Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 28. Jangan Lepaskan


__ADS_3

Sella mendongak, melihat siapa yang datang, ia tidak mematikan lampunya. Jadi dengan jelas ia melihat sosok tinggi itu di sana. Matanya setengah tertutup, dan menatap wajah Alrega dengan alis berkerut.


Saat itu posisi Sella meringkuk di sofa tanpa selimut dan bantal. Ia hampir saja tertidur walau sedikit gelisah. Ia melihat Alrega yang memakai pakaian tidurnya.


'Bagaimana dia bisa masuk. Ahk, iya. Mungkin dia punya kartu hotel yang sama'


"Kau?" gumam Sella ketika tahu siapa yang berdiri di dekat sofa. Ia segera bangkit dan duduk dengan memeluk lengannya sendiri.


'B***h kenapa tidur di sini?'


"Pergilah ke kamar dan matikan lampunya!" kata Alrega.


"Apa anda akan membayar mahal, kalau saya tidak mematikan lampunya?" tanya Sella dengan raut muka mengantuk.


Mendengar Sella berkata seperti itu, Alrega menautkan alisnya. Bukan masalah uang, tapi Sella yang tidur tanpa selimut dan bantal.


"Kubilang pergi ke kamar!" bentak Alrega


'Bukankah ini juga kamar?'


"Saya di sini saja, anda tidur dimana kalau saya tidur di sana. Itu kan kamar anda?"


"Apa kau sudah tidak sabar tidur denganku?" tanya Alrega sambil menundukkan kepala mendekati Sella.


'Hei. Pertanyaanmu tidak masuk akal'


"Bukan begitu, saya..." kata Sella terbata-bata karena gugup.


'Keras kepala juga kau rupanya, ha?' Alrega.


"Atau aku tidur denganmu di sini?" kata Alrega, semakin membungkukkan badannya kearah Sella yang membuat Sella memundurkan badan hingga kesandaran sofa. Jarak mereka menjadi sangat dekat.


Sella menggeleng, lalu beranjak dengan cepat dari sana. Ia sedikit ketakutan. Tingkah Sella membuat Alrega menarik sudut bibirnya. Setelah ia melihat Sella ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat, Alrega pergi ke kamarnya sendiri.


Ia tadi sempat berpikir kalau gadis yang ia anggap b***h itu tidak akan tidur di kamar karena takut. Dan tebakannya benar.


Sella berdiri dibalik pintu dengan jantung yang masih berdegup kencang. Ia mengunci pintu dan melihat isi kamar yang mewah dan luas. Sudah ada piyama tidur di atas tempat tidur.


'Mereka menyiapkan semua ini untukku? Iya, aku masih bermimpi. Anggap saja ini mimpi Cinderella yang jadi kenyataan.'


Sella mengganti pakaian yang ia pakai dengan piyama itu lalu menghenyakkan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran besar dan empuk. Yang paling penting adalah, tempat tidur itu nyaman. Ia mulai memejamkan mata. Rasa nyaman menemaninya.


'Kenapa dia berpikir untuk bisa tidur denganku, itu tidak mungkin kan? Hubungan seperti itu hanya untuk orang yang saling mencintai atau karena laki-laki bejat yang tidak bisa menahan hasrat saja. Tapi kalau dia, kurasa tidak akan, selama aku tidak tidur satu kamar dengannya'

__ADS_1


Sella mendengarnya sendiri dari Yorin bila Alrega masih mencintai istrinya yang dulu pernah ia nikahi. Bahkan semua keluarga mereka masih mengharapkan Delisa, sang kekasih dari Alrega tetap menjadi pendampingnya. Sella juga merasa bila suatu saat nanti istrinya itu kembali maka dirinya tidak akan dibutuhkan lagi. Pasti patah hati Alrega sampai ia begitu mendendam padanya, begitu pikir Sella.


Beberapa waktu berlalu akhirnya Sella tertidur, hingga menjelang pagi. Ia terbangun saat mendengar suara ketukkan pintu di kamarnya. Sella membuka matanya dengan malas lalu bangun seperti orang yang bingung.


