Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 139. Lebih Baik Tidak


__ADS_3

Akhirnya semua berlangsung, dengan permainan satu pihak karena Sella tidak merespons apa pun yang dilakukan Alrega pada tubuhnya. Ia mati-matian menahan mual, begitu Alrega melepaskan seluruh Pakaiannya.


Alrega menjatuhkan diri ke samping ketika sudah selesai. Saat itu pula Sella kembali berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnyanya, tanpa memedulikan dirinya yang tanpa busana.


‘Apa dia membenciku?’ batin Alrega sambil memakai kimononya. Ia berjalan menyusul Sella untuk membawakan pakaiannya.


“Maafkan aku,” kata Alrega dengan suara menurun, lalu membantu Sella memakai pakaiannya. Ia merasa bersalah karena memaksakan keinginannya.


Sella menggelang dan menjawab, “tidak apa ....”


*****


Beberapa hari belakangan ini hujan selalu turun dipagi hari, suasana mendung dan suram menghiasi langit, setiap keberangkatan Alrega dan Zen ke katornya.


Zen membukakan pintu mobil untuk kedua atasannya yang tengah dimabuk cinta, Alrega dan Sella. Mereka masuk ke mobil dipayungi oleh Pak SIM, untuk menghindari tetesan air hujan yang untungnya tidak terlalu deras.


“Kita ke rumah sakit sekarang,” kata Alrega ketika sudah berada di dalam mobil dan Zen mengangguk.


Alrega duduk tegak sambil memeluk Sella, yang terlihat lemah. Tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sejak kemarin, setiap kali makan ia akan mengeluarkannya kembali.


Sella merasa frekuensi mual dan muntahnya semakin sering, hal ini memicu kekhawatiran Alreaga. Walaupun, ia sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja, tapi pria itu masih saja kuatir kepadanya.


“Kau tidak usah kuatir. Ini biasa bagi ibu hamil.” Sella berkata sambil mendorong Alrega yang tidak mau melepaskan dirinya. Pria itu seperti ketakutan bila istrinya sakit atau terluka.


“Biasa, kau bilang?” kata Alrega sambil memeluk Sella lagi.


Sella menolak, sambil berkata, “sayang, maafkan aku, tapi tolong, jangan dekati aku!” Ia bergerak mendekati jendela. Seperti itu yang sering terjadi akhir-akhir ini. Sella selalu berusaha menjauhi Alrega.


Alrega tetap mendekat, ia berpikir Sella hanya membencinya, atau ingin mengerjainya, seperti yang sering ia lakukan dulu kepadanya. Ternyata dia tidak bercanda, terbukti Sella muntah lagi kali ini meskipun hanya cairan berwarna kuning yang keluar dari mulutnya. Pahit sekali yang dirasakan Sella.


“Maaf.” Hanya itu yang terucap dari bibir yang sudah pucat seperti tidak bernyawa. Ia merasa bersalah karena ia mengotori karpet mobil yang ia tahu tidak murah harganya.


Alrega pun menjauh, bahkan ia beralih duduk di samping Zen, laki-laki itu menahan senyumannya melihat tuan mudanya menjadi orang yang tidak berdaya di hadapan istrinya.


“Jangan menertawaiku!” ujarnya sambil melirik Sella yang kini lemas bersandar dengan mata terpejam. “lebih baik dia tidak hamil, kalau tahu akan seperti ini,” Alrega tidak pernah menduga bila ternyata wanita hamil begitu merepotkannya. Melihat Sella seperti itu seolah dirinyalah yang tengah dirasuki ribuan paku dan menancap di kulitnya. Sakit sekali rasanya, ia tidak tega dan alangkah baiknya kalau dia saja yang menderita.


“Tuan sebaiknya mencari informasi tentang kehamilan, banyak artikel mengenai wanita hamil di internet.”


Alrega tidak menjawab tapi tangannya bergerak mengambil ponsel dari saku bagian dalam jasnya dan mulai mencari. Ia menggeser layar ponsel beberapa kali. Ekspresi wajahnya berubah-ubah ketika ia mulai melihat artikel dan membacanya.


