Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 51. Hanya Masa Lalu


__ADS_3

Sella kesal ditanya seperti itu oleh Hamza. Dengan cepat ia menoleh pada pria yang tengah menyeringai sambil menatapnya, genggaman tangan Alrega didagunya pun terlepas. Ia tak menyangka Hanza akan mengungkit perbuatan konyolnya. Apa jadinya kalau Alrega tahu?


'Mati aku. Dasar kau Han!'


Biar bagaimanapun Alrega sudah memberikan begitu banyak hal yang disukai dan dibutuhkan keluarganya. Bahkan sekarang ibu dan adik-adiknya tidak lagi khawatir soal uang, walauupun usaha toko dan jahitan ibunya tetap berjalan. Sungguh ia tidak sanggup kalau semua itu harus ia kembalikan.


Sambil berdiri, ia berkata, "Itu masa lalu, tuan Han. Bagaiman aku bisa kembali kemasalaluku padahal masa depanku ada dihadapanku?" setelah itu ia menoleh kembali pada Alrega.


Sella menggamit tangan Alrega dan kembali berkata, kali ini dengan suara lembut.


"Sayang, apa semua urusan kita sudah selesai di sini? Bagaimana kalau kita mencicipi sedikit menu restoran ini?"


Alrega tersenyum puas, ia mengikuti Sella berdiri, sambil berkata, "Zen. Bereskan sisanya!"


"Baik, tuan," membungkuk hormat.


Sella membuka pintu private room itu dengan kirinya dan tangan kanannya terus menggenggam tangan Alrega. Keluar menuju private room lainnya.


'Siapa yang tahan, bila duduk di meja makan sebuah restoran, tanpa memesan satupun makan'


Zen menutup pintu kembali setelah Alrega pergi, ia mengambil dokumen yang ada di tangan Hanza lalu membuka mapnya sambil berkata,


"Tahukah kau, Han. Bahkan tuan Rega seperti tahu apa yang kau inginkan. Lihat dokumen yang kami bawa." menyodorkan kembali dokumen yang berisi beberapa poin, lalu kembali berkata,


"Ini bukan dokumen yang harus kau tandatangani, tapi poin kesepakatan yang kau inginkan. Hanya ada satu poin, yang tersisa dan kau tidak mengatakannya. Jadi poin ini akan kuhapus nanti," sambil tertawa kecil.


Hanza membelalakkan mata secara sempurna. Poin-poin dalam kertas itu mirip dengan yang ia katakan sebagai kesepakatan perjanjian. Ada satu poin yang tidak ia sebutkan yaitu, mendapatkan tanah di sebelah Daville agar bisa membangun rumah diatasnya dan bisa melihat Daville setiap saat.


Sebenarnya itu juga keinginannya, tapi Hanza ragu dan khawatir ia akan dikatakan pria cengeng yang hanya meminta pada Alrega. Gengsinya terlalu besar untuk mengatakannya, ia tidak menyangka Alrega sudah menduganya.


'Permintaan ini belum pernah aku katakan pada siapa pun, apa Davi yang mengatakannya? Tidak mungkin'


"Aku tahu kau yang membuatnya, Zen. Kau lebih hebat dari Rega. Bahkan kau bisa mendirikan perusahaan sepuluh kali lebih besar dari perusahaan Rega!"


Mendengar perkataan Hanza, Zen menyeringai menatapnya sambil memasukkan kertas itu kedalam saku bagian dalam jasnya. Sepertinya saku jas milik Zen, sudah dijahit khusus hingga cukup besar untuk menyimpan segala sesuatu di sana.


"Kau pikir aku akan berkhianat pada orang yang sudah berbuat banyak untukku? Han, aku tidak sama seperti orang lain! Aku tetap akan melayaninya walau kekayaanku seratus kali lipat lebih banyak darinya!"


"Kau orang terbodoh yang pernah kutemui, Zen! Kekayaan dan kekuatanmu bisa mengalahkan Rega, tapi kau malah mengurusnya seperti bayi! Aku heran kau bisa tahan dengan orang seperti dia?"


"Kau benar. Hanya aku orang yang tahan dengan tuan Rega. Karena itu aku tidak meninggalkannya. Dan kau harus tahu, dokumen ini bukan aku yang membuat. Tuan sendiri yang mengatakannya, aku hanya mecetak sesuai keinginannya." kata Zen sambil melangkah ke pintu.


Zen menoleh dan berkata, "Berikan semua dokumen Daville secepatnya!" lalu keluar dan membiarkan pintu terbuka, memperlihatkan Hanza yang masih duduk di sana dengan mengepalkan tangannya.


