Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 49. Tidur Bersama


__ADS_3

* jangan lupa like, rate dan vote ya, terimakasih atas dukungannya *


Di dalam ruang kerja.


Alrega duduk di kursi kerjanya, dengan bersandar, menumpuk kedua kakinya secara bersilang dan melipat kedua tangan didepan dada. Ia melihat Zen mengerjakan tugasnya. Zen tengah membuat copy-an baru dari flash disk yang tadi diberikan oleh Alrega kepadanya. Mereka menjaga kemungkinan seandainya flashdisk itu hilang, atau ada yang mencurinya maka mereka masih punya beberapa copy-an aslinya yang akan mereka simpan secara terpisah di tangan Rehandy dan kakek Haquel.


"Semua sudah siap Tuan," kata Zane sambil mengeluarkan flashdisk dari laptopnya Ia menyerahkan dua salinan kepada Alrega, setelah itu mematikan laptop dan menutupnya.


"Sudah kau lengkapi dengan rekaman suara?" tanya Alrega.


"Sudah. Tuan hanya perlu memeriksa ulang kalau mau," kata Zen sambil menyeruput kopinya.


Alrega menerima flashdisk itu sambil berkata, "apakah Deli mau menerima konsekuensinya?"


"Tidak, tuan. Ia belum menyerah. Apa anda mau saya mengurusnya?" jawab Zen


Alrega mendengus kecil sambil memasukkan dua flash disk ke dalam laci meja dan menguncinya.


"Jangan dulu," kata Alrega kemudian duduk di sofa sambil memainkan satu flash disk.


" Biarkan saja dia untuk hari ini, aku tidak ingin nenek bersedih."


'Memang sebaiknya biar nyonya besar melihat sendiri siapa Deli'


"Baik Tuan. Terserah anda saja," jawab Zen sambil menghabiskan kopi dicangkirnya, setelah menyimpan cangkir kopi ia bertanya, pada Alrega dan menatapnya dengan tatapan lucu,


"Kenapa tuan ke sini, apa Nona baik-baik saja? Pasti nona menangis,"


Alrega menatap Zen dengan seksama sambil menyunggingkan senyum di ujung bibirnya, lalu berkata, "Kenapa kau khawatir. Apa kau peduli padanya?"


"Maaf tuan," jawab Zen, "saya hanya peduli, karena anda juga peduli pada nona,"


'Kalau anda tidak perduli maka saya lebih tidak perduli'


"Dia terus menangis. Aku tidak tahan melihatnya," kata Alrega lagi sambil berdiri.


"Kalau begitu kembalilah ke kamar anda dan tenangkan perasaan nona. Tunjukkan bahwa anda perduli padanya,"


"Ck! apa harus seperti itu?" mereka diam.


Alrega mengepalkan kedua tangan menahan geram, ia benar-benar ingin Sella mengakui bahwa dia mencintai dirinya, tergantung sepenuhnya pada dirinya, hanya mengandalkannya, sehingga tidak ada celah baginya untuk bisa melarikan diri darinya.


"Tuan, menurut saya Nona tadi sangat cemburu,"


Mendengar ucapan Zen, Alrega menghela nafas, yang ia temui di kamar bukan sebuah kecemburuan melainkan kesedihan. Gadis itu terlihat sedih dan tak berdaya dimata Alrega sehingga ia berpikir untuk tetap mempertahankan caranya sendiri dan membuat gadis itu menurut padanya.


"Zen, sekarang pulanglah, kembalilah ke sini besok lebih pagi." kata Alrega sambil beranjak dan memasukkan benda kecil itu dalam saku celananya.


"Baik, tuan," kata Zen sambil membukakan pintu untuk Alrega.


Zen mengantar Alrega menuju tangga, laki-laki itu sama-sama melihat Sella yang berjalan keluar dari kamar Zania.


"Baiklah, saya permisi tuan," kata Zen sambil membungkukkan badan. Ia berbalik untuk pergi setelah melirik wajah Alrega yang berubah masam.


'Semoga tuan Rega tidak melakukan hal gabah hingga justru membuat nona semakin membencinya'


Sella terus bejalan pelan menuruni tangga dan Alrega berjalan menaiki tangga hingga sampai di depan pintu kamar mereka secara bersamaan. Alrega berhenti sejenak, menyelipkan tangannya ke dalam saku celananya, dan berteriak,


"Masuk!"


'Iya, ini juga mau. Kenapa marah? Dasar genit!'


