Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 96. Pangeran Tampan Dari Negeri Dongeng


__ADS_3

Sella menarik selimut perlahan, untuk menutupi wajahnya yang pucat, ia tidak ingin diketahui kalau ia sebenarnya sudah bangun. Sementara, dua laki-laki yang sedang merencanakan sebuah kejahatan itu terus bicara.


Sella benar-benar muak dan ingin sekali pergi dari sana, tapi sekarang perutnya sangat lapar, ia butuh makan sekarang juga.


Sejak dari kemarin sore ia tidak mengisi perutnya dengan makanan, hanya minum beberapa gelas saja. Kemarin ia sangat sibuk mempersiapkan segalanya dan menjaga Zania, sebelum kejadian buruk yang menimpanya.


Setelah kejadian itu, ia tidak berselera. Sampai pagi ini, ia terbangun karena perutnya memberontak ingin dimasuki sesuatu, dan hanya dua orang laki-laki itu yang bisa memberikan apa yang ia butuhkannya saat ini.


Sella menahan rasa laparnya karena malu, mengingat apa yang sudah ia katakan pada Alrega. Ia menyesal mengapa harus mengakui perasaan yang sebenarnya, bahwa ia mencintai nya. Walaupun, di akhir kata ia mengaku menyesal, tetap saja ia malu pada laki-laki itu.


Sella tidak tahu bagaimana ia bisa sampai berada di tempat ini, mungkin saja Alrega yang membawanya atau membiarkannya tergeletak di tanah dan menunggu ambulans datang. Ia tahu, sudah tidur di kamar itu dengan pakaian yang sudah diganti pula.


Kini ia bingung tentang bersikapnya pada Alrega, apakah ia harus menunjukkan kebenciannya, tetap mencintainya, atau marah hingga tidak harus bersikap manis padanya.


"Hmm ...." Sella bergumam, saat suara dari dalam perutnya kembali terdengar.


"Uuh ...." Sella kembali bergumam, mencoba meredam tekanan panas di lambung yang seolah membakar perutnya.


Gerakan kecil dari Sella, mengalihkan tatapan Zsn dari layar laptopnya. Saat itu ia duduk menghadap ke tempat tidur. Pandangan Zen, diikuti oleh Alrega dan ia segera menghampiri Sella.


Sejak semalam, seperti itulah yang dilakukan Alrega, setiap kali Sella bergerak merubah posisi dalam tidurnya. Ia menghampiri dan memastikan Sella terbangun atau tidak, mengusap kepala dan menciumnya.


Begitu juga dengan saat ini, ketika Sella menggerakkan tubuhnya, ia menghampirinya. Namun sekarang, ia naik ke tempat tidur, menelusup ke bawah selimut yang menutupi tubuh Sella dan memeluknya dengan erat.


Melihat perbuatan Alrega, Zen pun keluar dari kamar dengan membawa laptopnya yang masih menyala. Sebelum keluar dan menutup pintu, ia sempat melirik Alrega yang tengah mencium kepala istrinya.


Sella tetap diam, pura-pura masih tidur. Ia membiarkan Alrega memeluk dan memberinya kenyamanan tersendiri. Ia sudah biasa dengan pelukan, aroma bahkan hembusan nafasnya dan ia senang diperlakukan seperti ini.


Alrega menundukkan pandangan, melihat pipi itu basah dan tangannya pun terulur menghapus sisa air matanya.


'Apa kau menangis lagi, apa kau sudah bangun, sial ... jangan bilang kau mendengar semuanya'


'Bagaiman bisa aku meninggalkanmu, kalau semakin hari kau semakin manis. Ahk, aku bisa gila kalau seperti ini. Apa dia baru mandi? Tapi aku ingin pergi ... aku tidak tahan lagi'


Kruk ....


Terdengar suara dari dalam perut Sella. Sebenarnya ia sudah berusaha menahan, tapi suara itu keluar tanpa bisa dicegahnya.


Alrega masih menciumi pipi Sella, saat ia mendengar suara perutnya. Ia memundurkan lehernya dengan alis yang bertaut, lalu memindahkan tangan yang berada di pinggang, ke dagunya.


Ia pun berkata, "Apa kau lapar?" Sambil mendekatkan kepala, lalu mencium bibirnya, hingga beberapa saat lamanya.


Semula, Sella hanya diam, tapi Alrega menciumnya begitu lama. Ia pun membelalakkan matan dan memundurkan kepala, melepaskan pagutannya. Ia membutuhkan oksigen saat itu juga.


Begitu ciuman terlepas, Sella memukul bahu Alrega sekuatnya, tapi laki-laki itu hanya menarik sudut bibirnya, dengan tatapan tak lepas dari wajah istrinya, yang sedang berusaha memenuhi udara di rongga paru-paru nya.

__ADS_1


"Jadi kau sudah bangun?" kata Alrega sambil mengusap-usap wajah dan juga tubuh Sella, mulutnya terus berkata-kata.


"Apa kau baik-baik saja, apa ada yang sakit, apa kau lapar? Aku tadi sudah memberimu sarapan bibirku, apa sekarang kau sudah kenyang. Hmm ...." Lalu menciumi seluruh wajah Sheila.


'Sudah kenyang kepalamu, apa enaknya sarapan bibir seperti itu, dasar!'