Mereka bertiga pernah menjadi teman saat kuliah, mereka cukup dekat keluarga mereka juga sering bekerja sama dalam bisnis. Hanya saja masalah muncul ketika Hanza membeli Daville dari tangan seseorang dan kemudian Alrega ingin membeli kembali. Hanza tidak memberikannya walau Alrega akan membeli dengan harga tinggi. Alasannya karena gedung itu rancangan terakhir ayahnya dan dulu Hanza ikut terlibat di dalamnya. Tentu saja penolakan Hanza ini mengundang perselisihan. Alrega selalu bisa mendapatkan apa yang ia inginkan sedang Hanza ingin memperyahankan apa yang sudah ia miliki. Dulu ia hanya membeli tanpa mengetahui alasan Delisa menjualnya.


Gedung itu bisa ia miliki karena wanita yang berhubungan dengan Alrega. Dan sekarang ia harus melepaskannya kembali karena wanita yang berhubungan dengan Alrega juga. Nasib macam apa ini?


Sementara di ruang privat lainnya. Sella sedang menikmati semangkuk puding dengan segelas jus mangga.


"Apa itu enak?" tanya Alrega yang hanya melihat Sella makan di sebelahnya.


"Hmm, enak sekali, kau mau? Kenapa tidak memesan sesuatu?" kata Sella dengan mulut yang maaih penuh.


Alrega tersenyum lebar melihatnya, bagaimana mungkin wanita ini tidak khawatir terlihat jelek di hadapannya makan dengan cara seperti itu. Banyak wanita yang sering ia temui atau bersama dengannya diberbagai acara dan kegiatan, mereka selalu ingin terlihat sempurna khawatir menjadi gemuk, tidak makan banyak di hadapan lawan jenisnya.


"Aku tidak lapar, sudah kenyang melihatmu."


"Eh, sayang. Aku juga tidak lapar, tapi aku tetap makan. Cobalah sedikit." kata Sella sambil menyodorkan sesendok puding strawberi ke depan mulut Alrega. Tidak di sangka Alrega membuka mulutnya dan melahap satu suap puding dari Sella.


"Bagaimana, enak kan?" menatap Alrega sambil tersenyum puas. Alrega mau makan dari sendoknya.


Sella mengajak Alrega keruang itu karena ia tahu orang seperti Alrega tidak akan mau duduk di ruang biasa bercampur dengan orang lainnya. Dan mereka selama ini sudah berciuman dibibir, jadi tidak masalah makan dengan sendok yang sama.


"Siapa yang tahan, seperti tadi, kita bertemu di restoran tapi tidak memesan makanan. Tidak sopan."


"Jadi menurutmu itu tidak sopan?"


"Hmm.." mengangguk sambil minum jus nya, lalu kembali berkata, "mana boleh duduk di restoran tapi tidak makan makanan mereka. Kasian kan pemiliknya?"


Alrega hampir tertawa, restoran ini miliknya jadi bagaimana mungkin dia sudah dianggap tidak sopan?


"Kau boleh memesan sebanyak yang kau mau." Alrega berkata setelah Sella menghabiskan makanannya.


Mendengar Alrega berkata seperti itu Sella tertawa, dengan gaya polosnya. Alrega takjub dibuatnya hingga ia ingin selalu melihat Sella tertawa bahagia. Seandainya ia bisa membuat bulan tersenyum pada perempuan yang ada dihadapannya hingga ia terus bahagia, maka ia akan melakukannya!

__ADS_1


"Maaf, aku menghabiskannya, aku terlihat rakus yaa... Puding itu enak. Kalau aku jadi pemiliknya, aku akan makan puding ini setiap hari!" kata Sella setelah selesai tertawa.


"Ayo, aku sudah kenyang. Kita pulang." kata Sella kembali menggamit tangan Alrega.


Sella beranjak menuju pintu. Ia tidak sadar bahwa Alrega menjadi sangat penurut padanya. Mereka berjalan bergandengan tangan kembali menyusuri beberapa koridor hingga sampai di halaman restoran. Zen sudah siap di samping mobil dan membukakan pintunya.


Mobil sudah berjalan membelah jalan raya, saat Sella berkata, "Sekertaris Zen, kumohon hentikan mobilnya! Berhenti!"


Zen melirik Alrega melalui kaca spion di depannya, meminta persetujuan. Ia menghentikan mobil di sisi jalan, setelah Alrega mengangguk.


"Kenapa?" tanya Alrega lembut.


"Sayang, tolong maafkan aku, kita harus kembali. Aku lupa membayar tagihan makannya!" kata Sella sambil memegang tasnya. Dompet dan kartu debit Alrega ada di sana. Alrega tampak tersenyum kecil melihat kekhawatiran Sella.


"Maaf aku lupa. Aku takut pemiliknya akan marah karena kita makan tanpa membayar!"


"Jangan khawatir," sahut Alrega, mobilpun berjalan kembali.


