
Pembukaan sebuah Mall besar, biasanya akan didatangi oleh artis ibukota yang sangat terkenal. Sella ingat ketika ia masih sekolah, ia pernah menghadiri acara seperti itu bersama teman-temannya. Saat sebelum ada beban yang berat di pundaknya, yang memaksanya harus bekerja keras untuk bisa bertahan hidup bersama keluarganya.
Ia dan teman-temannya datang bukan karena pembukaan mall, tetapi karena ada artis idola yang ikut menjadi bintang tamu dan memeriahkan acara itu.
Seperti itulah kebanyakan anak remaja seusianya. Mereka merasa pantas melakukannya, tanpa merasa bersalah sedikitpun pada kedua orang tuanya, yang telah bekerja keras untuk membiayai pendidikannya. Bahkan saat itu Sella memiliki beberapa poster idola dan membawanya untuk mendapatkan tanda tangan!
Tapi semua itu sudah berlalu cukup lama, sebelum ia menghadapi masalah dengan ayahnya dan harus mengurus ibunya. Karena sejak saat itu, Sella tidak lagi mempedulikan hal-hal yang menurutnya mewah. Jangankan untuk pergi ke mall besar Kota, untuk membungkam mulut orang-orang, yang membicarakan ibunya saja, ia sudah tidak sanggup.
Para pendengki, dan orang jahat, hanya memerlukan dua bibir untuknya membuat kabar yang buruk, sedangkan orang yang ditimpa masalah membutuhkan banyak tenaga untuk menyangkalnya.
Hingga kemudian Sela tidak lagi memikirkan hal seperti pembukaan mall, jumpa selebritas tampan, atau bersedih saat mendengar orang bergunjing. Karena apabila ia terus saja memikirkan semua itu dan ingin dinilai dengan kesan yang bagus di mata orang, maka ia tidak akan sempat untuk mencari makan. Atau mungkin ia sudah mati menggantung dirinya sendiri di kamar.
"Lihat, bu. Lihat, kek. Ini voucher belanja yang banyak!" Kata Yorin penuh semangat.
Ia menunjukkan voucher pembukaan mall besar kota. Mall baru yang biasanya banyak membawa diskon, serta promo produk untuk menarik minat para pembeli, dan juga mempromosikan tempat itu. Sella melihat beberapa voucher yang ada di tangan Yorin..
Bagaimana mungkin mereka memberikan voucher sebanyak itu hanya untuk satu orang? Menanggapi kata-kata Yorin, Sella hanya mengendikkan bahu, sambil menggigit, bibirnya apa yang tidak mungkin bagi orang seperti dia
'Hei, Bukankah kalian itu sudah memiliki segalanya? Lalu, apakah kalian masih membutuhkan voucher-voucher itu juga? Rejan dan Runa, akan sangat senang mendapatkan voucher itu kalau mereka ingin berbelanja, haha'
Ahk, itu hubungan yang bertambah rindu, sudah lama sekali ia tidak menggoda adik-adiknya itu, bagaimana kabar mereka, selama ini mereka hanya berkomunikasi melalui ponsel dan chatting saja.
Kakek Mett menatap lembaran voucher, yang ada di tangan Yorin, sambil menghela nafas.
Ia berkata, "Pergilah. tapi jangan ajak ibumu, kalau kau tidak ingin menanggung resiko, menghancurkan mall dan merugikan ku."
'Apa, apa maksudnya merugikanku, apa Mall itu juga milik mereka? Ahh yang benar saja!'
Yorin cemberut, tentu yang ada di pikirannya adalah, berbelanja dan berbelanja. Apalagi menghadapi hari ulang tahunnya, tentu akan sangat banyak keinginan, walaupun ia sudah memiliki segalanya di rumah.
Harta memang tidak pernah memuaskan bukan, bahkan mungkin kalau seseorang akan mati, dan dia mampu membawa harta miliknya, maka akan ia bawa dalam kematiannya.
