Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 97. Apa Sudah Cukup?


__ADS_3

Ketika Sella mengalami kejadian yang memalukan itu, banyak orang yang merekam, membuatnya merasa terhina. Ia ingin berita itu tidak tersebar agar ibu atau adiknya tidak mengetahuinya melalui internet, apakakah itu mungkin?


"Tidak percaya soal apa?"


"Janjimu, kau bilang aku bisa percaya padamu, akan kau jaga rahasiaku, tapi apa sekarang ... semua orang tahu, mungkin seluruh dunia. Beritanya pasti sudah tersebar."


Alrega menarik nafas, sambil mengepalkan tangan tanpa Sella melihatnya. Ia kesal dengan orang yang ia percayai, tidak becus menjalankan perintahnya, termasuk Zola. Mereka dengan ceroboh membuat Delisa menjalankan rencana buruknya.


Waktu itu Zola sudah menahannya, tapi usahanya sia-sia ketika nenek menyetujuinya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tenang saja soal berita itu, tidak ada orang yang akan mengetahuinya melalui internet." Kata Alrega sambil memalingkan pandangan ke arah jendela.


Saat Sella sudah pergi karena diusir oleh Marla, Rehandy kembali ke aula pesta, bersamaan dengan datangnya Kakek Mett Haquel. Dua orang laki-laki itu yang membereskan pelaku utama yang sudah merusak pesta. Mereka juga yang menghapus rekaman dari semua orang yang mengabadikan kejadian itu melalui ponsel.


Bukan hal yang sulit bagi orang yang memiliki kekuasaan seperti mereka, untuk membungkam media, ataupun menutup semua situs pribadi dan media sosial milik perorangan, sehingga tidak bisa menayangkan berita yang mempermalukan keluarga.


Lalu Alrega kembali menatap Sella dan berkata, "Jadi kau tidak perlu khawatir. aku juga sudah menghukum orang-orang yang seharusnya menjagamu."


'Hei, memangnya Apa yang kau lakukan pada mereka? Akh, terserah!'


Sebenarnya apapun yang dilakukan manusia, seandainya Tuhan menghendaki semua itu terjadi, maka terjadilah. Tdak ada yang bisa menahan-Nya walau sekuat apapun manusia itu mencoba.


Sella mengerti dan memahami hal seperti ini, tapi rasa kecewa itu tetap ada.


"Sekarang semua sudah terjadi, semua orang sudah tahu siapa aku, bahkan mungkin orang lain akan berpikir aku orang yang buruk, sudah menipu lalu menikahi orang yang sudah kutipu karena uang."


'Ahk, menyedihkan sekali'


"Itu urusanku, mereka tidak berhak ikut campur." Zen menjawab dengan tenang, sambil membereskan bekas peralatan makan, yang sudah digunakan oleh Sella. Lalu meminta pelayanan membawa nampan itu keluar.


"Apa kau sudah selesai?" Tanyanya kemudian.


Sella mengangguk, sebenarnya ia cukup kesulitan makan seorang diri, dengan tangan yang tersambung selang infus, tapi ia tidak mau bergantung pada Alrega.


Sekarang, tempat tidur sudah rapi dan pelayan sudah pergi dan menutup pintu kamar kembali.


"Kalau kau tidak mau jalan-jalan, tunggu aku di sini, sampai kau pulih," kata Alrega.


Ia duduk di samping Sella yang bersandar di ujung tempat tidur sambil memanjangkan kaki dan Alrega mengikutinya.


Sebenarnya Alrega berniat mengajak Sella pergi, ke rumah Zen dan bertemu dengan kekasihnya.


Sella masih cemberut dan ia melipat kedua tangannya di perut, seperti melipat wajahnya.


"Apa kau mau pulang?" Tanya Alrega sambil menggamit tangan Sella dan menciumnya. Sella segera menarik dan kembali melipat tangannya di depan perut.


"Tidak," jawab Sella ketus.


Semua orang di rumah, sudah tahu siapa dirinya, membuatnya tidak berani kembali ke sana dan menampakan wajahnya, ia akan sangat malu. terutama pada kakek Mett serta Zania.


"Apa kau masih marah? Maafkan Aku."


