Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 103. Cinta Pembantu Dan Majikan


__ADS_3

Mendengar suara orang yang berbicara menyela perbincangan mereka, Sella dan Loni menoleh bersamaan. Tampak Zen yang sudah berganti pakaian santai berdiri dengan bersandar di sisi pintu dapur, menatap Loni sambil melipat kedua tangannya.


Loni segera berdiri, lalu menunduk hormat kepada Zen, dia berkata," Maafkan saya, Tuan. Tidak tahu Anda ada di sini."


Kedua orang berlawanan jenis itu saling menatap, tanpa berniat menjelaskan maksud dari perkataan dan pertanyaan dari sebuah kalimat yang membuat siapa pun penasaran.


"Buat dua gelas kopi, bawa ke ruangan ku!" Zen berkata dengan suara datar, lalu berpaling dari dapur, kembali ke perpustakaan.


Ia merasa tidak perlu menanyakan maksud dari perkataan Loni sekarang. Ia akan membahas tentang masa depan itu, nanti, jika Alrega dan Sella sudah pergi.


Zen kembali duduk berhadapan dengan Alrega yang tengah membaca buku di ruangannya.


"Mana, kopinya?" Alrega bertanya tanpa menoleh ke arah Zen.


"Sebentar, Tuan. Loni akan membawanya ke sini untuk Anda," kata Zen, sambil menyalakan laptopnya.


"Jadi, gadis itu bernama Loni? Kau menyukainya, Zen?"


Zen mengalihkan tatapannya dari laptop kepada Alrega, yang masih sibuk membaca. Pria yang ada di hadapannya itu sama sekali tidak bergerak, membuat Zen sulit sekali menebak bagaimana ekspresi wajahnya. Dia sendiri tidak tahu jelas perasaannya pad Loni, kehadiran wanita itu hanya sedikit mengganggu pikirannya saja.


Dia tidak tahu apakah hal itu dikarenakan ada seorang wanita cantik yang tinggal satu atap bersamanya. Dia biasa tinggal sendiri, wajar kalau keberadaan wanita itu menganggunya.


Zen tidak mungkin mengusirnya karena ia tidak memiliki tempat tinggal. Tidak mungkin juga bagi dirinya untuk menyewakan sebuah apartemen atau rumah tinggal, ia merasa itu akan sangat berlebihan. Loni hanya seorang pelayan.


Tak lama dua cangkir kopi pesanan Zen, sudah diletakkan oleh Loni di atas meja. Alrega melirik Zen yang tengah melirik Loni, membuatnya berdehem dengan sangat keras.


Alrega tidak bermaksud mengganggu Zen saat tengah asik menikmati wajah cantiknya, hanya saja ia heran bila sahabatnya itu tidak mengakui perasaannya. Padahal Alrega melihat dengan jelas, ada ketertarikan yang nampak lewat tatapannya.


Dia hanya ingin Zen mengikuti jejaknya, segera memiliki pasangan, lalu hidup bahagia bersamanya. Mereka bukan orang yang memilih wanita dengan ukuran kekayaan maupun jabatan sebagai batasannya. Siapapun wanita itu asal dia baik dan menarik, jujur serta berasal dari keturunan orang yang baik-baik, maka tidak masalah untuk menjadikannya pasangan hidup.


Alrega sama sekali tidak memperhatikan Loni, meliriknya pun tidak, dia hanya menelisik wajah Zen. Ia hanya berharap sekertarisnya itu jatuh cinta dengan orang yang tepat. Lalu menjalani hidup bahagia bersama wanita yang dicintainya sampai maut memisahkan mereka.


Hidup sebatang kara sejak lama, sangat tidak enak menurut Alrega. Zen sebenarnya kesepian. Hanya saja, kepribadiannya yang kuat membuatnya terlihat begitu tenang. Bahkan dia memilih untuk tinggal di apartemen pribadinya, dari pada tinggal di rumah peninggalan orang tuanya.


Mungkin tinggal di rumah itu membuatnya terus saja teringat kedua orang tua, yang meninggal di tahun yang sama dengan kematian Nigiro Leosan, kakek Alrega.


Kini Alrega sudah memiliki Sella, ia pun ingin Zen memiliki kekasih juga. Dia berpikir bahwa Zen termasuk pria hebat, yang mampu bertahan tinggal satu atap, dengan seorang wanita tanpa berusaha untuk merusak kehormatannya. Zen orang yang terhormat, maka ia tidak akan sembarangan merusak kehormatan orang lain, apalagi kehormatan seorang wanita.


"Maaf, Tuan. Apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Kata Loni gugup karena suara deheman Alrega yang seolah mengisyaratkan sesuatu padanya. Dia sedang mengisyaratkan perasaan Zen pada wanita di hadapannya!

__ADS_1


'Ayo! Akui saja'


"Tidak ada." Alrega dan Zen berkata secara serentak, sambil menggelengkan kepala.


"Baiklah, kalau begitu, saya permisi." Loni berkata sambil menunduk lagi.


"Pergilah, siapkan keperluan Nona di kamarnya, kau sudah tahu, kan?" Tanya Zen ketika Loni mulai melangkah.


"Sudah, Tuan. Semua sudah saya siapkan."


"Bagus, pergilah."


Loni menjauh dari perpustakaan tempat dua pria tampan sedang berbincang, melanjutkan obrolan yang tertunda. Bicara soal cinta dan hati.


"Cih! Kalau kau sudah benar-benar mencintainya, kau tidak akan tega memperlakukan seperti tadi." Alrega mengomentari sikap Zen pada Loni.


Namun, kata-kata Alrega itu hampir membuat Zen menertawakannya, sebab ia ingat bagaimana dulu Alrega memperlakukan Sella padahal wanita itu sudah menjadi istrinya, tetap saja ia dikerjai habis-habisan olehnya.