"Mungkin, idak masalah kakek, aku akan bersama ibu," sahut Sella. Ia mengerti keinginan Yorin yang ingin berbahagia dengan ibunya setelah sekian lama.
Sella melihat pada Yorin dan berkata, "sampai kapan, batas waktu voucher belanjamu?"
Mendengar pertanyaan Sela ini Yorin menatapnya dengan mata yang bersinar lalu menjawab dengan antusias, "masih ada waktu kakak ipar Sese, waktu voucher ini, untuk satu pekan kedepan."
"Oh, itu bagus. Kita bisa bersiap-siap besok lusa."
"Ahh, kak Sese. Aku mencintaimu. Kau tahu Kakak, kalau kita datang di hari pertama dan hari ketiga kita akan bertemu dengan Devan Mark Jo dan Won Bin. Bukankah itu bagus? Mereka selebritas yang paling digemari tahun ini, mereka bintang Film layar lebar musim semi."
"Aku tidak tahu film seperti itu. Aku sudah tidak pernah lagi menonton televisi sejak aku sudah sibuk bekerja." Dia benar-benar tidak punya waktu luang! Kalaupun ada, maka akan ia gunakan untuk berbincang-bincang dengan Flinna.
"Kakak, kurasa hidupmu sangat membosankan." Yorin berkata sambil beranjak pergi setelah memeluk Zania.
'Iya, apa boleh buat? Kehidupanku yang dulu, menurutmu sangat membosankan, lalu apa istilahnya untuk hidupku saat ini, mengerikan, atau menakutkan? Jadi mana yang lebih buruk dari itu, tidak ada kan ... ? Ya sudah, sama saja'
Zania dan Si Tua Mett masih terus memanfaatkan waktu dengan berbincang-bincang. Sella yang lebih banyak berbincang-bincang, diantara mereka, karena ia harus terus menerus mengulang perkataan dengan tegas, dan kalimat yang benar, kepada Zania, barulah ia meresponnya.
Dari sinilah kakek Met tahu, bagaimana cara Sella berinteraksi dengan Zania, dan ia tahu bahwa dengan kasih sayang, dan selalu penuh kesabaran yang membuat anaknya Zania, bisa kembali normal, dan ia mengharapkan kesehatannya, akan terus membaik dari hari ke hari.
Obrolan mereka terhenti, ketika sudah waktunya Zania makan dan minum obat. Karena setelah makan dan minum, Zania biasanya akan tertidur nyenyak. Wallaupun tidak ada lagi obat penenang, dalam beberapa resep yang diberikan oleh dokter, tetap saja Ia membutuhkan istirahat yang cukup. Karena kelelahan jiwa, biasanya akan lebih besar, akibatnya dari lelahnya raga yang bekerja keras seharian, tanpa jeda.
***
Hari sudah melewati waktu siangnya, saat Alrega pergi ke salah satu restoran, di mana kakeknya menunggu. Alrega menemui laki-laki itu di salah satu ruang privat, yang kosong tanpa menghidangkan makanan sedikitpun. Saat ia masuk, laki-laki itu tengah duduk sambil bersandar dan menumpuk kedua kakinya.
Mungkin gaya seperti ini adalah gaya semua pria dikalangan mereka, mereka selalu memperlihatkan gaya yang sama seperti itu. Berdiri dengan tegak sambil melipat tangan di depan perut, atau berdiri tegak dengan menyelipkan kedua tangan di saku celananya, atau duduk bersandar dengan menumpuk kedua kaki secara bersilang, sedangkan tatapan mata tajam atau dingin yang menyebarkan aura membekukan disekitarnya.
"Ada apa ini kek?" Alrega bertanya, setelah duduk dihadapan kakeknya dengan gaya yang sama, seolah-olah diantara mereka sedang berperang, sebenarnya gaya siapa yang paling elegan. Huh!
