Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 102. Tempat Yang Diinginkan 2


__ADS_3

Ada sebuah batu yang cukup lebar tak jauh dari pesangan itu dan Alrega membawa Sella duduk di antara dua pahanya, sambil bersandar di dadanya. Ia menyimpan dagunya di atas kepala Sella dan memeluk bahunya dari belakang.


Mereka memandang lautan yang mulai temaram, menemani deburan ombak yang terus berkejaran, yang mungkin hanya akan berhenti, saat dunia berakhir.


"Kau masih marah?" Alrega bertanya sambil mengeratkan pelukannya.


Sella diam.


'Entahlah, sebenarnya aku tidak marah, hanya kecewa'


"Al ...." Sella memanggil dan Alrega menjawanya dengan deheman saja. "Sejak kapan kau tahu, Delisa yang sebenarnya menipumu?"


Alrega menarik dagunya dari kepala Sella, menghirup napas hingga memenuhi rongga hidungnya, lalu melepaskannya perlahan.


'Aku tidak tahu kalau dia akan melakukan sandiwara sebaik itu, tapi aku tahu kebusukannya sebelum kami menikah, aku berencana menghancurkan perasaannya saat malam pertama kami, tapi ternyata ... akh, dia justru mempermalukan semua orang dengan cara kotor seprti itu di pestanya sendir'


"Jangan mengungkit hal itu lagi." Alrega menunduk, dari arah samping melihat wajah Sella.


"Aku hanya bertanya."


"Aku juga tadi bertanya, tapi kau jawab apa?"


Sella diam, ia menoleh ke belakang, sambil berkata, "Apa kau juga tahu aku cuma terpaksa?"


"Tidak penting kau terpaksa atau tidak. Itu hanya masa lalu."


"Tidak penting apanya? Bagiku itu penting."


Mendengar perkataan Sella, pria itu menarik napas dalam sambil berdiri, setelah itu ia sedikit membungkuk untuk menghadapkan wajahnya pada Sella.


"Dengar ... apa pun yang terjadi padamu dulu, tidak penting, untuk apa kau pikirkan lagi! itu cuma masa lalu, aku tidak perduli, yang penting sekarang aku sudah menikah denganku, kau istriku, kau tidak akan meninggalkanku, kan?"


Sella mengangguk.


'Kau berpikir semudah itu, sangat simpel, tapi kenapa perkataan terakhirmu seperti menjebakku, si?'


"Jadi pegang janjimu itu. Katakan apa pun yang menyakitimu, jangan menagis lagi mulai saat ini, oke?"


Sella mengangguk. Ia senang saat Alrega tidak melepaskan genggaman tangannya dan kembali berjalan menyusuri pantai. Mereka sesekali melemparkan batu ke arah ombak yang menggulung.


Matahari sudah terbenam, hari sudah menjadi gelap, Alrega mengajak Sella pulang, tapi ia menolak. Ia belum siap untuk pulang, ia belum siap berhadapan dengan Yorin dan Nenek, juga Zania. Meskipun, Alrega sudah meyakinkan bahwa mereka sekarang sudah tahu kebenarannya, Sella masih terlihat enggan. Alrega hanya mengalah.


Akhirnya rombongan kecil itu meninggalkan pantai, dengan mobil masing-masing. Sella berada satu mobil dengan Alrega dan Zen yang mengemudikannya.


Leana sendirian, membawa mobil Sella, langsung menuju kaki langit.


Alrega memutuskan untuk menginap di apartemen Zen. Itu memang ingin pergi ke rumah Zen untuk melihat seperti apa perempuan yang sudah membuat sekertarisnya itu penasaran.


Selain itu, di rumah Zen, pelayannya itu bisa melayani Sella. Akan berbeda bila ia menginap di apartemen pribadinya, ia harus mendatangkan asisten dari rumah besar orang tuanya. Itu akan sangat merepotkan.


"Apa kau lapar?" Tanya Alrega sambil menoleh pada Sella di sampingnya, ketika mobil sudah berjalan cukup jauh meninggalkan pantai, mereka mulai memasuki area perkotaan.


Sella menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Alrega, ia tidak ingin makan saat ini. Ia hanya merasa senang, hingga tidak lapar. Setelah mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, kini ia kembali merasa di hargai dan di butuhkan.


"Atau kau ingin makan ini?" Alrega berkata sambil menempelkan bibirnya di bibir Sella, menekannya dan membelitkan lidah, memainkannya di dalam mulutnya, hingga sekian lama. Sella belum sempat mengatakan apa pun, ketika Alrega melakukannya.