"Apa kau mengenalnya? Bagaimana aku tidak khawatir?"


Sambil meraih tangan Sella dalam pangkuannya, ia berkata, "mereka sudah membuat istriku khawatir. Mereka harus membayar kesalahannya."


"Hehe, bukan mereka yang salah sayang," Sella mencoba meluruskan.


"Mereka salah, tidak mencegahmu pergi sebelum membayar." tandas Alrega


Sella mengerutkan keningnya, mencerna apa yang dikatakan Alrega. Perasaannya seperti sedang digelitiki, geli. Lucu sekali kalau ada orang yang sudah makan di restoran tanpa membayar tapi pemilik restoran yang justru di salahkan. Mungkin dunia sudah terbalik dimata Alrega. Begitu pikir Sella.


Sella malas berfikir. Ia pergi makan bersama Alrega, kalaupun ada masalah pasti orang itu sudah menanganinya. Ia hanya memikirkan ibunya, Zania yang belum ia tengok dari pagi.


"Kita akan kemana Sekertaris Zen?" Sella bertanya pada Zen, karena ia merasa bertanya pada Alrega akan sia-sia. Pasti ia akan menjawab dengan gumaman seperti biasanya.


"Ke kantor, nona." jawab Zen datar.


"Ck! Kenapa tidak mengantarku pulang?"


"Ada banyak kerjaan di kantor, nona. Kita akan pulang nanti saja."


Ck!


"Bertanyalah padaku!" kata Alrega sambil memegang dagunya dan diarahkan agar melihat padanya.


'Memangnya kau akan menjawabku?'


"Hehe. Kukira anda tidur tuan," kata Sella sambil tertawa kecil.


"Ulangi pertanyaanmu!"


"Tadi, aku kira kau tidur sayang? Bisakah kita pulang sekarang?"


"Hmm.."


'Tuh kan. Tuh kan. Jawaban apa itu? Makanya aku malas bicara denganmu'


"Sayang, aku tidak usah ikut ke kantor ya?"


"Hmm.."


'Terserah!'


Sella diam, bibirnya cemberut. Ia putus asa untuk pulang.


"Kenapa ingin cepat pulang?" Alrega tiba-tiba bertanya.


"Aku hanya ingin menengok ibu, aku belum bicara dengannya pagi ini."


"Kau mengkhawatirkannya? Padahal dia sama sekali tidak mengenalimu?"


"Tuan, bukankah dia adalah ibu anda?" mulai bicara formil. "Tentu dia orang yang berarti bagi saya karena dia adalah orang yang berarti dalam kehidupan anda."


Ck!


"Tuan, ibu adalah ibuku juga. Aku memberinya kasih sayang tanpa mengharapkn ibu membalasannya. Itulah yang dinamakan cinta, kita akan selalu mencintai keluarga walau kita tidak mendapatkan apapun darinya."


"Seperti kau pada keluaargamu?" mendengar pertanyaan Alrega, Sella termenung sejenak.

__ADS_1


"Iya. Seperti saya dan keluarga saya. Seolah mereka hanya memanfaatkan hasil kerja keras saya. Tapi saya mendapatkan kasih sayang dari mereka. Saya memberi apa yang mereka inginkan tapi mereka memberikan semua yang saya butuhkan, yaitu perhatian dan kehangatan."


"Apa aku juga berarti bagimu?" lagi-lagi Sella termenung sejenak. Melihat tangannya yang diremas Alrega.


"Sayang, kau lihat tidak. Langit sangat cerah hari ini yaa, haha." ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Sella belum siap menjawab, ia belum yakin dengan dirinya sendiri.


Setelah itu, suasana hening. Perjalanan masih lama menuju kantor. Sella mencoba menenangkan diri dengan bersenandung, itu lagu ibunya juga lagu kesukaan Zania. Senja di Kaymara.


"Kalau kau mengantuk, tidurlah di sini," kata Zen sambil menepuk bahunya.


Sella menggeser duduknya lebih jauh darnya, lalu bersandar dijendela kaca mobil. Ia mulai mengantuk karena makan terlalu kenyang. Kepalanya terantuk jendela beberapa kali saat mobil berbelok atau ada lubang di jalanan. Pemerintah kota harus mendapatkan teguran darinya. Sebeb ada beberapa lubang di beberapa ruas jalan. Ini sangat mengganngu bagi pengguna jalan dengan mobil berbody ceper seperti miliknya.


"Zen, pelankan jalanmu" kata Alrega sambil menggeser duduknya mendekati Sella dan menaruh kepalanya dibahunya.


"Baik, tuan. Maaf." sahut Zen sambil melirik apa yang dilakukan Alrega pada Sella.