'Aku senang kau sekarang bangun dan bisa melihatku, seandainya kau tahu, aku yang menggendongmu sama ke sini waktu kau pingsan di pantai itu, padahal kau sudah memukulku, seharusnya aku yang pingsan dan bukannya kau tidur seperti bayi. Apa kau lemah sekarang, atau kau lupa dulu, kau galak sekali'


Saat ciuman Alrega kembali mendarat di bibirnya, tiba-tiba Sella memundurkan kepalanya dan menutup bibir Alrega dengan jari tangannya.


"Cukup!" Sella berteriak sambil mendorong dada Alrega, lalu berniat bangkit untuk pergi ke kamar mandi. Ingin membuang sesuatu yang ditahannya dari tadi.


Namun, baru saja ia hendak beranjak, ia sudah kembali terbaring. Seluruh tubuhnya terasa lemas, sendinya tak bertulang raganya seolah tak bertenaga.


"Mau kemana, kenapa tidak bilang?"


Sella tak menjawab, ia kembali berusaha untuk bangkit, namun kali ini ia hanya berhasil sampai di sisi ranjang sebelum tubuhnya kembali melorot.


'Ahk, lamas sekali kakiku tak bisa bergerak. Sial ... apa dia memaksaku semalam, bahkan saat aku pingsan? Aku tidak akan memaafkanmu!'


Sella salah faham.


"Ayo, aku bantu. Mau ke kamar mandi?" Alrega berkata sambil membungkuk, untuk mengangkat dan membopong Sella menuju kamar mandi. Selalu saja ia bertindak seperti seorang cenayang yang serba tahu. Sella tidak bisa membantah, atau menolak, yang ia lakukan hanyalah menurut dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Alrega.


Saat berjalan, Alrega tidak mengalihkan pandangan dari wajah wanita yang ada dalam gendongannya, membuat gadis itu salah tingkah dan memilih untuk memejamkan mata.


"Panggil aku kalau sudah selesai."


Sella mengangguk.


Gemericik air yang mengalir di dalam kamar mandi, menandakan Sella masih belum selesai. Alrega dengan sabar menunggu di pintu, hingga beberapa lama kemudian, terdengar suara ....


Bukk! Seperti suara benda yang jatuh. Segera Alrega masuk tanpa menunggu Sella memanggilnya. Setelah ia berada di dalam, ia melihat gadis itu terduduk di lantai, ia berusaha untuk berdiri, namun ia justru terjatuh.


"Dasar bodoh, kau ...." Alrega hampir mengumpat, tapi ia urungkan sambil mengangkat tubuh Sella dan kembali membawanya ke tempat tidur.


"Jangan berlagak kuat, Nona!" kata Alraga sambil membungkuk. Kini ia berada di atas, dengan kedua tangannya di sisi Sella menopang tubuhnya.


Sella masih cemberut dan memalingkan pandangan ke samping, bersamaan dengan suara perut yang semakin kencang.


"Kau lapar?"


Sella diam.


"Mau makan apa, bilang saja."

__ADS_1


Sella tetap diam, membuat Alrega kembali menekan bibirnya.


"Mmp ...." Sella bersuara dari dalam tenggorokan karena bibir tertutup oleh bibir Alrega. Itulah caranya memaksa seperti biasa.


"Iya, iya, aku lapar, makan apa saja boleh!" Akhirnya ia berbicara.


Alrega menyeringai.


"Suaramu saja yang kuat. Ck!" Alrega menyahut sambil beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar untuk mengambil makanan.


Tak berapa lama ia datang membawa nampan besar yang berisi beberapa makanan bergizi, yang sudah disiapkan pelayan sejak tadi. Makanannya sudah dingin, tapi masih enak dan lebih baik dikonsumsi dalam keadaaan seperti itu karena, lambung Sella masih bermasalah.


"Biar aku sendiri." Kata Sella ketika Alrega hendak menyuapinya.


"Kukira kau senang kalau aku melayanimu."


"Aku tidak minta kau melayaniku!"


"Baiklah, baiklah ...."


Laki-laki itu menuruti kemauannya, walau ia sangat ingin memanjakannya, hanya saja ia tidak ingin Sella lebih marah lagi padanya.


"Makan yang banyak, setelah itu kita jalan-jakan."


"Aku tidak mau ikut denganmu!"


"Lalu kau mau ikut siapa?"


"Ikut pangeran tampan yang berambut panjang dan membawa kuda unicorn ke negeri Atlantic!" Sella asal bicara, membuat Alrega mencibirnya.


"Mana ada tempat seperti itu?"


Sella diam. Ia menikmati makanan dengan cepat, mengisi perutnya yang kosong.


'Ada, di negeri dongeng atau di dunia novel, seorang pangeran tampan yang membawa putri raja ke istana yang megah, bukan penjara seperti rumahmu!'


"Kalau soal ketampanan, akulah pangeran yang paling tampan di antara yang tampan."


'Ck! Sombong'


"Apa kau masih marah padaku. Apa yang bisa aku lakukan biar kau mau memaafkan aku?"


"Hmm ...." Sella bergumam, ia berfikir, sambil menghabiskan suapan terakhir, lalu minum segelas air putih yang di sodorkan Alrega padanya.


'Ck! Kenapa dia tidak makan? Terserah!'

__ADS_1


"Kesalahanmu sulit kumaafkan. Kau tidak bisa dipercaya," kata Sella sambil mengelap mulutnya tissu.


Bersambung


__ADS_2