Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 89. Semua Sia-sia


__ADS_3

Sella termenung sesaat setelah kepergian Rejan dan menarik nafas dalam melihat bajunya di tempat sampah. Itu adalah baju yang dipesan dari seorang desainer, pakaian yang bagus dan tidak dijual di sembarang tempat. warnanya coklat muda, kesukaannya, gaun yang menampilkan gaya elegan sekaligus berani. Akan tetapi ia membuang pakaian itu, seperti membuang kenangan buruknya hari ini.


Gadis itu sudah membersihkan diri, mengganti pakaian dengan dress sederhana berwarna putih, yang panjang sampai menutupi mata kaki.


Setelah itu, ia melangkah keluar kamar menuju pantai, untuk menenangkan diri. Ia berada di halaman hotel yang memang dirancang khusus, hingga semua pengunjung bisa melihat lautan dengan leluasa. Penginapan itu sederhana, tetapi terasa sangat nyaman, bagi Sella.


Sella berjalan menyusuri area pantai yang jauh dari keramaian disekitarnya dan berdiri menghadap ke arah laut, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Rambutnya yang masih basah, dibiarkan terurai dan angin memainkannya.


Ia berpikir tentang perasaannya, yang tiba-tiba muncul rasa sesal telah mencintai Alrega. Rasa cinta yang tanpa ia sadari sudah begitu dalam merasuki jiwa, sedikit demi sedikit mengikis kebenciannya. Apalagi rasa kecewanya yang benar-benar nyata.


Seandainya rasa sesal dan kecewa memiliki bentuk nyata, mungkin dunia sudah dipenuhi olehnya. Sebab perasaan itu keluar dari setiap kepala manusia.


"Pergilah! Kau tidak pantas berada di sini!" Itulah kalimat yang Sella ingat, diucapkan Nenek ketika ia memohon untuk dimengerti.


"Tapi, Nek. Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkan Alrega pergi."


"Janji apa? Alrega tidak membutuhkanmu lagi, sekarang. Jadi, pergilah!" Wajah Marla menunjukkan kebenciannya saat bicara dan ia tidak akan membiarkan Sella masuk kembali ke dalam rumahnya.


Sella tidak tahu, apakah ia harus menangis atau tertawa, menghadapi kenyataannya, ia merasa sudah dikhianati oleh dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia mempercayai Delisa waktu itu, yang berjanji tidak akan membongkar rahasianya sendiri.


Kini ia bimbang, apakah ia harus kembali atau akan meninggalkannya pergi.


Ia sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Alrega, sampai mati. Janji yang mungkin lebih berharga dari nyawanya sendiri.


Namun Sella tidak salah jika memang ia terpaksa pergi. Tidak ada alasan untuk tetap tinggal, apa lagi setelah ia diusir dan diipermalukan di hadapan orang banyak. Ia memang salah, tapi sangat menjengkelkan, bila orang yang mengatakan kesalahan itu adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab.


Dulu saat ia masih remaja, ia pernah mengalami hal buruk, ditinggal ayahnya pergi dan ibunya depressi. Itu hal yang sangat menyakitkan hingga sulit dilupakan, karena sudah biasanya kenangan buruk selalu saja lebih membekas, dari pada kenangan bahagia.


Ia berpikir optimis bahwa ia tidak akan mengalami hal buruk seperti itu lagi, siapa yang menyangka bila ternyata justru ia mengalaminya.


'Ah, aku pernah berharap tidak adan ada lagi, hal yang menyakitkan begini, tapi rupanya takdir belum ingin membiarkan aku tenang saat ini'


Sella melihat cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya dan mengusap permatanya lalu berkata pada dirinya sendiri.


"Kau terlalu cantik untuk dibuang ke laut. Setidaknya cukup mahal untuk dijual."


Ia tidak membawa apa-apa ketika keluar dari rumahnya, tapi setidaknya ia masih memiliki benda itu di tangannya. Mungkin ia akan mengembalikannya pada Alrega. Ah, sedang apa laki-laki itu sekarang.


'aku sudah melewati banyak hal, hingga aku punya perasaan seperti ini padanya, kalau aku tidak mengalami semuanya, mungkin aku tak pernah tahu, bahwa aku sangat membutuhkannya, tapi dia tidak datang, entah di mana dia sekarang, apa dia tahu apa yang terjadi di rumah? Sepertinya aku mulai membencinya lagi, sekarang'


Sebenarnya yang dilakukan Delisa saat mempermalukan Sella, adalah karena ia melindungi cintanya, ia tidak rela ada wanita lain yang memilikinya. Selama ini ia menunggu waktu yang tepat, untuk melakukan aksinya. Ia tahu kelemahan Sella yang tidak akan berbuat anarkis di hadapan orang yang dihormatinya.


