Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 24. Kakek Mett


__ADS_3

Sella mengemudikan motor tua ayahnya menuju rumah, sepulang dari pusat grosir. Ia sudah sangat terburu-buru ketika roda motornya kempes.


'Ahk, pecah ban mororku!' pekik Sella dalam hati.


Ia berhenti di depan sebuah toko barang antik yang cukup terkenal di Kota Jinse. Ini toko yang biasa dikunjungi orang-orang tertentu saja di kota, tidak banyak toko seperti ini di sini.


Sella menendang ban motor dengan satu kakinya. Ini ungkapan kekesalannya selama diperjalanan, Flinna menghubungi berulang kali melalui telepon genggamnya agar cepat pulang. Tidak baik bagi calon pengantin pergi keluar rumah padahal hari pernikahannya sudah sangat dekat.


Kalau bukan karena barang pesanan yang sudah habis di tokonya, ia tak akan memaksa kan diri seperti ini. Apalagi hari ini matahari seperti marah dengan mengeluarkan semua tenaga apinya ke bumi.


Karena rasa frustasinya, Sella membiarkan motor tua itu di atas trotoar, ia duduk di depan toko dengan membuka topi yang menutupi rambutnya. Ia menggunakan topi untuk mengipasi wajahnya dan membiarkan rambutnya yang panjang terurai bebas di balik punggungnya.


"Maaf, nona. Apa anda membutuhkan sesuatu di sini?" tanya seorang lelaki muda yang sepertinya seorang pelayan. Sikapnya sangat sopan.


Mendengar pertanyaan laki-laki itu Sella berdiri, dan berkata dengan sopan.


"Maaf, saya tidak akan membeli apapun di sni. Apa saya mengganggu? Roda motor saya kempes. Kebetulan saya melintas disini." Sella berkata sambil melirik ke dalam toko. Ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya. Dia kakek Mett.


"Tidak, tidak mengganggu. Silahkan saja beristirahat."


"Terimakasih." kata Sella sambil melirik pria tua di dalam toko yang masih memperhatikannya dari balik etalase toko.


Pelayan tadi masuk kedalam dan tampak berbincang dengan pria tua itu dan pria tua keluar dari toko mendekati Sella.


"Masuklah kalau kau ingin beristirahat. Biar Ziqi yang memompakan roda motormu." kata pria tua, kemudian ia melangkah masuk kembali diikuti Sella dibelakangnya.


'Pria ini baik, apa dia pemilik toko antik ini? aku hampir lupa kalau sebenarnya masih banyak pria yang baik di dunia ini. Ibu benar, tidak semua pria sama seperti ayah.'


"Kakek, terimakasih membolehkan aku masuk, ahk di sini dingin." kata Sella sambil duduk disalah satu kursi yang ada di sana dekat dengan etalase dimana pria tua itu duduk.


"Wangi apa ini, kakek? Maaf, aku mencium aroma yang enak dan menurutku aroma ini sangat cocok dengan toko ini."


Kakek Mett tersenyum, ia sudah banyak mendengar pujian seperti ini dari banyak orang yang tahu siapa dirinya, tapi pujian dari Sella adalah yang ia anggap paling tulus. Aroma wangi yang menyebar di ruangan itu berasal dari teh herbal dan juga obat-obatan herbal yang dijual di toko itu.


"Ini wangi teh herbalku." jawab kakek Mett.


"Oh, ya. Hanya orang seperti anda yang biasanya mengkonsumsi teh semcam itu. Aku tidak begitu mengerti soal herbal."


Mendengar ungkapan Sella kakek Mett kembali tersenyum karena jarang orang yang jujur memgungkapkan kekurangannya apalagi dihadapan orang yang tidak dikenal. Sepertinya pria tua itu menyukainya.


"Memang apa yang kau tahu? Anak muda sepertimu kebanyakan tidak mau belajar masalah seperti ini. Padahal ini pengetahuan umum yang turun menurun."


"Kakek benar, aku salah satunya. Herbal tidak dipelajari di sekolah... Seandainya aku bisa belajar dari orang seperti kakek. Itu akan sangat menguntungkan." kata Sella sambil tersenyum.


"Apa kau sering lewat sini?" kata kakek Mett mulai meneliti Sella.

__ADS_1


"Jarang. Aku hanya lewat sini karena aku terburu-buru, dan aku baru saja membeli gula batu. Ini pesanan, aku menjualnya secara online."


"Gula batu apa yang kau pakai?"


"Kakek, apa kau juga suka minum teh dengan gula batu?"


"Hmm...kadang. Tapi aku senang teh tanpa gula."


"Kakek. Cobalah ini. Aku memberikannya untukmu. Orang bilang gula batu merk ini adalah gula batu yang sudah lama ada di Jinse. Proses pembuatannya adalah yang paling murni." kata Sella sambil menyodorkan sebuah kotak kecil warna kuning di meja Kakek Mett.


"Apa maksudmu merk Jagung Emas?" kata si tua Mett sambil melirik kotak yang disodorkan Sella.


"Kakek, bagaimana kau bisa tahu. Kakek memang luar biasa. Memiliki toko ini juga luarbiasa. Ternyata sesuai dengan pemiliknya."


Sekali lagi kata-kata Sella membuat si tua Mett tersenyum. Itu pujian yang tulus dari perempuan yang tidak mengenal dirinya, bukan para pejilat yang memuji karena ada kemauannya. Ia dulu dan kini masih memiliki pengaruh kuat di kota, orang kalangan atas juga pejabat pemerintah kota semua mengenalnya sebagai pemilik perusahaan raksasa. Apalagi ia telah lama berbesan dengan grup penguasa properti yang disegani. Tapi karena usia, ia hanya menekuni kesukaan dan menghabiskan waktu dengan menjaga toko antiknya.


