
Alrega dan Zen berjalan dengan cepat menyusuri lorong. Langkah panjang kaki mereka, seolah bisa melewati empat atau lima orang sekaligus.
Mobil mereka terparkir di ujung lorong, tempat yang lebih terbuka di sisi jalan dekat kawasan padat penduduk. Di sana para pengawal sudah menunggu dan siap membukakan pintu untuk mereka.
Lalu berjalanlah ring-iringan mobil itu menuju ke bandara.
Saat sudah berada di dalam mobil, Alrega menyandarkan kepalanya sambil menatap jendela. Ia pun berkata dengan suara rendah.
"Apa kau tidak bisa mendatangkan helikopter, biar lebih cepat sampai di rumah?"
"Maaf, tidak bisa, Tuan," jawab Zen singkat.
Mendatangkan helikopter seperti permintaan Alrega, tidak efisien menurut Zen. Waktu yang ditempuh selama perjalanan ke Bandara, sama dengan waktu bila menunggu helikopter datang menjemputnya. Ia pun memutuskan untuk kembali memakai pesawat pribadi mereka.
"Hmm ...." Alrega bergumam, ia terlihat tenang, padahal ia setengah mati menahan geram dan amarahnya.
"Tenang, Tuan. Kalau sudah sampai di bandara, kita bisa lebih cepat sampai di rumah, dengan pesawat pribadi kita." Zen tahu, Alrega sekarang sekuat tenaga menahan dirinya.
"Hmm ...."
"Izinkan saya membalas perbuatan dua orang yang sudah mengganggu Anda, Tuan."
"Ck, tidak perlu, abaikan saja mereka, yang penting ibu baik-baik saja."
"Tapi, Tuan, Delisa sudah mengganggu Nona. Dia tidak takut dengan ancaman saya."
"Terserah kau saja, buat dia jera."
"Baik, Tuan."
Mereka menuju bandara, menaiki pesawat pribadi milik keluarga. Melintasi kota dengan menggunakan pesawat pribadi, yang berukuran lebih kecil, biasanya hanya membutuhkan izin terbang, dari pihak bandara atau menara pengawas.
Terbang dengan menggunakan pesawat seperti ini, lebih mudah dan praktis bagi pebisnis atau orang yang membutuhkan ketepatan waktu untuk menyelesaikan urusan. Karena, tidak memerlukan rentetan administrasi, atau pun harus mengantri untuk legalitas tiket yang mereka miliki.
Ada saja para pengguna pesawat seperti ini walau anggaran yang digunakan untuk menyewanya tergolong tinggi. Biasanya para jutawan atau artis, yang menyewanya karena, mereka harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit, hanya untuk terbang selama beberap menit saja.
***
Sesampainya di rumah, Alrega melihat keadaan dan suasana aula tempat pesta, sudah rapi dan bersih. Seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Tidak ada bekas sama sekali pernah ada pesta di sana, kecuali beberapa rangkaian bunga yang dialihkan di sisi-sisi teras depan rumah.
Alrega menemui ayah juga Pak Sim, menanyakan tentang kejadiannya. Rehandy menceritakan apa adanya, dari apa yang dilihat dan di dengarnya. Ia memang tidak tahu kejadian itu karena ia sedang pergi ke toilet. Sedangkan Pak Sim menceritakan kejadian dengan lengkap.
Setelah mengetahui semuanya, Alrega sedikit lega karena ibunya baik-baik saja. Ia sangat bersyukur, bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada ibunya.
Saat Alrega menemui Zania di kamarnya, wanita itu tengah duduk di sisi tempat tidur. Begitu melihat anaknya, ia berkata dengan tenang.
"Kau terlambat, Rega!"
"Iya, Bu. Maafkan aku."
__ADS_1
"Hmm ... aku tahu, Sese tidak bersalah, cari dia."
"Baik, Bu."
" Rega, aku menjadi seperti ini, bukan karena kau difitnah waktu itu, tapi karena aku menyesali betapa kepercayaanku sudah dikhianati. Delisa meninggalkanmu dengan mudahnya, hanya karena fitnah yang belum tentu benar."
"Ya, ya Bu aku juga tahu."
'Seandainya kau tahu apa yang Delisa lakukan di belakang kita, mungkin kau tidak akan pernah bisa memaafkannya'
"Rega, jangan marah pada Sese, kalau kau sudah menemuinya. Delisa yang salah, dia sudah terang-terangan membuka aibnya bahkan kembali merusak pesta keluarga kita"
"Baiklah aku akan kesana, kemungkinan dia ada di rumahnya."
"Iya, kau harus meminta maaf pada keluarganya juga, berikan apapun yang dia inginkan, asal mau memaafkan keterlambatanmu itu!"
Setelah itu, Alrega menemui Yorin lalu menyerahkan sebuah flash disk dengan melemparkannya ke wajahnya.
"Kau periksa dan lihat semua data yang ada disana, kau akan tahu siapa yang sebenarnya bersalah, tunjukkan kan isi rekaman itu pada nenekmu, baru kau bisa memutuskan, siapa yang seharusnya kau bunuh!"
Yorin mengerutkan dahinya mendengar Alrega bicara, ia segera meraih flash disk yang terjatuh di tempat tidur, setelah tepat mengenai keningnya.
