
Karena tak kuat melihat semua pemandangan disekitarnya, Sella hanya menunduk. Mencoba mengurai benang kusut dihatinya. Begitu ia mendengar suara berat laki-laki yang mengatakan,
"Kemarilah, jangan lepaskan tanganku." dan pria itu menggamit tangannya, ia kembali tersadar dengan dunia yang harus dihadapinya dengan kesadaran penuh.
Sella melihat pada tangan besar Alrega yang menggenggam erat tangannya lalu mendongak kearah si empunya tangan. Jantungnya berdegup kuat, persendian tubuhnya lemas air matanya hampir saja tumpah melihat pria berkharisma dan tampan didepannya. Hasrat untuk jatuh cinta sekaligus penolakan berseteru dalam benaknya. Perlahan namun pasti, ia melangkah kearah Alrega tanpa memalingkan pandangannya.
'Seandainya boleh, izinkan aku memiliki satu rasa padamu, dan kuanggap sandiwara ini menyenangkan. Walau aku menjadi pendampingmu sebagai hukuman'
Sementara Flinna sudah kembali ketempat duduknya lagi. Prosesi pernikahan pun dimulai. Selama prosesi itu berlangsung, Sella tak menyangka ia akan diperlakukan begitu lembut oleh Alrega,. Bahkan laki-laki itu tidak melepaskan genggaman tangannya sampai selesai.
"Apakah kau senang?" bisik Alrega didekat telinga Sella, sontak saja Sella menjauhkan kepalanya.
Sella mendongak pada Alrega yang tengah menatap wajahnya. Pandangan mereka bertemu, Sella tak bisa lagi menahan air matanya, yang mengalir begitu saja dipipinya.
'Apakah seperti ini yang dikatakan senang? Berjalan bersamamu menjadi pasangan sebagai hukuman, atas kesalahan yang pernah kubuat, dihari yang sama dan ditempat yang sama?'
Sella tak menjawab, dan sepertinya Alrega pun tak membutuhkan jawaban. Demi melihat air mata Sella yang terus mengallir, Alrega mengambil sapu tangan dari saku dalam jasnya lalu mengulurkan pada Sella.
'Sebenarnya untuk apa kau menangis?'
"Hapus! Memalukan." kata Alrega. Dan uluran sapu tangannya diterima oleh Sella.
Kini mereka melakukan pemotongan kue pengantin yang berbentuk istana, mereka melakukan dengan sangat baik, layaknya pasangan yang benar-benar bahagia. Setelah itu, Alrega menggandeng tangan Sella menuju kursi tempat mereka disandingkan, dan mereka duduk berdua, Sella agak menjaga jarak.
Banyak wartawan dan juru Foto yang mengabadikan seluruh rangkaian prosesi acara, dan kini para wartawan pemburu berita, serta juru foto, membuat foto saat mereka duduk berdua. Semua yang datang menganggap Alrega sangat menyayangi istrinya, karena terlihat selalu memegang tangan wanitanya.
Sella gugup, tak biasa menghadapi suasana seperti ini. Ia sering terlihat memalingkan pandangan, dengan menatap Alrega yang tampak tenang seteguh karang. Merasa dirinya di perhatikan, Alrega menoleh dan menatap Sella, seketika Sella membuang pandangan kearah lain membuat Alrega menarik sudut bibirnya. Alrega mengulurkan tangan kebelakang punggung Sella, lalu turun kepinggang, dan menarik tubuhnya hingga posisi mereka benar-benar dakat.
Alrega menggamit satu tangan Sella, dan menaruhnya diatas pahanya. Ia mengusap cincin berlian yang tersemat dijari manis Sella, sambil menundukkan kepalanya ke dekat telinga gadis itu.
Ia berbisik, "Ingat. Kau sudah berjanji."
Mendengar kalimat itu Sella mengerutkan alisnya dan bertanya.
"Janji apa?" sambil menoleh pada Alrega, jarak wajah mereka begitu dekat. Bahkan hidungnya hampir menempel.
"Kau tak akan melepaskannya."
'Terserah'
Sella mengangguk.
Beberapa tamu, saudara dan kerabat mulai mendekati mereka bersiap memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin.
"Jangan menunduk pada mereka." Kata Alrega melihat Sella yang menunduk bahkan membungkukkan sedikit badannya pada seorang rekan bisnis Alrega yang tampak lebih tua.
"Merekalah yang seharusnya menunduk," bisik Alrega lagi. Ia tak ingin istrinya menunduk pada orang yang tidak seharusnya mendapat penghormatan darinya.
Yang paling sibuk dalam pesta itu adalah Zen, ia terus memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana, dan semua baik-baik saja sampai selesai. Ia bahkan menyiapkan satu kompi pasukan penjaga keamanan yang disewa dan terlihat sangat mencolok.