"Kakek, merk ini sangat langka, aku harus berebut untuk mendapatkan lima kotak saja."


"Kau punya lima dan hanya memberiku satu kotak?"


"Hehe. Maaf, aku terlalu pelit ya?" kata Sella membuat pria tua itu tertawa keras.


"Mungkin cuma kamu yang mengaku kalau dirimu pelit dihadapan orang lain. Apa kamu memang seperti ini, tidak tahu malu?" mendengar kalimat kakek Mett, Sella ternganga.


"Tidak masalah. Apa kau bisa bermain catur?" kakek Mett bertanya yang membuat Sella mengerutkan alisnya.


Pria tua itu tinggal sendiri dan hanya ditemani beberapa pelayan. kehadiran orang yang jujur seperti Sella sangat jarang di tokonya. Mengingat ia hanya menjual barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan orang.


"Kakek. Aku bisa, tapi aku tidak begitu pandai. Pasti aku akan kalah kalau melawanmu."


"Ayo mainlah sekarang kalau kau punya banyak waktu. Aku sudah lama tidak punya lawan yang bisa kukalahkan."


'Aku punya waktu. Setidaknya aku punya alasan bila ibu menelpon.'


"Kakek, kau mencari lawan yang lemah, tapi kau sudah menemukan orang yang tepat. Aku akan melawanmu." Sella kembali mengakui dirinya dengan jujur, membuat kakek Mett tersenyum.


Mereka kini duduk berhadapan layaknya pemain catut profesional. Sella merasa pria tua itu baik dan ia harus membalas kebaikannya. Menemaninya bermain catur mungkin bisa menyenangkannya.


"Tuan, motor nona ini sudah selesai. Sudah bisa digunakan." kata pelayan Ziqi mengabarkan tentang motor Sella yang sudah ia pompa rodanya.


Dua orang yang sedang bermain catur dengan serius itu menoleh lalu mengangguk secara bersamaan, lalu kembali melihat pada papan caturnya seperti tidak perduli dengan perkataan Ziqi. Membuat pelayan itu menggeleng kan kepalanya.


"Kakek, siapa yang biasanya menemanimu bermain?"


"Cucu laki-lakiku. Tapi akhir-akhir ini dia sibuk. Dia mau menikah lagi." jawab kakek Mett sambil memindahkan bidak catur.

__ADS_1


"Apa maksudmu, dia beristri dua?"


"Tidak. Dulu dia pernah menikah, tapi istrinya pergi. Aku kira dia akan jera dan tidak akan berhubungan dengan wanita manapun setelah kejadian yang memalukan itu."


"Kakek, siapa tahu cucumu kali ini tidak akan salah memilih istri."


"Apa kau sudah menikah? Seandainya aku bertemu denganmu sebelum Cucuku menemukan pengantinnya, aku akan menjodohkannya denganmu."


"Haha, kakek kau sangat menyanjungku. Belum tentu aku dan dia cocok. Apalagi kita baru bertemu. Oh iya, panggil aku Sese."


"Apa itu nama aslimu? Panggil aku kakek Mett."


"Hmm. Itu nama panggilan dari keluargaku." kata Sella sambil memindahkan lagi bidak caturnya.


"Apa kau yakin mengambil langkah itu? Kau akan mati kalau begitu. Skahkmatt!" kata kakek Mett girang. Sudah lama ia tidak menang kalau melawan cucunya.


"Bukankah itu hasil yang sudah jelas, kakek?" kata Sella sambil membereskan papan caturnya.


"Oh iya, apa kau menganggapku keluargamu?" tanya Mett sambil berdiri menuju meja dan memasukkan gula batu pemberian Sella kedalam laci. Gadis itu tidak tahu kalau pemilik pabrik gula batu itu adalah miliknya.


"Kakek, setelah bertemu sekarang, aku rasa kakek adalah orang yang sangat baik. Aku akan senang kalau kakek mau menganggapku keluargamu. Aku akan datang kesini lagi dan menemanimu bermain catur."


"Baiklah, datanglah sesering mungkin, aku akan menunggumu."


"Tentu, kakek. Aku harus belajar darimu."


"Kau hanya perlu belajar herbal. Tidak perlu belajar soal catur. Kau sudah cukup baik."


"Ah, sepertinya aku harus waspada soal ini, kakek ingin aku terus menjadi lawan yang mudah dikalahkan?"


Tentu saja kakek Mett kembali tertawa, sang pelayan dibuat heran karenanya, sebab jarang ia melihat si tua Mett tertawa keras seperti ini. Kata-kata Sella yang ia dengar adalah kata yang paling jujur menurutnya. Itu sama saja mengatakan, 'kakek, kau curang!'


"Kalau kau ingin menang melawanku, belajar lah dengan cucuku. Dia selalu bisa mengalahkanku."


"Kakek, aku tidak mau membuat istri cucumu nanti cemburu. Baiklah aku permisi. Terimakasih kakek atas pertolonganmu." kata Sella, ia membungkuk hormat pada si tua Mett. Lalu melangkah keluar pintu. Saat ia melintas ada pelayan Ziqi yang juga berdiri di dekat motor.


"Terimakasih, sudah mau memompakan ban motorku." kata Sella sambil menunduk kan kepalanya.


"Tidak masalah." jawab Ziqi kemudian kembali masuk kedalam toko.


Sementara Sella pulang dengan membawa hati gembira karena bertemu dengan laki-laki yang bisa sedikit merubah pikirannya tentang laki-laki yang baik atau yang buruk.


'Banyak orang baik di dunia ini, kalau kau beruntung maka kau akan mendapatkannya. Tapi kalau kau kurang beruntung, jadilah salah satunya.'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2