Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 127. Sinyal Ponsel


__ADS_3

Semua orang berkerumun melihat dan mencoba menolong ketiga orang wanita yang terjatuh hampir bersamaan dan semua dalam keadaan pinsan.


Kegaduhan terjadi, ada diantara kerumunan orang yang tidak begitu banyak, ada beberapa orang yang terlihat kekar dan berwajah sangar, datang mendekati.


"Bu! Bangun, Bu! Apa ada yang kenal dengan perempuan ini?"


"Memangnya siapa dia? Hei, kasihan sekali mereka!"


"Apa dia tidak apa-apa?"


"Wah, pelayan itu ceroboh sekali, membuat orang jatuh begini."


"Eh, cepat panggil ambulan!"


"Ayo! Panggil pihak kafe, atau keamanan, harus ada yang tanggung jawab!"


"Hei, hei, lihat! Yang jatuh di bawah tangga, kepalanya berdarah!"


"Wah, iya. Ayo! Cepat tolong!"


Suara-suara orang yang berkerumun saling sahut menyahut. Bersamaan dengan itu, beberapa pria hampir menyentuh tubuh Sella, namun sebuah tangan lain menepisnya kasar.


"Jangan sentuh dia!" Kata Hanza. Laki-laki itu ada di saat yang tepat, tadi ia kebetulan melintas, saat melihat Sella yang tengah menaiki tangga.


Hanza dalam perjalanan ke suatu tempat, ia sengaja memacu mobilnya dalam kecepatan rendah karena ingin menikmati pemandangan alam pesisir barat kota Jinshe yang indah itu. Tak sengaja, mata coklatnya menangkap sosok Sella, wanita yang dengan susah payah ia lupakan karena putus asa tidak mungkin memilikinya.


Rambut ikal rintik-rintik khas miliknya yang membuat pria itu tidak salah menduga, bahwa benar wanita itu adalah Sella.


'Kenapa dia di sini?'


Hanza pun menepikan mobil dan hendak menghampiri Sella yang kebetulan tidak bersama dengan suaminya yang posesif itu. Namun, saat ia baru beberapa langkah menuju tangga, ia melihat kejadian yang tidak pernah ia duga. Sella terpeleset dan jatuh. Hanza segera bergegas mendekatinya.


'Apa dia pingsan?'


Hanza tiba di saat tangan seorang pria hampir saja menyentuhnya. Pria itu dan beberapa orang lain pun menyingkir, begitu Hanza mengemasi tas kecil milik Sella.


Hanza mengangkat tubuh Sella dengan perlahan, membopongnya menuruni tangga dan menempatkan Sella secara hati-hati di jok belakang mobilnya. Ia menelpon seseorang yang bisa memberskan kekacauan, polisi dan ambulans, untuk menolong dua wanita lainnya.


Saat Hanza hendak membuka pintu mobilnya, seorang wanita mendekat, dengan senyum jahat di bibirnya. Laki-laki itu menoleh dan terkejut.

__ADS_1


"Kau?!" Kata Hanza.


"Iya, ini aku," kata wanita berkaca mata tebal dan berambut pendek.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Apa yang kau lakukan pada gadis itu?" Zola balik bertanya, wanita itu menatap Hanza ketus.


"Tentu saja aku akan menolongnya!" Kata Hamza tak kalah ketus, lalu membuka pintu mobil.


"Jangan bohong. Kau menyukainya, kan?"


"Bukan urusanmu!" Berhenti sejenak dan menoleh pada Zola. "Tunggu ... apa kau berkomplot dengan Delisa lagi?"


Hanza mengenal Zola sebagai sahabat Delisa, dua orang yang sama-sama merencanakan sebuah keburukan bersama Sella hampir tiga tahun yang lalu. Ia mengetahui semuanya dari mulut Delisa sendiri dan saat ini melihat Zola, pikiran buruknya tentang rencana jahat wanita ini sepertinya terbukti. Hanza menyimpulkannya dari ekspresi Zola yang jelas menunjukkan kekecewaan karena Sellla diselamatkan olehnya.


"Tidak. Aku melakukannya sendiri." Zola tercekat, tanpa sengaja mengakui perbuatannya.


Akan tetapi akhirnya Ia berpikir, untuk apa takut dan menutupi kesalahannya kali ini, percuma! Ia harus pergi dari kota dan tidak bisa kembali sampai akhir hayatnya.


Saat kejadian ia membongkar semua rahasia Sella pada hari kematian Marla, ia diancam oleh Zen dan juga Kakek Haquel bahwa ia akan dijatuhi hukuman mati kalau ia tidak pergi.


Walaupun, awalnya Ia mendapatkan masalah karena Delisa, tapi ia merasa tidak perlu membalas dendam padanya. Delisa pun mendapatkan nasib yang sama dengan dirinya.


Sekarang Delisa sudah lebih dulu pergi entah kemana ia sendiri tidak tahu tujuan kepergian Delisa. Terakhir kali ia mendapatkan pesan dari sahabatnya itu bahwa ia sudah berada di bandara dan mereka harus merahasiakan tujuan kepergiannya.