"Untuk apa? Tidak ada gunanya minta maaf."


"Untuk ... seharusnya aku ada di sana untuk membela mu."


Sella mendesah keras, dalam hati ia merasa, dunia tidak mungkin merubah apa yang terjadi pada setiap manusia dan apa yang ia lakukan adalah memang yang seharusnya. Manusia hanya bisa memperbaiki kesalahnnya, tapi tidak pernah bisa merubah semua yang sudah terjadi padanya.


Seandainya, Arega ada di sana atau tidak, semua rahasianya akan terbongkar suatu saat nanti, tapi yang ia tidak mengerti kenapa harus secepat ini?


"Semua sudah terjadi, tidak ada gunanya minta maaf,".


"Ya setidaknya kau tidak marah ..." Alrega kembali menyahut Sella sambil mencium keningnya.


'Mungkin, kemarahanku tidak akan pernah berakhir padamu. Aku akan terus marah seperti ini kecuali kau benar-benar bisa meluluhkan hatiku, memangnya apa yang bisa kamu lakukan?'


"Sampaikan salamku pada ibu, aku tidak pulang, aku juga marah pada diriku sendiri aku kecewa dan menyesal atas perbuatanku." Sella berkata dengan perlahan karena ia kembali menangis, membuat suaranya sedikit bergetar.


"Al, apa seperti itu rasanya, saat aku memfitnahmu, dulu di pesta pernikahanmu, apa kau begitu malu, terhina dan sakit hati?" Tanyanya kemudian.


'Tidak, aku sudah tahu kalau kau bohong waktu itu, aku sudah tahu semuanya'


Alrega merengkuh bahu Sella dan membawanya ke dalam pelukannya, sambil berkata. "Sudah, jangan kau ingat lagi masalah ini. Aku baik-baik saja sekarang. Semua orang di rumah juga tidak akan marah padamu. Peecayalah."


Mendengar ucapan Alrega, Sella memundurkan tubuhnya dan mengernyit menatap Alrega.


"Kau bilang aku harus percaya padamu, setelah semua yang terjadi sekarang? Hah! Lucu sekali." kembali mendorong dada Alrega, lalu melepas dua cincin pemberian Alrega di jari tangannya.


"Nih, ambil. Aku tidak membutuhkannya!" Kata Sella sambil memberikan cincin itu ke telapak tangan Alrega.


"Apa kau benar-benar menyerah, sekarang? Kalau kau menyerah, maka kita benar-benar berakhir," kata Alrega, menatap Sella tajam. Entah menyiratkan perasaan sedalam apa pada tatapan matanya.


"Semua yang kau lakukan padaku sudah cukup, kau bisa menghentikannya sekarang."

__ADS_1


"Apa itu artinya kau mau melukai ibuku, melupakan janjimu sendiri, begitu?!"


Sella tidak menjawab, ia hanya menangis sesenggukan.


"Kenapa, kenapa kau harus selalu dipaksa, hemm?" Alrega berkata sambil menarik dagu Sella yang tertunduk. Ia menghapus air mata yang memenuhi wajahnya.


Ia pun berkata lagi "Kau masih punya cadangan airmata, ya? Kukira sudah habis semalam?"


Sella menepis tangan Alrega kasar. Alrega membiarkannya menumpahkan tangisannya lagi.


Rupanya drama semalam belum berakhir hanya karena sebuah kata 'kepercayaan' kata yang keramat bagi sebagian orang. Karena kata inilah yang menyangkut masalah iman!


"Apa yang bisa aku lakukan biar kau tidak marah lagi?"


"Biarkan Aku pergi."


"Kemana?"?


"Kemana saja, terserah aku."


"Baik, aku ikut denganmu."


"Tidak perlu, urus saja bisnismu."


"Urusanmu ya urusanku. Bisnisku itu sesuatu yang berhubungan denganmu."


"Aku tidak pernah meminta apapun padamu, dan sekarang aku hanya minta izin pergi, apa itu sulit?"


Alrega, bisa memberikan apapun yang Sella minta, tapi wanita itu tidak pernah meminta apapun padanya, melainkan hal-hal yang keci dan sederhana saja. Padahal bila saat ini Sella meminta tujuh kapal pesiar untuk menebus kesalahan Alrega, laki-laki itu pasti akan memberikannya.