"Katakan padaku, sebenarnya siapa yang lebih bodoh, orang yang sudah meninggalkanmu, atau orang yang telah menipumu?" Kakek bertanya sambil mengusap pegangan kursinya.
"Apa maksud kakek ... dua-duanya. Tidak ada yang lebih bodoh." Alrega menjawab sambil berpikir kemana arah pembicaraan kakeknya, yang mendadak ingin menemuinya di sore hari itu.
Panggilan laki-laki seperti ini, mana bisa ia abaikan. Laki-laki yang sudah mendidiknya dengan keras, sehingga seolah ia menjadi fotokopi dirinya sendiri.
Mett menyeringai mendengar ucapan cucunya, dan ia menyahut, "tapi nyatanya, kau sudah menikahi salah satunya, sekarang."
__ADS_1
"Siapa maksud kakek, istriku?"
'Ahh, kakek tahu dia tidak bodoh'
"Ya, aku tidak pernah bilang dia bodoh, kau sendiri yang mengatakannya," kata Mett menebak pikiran Alrega.
'Ahh, sial, pasti wanita bodoh itu yang mengadukanku mengatakannya bodoh. Ayolah, aku tidak serius'
"Kakek _ _" terputus.
"Kau ... Bahkan sekarang pun, mengumpatnya bodoh?" Tanya kakek dengan tersenyum miring.
Alrega tertawa keras mendengar kakeknya menebak isi pikirannya dengan tepat. Haha.
Ck! Sangat jelas!
"Aku masih mempunyai batas toleransi. Kalau suatu saat, aku bertemu dengannya lagi dan kau masih mengatakan dia bodoh, maka aku benar-benar akan mencabut seluruh harta wasiatku dan akan aku berikan pada Sese!"
'Daebak. Sese! Kau hampir mengalahkanku. Mungkin aku sudah sangat menguntungkan mu! Lihat, dia ... Memanggilnya seperti itu'
"Kakek jangan bercanda, warisanmu tidak akan bisa dikelola oleh wanita seperti dia."
"Lalu, apa menurutmu aku harus diam saja, saat ada laki-laki mengumpat bodoh, pada perempuan yang sudah menyayangi anakku?"
Saat kakek berbicara demikian, Alrega merubah posisi duduknya, menegakkan punggung dan menopang kedua siku diatas pahanya yang kini terbuka.
Ia pun berkata, "maaf ... Kakek, aku tidak akan mengulanginya."
"Cintailah dia seperti kau mencintai hidupmu, jangan kau sia-siakan dia, kalau kau tidak ingin aku membunuhnya saat ini juga!" Sahut Mett tegas.
Seketika mata Alrega membeliak lebar. Ia tahu bahwa laki-laki ini serius, dan tidak pernah bercanda dengan apa yang dia ucapkan. Tapi membunuh Sela? Ahh yang benar saja!
'Hais, jelas-jelas dia katakan bahwa dia sudah menyembuhkan ibu, kau pikir, aku akan mempercayaimu kali ini?'
Alrega tersenyum tipis, ia mengambil kesimpulan sendiri bahwa sebenarnya kakeknya ini tengah mengujinya.
'Baiklah aku terima tantangan ini'
"Bawa dia ke rumahku, dilain waktu."
"Hmm, lalu itu saja?"
"Menginap dan bermain catur bersamanya di depanku," kata Mett datar.
Sekali lagi Alrega tertawa. Namun sebelum tawanya reda, kakek kembali berkata.
"Hei bodoh, kau sudah menunjukkan bahwa kau sendiri bodoh. Aku hanya memintamu bermain catur dengannya, dan kau sudah tertawa sesenang itu?" Tanya kakek.
"Haha. Kakek, tantanganmu lucu, aku pasti akan mengalahkannya."