Sella mengikuti kemauan Alrega, kini ia mulai sedikit terbiasa, bila tiba-tiba suaminya itu menciumnya seperti ini, walau mereka melakukannya saat di dalam mobil dan mereka tidak sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di halaman parkir yang cukup luas, mobil pun berhenti. Mereka turun dan langsung menuju apartemen mewah tempat tinggal Zen selama ini.


Mereka di sambut oleh Lonisa dengan ramah. Zen sudah mengabarkan hal kedatangan mereka sebelumnya padanya, meminta gadis itu untuk menyiapkan makan malam untuk semuanya.


Begitu melihat wanita yang ada di hadapannya, Sella terdiam, matanya nanar menatap Lonisa. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia sangat tercengang.


"Kau, Loni?" Tanya Sella tegak berdiri di pintu, tidak mengikuti langkah Alrega yang sudah mendekati Sofa besar di ruang tamu milik Zen.


Lonisa mempunyai ekspresi wajah yang sama dengan Sella.


"Apa kalian saling kenal?" Zen bertanya sambil melangkah kembali mendekati Sella dan Loni.


Kedua wanita itu mengangguk.


Bagaimana Sella bisa lupa, Loni adalah teman dekat, saat mereka menuntut ilmu bersama. Loni salah seorang temannya yang meremehkan Sella, ketika ia menjadi orang yang serba kekurangan, setelah kedua orang tuanya bercerai.


Sella hanya diam saat Loni mengangguk padanya. Mereka saling bertatapan dengan ekspresi wajah yang menyiratkan keheranan, menyadari dunia begitu sempit bagi mereka.


"Sella ...." kata Loni.


"Ck! Panggil Nona. Walau kalian berteman, tapi Nona sekarang istri Tuna Rega." kata Zen.


Lonisa menjadi gugup, tak menduga akan bertemu dengan Sella, temannya yang dulu sering kali ia cemooh karena tidak lagi kaya seperti dirinya. Mereka pernah menjadi satu kelompok atau grup yang mementingkan jajan di sekolah. Itulah masa remaja yang menyenangkan, tapi siapa sangka kalau mereka tidak bisa lagi seiring sejalan.


Saat itu lah Loni sering mengejeknya karena kecewa. Sella tidak bisa lagi mengimbangi gayanya dan kelompoknya atau yang sering disebut sebagai geng Jago Jajan Sekolah. Begitulah mereka memberikan nama pada grup mereka.


Selain itu juga mereka sering saling mengunjungi, menginap atau jalan-jalan kemana pun seusai sekolah. Menghabiskan sisa uang jajan mereka hari itu, sudah menjadi kebiasaan.


Menikmati aneka makanan, bahkan sering mereka lakukan saat jam pelajaran masih berlangsung. Kadangkala mencuri waktu pelajaran hanya untuk jajan di luar sekolah.


Sejak kedua orang tua Sella bercerai, ia tidak bisa lagi mengikuti gaya mereka, bahkan Sella melupakan kesenangan jajan karena tidak memiliki uang. Ayahnya pergi tidak meninggalkan uang sepeserpun. Entah di mana laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu sekarang, sejak di usir oleh Alrega karena menggangu ketenangan keluarga Sella, ia tidak pernah lagi terdengar kabarnya.


Gadis bermata jeli itu mengangguk.


"Ayolah! Jangan sungkan padaku. Kita pernah berteman, bukan?" Kata Sella sambil meraih tangan Lonisa.


Lonisa tahu semua tentang Alrega dari bibi asisten Zen, yang dulu pernah mengajarinya bekerja. Bagaimana bisa sekarang Sella menjadi istri Tuan yang harus ia hormati.


Ia mengingat kesalahannya dulu pada Sella, malu rasanya melihat kenyataan sekarang, teman yang diejeknya dulu kini sangat berbeda. Seolah langit tidak mengijinkannya bahagia selamanya.


Ia merasa menyesal. Perbuatannya dulu adalah perbuatan anak-anak yang tidak memiliki pemahaman tentang hidup dan bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik.


Anak-anak hanya tahu hidup senang dan menuruti kemauannya tanpa berpikir panjang. Kebanyakan mereka memperturutkan keinginan sesaat tanpa memikirkan akibatnya.


"Maafkan saya, Nona," kata Lonisa sambil menggenggam tangan Sella.


"Kau ini bicara apa? Diantara kita tidak ada kesalahan, kenapa harus meminta maaf?"


