu karena dia sudah memiliki laki-laki lain, bahkan wanita itu sudah hamil, hasil perbuatannya dengan kekasihnya itu. Mereka sudah tidur bersama.


Sebenarnya, Delisa waktu itu tidak sabar menahan keinginan dan minat untuk bersetubuh dengan Alrega. Pria itu sangat menggoda naluri alami kewanitaannya, yang ingin dipuaskan dengan segera, tapi laki-laki itu terlalu kuat. Bukan hanya prinsip dan pendiriannya, Bahakan ia perkasa dalam segala kemampuan.


Akhirnya itulah yang terjadi, wanita itu melakukan penipuan, seolah-olah Alrega-lah yang bersalah dan ia bisa mendapatkan semua harta, serta hadiah pernikahan secara legal. Alrega menceritakan semuanya dengan lancar, seperti sedang melakukan presentasi.


Ruangan mendadak hening, Sella kini tersenyum setelah sekian lamanya termenung.


'Apa itu artinya benar, seperti yang dikatakan Yorin dulu, dia hanya melakukan hubungan itu untuk pertama kalinya denganku? Tapi ... dia seperti orang yang sudah pengalaman dalam memuaskan perempuan'


Rona pipinya memerah, namun tidak terlihat karena lampu penerangan kamar yang tidak mendukung pemandangan itu.


"Sekarang kau mengerti?"


Sella mengangguk.


"Jadi, jangan berpikir aku orang yang suka mempermainkan wanita, seperti ayahmu!"

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Tapi ... apa kau benar-benar belum pernah melakukan hubungan apa pun dengan Delisa?" Sella berkata dengan gugup, suaranya sedikit tertahan di tenggorokan.


Alrega kembali mengerutkan alisnya, Lalu menjawab Sella dengan ketus, "Iya, memangnya kau pikir apa?"


"Termasuk waktu dia datang dan menginap malam itu, di rumah?" Sella menutup mulutnya setelah selesai bicara, wajahnya semakin merah, ia khawatir Alrega akan marah, tapi ia tidak bisa menahan pertanyaan itu.


Delisa pernah datang dan menginap di suatu malam, saat itu Sella tidak melihat Alrega di mana pun, hingga ia menduga kalau pria itu sedang memadu kasih dan melepas rindu di kamar tamu dengan Delisa.


"Oh, jadi waktu itu, kau pikir aku berbuat kotor di belakangmu dan karena itu kau pergi ke kamar ibu, tidak menurut padaku, iya?"


Sella mengangguk tanpa melepas tangan dari mulutnya.


Alrega berubah masam, matanya tiba-tiba memerah, manahan sesuatu yang hampir keluar. Ia berpikir gadis itu lugu dan polos, hanya membenci laki-laki saja, siapa yang menduga kalau ternyata dia memiliki prasangka seburuk itu pada dirinya.


Kekesalan naik dari perut ke ulu hatinya, naik lagi ke dada dan leher, lalu wajahnya, hingga warnanya menjadi merah sampai ke ujung kepala, ia tidak mungkin meledakkan kesal itu di sana, Marla sedang tidur.


Alrega berdiri, menggeser kakinya ke sisi meja, hingga ia bisa meraih tangan Sella, melepaskan tangan itu dari mulutnya. Secepat angin ia menariknya hingga perempuan itu berdiri dan mengikutinya keluar kamar.


"Kita mau kemana?" Tanya Sella ketika sudah berada di luar pintu.


"Diam ...!" Alrega terus menarik tangan Sella dan terus berjalan. Ia terlihat marah, tapi pegangan tangan itu tidak menyakitkan, hanya terkesan posesif saja.


Semua penjaga dan asisten yang ada di luar membungkuk hormat pada dua majikan mereka, yang tiba-tiba keluar dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mereka bisa menilai dari raut wajah Alrega yang merah padam dan terlihat mengeraskan rahangnya.


Zen duduk dengan tenang, tak jauh dari para pengawal yang berjaga di luar. Ia masih sibuk dengan laptopnya, saat menangkap bayangan mereka berdua. Ada gelagat yang tidak bagus. Alrega meliriknya saat melintas, Zen tahu dengan situasinya, hingga ia berjalan dengan cepat, mendahului sepasang suami istri itu. Hingga ia berhenti disebuah kamar yang kosong.


Semua kamar di lantai itu sengaja di kosongkan atas permintaan keluarga. Lantai paling atas itu memang jarang di tempati, kecuali oleh keluarga Leosan atau keluarga Haquel saja, bila diantara anggota keluarga ada yang sakit dan harus menjalani rawat inap. Bisa saja orang lain memakai beberapa kamar yang tersedia dengan bayaran yang sangat mahal, mengingat kamar yang ada di sana di rancang khusus seperti layaknya kamar hotel pada umumnya.


Zen membukakan pintu dan menutupnya kembali setelah Alrega dan Sella masuk ke dalamnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2