Pengamanan yang berlebihan untuk sebuah pesta pernikahan. Beberapa tamu ada yang sempat ragu, apakah mereka memasuki tempat yang salah.
Setelah beberapa waktu berlalu, Alrega menggandeng tangan Sella menuju tempat duduk orang-orang terdekatnya. Mereka berada dalam satu meja. Orang-orang itu hanya mengamati semua yang terjadi tanpa komentar.
Melihat Alrega berjalan mendekat, Yorin berdiri, sambil tersenyum lebar, dan menyalami Alrega.
"Selamat ya kakak." katanya sambil memeluk Alrega sejenak dan buru-buru melepaskan karena Alrega justru terlihat menolak pelukan itu, dengan memundurkan badannya.
__ADS_1
"Hmm." jawab Alrega.
"Kakek Mett?" kata Sella ketika ia melihat si tua Mett duduk diantara keluarga Alrega. Sosok itu sehari yang lalu menolongnya ketika roda motornya kempes.
'Jadi orang yang kau maksud dengan cucu yang akan menikah itu adalah dia?'
"Kakek, ini aku. Sese." kata Sella mendekat kearah si tua Mett, dan menyalaminya, sopan. Lalu menyalami Rehandi, dan nenek secara bergantian.
"Kakek mengenalnya?" tanya Alrega, sambil mengangkat kedua alisnya dan si tua Mett mengangguk. Sementara nenek dan Rehandi hanya diam menatap Sella penuh selidik, dengan tatapan yang seolah menguliti.
Kakek Mett adalah ayah dari Zania Haquel, ibunua Alrega. Zania adalah anak kakek Mett Haquel satu-satunya yang masih hidup. Namun hiupnya kini tidak bahagia.
Kakek tua itu tersenyum. Interaksi kedua orang itu membuat Alrega, Yorin, nenek dan Rehandi tertegun.
'Bagaimana bisa gadis ini mengenal kakek Mett, bahkan memanggil namanya dengan akrab. Apa gadis ini tau posisi kakek dan menjilatnya?'
Semua orang di Jinse tahu siapa kakek Mett, pasti itulah motifnya batin semua orang.
Kakek Mett pemilik perusahaan raksasa yang disegani di pelosok kota, pengaruhnya pada pemerintah juga sangat kuat. Kini dia telah mewariskan sebagian besar kekayaannya pada cucu lelaki satu-satunya, Alrega.
"Sese, pantas saja. Aku sejak tadi merasa, sepertinya kau orang yang aku kenal, ternyata ben, ini kau?" jawab Si tua Mett sambil terkekeh.
'Kenapa dunia ini sempit sekali bahkan aku tak menyangka kakek Mett punya hubungan darah dengan tuan Rega'
"Kakek, apa kabarmu?"
"Aku baik. Duduklah." kata Mett mempersilahkan Sella duduk di kursi yang tadi diduduki Yorin.
Kini Sella duduk bersama Rehandi, nenek, dan Mett. Sementara Yorin duduk bersama Alrega dan dua paman dari garis ayahnya di meja yang lain. Alrega memperhatikan istrinya dari sana sambil menikmati minuman yang tersedia.
"Kakek, apa gula batunya masih ada?"
"Kau sudah mengenalku sebelum ini, dan kau mempunyai janji padaku bukan? Jadi tepatilah janjimu"
"Ahk, iya. Baiklah aku akan sering mengunjungimu," kata Sella bersemangat.
"Dan kau bisa belajar bermain catur dengan cucuku."
"Euhm.. kurasa itu tidak perlu, sebab kalau aku pintar maka kau tidak akan punya lawan yang bisa kau kalahkan." Mendengar kata-kata Sella yang polos, dan mau mengalah demi dirinya, ia tertawa. Semua orang yang melihat interaksi itu hanya bisa diam.
'Kakek benar-benar tertawa bersama gadis ini, cukup mengesankan' batin semua orang.
"Kalau kau selalu kalah, itu akan membosankan" kata Mett setelah berhenti tertawa.
"Cukup cucumu yang mengalahkanmu, kakek. Lalu kau bisa mengalahkanku."
"Baiklah, aku tunggu hal itu. Dunia bukan hanya soal menang dan kalah bukan?"
"Kakek, kadang orang sepertimu terlalu bijaksana. Tapi aku senang kau yang mengatakannya." Lagi-lagi, pujian Sella terdengar jujur bagi Mett.
"Hmm... " kata kakek Mett sambil mengangguk.
"Sese, katakan kau ingin apa untuk hadiahmu sekarang?" kata Mett sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, ia berkata seolah siap dengan permintaan Sella, apapun yang diinginkannya.