Diahir artikel yang ia baca, ia pun tersenyum karena tahu bahwa ternyata Sella bukan membencinya. Ia seperti itu karena hormon yang membuat Indra penciumannya sensitif terhadap bau, sehingga ia akan mual setiap kali ia mencium aroma yang menyengat.

__ADS_1


Dahulu Sella sangat menyukai aromanya, hingga ia berpikir ekstrem ketika Sella mulai menolak didekati atau muntah saat bersamanya. Hal itu karena parfum yang di pakainya. Mulai besok Alrega berjanji tidak akan memakai parfum lagi.


Sesampainya di rumah sakit, Alrega dan Sella menunggu di ruang VIP, sementara mereka duduk saling berjauhan. Sebagai pasien kehormatan, tentu Sella tidak harus menunggu terlalu lama, ia sudah bisa masuk ke ruang pemeriksaan, mendahului pasien lainnya.


Alrega berjalan menuju ruang pemeriksaan, dengan menjaga jarak. Bukannya ia tidak sayang, melainkan karena ia tidak ingin Sella muntah lagi jika berdekatan, dengannya.


“Ini perkembangan yang bagus,” kata seorang dokter wanita, ketika Alrega dan Sella sudah melakukan pemeriksaan, di ruang periksa.


“Tidak ada masalah dengan janinnya,” kata dokter kandungan profesional yang menanganinya itu lagi. “kalau soal mual dan muntah, saya akan resepkan obat dan vitamin yang dapat menguranginya.”


“Apa semua wanita hamil seperti ini?” Alrega yang tetap berdiri tegak saat pemeriksaan berlangsung, tiba-tiba bertanya.


Dokter wanita itu tersenyum dan menunduk hormat, lalu menjawab, “tidak.”


“Tapi kenapa kau begitu?” Tanya Alrega, beralih menatap Sella.


“Aku tidak tahu,” jawab Sella, sambil menuruni tempat tidur pasien.


“Apa kau membenciku?” tanya Alrega lagi tanpa menghiraukan dokter yang terlihat heran sekaligus merasa geli, dengan sikap Alrega yang tidak terlihat menakutkan sama sekali. Ia menahan senyum.


Sella tidak menjawab, karena ia malu dengan tingkah Alrega yang terkesan kekanak-kanakan. Lalu ia duduk kembali. Di susul oleh Alrega di sampingnya.


“Apa? Tiga bulan?” tanyanya lagi sambil memajukan badannya ke meja besar milik dokter.


“Iya, itu hanya perkiraan saja. Bisa kurang tapi bisa juga lebih lama,” jawab dokter.


“Apa? Bisa lebih lama lagi?” kembali Alrega bertanya. Sementara Sella hanya diam tapi wajahnya bersemu merah dan menghangat. Ingin berlari sejauh mungkin tapi tidak bisa.


“I—iya.” Dokter menjawab agak gugup, ia sadar sudah membuat pria berkharisma seperti Alrega itu kesal. Seharusnya ia tidak perlu mengatakan lama atau tidaknya. Sebab ia tahu kenapa Alrega seperti itu.


“Tuan, saya akan meresepkan obatnya, agar Nona tidak terlalu mual dan muntah lagi, Anda tidak perlu kuatir.”


“Bagus!” tandas Alrega dengan senyum di sudut bibirnya.


‘Dia ini memalukan sekali’


Mereka sudah berada di dalam mobil, yang baru saja di tukar, mengantarkan Sella pulang kembali ke Kaki Langit. Mobil yang tadi terkena cairan dari perut Sella, sudah dibawa ke bagian pembersihan kendaraan milik keluarga.


Saat itu, Flina menelpon dan Sella menerimanya. Ia mengabarkan tentang pertemuan dengan mantan suaminya kemarin. Sella kecewa karena ia tidak bisa ikut, ia terus saja mual dan muntah sepanjang hari.


