Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 141. Gendut


__ADS_3

Setelah berkata seperti itu, Sella berdiri hendak ke kamar mandi dan Alrega menghampirinya sambil membawa bantal kursi. Pria itu mengangkat baju tidur Sella sampai ke dada dan menyimpan bantal di atas perut lalu menurunkan roknya kembali.


‘Apa maksudnya, coba?’ batin Sella.


Alrega tertawa melihat penampilan Sella kini, lalu berkata, “seperti ini kalau perutmu sudah besar nanti.”


“Iya, itu artinya aku gendut, Sayang?”


“Tidak apa, kau pasti lucu sekali.” Alrega kembali tertawa, melepas bantal dan memeluk Sella dengan erat.


“Benarkah, tidak masalah bagimu kalau aku gendut?”


Alrega mengendurkan pelukan sambil menunduk melihat wajah Sella yang menengadah kadanya. Lalu menggelengkan kepalanya.


“Kau takut gendut, ya?” tanyanya, dengan raut wajah lucu.


‘Bukan, aku hanya takut kau tidak mencintaiku kalau aku gendut’ Sella tidak berani mengatakannya, ia hanya bicara dengan hatinya.


“Jadi, kau tidak mau makan karena kau takut gendut?” Alrega menduga seperti itu karena ia tadi harus memaksa Sella memakan sarapannya.


“Bukan ... bukan begitu.” Sella menyela, sambil menggelengkan kepalanya.


“Lalu ...?” Alrega tidak puas, dengan jawaban istrinya yang ia anggap tidak jujur dan terlalu mengkhawatirkannya.


“Akh, lupakan, yang penting aku tidak makan bukan karena aku takut gendut. Oke?”


Alrega diam dan hanya menciumi seluruh wajah istrinya, tanpa tertinggal satu bagian pun. Sella menikmati ciuman Alrega.


Ia merasa merindukan sikap manis Alrega padanya karena beberapa hari terakhir mereka tidak bermesraan. Akan tetapi, Sella melihat laki-laki itu sudah berpakaian rapi. Lalu ia pun mendorong dengan lembut sambil berkata, “sudah, apa kau tidak mau bekerja?”


Sebenarnya itulah keinginan Alrega sekarang, ia enggan bekerja dan ingin terus berada di sisi Sella.


“Tentu,” sahut Alrega semangat sambil melepaskan jas, lalu dasinya.


‘Hais. Apa yang mau dia lakukan, si?’


“Aku bertanya, apa kau tidak bekerja, kenapa kau melepaskan bajumu?”


“Aku mengabulkan apa yang kau inginkan,” kata Alrega kini sudah menyelesaikan membuka kancing kemejanya.


‘Memangnya apa yang aku inginkan?’


“Bukannya kau mau bekerja?” tanya Sella yang menjadi salah tingkah dan tidak mampu lagi menolak pesona dari dorongan minat ketertarikan antara laki-laki dan perempuan ini.


“Aku di sini juga kerja. Kau tahu, aku akan memberi kejutan istimewa untukmu.” Ketika Alrega berkata, ia sudah membawa Sella berbaring di tempat tidurnya. Lalu melakukan sesuatu yang ia inginkan.


“Tidak perlu.”

__ADS_1


Percakapan antara Alrega dan Sella itu sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Setiap kali Alrega mengatakan ingin memberi kejutan pada Sella, wanita itu selalu berkata, “tidak perlu.”


Walaupun kesal dengan penolakan Sella, Alrega mengabaikan perasaan dirinya sendiri dan bersikap seperti biasanya. Dia mulai memahami beberapa hal dan meninggalkan beberapa hal, sejak dia mengetahui kehamilan Sella. Pria itu semakin mencintainya dan ingin memberikan segalanya agar wanitanya bahagia.


Hari ini dia tersenyum puas melihat hasil akhir dan persiapan Daville yang sudah berganti nama menjadi AlSalra seperti usulan Sella beberapa hari yang lalu. Kini papan nama, baliho, spanduk dan puncak gedung, sudah terpahat nama itu. Sebuah nama gabungan antara namanya dan Sella.


Persiapan peresmiannya sudah siap hampir seratus persen. Hanya makanan dan meja-meja untuk aneka suvenir yang akan dipasanga keesokan harinya.


“Tuan, apa Anda akan mengundang Hanza?” Zen bertanya sambil mendongak ke puncak gedung, di mana pahatan nama gedung terpahat indah dengan marmer warna emas dan biru tua.


Terbentang di tengah gedung, bendera negara dan bendera logo perusahaan Alsera. Perusahaan baru yang murni di dirikan oleh Alreaga. Perusahaan mandiri yang bukan bagian atau anak cabang dari Leosan maupun Haquel juga lepas dari ADG. Itu miliknya dan Sella.


“Dimana dia sekarang?” Alrega menjawab tanpa menoleh, ia melihat ke arah pekerja yang menyususn beberapa bunga dalam pot-pot besar di berbagai sisi jalan dan gedung. “Apa dia ada di Jinshe?”


“Tidak, dia di Moishen.”


“Kenapa aku harus mengundangnya kalau dia ada di sana?” Alrega berkata sambil menoleh pada Zen dan mengambil ponselnya yang berdering. “Lihat ... apa kau bermimpi bagus tadi malam, Zen?” Mendengar pertanyaan Alrega, Zen mengerutkan alisnya. “Dia meneleponku.”