Cahaya sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela yang bergerak seirama udara lembut yang menyusup lewat fentilasi.


'Dimana aku'


Ia mengumpulkan kesadaran lalu melompat turun begitu ingat, bahwa ia kini sedang menunggu sidang yang akan digelar di depan hakim dan menunggu keputusan hukuman pidana yang akan ia jalani, sebagai terdakwa yang dijerat pasal pidana dengan hukuman seumur hidup.


'Mati aku!'


"Tunggu sebentar!" kata Sella sambil merapihkan pakaian dan rambutnya lalu membuka pintu Sambil tersenyum manis.


"Nona, maaf membangunkan anda." kata tiga pelayan yang kemarin malam melayani Sella.


"Tidak perlu meminta maaf, aku yang bersalah sudah kesiangan." jawab Sella sambil melangkah keluar.


"Kalau begitu, sebaiknya anda mandi dan kemudian sarapan, nona. Sebelum anda dirias dan memakai baju pengantin." Biarkan Nani dan Mia membantu anda."kata pak Sim memberi penjelasan pada Sella tentang apa yang harus ia lakukan.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." kata Sella canggung harus dibantu orang lain hanya untuk mandi.


"Baiklah, kami tunggu nona di sini." kata pak Sim lagi, sementara pelayan yang lain hanya berdiri dibelakang pak Sim. Sepertinya hanya dia yang berhak bicara dengan nona mudanya.


Dikamar yang lain.


Zen bersama Alrega, ia membantu menyiapkan pakaian tuannya. Memakaikannya jas special warna putih yang sudah ia pesan, sepekan sesudah ia bertemu dengan Sella dan merencanakan akan menikahinya. Jas khusus yang dijahit sempurna dan sangat pas melekat ditubuhnya. Dilengkapi dengan dasi kupu-kupu warna senada.


"Anda jangan gugup, tuan. Ini pernikahan kedua anda." kata Zen sambil tersenyum mencoba memecah ambiens yang terasa menegangkan.


"Apa kau mengujiku?" tanya Alrega ketus. Wajahnya tidak berubah.


"Tidak. Mana berani saya melakukannya." jawab Zen sambil menyemprotkan parfum pada pakaian dan udara diatas kepalan Alrega. Parfum import yang beraroma maskulin khas tanah pegunungan yang terbuat dari gaharu, citrus dan pinus.


Gaharu itu sejenis pohon yang tumbuh dengan membawa aroma khas dari tengah inti batangnya dan hanya bisa diambil bila batang pohon sudah berusia lebih dari tiga puluh tahun. Karena inilah batang pohon yang terdapat hati dari inti kayu yang berwarna kehitaman itu sangat mahal harganya. Yang diambil sebagai bahan membuat parfum adalah minyak hasil sulingan dari inti kayunya.


"Apa dia sudah siap?"


"Kalau sesuai peraturan dan nona tidak bangun kesiangan, mungkin ia tak akan terlambat sampai dipelaminan." kata Zen masih dengan senyum tipisnya.


"Aku pikir dia b***h, dan pasti kesiangan," kata Alrega menyunggingkan sedikit senyum. Zen yang mendengar ucapan tuannya hanya mengangguk.


"Kau berpikir sama kan?" kedua orang itu sepakat dalam segala hal.

__ADS_1


"Iya. Bagaimana tuan saja."


"Mungkin dia tidur saat Tuhan membagikan otak." Alrega tertawa setelah berkata demikian membuat Zen menautkan alisnya. Jarang sekali Alrega menampakkan ekspresi berlebihan seperti sekarang.


"Tuan, sebaiknya kita tunggu saja nona diruangan dan lihat apa nona bersungguh-sungguh dengan hukuman seumur hidupnya." kata Zen sambil membukakan pintu untuk Alrega.


"Tuan harus tetap tenang seperti biasanya. Jangan lupa untuk memegang tangannya." kata Zen lagi setelah mereka berada di ruangan yang sudah tampak ramai.


"Kau tidak perlu mengajariku."