Tanpa Delisa sadari seolah-olah ia sudah menggali kuburnya sendiri, hingga tidak ada orang yang berani menahan perbuatan orang, yang memang mau mati. Bahkan seolah pintu neraka terbuka karena penjaganya sudah bersiap menunggunya.


***

__ADS_1


Di belahan bumi yang lain di sebuah Kota kecil yang berpenduduk padat dan di penuhi polusi. Tempat itu mirip sarang bandit, yang menyamar menjadi penduduk asli. Markasnya ditutupi rumah-rumah kecil yang saling menempel satu sama lain.


Alrega berada di lingkungan kumuh, dengan pemandangan yang sangat mencolok. Ia datang disertai pengawalan, mobil mewah, pakaian necis dan berkelas. Semua orang yang tampak duduk saja di depan rumah mereka, memiliki pemandangan menarik yang jarang mereka lihat sebelumnya.


Alrega dan Zen berjalan mengikuti dua orang pengawal, yang sudah menunggu kedatangannya. Mereka melewati lorong-lorong di antara deretan bangunan rumah petak. Berulang kali terlihat jakunnya naik turun menelan ludah karena menahan semua yang menjijikkan.


Sampai di sebuah pintu yang terbuat dari besi dan pengawal membuka pintunya, terlihat pemandangan kontras sangat jelas di sana. Itu adalah pintu belakang dari sebuah bangunan yang memang disembunyikan entah karena apa. di balik pintu itu terlihat sebuah rumah megah, dikelilingi dengan taman yang indah.


Biasanya orang yang membangun dengan bangunan kamuflase seperti ini ini adalah karena mereka menghindari pajak ataupun melakukan tindakan kriminal yang tidak ingin diketahui oleh pemerintah kota. Dari luar bangunan itu hanya berupa tembok tinggi, siapa yang menduga bila ada rumah yang begitu mewah di dalamnya.


Zen dan Alrega tidak perduli dengan apa yang dilakukan pemilik rumah, dialah yang menahan surat penting yang dibutuhkan mereka saat ini.


Alrega tahu, Hanza yang sudah bekerja sama dengan pemilik rumah, untuk mempermainkannya. Sikap Hanza menunjukkan sisi gelap yang tidak ia ketahui. sebelumnya... Alrega tidak menduga bila ternyata, Hanza mampu bekerja sama dengan orang yang justru bisa mengancam nyawanya.


"Silahkan duduk Tuan," kata seorang mengawal saat mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup besar.


Ruangan tempat mereka berada, terkesan berlebihan. Ada banyak lampu berwarna kuning yang berlapis emas di sana-sini. Ditengah nya ada sebuah meja besar yang terbuat dari kristal dilengkapi dengan hiasan pot bunga kecil yang indah. Kursi yang mereka duduki juga dilapisi kain beludru dari kulit binatang asli.


Tak lama setelah itu, seorang pria bertubuh gemuk dan berpakaian ceongsam yang mahal, masuk dan duduk di hadapan Alrega dan Zen.


Zen menarik nafas dalam ketika melihat laki-laki yang ada di hadapannya. Ia adalah seorang rentenir yang menyita seluruh harta orang tua Loni, hingga membuat wanita itu menjadi tunawisma dan kini tinggal di rumahnya.


Dunia terasa begitu kecil apabila dipertemukan dengan kebetulan seperti ini, atau memang nasib baik sedang berada di tangannya. Zen menemukan sebuah benang merah, tentang Mufti Praja. Saat ia menyelidiki keberadaan surat akta jual beli Daville yang dianggap Hilang oleh Hanza.


Sebelumnya ia tidak menemukan apapun tentang latar belakang Loni, saat iabjuga menyelidiki tentang gadis ini. Begitu mendengar nama rentenir Mufti Praja disebut, ia tidak heran, sebab laki-laki ini selalu menghilangkan jejak kejahatannya dengan baik setelah beraksi.


"Tuan Mufti Praja, apa kabar?" Alrega menyapa terlebih dahulu dan mereka saling berjabat tangan.


'Ah, orang seperti ini yang diperalat oleh Hanza untuk mempermainkan Tuan Alrega?'


Zen menarik sudut bibirnya, saat ini ia sangat ingin tertawa. Bahkan ia bisa membalaskan dendam untuk orang tua Lonisa tanpa iya sengaja.


Zen tidak memahami dengan perasaannya juga perasaan Loni padanya, tapi melihat kenyataan ini sekarang, seolah-olah ia punya kesempatan untuk memberinya kejutan.