'Lihat saja nanti'
'Sebenarnya aku hanya ingin melihatmu bahagia, bisa dengan puas mengalahkannya. Dan dia akan menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Ia menganggap kekalahan itu menyenangkan, asal bisa membuat orang yang mengalahkannya, bahagia. Dia punya kepribadian unik, dan kuharap kau akan lebih mencintainya. Tidak lagi mengatasnamakan dendam, dalam menjalani sisa hidupmu dengannya'
"Aku pulang sekarang, dan kau harus membuktikannya, aku tunggu secepatnya di rumah."
"Baik, tapi apa hadiah yang akan aku dapatkan?"
"Hadiah untuk apa?"
"Kalau aku menang melawannya."
"Tidak ada. Hadiahmu cukup kemenanganmu, dan kau mendapatkan seluruh sahammu kembali."
Met pergi meninggalkan Alrega yang bersungut-sungut. Untuk sementara ia hanya diam sambil mengetuk-ngetukkan jari tangan di atas meja. Hanya laki-laki itu yang bisa membuat Alrega seperti semut kecil yang dimainkan di permukaan telapak tangan. Bahkan di hadapan Alrega, kakek seperti dewa Thor, pemilik palu raksasa Milmeur yang dipercaya menjadi pengendali petir oleh penduduk Scandanavia, dari legenda Eropa kuno.
Alrega keluar dari ruangan itu, setelah ia memiliki sebuah rencana. Setelah kembali dari restoran, ia meminta Zen membawa beberapa dokumen pulang ke rumah. Dua laki-laki itu tidak ke kantor, melainkan langsung menuju ke kaki langit. Saat tiba di rumah, hari sudah hampir gelap.
Sella menyambut kepulangan Alrega seperti biasanya. Ia mendapati wajah Alrega yang masam, dan tidak langsung ke kamarnya. Akhir-akhir ini Alrega selalu pulang tepat waktu dan ia akan langsung ke kamarnya untuk bermesraan dengan Sella. Jarang ia lembur, kecuali ada masalah yang benar-benar serius yang membutuhkannya untuk menanganinya. tapi kali ini, langsung menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kau, ikut aku sekarang," kata Alrega sambil menjentikkan jari telunjuknya meminta Sella untuk mengikutinya masuk ke kamar kerja
Hei apa yang bisa aku lakukan di sana Aku tidak tahu apa-apa tentang pekerjaanmu. atau jangan-jangan dia mau mengerjai ku? ya Tuhan apalagi kali ini? Kau benar-benar...!
Mereka bertiga masuk ke ruang kerja secara beriringan, yang terakhir mengikuti mereka adalah pak Sim. Laki-laki itu membawa minuman kaleng bersoda yang dingin. Pak Sim kembali keluar setelah meletakkan minuman itu di atas meja dan menutup pintunya.
"Duduk!" Alrega berkata memberi perintah pada Sella, sambil ia juga duduk di kursi kerjanya.
Alrega and Zen berbincang mengenai perusahaan, yang tidak Sheila mengerti. Tetapi ia tetap duduk disana, dengan tenang menunggu perintah selanjutnya sambil mengamati interaksi 2 laki-laki yang ada di depannya.
'Hei ... Kenapa dua orang itu terlihat begitu seksi. Hais, pikiran kotorku, tapi mereka benar-benar mesra, apakah mereka selalu seperti ini kalau berdua di kanto?' Ck!
Mereka berdua membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan keuangan dan berbagai macam istilah yang tidak ingin didengar Sella. Ia hanya menatap kedua laki-laki tampan itu dengan patapan kagum.
Sepertinya benar yang dikatakan banyak orang, bahwa pria akan terlihat sangat menarik dan mempesona, saat mereka sibuk dengan pekerjaannya.
Hei, sepertinya Sheila benar-benar sudah jatuh cinta!