"Iya tuan. Saya percaya." kata Zen sambil mempersilahkan Alrega duduk di salah satu kursi yang khusus untuk dirinya menunggu calon pengantin wanita. Kursi itu terdapat disalah satu sudut ruangan yang juga dihias dengan sangat indah.


***


Sella memakai gaun pengantin dibantu oleh tiga orang yang juga merias dirinya. Ia sudah terlambat. Selondra tampak puas dengan hasilnya yang akan membuatnya aman dari kemaraha Alrega, iya yakin sekali.


Gadis itu dirias dengan riasan yang sesuai dengan pakaiannya, ia senang karena hasil riasannya tidak terlalu mencolok atau glamour. Tapi tetap saja kesan glamour itu kini melekat padanya. Baju pengantinnya berwarna peach dengan lapisan brukat yang lembut, tidak ada kain panjang yang berjuntai, kesannya adalah sederhana tapi siapa yang tahu kalau ternyata gaun pengantin itu justru yang paling mahal, diantara baju pengantin Sellondra lainnya.


Ia berjalan dengan terburu-buru menuju lift, dua pelayan membantu mengangkat gaun itu, agar Sella dengan mudah berjalan. Sedang ia sibuk memegangi hiasan yang melingkar pada rambutnya. Padahal hiasan itu tidak akan jatuh. Apalagi sepatu higehill yang dipakainya, menyusahkan saja.


Ketika lift sudah terbuka, ia kembali menegakkan tubuh dan berjalan dengan anggun, berusaha menguasai dirinya sendiri dari segala kemungkinan yang muncul. pakaiannya sudah dirapikan kembali.


Sampai di depan pintu, Sella menatap suasana ballroom dimana semua dekorasinya sangat mirip dengan dekorasi pesta dua tahun yang lalu, tapi ini lebih mewah, lebih indah, suasana itu seperti hendak menghapus masalalu dengan keindahan yang lebih baik.


Anehnya, hanya sedikit para tamu undangan yang ada, ruangan itu juga tidak terlalu penuh.


Semua kursi seperti sudah dipersiapkan sesuai jumlah orang yang datang. Tentu saja, mereka adalah orang-orang terdekat kedua mempelai, keluarga dan saudara juga beberapa kolega bisnis yang memang harus tahu akan pernikahan ini, para pimpinan perusahaan cabang dan juga teman-teman Alrega.


"Sese..." sapa ibunya, ialah yang akan menjadi pendamping Sella di pelaminan.


"Ibu..." Sella memeluk ibunya.


Sungguh seandainya bisa ia ingin sekali bercerita pada Flinna, bahwa suasana saat itu adalah suasana yang sama pada saat ia sudah melakukan penipuan pada seseorang, dihari yang sama, di waktu yang sama dan ditempat yang sama. Ini tidak mungkin kebetulan, ini sudah direncanakan.


Alrega hanya ingin menghapus kenangan buruk itu dengan cara yang berbeda. Dihari ini ia pernah kecewa dengan rasa kecewa yang begitu dalam, karena ia telah ditinggapkan oleh istrinya. Perempuan itu merasa sudah dikhianati, tapi kenyataannya dirinyalah yang sebenarnya telah dikhianati. Dan sekarang dihari yang sama ditempat yang sama pula, ia ingin menegaskan bahwa kenangan itu sudah berganti dengan sempurna.


Sella dituntun oleh ibunya menuju pelaminan menghampiri Alrega yang menatap dirinya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Kedua mata saling tatap, seolah dua pasangan yang saling mencintai.


'Inikah maksudmu menghukumku? Ini belum juga dua hari dan kau sudah melukaiku sedalam ini. Menguliti kenangan yang dengan susah payah aku buang . Bolehkah aku menangis? Jangan tersenyum seperti itu senyumananmu memuakkan, tuan. Mengapa rasanya sesakit ini, bahkan sebelum aku mencintai?'


"Kemarilah, jangan lepaskan tanganku." kata Alrega begitu Sella mendekat dan ia meraih tangan gadis yang sudah berkeringat dingin diwajahnya. Tangannya pun gemetar dan basah. Ia benar-benar gugup.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2