Sella masuk lebih dahulu dan Alrega menyusulnya, lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia mendorong Sella sampai punggungnya menempel di pintu. Ia menggunakan kedua tangannya untuk memenjarakan Sella hingga ia tidak bisa pergi kemana-mana. Alreha menundukkan kepala hingga dekat ke wajah Sela, sedangkan Sela mendongak melihat wajah Alrega. mereka sama-sama saling mengunci tatapan mata.


"Apa kau berani melawan ku?" kata Alrega, begitu dekat hingga nafasnya menyapu di wajah Sella. Hidung Sella sudah dipenuhi aroma Alrega. Dan laki-laki itu juga merasakan aroma tubuh Sella ketika ia berada sedekat ini dengannya.


Entah kekuatan apa yang dimiliki Alrega, ketika ia sudah mulai tergoda dengan kecantikan Sella maka saat itu juga tubuhnya bisa menahan hasratnya sekuat tenaga , kesadaran dalam otaknya lebih tinggi daripada nafsunya yang menuntunnya untuk tetap sabar hingga gadis ini benar-benar bisa ditaklukkan dan mwnyerahkan dirinya sendiri pada Alrega.


"Maaf.." Kata Sella dengan suara gemetar karena takut. Ia mencoba membungkuk untuk melepaskan diri dari kungkungan tangan Alrega tapi secepat itu juga Alrega menurunkan kedua tangannya sehingga usaha Sellla untuk kabur, sia-sia.

__ADS_1


"Apa kau tidak mendengarku? Keluyuran!" kata Alrega sambil menaikkan dagunya.


"Maaf..."


Sepertinya hanya itu yang bisa Sella katakan sebab menurutnya apapun alasannya, Alrega tidak akan mau mengerti.


"Ibu terus menangis aku kasihan padanya jadi aku pergi untuk menenangkannya," kata Sella, ia mencoba membela diri.


"Lalu bagaimana dengan ku apa kau tidak kasihan padaku?" tanya Alrega sambil mengangkat kedua alisnya.


'Kau tidak perlu dikasihani, kau sudah memiliki segalanya bahkan bisa memenuhi segala yang kau inginkan hanya dengan mengatakannya saja. Jadi untuk apa aku mengasihani mu?'


"Apa yang bisa saya lakukan untuk tuan?"


"Menurutmu, aku ingin apa, ha?!"


'Mana kutahu, siaal... !dia tidak menginginkan hal itu kan?'


"Tuan belum makan malam. Apa anda mau saya menyiapkan nya untuk anda?"


Alrega enggan makan malam karena ada Delisa di meja makan itu.


"Aku tidak lapar..." jawab Alrega malas, ia melepaskan kungkungan tangannya dari Sella. Ia kecewa karena Sella tidak mengerti apa yang diinginkan Alrega sebagai laki-laki dan suaminya. Ahk, Sella..


Ia tahu bahwa Sella sebenarnya berbohong, gadis itu sengaja menghindari dirinya karena takut. Sella tahu apa yang diinginkan Alrega sebagai laki-laki tapi Sella tidak memenuhi apa yang ia diinginkan.


Yang satu tidak meminta karena egois, yang satu tidak memberi karena takut.


Sella merasa bahwa Alrega sudah sangat baik dalam memperlakukan dirinya sebagai terhukum. Kadang-kadang juga ia tersanjung dengan sikap dan kebaikan Alrega. Hanya saja ia menjaga hatinya agar tidak jatuh cinta kepada ada suaminya. Ia khawatir apabila Ia sudah mencintai Alrega pada saat itu juga ia akan dihempaskan ke dalam lubang siksaan yang sesungguhnya dan mematahkan hatinya.


"Aku percaya padamu!" kata Alrega kemudian, ketika ia melihat Sella hendak mengambil bantal dan selimut.


"Apa yang tuan percayai?" Sella menoleh pada Alrega dengan dahi berkerut.


Alrega mendekati Sella, mencubit dagunya dan "Jangan bilang kau lupa!" katanya sambil menggoyangkan dagu secara perlahan.


Sella meletakkan bantal dan selimut begitu saja di lantai dan kini kedua tangannya ia lingkarkan di leher Alrega sambil berkata, "terimakasih".


Sejenak saja Sella melakukannya, ia tidak mau terlalu lama memeluk Alrega sehingga laki-laki itu akan berbuat lebih selain memeluk dirinya. Sella segera mengambil selimut dan bantal lalu menyusunnya di sofa dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Melihat tingkah laku Sella, Alrega menahan tawa sekuat tenaga.


Kemudian ia berjalan ke tempat tidur duduk sebentar mengambil nafas dan kembali berteriak, "aku percaya padamu!" sambil menahan tawa.