Semua yang mendengar perkataan Mett, menjadi waspada. Mereka menebak sesuatu yang berbeda, karena mereka menilai Sella dengan pandangan yang sebelah mata.
"Benarkah? Apapun?" tanya Sella memastikan.
__ADS_1
"Iya, katakan saja." jawab Mett bersungguh-sungguh.
"Aku ingin pompa ban motor milikmu." kata Sella malu-malu.
Semua yang mendengar permintaan Sella merasa heran kenapa dengan pompa ban? Hubungan seperti apa yang dimiliki oleh mereka.
"Kau meminta pompa ban milikku?" sahut Mett.
Ia tak percaya kalau gadis ini, hanya menginginkan sesuatu yang sepele. Padahal ia sudah menyiapkan hal yang luarbiasa seperti berlian, atau rumah mewah padanya. Tapi ini, pompa ban?
"Kakek, kalau itu jadi masalah untukmu, maka tidak usah, aku tidak meminta apapun darimu." menurut Sella permintaannya itu menyusahkan Mett.
"Tidak. Itu tidak masalah. Aku akan memberikannya. Kenapa kau ingin pompa ban?"
"Kakek, ban motorku sering kempes. Akan lebih mudah kalau aku memilikinya di rumah."
'Hei, kau tidak akan membutuhkannya lagi' Mett.
"Apa tidak ada hal lain lagi?" tanya Mett.
"Tidak." tandas Sella.
"Aku waktu itu pernah bilang kalau aku akan menjodohkanmu dengan cucuku, kenapa kau tidak bilang kalau kau akan menikah?"
"Kakek, aku pikir waktu itu tidak perlu memberitahumu. Ternyata dunia ini begitu kecil."
"Kenapa kau tidak meminta sesuatu yang lain seperti villa atau mobil?"
"Kakek. Aku tidak mungkin meminta hal seperti itu pada orang yang sudah tua. Maaf..."
"Kau tidak perlu minta maaf, aku memang sudah tua." kata Mett tanpa beban, sekali lagi ia merasa Sella adalah orang yang tulus.
"Kakek, Alrega adalah sesuatu yang istimewa, jadi aku tak perlu memiliki apapun karena aku sudah memilikinya." kata Sella dengan suara rendah dan malu-malu. Ia melirik Alrega sekilas.
Semua yang mendengar ucapan Sella menarik nafas panjang seolah lega hatinya, karena Sella tidak bersikap seperti Delisa yang mempermalukan keluarga, dan tidak menghargai suaminya.
Sementara Sella, mengatakan kalimat itu dengan sadar dari dalam lubuk hatinya setelah tahu, orang baik seperti kakek Mett menjadi bagian dari keluarganya. Apalagi setelah semalam ia tahu bahwa istri Alrega pergi entah kemana karena kesalahannya, ia merasa kasihan. Menurutnya, Alrega butuh pendamping yang bisa membuatnya merasa berharga, setidaknya selama ia menjalani masa hukumannya.
***
Hari sudah hampir sore ketika semua tamu sudah pergi. Kini Sella berada ditengah-tengah keluarganya. Ada beberapa kerabat dari pihak ibunya yang juga hadir. Sebenarnya mereka merasa heran karena ketidak hadiran ibu dari Alrega. Semua tidak ada yang mengatakan tentang beliau, padahal tidak ada informasi yang mengatakan soal kematiannya.
"Sese.. Mulai saat ini, dirimu bukanlah milikmu sendiri. Ada suami yang juga berhak penuh atas dirimu. Bersikaplah yang baik dan lemah lembut pada keluarganya, hargai penikahamu, ini bukan pemainan dan bertahan lah, walau apapun yang terjadi, kalau kau tidak ingin menjadi seperti ibumu." Nasehat Flinna pada Sella, saat berpamitan pada anaknya.
Mereka saling berpelukan seperti orang yang sudah lama tidak bertemu. Mereka menangis seolah akan pergi dan tak akan kembali.
"Ibu, Terimakasih atas semua kebaikan ibu selama ini, maaf Sese belum bisa membalasnya."
"Bicara apa kau ini. Ibu pergi. Baik-baiklah pada suami dan keluarga barumu. Mereka keluarga kita juga."
"Baiklah, bu. Jaga kesehatanmu. Dan kalian, jaga ibu baik-baik untukku."
"Jangan kuatair kakak." jawab Rejan dan Runa bersamaan.
Rika kau tidak perlu melayani pembeli secara online, ya. Jual barang-barang kita seperti biasanya saja." kata Sella memberi instruksi pada semua saudaranya. Mereka hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Sella di kamar hotel.
Bersambung
__ADS_1
*Jangan lipa like, rate dan votenya*