‘Apakah itu Hanza, maksudnya?’


“Ada apa kau meneleponku?” tanya Alrega begitu telepon tersambung.


“Kau sudah mengganti namanya? Kenapa?” tanya sebuah suara dari ujung telepon.


“Apa urusanmu?”


Mereka semua diam sejenak, termasuk orang yang dibalik telepon.


Terdengar suara tawa di telepon. “Apa Sella yang mengusulkan nama itu? Aku mengira, iya. Itu pasti dia!”


Percakapan menjadi hanya antara dua orang.


“Kau tidak perlu tahu. Sedetil itu,” kata Alrega.


“Kau tidak mengundangku? Anggap saja aku mewakili Delisa agar kau puas tertawa karena kau berhasil membalasnya.”


“Boleh juga, datanglah besok.”


“Besok? Itu juga hari ulang tahun Sella, kan?”


Alrega mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya. Dia tidak menduga bila Hanza sudah mengenal Sella begitu dalam. Bahkan hari ulang tahunnya pun dia ingat.


Alrega merasa sakit di ulu hati yang menjalar sampai ke ubun-ubun dan tangannya, sakit seperti dihujani ribuan jarum saja. Ia cemburu. Tidak ingin ada pria lain yang tahu tentang Sella, tidak boleh ... karena wanita itu miliknya. Sella kekasihnya, dialah satu-satunya wanita yang akan dijaga seumur hidupnya.


“Apa kau sudah selesai bicara?!”


Kembali suara tawa yang menjengkelkan dan Hanza, orang yang bicara di balik telepon itu, ketika Alrega kembali berkata, “kupikir kau gila. Jadi kau tidak perlu datang,”

__ADS_1


“Apa kau marah? Ahk ... aku senang sekali menertawakanmu.”


“Kau pikir sudah berhasil membuatku marah, karena itu kau tertawa?” Alrega kini tertawa keras. “Tapi yang kupikirkan, kau sepertinya menertawakan dirumu sendiri.” Alrega bicara setelah beberapa jenak diam, lalu menutup ponselnya.


“Zen, jangan sampai Hanza masuk ke acaraku besok, penggal saja lehernya kalau dia datang!”


“Baik, Tuan.”


***


Lonisa melihat gaun warna ungu dengan taburan Payet dan berlian yang dihancurkan di sisi bawahnya, di bawa oleh Zen malam itu, di teras rumahnya. Dia menerimanya dari tangan Zen, sambil berkata dengan heran.


“Untuj apa gaun seperti ini? Tidak cocok untukku.”


Kehidupannya yang sekarang jauh berbeda dengan dirinya yang dulu, hingga ia merasa tidak pantas memakainya. Lagipula gaun seperti itu biasanya hanya dipakai untuk acara tertentu dan tampakny gaun itu termasuk rancangan desainer mahal dan ... berlebihan!


Zen melangkah dan duduk di teras sambil melihat layar ponselnya, lalu menyahut ucapan Lonisa dengan tenang.


“Itu untuk acara pembukaan gedung nona muda besok.”


“Sella, maksudmu? Dia punya gedung?”


“Iya, itu hadiah dari Tuan Muda.”


“Hadiah ulang tahun? Wow!”


“Kenapa, apa kau mau punya gedung juga? Aku bisa membuatkan satu untukmu.”


Mendengar Zen berbicara seperti itu, Lonisa tersenyum kecil seperti menertawakan dirinya sendiri. Ia berpikir mustahil, jika ada orang yang dengan mudahnya membuat satu gedung, lalu memberikannya sebagai hadiah, bagi seseorang.


“Aku? Jangan berlebihan. Itu tidak perlu.”


“Kenapa tidak?”


“Aku hanya merasa bahwa tidak pantas saja bila aku mendapatkan hal seperti itu.” Sella memandang Zen lembut. Lalu berjalan memasuki kamarnya sambil mencobanya di badannya.


‘Dari mana dia tahu ukuran bajuku? Kok pas sekali'


Setelah menyimpan gaun itu dengan hati-hati, ia keluar kamar setelah menutup pintunya kembali. Ia tahu, pakaian seperti itu tidak murah. Ia tidak bisa membayangkan bila ia terus bersikap ketus pada Zen, seperti beberapa waktu lalu, pasti ia tidak akan mendapatkan semua kebaikan dan perhatiannya yang dia rasakan sekarang ini.


“Kapan acaranya? Kupikir tidak perlu ikut.”


“Apa aku salah mengira? Aku kira kau akan senang menghadiri pesta perayaan temanmu. Jadi, kau harus ikut dan berikan banyak do’a kebaikan untuknya.” Zen berkata sambil melihat Lonisa, dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Lonisa merasa tidak perlu tahu soal alasan Zen mengundang dan mengajak untuk datang ke pesta Sella. Selain tidak perlu, ia akan sangat risi dengan Sella sebagai rekan yang dulu pernah dibulli. Namun karena Zen sudah membelikan gaun yang sangat indah, membuatnya tidak akan menyiakan kesempatan langka ini.


‘Memiliki sebuah gedung di hari kelahiran, itu sangat mengesankan’

__ADS_1


Lonisa duduk berdampingan dengan Zen, saat pria itu menceritakan bagaimana Sella bisa memiliki gedung Alsalra sebagai hadiah dari Alrega.


Bersambung


__ADS_2