Seketika Sella bangkit menyibakkan selimutnya, berjalan dengan cepat kearah Alrega dan melingkarkan kedua tangan di leher Alrega sambil berkata, "terima kasih," setelah itu kembali ke tempat tidurnya di sofa.


"Hei! Apa kau sudah tidur?" Alrega kembali berteriak setelah beberapa lama, sambil berdiri di dekat tempat tidur. Ia berkata lagi,


"Aku bilang, aku percaya padamu!"


Sella memang belum tidur tapi ia ingin tidur! Karena teriakan Alrega, membuatnya kembali menyibakkan selimut dan menghampiri Alrega. Melakukan apa yang tadi ia lakukan, memeluk Alrega sambil berkata, "terimakasih," dan kembali ke tempatnya semula.


Alrega semakin tidak bisa menahan tawanya hingga ia memegangi perut dan mulutnya. Sungguh ia sudah lama tidak tertawa seperti ini, tertawa demikian keras hanya dikarenakan tingkah Sella yang dirasanya lucu. Mungkin hanya Sella yang sudah berhasil membuat Alrega tertawa sampai wajahnya memerah.


'Kau menertawakan aku? kau puas sekali rupanya mengerjaiku'


Seandainya Zen, kakek Haquel atau Rehandy tahu, mungkin mereka akan pingsan saat itu juga.


Alrega melakukannya hingga berulang-ulang sampai akhirnya Sella kelekahan. Ketika Alrega mengatakan, "Aku percaya padamu!" untuk terakhir kali, jam dinding menunjukkan waktu hampir tengah malam.


Sella mengeratkan pelukannya kemudian ya berkata, "Sayang, terimakasih ya.. sudah percaya padaku tapi aku sudah lelah, tolong berhentilah, kumohon, biarkan aku tidur ya, ya?" Kata Sella sambil mencium pipi Alrega kanan dan kiri secara bergantian.


Tapi justru sikap Sella yang seperti ini sangat menggemaskan bagi Alrega, hingga ia membalas dengan mencium pipi dan seluruh wajah Sella berulang kali dan berakhir di bibirnya. Ia mecium bibir itu sambil membopong tubuh Sella untuk dibawa ke tempat tidur, ia mencium Sella hingga beberapa saat lamanya dengan ciuman yang begitu dalam.


Sella sudah lelah, berulang kali mondar-mandir antara kursi dan tempat tidur hingga iapun pasrah, tidak membalas ataupun menolak ciuman indah pria itu. Sella nampak kehabisan nafas, Alrega menghentikan ciumannya dan berkata, "tidurlah di sini bersamaku. jangan tidur di sofa lagi."


Jari-jari ramping Alrega mengusap pipi Sella dengan lembut, menyibakkan anak rambutnya dan diselipkan di belakang telinga. Karena sudah lelah Sella mengangguk sambil memejamkan matanya, Ia sudah tertidur.


Alega menatap Sella dengan lembut, tiba-tiba hasratnya memuncak ia menjadi berminat melihat Sella yang tidur dengan tenang di sisinya. Nafas yang teratur terlihat dari dadanya yang naik turun tanda ia benar-benar nyenyak. ia dengan perlahan membuka piyama yang dikenakan Sella, menyibakkan pakaian Sella dengan hati-hati agar perempuan itu tidak terbangun. Ia teringat dari CCTV yang ia lihat, Sella dipukul cukup keras oleh ibunya.


Setelah sebagian pakaian Sella terbuka, ia melihat ada beberapa memar yang ada di punggung dan pundaknya, ia meraba bagian-bagian yang terlihat memar, seketika hasratnya menghilang, kedua tangannya terkepal.

__ADS_1


Ia tidak tahu harus marah pada siapa, ia hanya bergumam, "Dasar bodoh" sambil memejamkan mata dan menyelimuti Sella. Tak lama iapun tertidur juga.


***


Ketika Sella terbangun di Pagi harinya, ia mendapati dirinya tidur bersama dengan Alrega. Dalam satu tempat tidur dan satu selimut. Ini sudah terjadi untuk kesekian kalinya Ia tidur bersama. Ia juga melihat kembali laki-laki itu tengah memeluknya. Ia melihat ada celah untuk bisa melepaskan pelukan Alrega, ia menyingkirkan tangan dan kaki Alrrga yang menindihnya secara perlahan, menyibakkan selimut kemudian segera meninggalkan tempat tidur untuk membersihkan diri.


Saat ia di kamar mandi, ia melihat piyama nya yang sudah sudah terbuka beberapa kancing bajunya terlepas. Sella mengerutkan alis, berpikir yang buruk pada dirinya.