"Tak kusangka kalian benar-benar datang, " kata Mufti dengan suara parau. Ia duduk sambil memegangi tongkatnya.


"Jadi, di mana surat itu sekarang." Alrega berkata menunjukkan ketidaksabaran.


Laki-laki itu terkekeh pelan, dan berkata, "Kamu anak muda, selalu ingin langsung pada tujuan."


"Kami hanya tidak ingin mengganggu waktu Anda, Tuan." Zen yang kini menimpali ucapan Mufti dengan suara tenang.


"Hmm, aku tahu waktu juga sangat penting bagi kalian." Mufti mengangguk-angguk.


"Anda benar, Tuan," sahut Zen.

__ADS_1


"Apa yang kalian tawarkan untuk menebus surat itu?" Mufti berkata sambil memainkan tingkat di tangannya.


Zen memajukan badannya dan berkata sambil menyimpan kedua tangannya saling bertaut di atas meja, menunjukkan keseriusannya.


"Kami tidak harus menembusnya dengan apa pun, Tuan Praja, surat itu seharusnya sudah kami terima, begitu membayar Daville pada Hanza."


Mufti Praja tertawa dan menyahut, "Aku tidak pernah menukar apa pun tanpa imbalan, bila seseorang mendapatkan sesuatu dariku, maka aku pun harus mendapatkan sesuatu juga darinya."


"Ah, Anda memang seorang pebisnis ulung, memang seperti itu seharusnya berbisnis tapi, bukankah Anda sudah mendapatkan sesuatu dari Hanzah?" Kata Zen.


"Hanza, siapa dia aku tidak mengenalnya?"


"Ah, Anda tidak perlu berbohong," kata Zen, "sebab surat itu tidak mungkin terbang sendiri ke tangan Anda tanpa ada seseorang yang memberikannya."


Dulu, saat bertransaksi dengan Hanza, Zen tidak memeriksa kelengkapan surat jual beli dengan teliti. Ia baru menemukan bahwa salah satu surat yang paling penting justru tidak ada. Ketika ia menanyakannya pada Hanza, laki-laki itu dengan tenang menjawab, surat itu hilang begitu saja.


Mufti Praja kembali tertawa, laki-laki itu menampakkan giginya yang kuning saat mulutnya terbuka.


"Memang itu benar, aku sudah mendapatkan sesuatu dari laki-laki itu dan sekarang aku juga harus mendapatkan imbalan dari kalian."


"Soal berapa uang yang anda minta, tidak masalah bagiku, tapi aku harus melihat surat itu sekarang," kata Alrega.


Laki-laki gemuk itu menyuruh seseorang pelayanan, untuk mengambilkan map yang ada dalam sebuah nakas, tak jauh dari meja tempat mereka duduk saling berhadapan.


"Ya, aku tahu kalian mempunyai banyak uang untuk menebusnya, tapi aku tidak menginginkan uang untuk surat ini." Mufti Praja berkata sambil memegang map itu dengan hati-hati.


Alrega dan Zen membulatkan matanya mendengar ucapan itu dari mulutnya. Laki-laki gemuk itu kembali berkata.


"Aku tahu surat ini sangat berarti, karena tanpa surat ini kau tidak akan bisa membalik namakan gedung itu, atas nama istrimu. Bukankah begitu Tuan Rega?"


Alrega tertawa mendengar ucapan Mufti Praja, pasti Hanza yang sudah mengatakan semuanya.


"Ya, Anda benar." Alrega berkata sambil mengangguk.


"Kalau begitu, karena surat ini adalah surat yang berharga bagimu maka kau pun harus memberiku sesuatu yang berharga bagimu."


"Apa yang kau inginkan, Tuan?" Tanya Alrega.


"Aku ingin menukar surat ini, dengan sekretaris pribadimu."


Mendengar perkataan Mufti Praja, Zen meradang, ia menggebrak meja dengan mengepalkan tangannya. Ia berdiri mencondongkan tubuh menghadap Mufti Praja dan menopangnya dengan kedua tangan, lalu berkata.


"Itu pertukaran yang tidak masuk akal, apa Kau pikir aku mau menukar diriku dengan surat itu? Tidak ....!" Nada suara Zen rendah tapi penuh tekanan.


"Zen, tenanglah, jangan masuk perangkap Hanza,. dia memang ingin memisahkan kau dariku, itu keinginan yang sebenarnya."

__ADS_1


"Lalu apa Tuan akan menyetujuinya?" Zen sedikit gusar, ini masalah baru baginya. Ia tahu betapa berartinya Daville dan Sella saat ini bagi Alrega.


bersambung


__ADS_2