Tentu saja kedua wanita itu memilih untuk pergi meninggalkan kota, daripada harus berurusan dengan hukuman mati.


Zola iri sekali, saat melihat Sella mendapatkan pertolongan dari Hanza, seolah pria itu malaikat yang turun dari langit untuknya. Hatinya sangat iri pada Sella, ia ingin wanita ini mati.


Gadis itu tidak tahu apa yang dialami Sella sebelum ia mendapatkan semuanya. Gadis itu sudah melalui hidup yang tidak mudah, penuh liku yang tidak akan diduga semua orang kalau Sella, gadis bertubuh mungil dan kurus, dulu pernah mengalaminya. Namun, sekarang ia mendapatkan suami yang luar biasa seperti Alrega.


"Apa? Jadi, kau sengaja melakukan ini padanya?" Hanza berkata dengan nada meninggi.


"Aku tidak melakukan apa-apa! Itu kecelakaan!"


"Akan aku urus kau nant."


'Memangnya apa yang bisa kau lakukan, Han? Mau berlagak seperti Tuan Rega atau Mett Haquel? Aku menyangsikannya'

__ADS_1


Zola terkekeh. "Kau mau mengurusnya? Dia bukan istrimu!"


"Dengar ... dia memang bukan istriku, tapi dia insfirasiku!"


"Hah! Alasan konyol macam apa itu? Bodoh sekali."


Hanza tidak mengatakan apapun lagi, ia berpikir untuk segera menyelamatkan Sella kali ini. Ia tidak perduli dengan Zola atau siapa pun yang terlibat, karena bukan urusannya.


Setelah Hanza duduk di belakang kemudi, ia menghubungi seseorang, "batalkan semua rapat hari ini," katanya sambil melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.


Dalam perjalanan, ia tak henti-hentinya tertawa dengan keberuntungan yang dimilikinya. Kesempatan kedua untuk mempermainkan Alrega, laki-laki itu selalu tenang dan hanya akan goyah karena wanita ini.


'Aku akan menikmati kemarahannya lagi kali ini'


Selama perjalanan, suara ponsel terus berdering dari dalam tas kecil Sella yang ia simpan di kursi kosong sebelahnya.


***


Sementara itu di kantor Art Design Group.


Zen masuk ke ruangan Alrega dengan wwjah pucat, tapi tetap tenang seperti biasanya. Ia menunjukkan singal GPS dari mobil Sella dan berkata, "apa Tuan akan mengikuti Nona sekarang?"


"Tempat apa ini?"


"Itu kafe, Tuan. Apa Anda memeriksa chat di ponsel Nona akhir-akhir ini?"


Seketika Alrega menyadari sesuatu. Ia jarang sekali memeriksa isi benda pipih itu, ia malas memegang apalagi memeriksanya. Sejak ada foto Sella yang hanya memakai handuk, ia mulai memegang sendiri ponselnya. Akan tetapi, hanya sesekali saja ia memeriksanya. Selebihnya urusan Zen menanganinya.


Zen bisa memahami, bila Alrega tidak lagi meminta untuk memegang ponselnya, pasti ada sesuatu yang hanya tuan muda saja yang boleh melihat isinya. Meskipun demikian, ia sebenarnya tetap waspada. Hingga kejadian seperti hari ini, ketika ia tidak berhasil menghubungi Lea, dan sinyal ponsel serta pelacak lain melemah. Ia memeriksa lokasi terakhir sinyal masih bisa dilacak, hingga kecurigaannya muncul secara alami.


Alrega langsung berdiri dan keluar dengan tergesa-gesa begitu melihat isi chat Sella dengan nomor yang tidak dikenal. Semua bisa ia lihat, isi chat di hp Sella yang terhubung langsung pada ponsel pribadinya. Ia pun menyesal karena terlalu santai.


Tanpa diminta, Zen berjalan mendahului Alrega untuk menyiapkan mobil. Para karyawan yang melihat bos mereka berjalan dengan cepat, saling melempar pandangan. Tidak biasanya bos mereka seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi, pikir mereka.


"Tolong, lacak nomor milik siapa ini." Zen menghubungi seseorang sambil mengendarai mobilnya. Ia terlihat mengeraskan rahang dan tetap fokus karena ia harus tiba di sana secepatnya.


Matahari sudah mulai tenggelam, ketika mereka sampai di kafe yang bernuansa pelangi. Kafe yang berada di daerah yang sulit mendapatkan sinyal ponsel. Wajar bila saat berada di sini, ponsel Sella tidak memberikan respon saat Zen mencoba melacaknya. Lalu mereka segera mencari informasi dengan menunjukkan foto Sella.


Tak lama kemudian pelacak dari sinyal ponsel Sella kembali terbaca, dengan segera kedua pria gagah itu kembali menyusuri jalanan mengikuti arah ke mana sinyal ponselnya berada.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2