"Aku tahu, kau tidak akan bisa memenuhi permintaanku, ada satu lagi permintaanku yang kau tidak pernah bisa menurutinya." Sella tertawa kecil saat berkata.


"Apa?"


'Makanya jangan sombong'


"Jadi pangeranku, datang dengan kuda unicorn dan membawaku mengelilingi Atlantik."


Tiba-tiba alrega tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Sella.


Setelah selesai tertawa, ia merubah posisi duduk, bersila menghadap Sella dan melipat kedua tangannya di depan dada, sambil menatapnya, hingga beberapa lama, setelah itu ia meraih tangan Sella dan kembali menyematkan cincin kejarinya seperti semula.


"Jangan lepaskan, sampai kapanpun, ingat itu." Tahu-tahu, satu tangan Alrega sudah berada di belakang kepala Sella dan mencium, menekan bibirnya sedemikian rupa, menunjukkan minat yang sangat kuat, sebagai pelampiasan kekesalannya.


Sella tidak memberikan akses pada Alrega, untuk menikmati bibirnya, mulutnya terkatub. Alrega menekan sangat keras, sehingga lama-kelamaan Sella tidak bisa menahannya. Laki-laki itu memaksa agar kedua bibirnya terbuka dan ia kini melakukan yang diinginkannya.


Ia masih dalam posisi memeluk Sella dengan kedua wajah berdekatan, bahkan hidung mereka pun saling menempel, saat ia berkata.


"Apa itu cukup?"


'Cukup apanya, sialan!'


"Kau ....?!" Sella sangat kesal dengan Alrega yang selalu bisa memaksanya.


"Kalau itu tidak cukup maka tunggu di sini."


Alrega keluar meninggalkan Sella sendiri di kamar, membiarkan pintunya terbuka, hingga membuat wanita itu bosan. Sambil menunggu Alrega, ia menggerakkan kakinya yang lemas agar segera pulih. Ia hanya banyak menangis dan kurang makan, tapi seluruh tubuhnya seolah lunglai.


Setelah beberapa lama, ia mendengar kesibukan di ruang lainnya, juga beberapa orang yang datang, menyimpan begitu banyak rangkaian bunga, bahkan beberapa bunga yang mulai mekar dalam pot pun ada.


Alrega sendiri yang menyusun bunga-bunga itu di dekat Sela, hingga memenuhi ruangan kamarnya.


'Apa dia gila? Untuk apa bunga sebanyak ini?'


Alrega sengaja memesan bunga-bunga dalam pot berbagai ukuran, bunga yang dirangkai dengan cantik dan rapi memenuhi meja, nakas, dinding, serta tujuh buket bunga besar ia simpan di atas tempat tidur hingga menutupi tubuh Sella.


"Apa itu cukup apa ini cukup, sudah membuatmu berada di negeri dongeng?" Kata Alrega sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sella.


'Ahk, kau gila!'0


"Oh, ini cukup."


Alrega menyingkirkan buket bunga yang ada di atas tempat tidur, menyusunnya di sisi dengan rapi lalu menyibakkan selimut yang menutupi kaki Sela.


Ia kembali membopong tubuh Sella keluar kamarnya menuju ruangan, yang membuat Sella tercengang. Ia melihat ucapan permohonan maaf dari rangkaian bunga yang begitu besar, sehingga ruangan itu benar-benar membuat dirinya berada di tempat yang asing, seperti negeri dongeng, atau di tengah-tengah kebun bunga yang sangat cantik.


Alrega duduk di sofa besar dan menaruh bokong Sella di atas pahanya, hingga posisinya agak sedikit lebih tinggi dari Alrega.


"Bagaimana apakah sudah bisa memaafkan aku. Apa kamu menyukainya?"


Menurut Sella laki-laki itu sekarang sudah banyak bicara, ia mengendikkan bahu dan tersenyum tipis.


"Hmm, lumayan."