Cinta seperti kata mutlak yang harus ada di dunia, tapi bagi sebagian orang yang mengalami hal menyakitkan karena cinta, maka cinta adalah kata nestapa baginya, entah apa artinya dunia tanpa cinta, mungkin dunia akan menjadi tak berbentuk rupanya.


***


"Ingat yang kuajarkan padamu." Sella berkata sambil merendam tubuhnya di bak mandi air hangat yang sudah di siapkan oleh Loni.


Loni merasa geli, sebab ia tidak mungkin melakukan semua yang di katakan Sella pada Zen yang kebetulan adalah majikannya.


Murah senyum, mudah memaafkan walau pasangannya banyak melakukan kesalahan-kesalahan, lalu sering memeluknya dan juga berkata manis. Itulah rumus konyol menurut Loni. Meskipun demikian, ia tetap menghargai temannya itu dan mendengarkannya sampai selesai. Biar bagaimana pun juga, Sella adalah nona mudanya saat ini.


Loni tidak akan melakukan hal itu pada Zen, dia bukan siapa-siapa bagi pria itu. Menurutnya Zen laki-laki angkuh yang selama ini begitu jauh, walaupun mereka tinggal bersama dalam satu rumah.


Mungkinkah ia menjalin hubungan seperti beberapa kisah, yang pernah ia dengar yaitu tentang cinta sang pembantu dan majikan.


Tidak, dia seorang wanita yang sudah mendapatkan gelar sarjana. Ia menjadi pelayan seperti ini karena terpaksa. Ia hanya sementara bekerja pada Zen, sampai ia mengumpulkan cukup modal usaha dan ia bisa hidup mandiri sesudahnya.


Dia bisa membina hubungan yang lebih indah lagi dari awal, tapi bukan dengan majikannya.


"Apa kau tidak menyukai Sekertaris Zen. Dia tampan, kan?" Tanya Sella sambil membersihkan tubuhnya. Ia cuek meminta Loni menemaninya mandi, sebab tidak akan ada waktu lagi setelah ini, untuk bisa ngobrol seperti ini.


"Nona, Tuan Zen memang tampan, tapi saya tidak menyukainya."

__ADS_1


"Oh, jadi begitu, tapi yang aku lihat, Zen sepertinya menyukaimu."


"Nona, Anda bisa saja, itu tidak mungkin."


Loni tersenyum masam. Ia tidak akan memberikan hatinya pada sembarang pria. Ia hanya kagum dengan kebaikan Zen selama ini padanya. Entahlah bila langit menghendaki sesuatu yang lain pada dirinya.


Dia akan sangat merasa hina kalau harus mencintai Zen dengan keadaan yang seperti sekarang ini. Ia tidak butuh di kasihani, apalah artinya cinta dari sebuah rasa kasihan. Ia ingin jatuh cinta dengan cara yang elegan, seperti dulu, saat ia masih memiliki segalanya.


Setelah selesai mandi, Sella memilih pakaian sendiri.


Sementara Loni sudah pergi meninggalkannya, untuk pergi ke kamarnya, tugasnya sudah selesai.


Sella heran, bagaimana mungkin beberapa helai pakaian yang sudah tersedia di lemari itu, semua sesuai ukuran tubuhnya.


Dia belum pernah sekalipun berkunjung ke apartemen Zen. Dia baru melihat dan masuk ke dalam tempat tinggal yang berukuran besar dan megah hari ini, tapi seolah kedatangannya sesudah diketahui, bahkan semua keperluan yang dia butuhkan bila menginap, tersedia dengan lengkap.


Sella memilih gaun tidur panjang warna ungu yang ada di sana. Saat ia masih menyisir rambutnya yang baru saja ia keringkan, Alrega datang dan langsung memeluknya dari belakang.


Laki-laki itu menghirup aroma tubuh Sella dengan sekali tarikan napas. Tak hanya itu ia pun menciumi rambut dan bahunya penuh semangat. Sella tidak menghentikan tingkah laku Alrega, ia diam sambil melihat bayangan mereka berdua dari balik cermin.


"Kau wangi sekali, pakai parfum apa?" Tanya Alrega, ketika sudah selesai dengan ciumanya, sambil mengeratkan pelukannya. Napasnya terus naik turun mengisi rongga dadanya.


"Aku tidak pakai parfum, aku tadi mandi, pakai sabun yang ada di kamar mandi Zen."


'Sialan kau Zen, kau beri istriku sabun apa? Wangi sekali. Aku belum mau mengganggunya malam ini, tapi kalau tubuhnya seharum ini, siapa yang bisa tahan'


"Bagaimana keadaanmu, tidak lemas lagi, kan?" Tanya Alrega.


Sella mengangguk, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja. Setelah ia melepaskan infus, justru ia merasa lebih sehat.


Dalam infus itu dokter Henry sengaja menyuntikkan sebuah obat yang membuat orang bila mengkonsumsinya, akan mengantuk dan lemah, karena ia ingin Sella tetap beristirahat dengan baik dan Alrega tidak mengerjainya, setidak-tidaknya untuk dua atau tiga malam saja.


"Bolehkah, aku melakukannya malam ini?" Tanya Alrega lagi.


'Memangnya mau melakukan apa, si?'


Alrega belum mendapatkan balasan jawaban apa pun saat ia sudah mengangkat tubuh Sella ke atas tempat tidur, lalu ia sendiri berbaring di sampingnya sambil memeluknya.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya, boleh ya aku melakukannya."

__ADS_1


"Tidak boleh, aku masih belum sembuh." Alasan Sella, lalu memejamkan matanya.


Bersambung


__ADS_2