Dulu ketika Alrega dengan Delisa belum pernah terlihat selembut ini. Delisa lebih senang bepargian sendiri dengan mobilnya, dia lebih suka kebebasan. Alrega tidak mempermasalahkannya. Ia cukup memberi Delisa uang untuk membeli semua keperluannya. Kalaupun pergi berdua mereka tampak biasa saja, walau sikap Delisa manja dan senang bergelayut dilengan Alrega. Tapi Alrega tidak melakukan apapun untuk membalasnya.


Kini mereka sudah sampai di halaman lobi gedung. Alrega tidak bergerak dari tempat duduknya membuat Zen mengerti kalau tuannya akan tetap di mobil sampai nona terbangun. Alrega tampak memejamkan matanya. Zen membiarkan mesin mobil tetap menyala agar AC di dalamnya tetap stabil.


"Tuan, saya akan mengurus semuanya hari ini."


"Hmm.."


Zen membuka dan menutup pintu mobil dengan perlahan takut membangunkan Sella. Ia masuk lobi tanpa Alrega sedangkan mobilnya tetap berada di sana membuat beberapa karyawan heran. Tapi mereka bisa apa, tidak ada keberanian untuk bertanya.


Sella perlahan membuka mata, ia mendapati dirinya berada dalam pelukan Alrega, kepalanya berada dipundak suaminya, dan tubuhnya bersandar di dada suaminya. Ia merubah posisi duduknya menjadi tegak. Suara keras dari ponsel di dalam tasnya, sudah mengembalikan nyawanya.


Ia melihat sekeliling dan kemudian sadar mobil sudah berhenti di halaman gedung, Zen sudah tidak ada. Itu artinya ia sudah tertidur cukup lama dengan Alrega sebagai bantalnya.


'Mati aku. Apa yang sudah aku lakukan...?'


Ia melihat layar ponsel yang sudah padam, panggilan itu sudah berhenti. Saat itu ia melihat wallpaper di ponsel, adalah foto seorang wanita yang tidur miring, rambutnya menyebar seperti payung menutupi bantal dan gaun pengantin yang dikenakannya sangat indah memenuhi tempat tidur, membuat ia tampak seperti putri tidur dalam dongeng. Itu gambar Sella dimalam pengantnnya.


'Kenapa foto ini mirip aku, si. Tapi apa dia datang malam itu lalu mengambil gambarku. Dan dia yang sudah mematikan lampunya?'


Tak lama ponsel kembali menyala, ada tulisan kakek tertera di sana. Sella mendongak pada Alrega yang ternyata sedang melihatnya.


Deg. Jantung Sella berdebar. Ternyata Alrega tidak tidur dan ia sedang memperhatikanya. Sella memberikan ponselnya pada Alrega dalam keadaan masih berdering, dengan malu-malu.


"Kau tahu, apa kewajibanmu?" tanya Alrega mendekatkan kepalanya pada wajah Sella. Sella menggeleng pelan.


'Memangnya apa kewajibanku?'


"Kau harus tahu, apakah aku akan menerima panggilan atau tidak."


'Sialan. Bagaimana aku bisa tahu soal itu?'


"Halo, kakek?" kata Alrega dan ia diam menyimak ucapan kakeknya, melalui ponsel.


"Dia ada bersamaku..." kata Alrega lagi sambil menatap Sella dan menepuk kepalanya lembut.


"Begitukah?" kata Alrega bicara dengan ponsel.


"Baik, kakek. Aku mengerti." kata Alrega sambil menutup ponselnya. Ia memberikan ponselnya pada Sella dan membelai pipinya, sambil berkata, "Sebenarnya apa yang kau punya?"


'Apa maksudnya, aku tidak memiliki apa-apa'


"Kenapa semua orang menginginkanmu?" lalu, cup! ia mencium bibirnya sekilas.


'Mana kutahu!' Sella menggelengkan kepalanya.


"Apa kau masih mengantuk?"


"Tidak."


"Baik, aku percaya padamu. Kau ingat apa yang harus kau lakukan?"


"Iya," jawab Sella sambil melingkarkan kedua tangan dileher Alrega dan berkata, "terimakasih"


Alrega membalas pelukan Sella, menahan posisinya tetap seperti ini hingga beberapa saat. Mata saling menatap dan nafas mereka seperti bertabrakan.


'Tuhan, jangan biarkan aku jatuh cinta. Kalau aku mencintainya maka aku akan dicampakkan kapan saja. Kumohon jangan'


Alrega mendekatkan kepalanya kearah leher Sella lalu memberinya ciuman-ciuman kecil, Sella mendesah karena ada rasa ssnsasi yang berbeda. Ia juga tidak tahu mengapa ia mengeluarkan suara mendesis seperti itu. Membuat Alrega semakin memperluas area ciumannya hingga ke bibir.

__ADS_1


Sella sudah tahu apa yang harus ia lakukan bila Alrega mencium bibirnya.


__ADS_2