Yang ia amati adalah Alrega, dengan rambut yang tersisir rapi, tidak keluar dari jalurnya, walaupun sudah sore hari. Tatanan rambutnya, cocok dengan wajahnya, alis lancip jaraknya dekat dengan mata, sangat pas dengan rahangnya yang terlihat kokoh dan hidung mancung yang lurus. Bibirnya yang sedikit tebal terlihat sangat menggoda ketika berbicara.
Sella benar-benar merasa telah dikerjai dengan tingkat kesulitan yang tinggi, ini pekerjaan yang sangat berat, memperhatikan dirinya dengan pemandangan yang begitu menggoda
'Aahh ... Kau menyiksaku tuan Al!'
Alrega. Semua orang di kota mengenalnya sebagai seorang anak pengusaha yang mendapatkan warisan dari keluarga yang kekayaanya sudah bertahan selama lebih dari seratus tahun. Ia bagaikan kerajaan walau ia bukanlah keturunan dari para raja. Walaupun ia sudah memiliki keluarga seperti itu, nyatanya ia tetaplah harus bekerja keras, kalau ia tidak ingin kehilangan tahtanya. Lihat saja yang terjadi sekarang, ia hampir saja kehilangan kerajaan yang sudah diwariskan, hanya karena wanita yang ia sebut dengan bodoh.
Di sela-sela obrolan mereka, Zen sempat melirik Sella, ia tersenyum geli melihat tatapan Sella pada Alrega, yang tercengang melihat ketampanannya.
'Ternyata kau cukup menggemaskan nona. Aneh kalau tuhan Rega tidak jatuh cinta pada anda. Apa harus aku pukul agar ia sadar bahwa wanita seperti Nona tidak layak untuk dikerjai seperti ini, kasihan dia Tuan. Lihat dia sudah hampir meneteskan air liurnya, keterlaluan!'
"Apa kau pikir semua sudah cukup?" Alrega bertanya sambil menatap Sella dan tersenyum tipis diujung bibirnya.
"Cukup, tuan. Silahkan," sahut Zen, sambil menyerahkan sebuah dokumen dalam map dihadapan Sella yang duduk di sofa.
Sella melihat dokumen.
'Eh, apa ini. ini bukan perjanjian untuk membunuh ku kan?'
"Maaf nona. Saya permisi, sekarang tinggal bagian anda, tolong bekerja sama dengan baik." Zen berkata sambil menundukkan kepala, lalu meninggalkan ruangan setelah menutup pintunya.
"Apa ini?" Tanya Sella sambil membuka dokumen yang ada di depannya.
'Dasar ... Apa kakek sekarang tahu aku mengumpatnya sekarang?'
"Apa kau belum mengerti juga, atau kau belum bisa membaca?"
Ck!
"Aku sudah bisa membaca Tapi aku tetap tidak tahu, maksudnya apa?" Sella bertanya sambil meletakkan dokumen begitu saja di atas meja.
"Itu warisanmu dari kakek!"
"Ha, apa? Aku tidak membutuhkannya. Kembalikan saja."
"Lalu apa yang kau butuhkan?"
Sela hanya mengedikkan bahu, tampak berpikir keras.
"Saat ini, Aku tidak membutuhkan apa-apa."
'Tuan, aku hanya butuh janjimu, agar kau tidak meninggalkan aku, itu saja. Sebab kalau kau memang mencintaiku, kau tidak akan menyakitiku. Dan apapun yang aku minta padamu, kau akan meberinya untukku. Karena aku tahu kau memiliki kekayaan seperti seorang raja'
"Aku sudah menduga kalau tidak mau menerima, tapi kakek memaksa, untuk memberikan separuh dari warisanku untukmu, jadi terimalah."
'Aku tidak mau'
Sella menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban.
Ia memperbaiki posisi duduknya. Memainkan rambutnya sendiri dengan jari, berusaha mengusir kebosanan.
__ADS_1
"Kenapa? apa kau Bo _ _ " ucapan Alrega terputus.
Bersambung