__ADS_1


"Kurasa seperti itu juga cukup, apalagi yang kau inginkan sekarang? Ah, ya, kuda unicorn itu tidak ada. Apa kau ingin aku membuatnya, atau ... kita bisa memesan kuda seperti itu, di mana orang yang menjual bibit kuda unicorn, yang mempunyai tanduk di kepalanya, atau mungkin aku harus mengawinkan kuda itu dengan badak?"


Mendengar ucapan Alrega, Sella tertawa.


'Ahk, bagaimana mungkin kuda dikawinkan dengan badak, demi sebuah cula di kepalanya?'


Sella merasa sekarang Alrega menjadi bodoh karena dirinya.


Alrega memegang dagu Sella agar melihatnya, sementara tubuh Sella masih berada di pangkuan Alrega.


"Jangan marah lagi sekarang, oke?"


Sella mengangguk perlahan, ia sedikit ragu, tapi ia kasihan dengan laki-laki itu. Pandangan matanya kebawah menatap wajah Alrega yang juga tengah menatapnya. Dalam posisi yang sangat intim, ia membelit leher Alrega dengan kedua tangannya, dan tersenyum.


Kedua orang itu baru saja bertengkar, tapi posisinya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Sella bersikap sangat mesra dan manja apalagi mereka sama-sama tertawa.


Saat itu Alrega mengusap bibir Sella yang tersenyum dengan ibu jarinya. Ia berkata.


"Kau sudah memberi nama anak singa, sekarang Aku ingin mengganti nama davila untukmu, berikan satu nama saja."


Sheila mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Alrega, kedua lengannya masih bertahan di pundaknya.


'Apa maksudnya, Davile sekarang sudah benar-benar menjadi miliknya dan dia akan memberikannya padakuku?'


Sella menggeleng dan Alrega mengernyit.


'Bukankah gedung itu di dedikasikan untuk orang, yang menjadi pendampingnya seumur hidupnya, apa itu aku?'


"Benarkah kau tidak punya nama?"


"Mungkin aku harus memikirkannya, atau mungkin itu, nama ...."


"Apa?"


"Aldisa"


"Apa artinya"


"Itu gabungan namamu dan nama Delisa."


Saat itu juga, dia mengatupkan kedua bibir dan tanpa sadar mencengkram pinggang Sela lebih keras, membuat Sella meringis menahan sakit juga geli.


"Sebenarnya, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau berpikir gedung itu untuknya?"


"Aku hanya mendengarnya dari seseorang, kalau gedung itu sengaja kau bangun untuk istrimu."


"Apa orang yang kau maksud itu Hanza?"


"Iya."


"Dasar bodoh, dia salah!" Alrega menurunkan Sella dari pangkuannya, ke tempat kosong di sebelahnya.


'Mana ku tahu kalau dia salah'


"Gedung itu untukmu, kau istriku sekarang, bukan Delisa!"


'Benarkah kau bersikap seperti ini, tapi kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun padaku, tentang perasaanmu, apakah kau benar-benar mencintaiku, apa aku boleh membuktikannya bahwa kau mencintaiku atau tidak?'


"Kenapa, diam. Kau tidak percaya?"


"Sebenarnya aku masih marah padamu. Aku kesal kou menyebalkan sekali Al!" Sella mengalihkan perhatian.


"Kau tadi bilang sudah memaafkan, kan? Jadi panggil aku sayang lagi, seperti dulu."


"Aku tidak mau!"


"Apa aku harus memaksamu?"


"Kau selalu saja mengancamku, kalau kau masih suka memaksaku, aku pergi saja sekarang!"


"Hah! lalu sekarang kau yang mengancamku?"


"I, iya. Kalau kau mau aku memanggil sayang lagi seperti dulu, kau tidak makan dan minum apapun selama dua hari, begitu. Apa kau sanggup?"


"Baiklah, itu mudah, dua hari itu hanya sebentar."


Setelah beberapa saat lamanya mereka berbincang-bincang, Zen datang memberikan ponsel yang sudah terbuka, dan laki-laki itu berkata.


"Tuan ada satu masalah."


"Hmm, masalah apa, orang yang dikurung atau tentang perusahaan kita?" Alrega menyahut tanpa mengalihkan tatapannya dari Sella.


"Orang yang dikurung, Tuan."

__ADS_1


"Kenapa dia?"


bersambung


__ADS_2