"Apa maksud kakak?"
"Tidak ada, periksa saja isinya!" Alrega bicara sambil melangkah mendekati pintu.
"Baiklah, pergilah sana!" kata Yorin sambil melambaikan tangannya.
"Iya, Kakek datang, tapi istrimu yang tidak tahu diri itu sudah pergi."
"Sial ....!" Alrega sudah membayangkan kemarahan kakek Mett padanya.
"Kenapa, apanya yang sial, seharusnya Kakak bersyukur dia pergi, bukan? Untung saja Kakek tidak melihat Sella, kalau Kakek lihat, pasti lebih marah!"
"Dasar bodoh, lalu apa yang kakek katakan padamu?"
"Tidak ada, kakek bawa Delisa pergi, aku tidak tahu Kakek membawanya kemana?"
"Ya, kuharap kakek mengurusnya di ruang bawah tanah."
"Kenapa, kenapa seperti itu? Delisa sudah berhasil membuka kedok istrimu si pembohong itu!"
"Cukup! Tutup mulutmu, lihat periksa rekaman bitu baru kau bisa bilang, siapa yang pantas disebut sebagai pembohong!"
"Alrega keluar dan membanting pintu kamar Yorin dengan sangat keras. lalu melangkah keluar dan kembali memasuki mobilnya.
Di dalam mobil, ia tidak duduk di kursi penumpang belakang seperti biasanya. Ia duduk di samping Zen yang mengemudi. Zen melirik tuannya yang duduk di sebelahnya.
Hal yang tidak biasa tapi ia memakluminya, apalagi ketika Alrega berkata.
"Tancap gas mu, lajukan mobil secepat yang kau bisa."
__ADS_1
"Tuan, apa kita langsung ke rumah orang tua Nona?" Zen berkata sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
'Ya, kau pikir bada tempat lain yang bisa kita cari selain di sana?"
"Aku pikir ada Tuan, nona tidak mungkin menceeitakannya langsung kepada ibunya."
Zen berpikir, bahwa Flinna adalah orang yang pernah depresi juga, hingga besar kemungkinan Sella tidak akan menceritakan apa yang dialaminya ini kepada ibunya.
Ia pun berinisiatif untuk mencoba menghubungi Rejan adik Sella dan berjanji untuk bertemu, di perempatan jalan menuju tempat tinggalnya. Sementara saat itu hari sudah sangat larut malam.
"Apa perlunya kalian mencari kakakku?!" kata Rejan penuh keberanian menghadapi Alrega dan Zen, padahal ia tahu kedua orang itu adalah sumber kekuasaan. Demi Sella ia mampu seberani itu.
Mereka sekarang berada di tempat yang sudah dijanjikan, anak remaja itu datang dengan menggunakan motor besar yang diberikan Alrega kepadanya.
Ia turun dan berdiri di samping motornya, berhadap dengan Alrega yang sudah turun juga dari mobilnya. Ia menepuk bahu Rajan dengan tepukan yang lembut tapi menurut anak remaja itu, tepukan yang ada di bahunya sangat menyakitkan. Karena setelah menepuk, Alrega mencengkeramnya dengan keras.
"Asal kau tahu, aku tidak berniat membiarkan kakakmu menderita seperti itu. Aku punya urusan lain yang penting untuk masa depan kakakmu. Jadi, katakan sekarang di mana dia sekarang?"
"Apa yang akan kalian lakukan kalau kalian menemukan kakakku?"
"Aku akan membawanya pulang."
"Tolong, Tuan, jangan bawa kakakku pulang, aku tidak mau kakakku dilecehkan dan kembali dihina, tidak!"
"Ada aku sekarang, percayalah."
"Aku tidak percaya."
Zen mendekati Rejan, ia ingin urusan ini cepat selesai. Ia berkata sambil menepuk-nepuk motornya.
"Rejan, sebaiknya kamu percaya, kalau tidak ingin motor ini aku hancurkan sekarang juga!"
"Kalau kau tidak percaya, kau bisa ikut kami dan lihat sendiri, apa yang akan kami lakukan pada kakakmu!"
"Kak Sese ada di tempat yang paling sedih."
"Ck! mana ada tempat seperti itu?" Kata Alrega dengan menyimpan debaran jantungnya.
Ia merasakan kesedihan Sella bahkan sebelum ia bertemu dengannya. Ia tidak ingin berpisah dengan Sella, tidak! Perasaannya mirip seperti orang yang tidak ingin melepaskan sendi dari tubuhnya.
"Aku pikir kalian tahu tempat yang biasa dipakai untuk melamun ataupun berteriak melepaskan beban, penat dan lelah yang ada di hatinya?"
"Cepat katakan!" Pekik Zen. "Jangan berbelit-belit!"
"Hais, seharusnya kalian tahu. Pantai ... tempatnya juga tidak jauh dari sini. Apalagi dengan mobil seperti ini, mungkin kalian sampai di sana tidak sampai satu jam."
"Apa dia sendiri di sana?" Tanya Alrega.
"Ah, sayangnya tidak, banyak laki-laki di sana, cepatlah sebelum kakak ku digoda!" Sahut Rejan.
"Kau Ini ...."
__ADS_1
bersambung