'Oh tidak.. apa yang sudah dilakukan padaku?'


Tapi setelah melihat keadaan dirinya tidak ada yang berubah dan hanya beberapa kancing bajunya saja yang terbuka, Sela pun bernapas lega. Ia melanjutkan untuk membersihkan diri, berganti pakaian dan segera menemui Zania di kamarnya. Saat melintasi tangga, ia melihat ruang di lantai dasar masih sepi, hanya beberapa pelayan saja yang melakukan tugas mereka masing-masing.


Sella melihat Zania yang masih tertidur di kamarnya, lalu ia kembali ke kamarnya sendiri untuk menyiapkan air mandi Alrega seperti biasanya.


Ia melihat gelas dan botolnya diatas meja kecil di samping tempat tidur, di meja yang sama tempat meletakkan telepon. Angguritu tidak pernah disentuh lagi sejak kejadian waktu itu. Sella tersenyum dan menyingkirkan anggur Itu dari sana.


'Ahk, syukurlah tuan tidak minum lagi saat bangun tidur'


Tapi baru saja ia jendak membawa anggur itu pergi, Alrega terbangun dan berkata, "Kemari kau."


"Baik," kata Sella sambil berbalik dan dia kembali meletakkan anggur di tempat semula.


"Apa anda mau minum anggur ini tuan?" kata Sella lagi.


"Siapa yang kau panggil tuan?! Apa kau pelayan di rumah ini?! kalau kau mengakui dirimu sebagai pelayan maka panggil Delisa kemari, biarkan dia melayaniku dan kau harus melihat aku minum anggur bersamanya. Apa kau mau?"


'Kau menyebalkaan...!'


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak mau, ku tidak mau, biarkan aku yang menemanimu minum, yaa?"


"Kau bilang kalau kau tidak minum, kan?"


'Iya, aku tidak tahu gimana caranya minum anggur.'


"Aku sudah pernah belajar. Ayo!" kata Sella menuangkan satu gelas penuh.


"Kau dulu yang minum," kata Alrega.


Ia sudah sangat gemas dengan Sella. Apalagi saat melihat Sella menurutinya, meminum anggur yang ia tuangkan sendiri. Tanpa sadar, Sella menamppakkan ekspresi lucu menahan rasa tidak enak di tenggorokannya. Sella menyudahi aksinya, hingga awa Alrega hampir saja meledak. Alrega tidak tega melihat Sella kepahitan dilidahnya.


'Inii tidak enak'


Alrega mengambil gelas anggur dari tangan Sella, meletakkannya secara perlahan di atas meja dan meraih pinggang Sella hingga mendekat ke tubuhnya, kini tubuh mereka saling menempel kemudian Alrega mengulurkan tangannya untuk mengusap bibir Sella dengan ibu jarinya. Bibirnya yang basah karena ada sisa anggur itu menggoda Alrega hingga ia menjilat bibir Sella.


'Eh, apa yang dia lakukan? Ini jorok!'


"Aku minum anggur dari bibirmu saja."


Melihat Sella semakin mengerutkan dahi, semakin Alrega gemas dibuatnya hingga ia kembali berkata, "Aku percaya padamu. Aku tahu kau tidak bersalah.." sambil memeluk erat Sella, menyusuri wajah dan lehernya dengan kecupan-kecupan kecil hingga meninggalkan warna merah.


"Kalau anda tahu aku tidak bersalah, Kenapa menghukumku?" tanya Sella disela-sela ciuman Alrega. Sepertinya Sella sudah hampir terbiasa.


'Hanya dengan ini aku bisa memaksamu' Alrega menghentikan ciuman, membasahi bibirnya sendiri, lalu berkata, "Karena aku juga baru tahu setelah kau bilang begitu,"


"Oh,"


"Siapkan air mandiku"


"Sudah,"


"Tunggu di sini. Jangan pergi kemanapun!"


Alrega membersihkan diri dan dengan cepat memakai pakaian lengkapnya seperti biasa. Ia memiliki janji dengan pemilik Daville yang berjanji akan bertemu dengan Alrega di salah satu restoran mewah di Jinse.


Setelah selesai, Alrega menuruni tangga dengan menggandeng tangan Sella. Semua mata yang sudah duduk di meja makan, memandang mereka dengan tatapan mata tak percaya. Apalagi ketika Sella sudah duduk di sana, Delisa dan Yorin hampir mengeluarkan bola mata mereka demi melihat beberapa tanda merah yang cukup jelas di lehar Sella.


Sella merasa heran dengan tatapan mata dua wanita yang ada dihadapannya.


'Apa ada yang salah denganku?'

__ADS_1


__ADS_2