“Maaf tidak menaajakmu,” ujar Flina di ujung telepon. “ Nak Rega bilang, kamu tidak enak badan.”

__ADS_1


Mendengar ibunya berkata seperti itu, Sella menoleh pada Alrega yang kembali duduk di sampingnya, dengan raut wajah cemberut. Ia kesal karena Alrega tidak mengatakan rencana itu padanya, tapi justru langsung mengatakan bila dirinya sakit. Ia sangat ingi mengikuti kepergian Flina untuk bertemu dengan suaminya. Namun, sekarang ia hanya bisa pasrah.


“Tidak, apa Bu. Lalu, apa yang ibu lakukan padanya?”


“Aku menamparnya.” Flinna menjawab dengan cepat dan terkesan bahwa ia sangat puas berhasil melakukan hal, yang seharusnya sudah ia lakukan sejak bertahun-tahun lalu.


Walaupun, apa yang sebenarnya dilakukan Flinna tidak sepadan dengan apa yang dilakukan laki-laki itu kepadanya, Flinna suang sudah meninggalkannya dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, tapi Flinna sudah cukup bahagia.


“Hanya itu?” Sella bertanya tanda tidak percaya.


“Iya.” Flinna mengangguk dan tersenyum dibalik telepon.


Ia puas karena kepergiannya untuk menemui Johan, sekaligus ia gunakan untuk pergi berjalan-jalan dengan kedua anaknya Runa dan Rezan. Menyenangkan.hati keduanya, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, tanpa kehadiran Sella.


Keperluan Flinna itu diurus secara baik-baik oleh Zen atas perintah Alrega. Setelah kedua belah pihak sepakat untuk bertemu di suatu tempat, tak jauh dari perkampungan kumuh tempat di mana Johan di buang seperti tawanan tak berarti.


Waktu itu Flinna berpikir bahwa ia akan marah atau mengomeli pria, yang dulu pernah dicintainya. Akan tetapi, setelah ia melihat keadaannya di tempat tinggal barunya yang sekarang, wanita itu merasa tidak perlu membalas dendam lagi. Semua sudah dilakukan dengan baik oleh menantunya, Alrega.


Keadaan Johan, ayah dari Sella sangat mengenaskan bahkan bisa dikatakan dia akan mati secara perlahan lahan. Sungguh itu balasan bagi siapapun yang mengganggu keluarga Haquel dan Leosan.


Mereka bertemu di tempat terbuka, di tempat yang agak kering, tapi terdapat banyak genangan air sisa hujan yang kotor dan menghitam. Sampah yang berserakan di mana-mana disertai aroma tidak sedap tercium di sekitarnya.


“Untuk apa kau datang menemuiku, apa kau masih kurang puas melihat keadaanku di sini?”


“Aku datang untuk ini.” Flinna berkata sambil mendekat, lalu ...


Plak!


Tamparan keras Flinna, mendarat beberapa kali di pipi lelaki, yang kini berpenampilan buruk itu. Ia bercambang, kurus, lusuh dan layu, juga tidak mampu melakukan perlawanan. Beberapa pengawal yang diutus Alrega, untuk mengikuti Flinna, sudah membuatnya tak berdaya. Setelah selesai melakukannya, ibu mertua Alrega itu, pergi begitu saja.


“Apa kau tidak akan memaafkan aku?!” Laki-laki itu berteriak, tapi Flinna tidak bergeming dan terus menjauh meninggalkannya.


Mendengar cerita itu dari ibunya, ternyata membuatnya kembali ceria. Ibu dan saudaranya, sudah lebih bahagia.


***


Zen melajukan kendaraannya ke arah rumah Lonisa. Ia tahu bila gadis itu masih sibuk dengan pekerjaan barunya. Ia ingin sekali mengajaknya bergabung dengan Art Design Grup dan Ia ingin menjadikan Lonisa, asisten pribadinya.


‘Aku gak salah, kan? Dia seharusnya mau kalau hanya menjadi asisten pribadiku'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2