"Tapi, aku dulu sudah banyak bersalah padamu, aku tidak tahu nasib yang kamu alami, sampai aku menghinamu."


"Tak, apa ... aku sudah lupa. Jangan diingat lagi, ya."


Rupanya Sella sudah banyak belajar dari semua yang dialaminya. Kebencian, dendam, balas dendam, mempermalukan orang lain, melampiaskan emosi, hampir semuanya ia jalani. Hal yang terakhir ia alami, adalah hal yang paling memalukan dan paling buruk, hingga membuatnya merasa dunia tak ada artinya tanpa kasih sayang dan saling memaafkan.


"Tapi, aku ...."


"Kau kenapa? Sekarang adalah sekarang, masa lalu selamanya akan tetap menjadi masa lalu ...." Kata Sella sambil berjalan menghampiri Alrega yang duduk sambil memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


Masa lalunya yang kelam sudah mendapatkan balasan dendamnya kemarin, yang membuatnya seperti meregang nyawa. Ketika mengetahui bahwa orang yang dulu pernah berbuat buruk padanya ada di hadapannya, ia tidak akan melakukan hal yang sama. Sebeb bila ia melakukannya, berarti ia sama buruknya dengan mereka.


Semua yang di alami Lonisa, apapun itu pasti sangat buruk juga, sehingga memaksanya menjadi pelayan rumah tangga. Itulah yang ada dalam pikiran Sella. Jadi, ia tidak perlu lagi melakukan sesuatu pada Lonisa, ia cukup memaafkannya saja. Mengingat rasa yang begitu menyakitkan, bila mendapat perlakuan buruk hanya karena kesalahan di masa lalu yang pernah ia lakukan.


Lonisa melirik pada Sella yang duduk di samping Alrega, ia disambut mesra oleh pria yang baru pertama kali dilihatnya itu. Satu penilaiannya pada Alrega, dia laki-laki yang luar biasa. Sella beruntung sudah mendapatkannya.


Beberapa hidangan sudah Lonisa siapkan di atas meja. Ia hanya perlu menambah satu piring saja karena ia tidak tahu ada Sella yang datang bersama Alrega dan ternyata dia adalah istrinya.


Mereka menikmati makanan, sedang Loni hanya diam duduk di sudut, menunggu bila para tuan membutuhkan sesuatu.


"Loni, masakanmu enak. Kau tidak hanya pintar di sekolah, tapi kau juga pandai memasak." Puji Sella tulus, makanan itu memang enak. Ia ingin mengajak Loni makan bersama, tapi ia hanya tamu di rumah Zen, sehingga ia merasa tidak berhak untuk memanggilnya.


Namun di sela-sela makan, Sella melihat Zen yang terus melirik pada Loni, membuatnya mengerutkan alisnya berpikir yang tidak-tidak tentang Zen dan Loni, menduga bahwa sebenarnya telah terjadi sesuatu di antara mereka.


Mungkinkah, mereka saling menyukai? Siapa yang menyukai lebih dahulu di antara mereka? Loni sangat cantik dan matanya penuh daya pikat, berbeda dengan dirinya yang biasa-biasa saja. Menurutnya, Zen akan bahagia bila bersamanya.


Banyak pertanyaan berkecamuk di dalam benak Sella, tapi ia merasa tak tepat mempertanyakan semua pada gadis yang tengah duduk termangu di sana.


'Hei, jangan bilang kalian sudah ... kalian hanya tinggal berdua di sini, kan? Ahk, yang benar saja!'


Setelah selesai makan, Loni melakukan tugasnya membersihkan meja makan. Terlihat gelagat yang kaku antara Zen dan gadis itu. Semua tidak lepas dari pantauan Sella yang sangat penasaran.


Alrega dan Zen pergi ke perpustakaan pribadi Zen, yang merangkap ruang kerja. Keadaan ini membuat Sella mendapat angin segar untuk bisa berbincang-bincang dengan Loni.


Mereka berdua duduk di meja minibar di dapur, setelah Loni selesai dengan pekerjaannya. Mereka menikmati secangkir teh herbal, yang ada di lemari, sesuai pilihan Sella.


"Kau sudah lama bekerja di sini?" Tanya Sella memulai obrolan.


Loni diam, sambil memainkan cangkir tehnya.


"Sese ... aku benar-benar minta maaf padamu dengan semua yang sudah aku lakukan dulu."


"Ahk, iya. Aku sudah lupa, itu sudah lama sekali. Kupikir kau sudah punya anak," kata Sella sambil tertawa kecil.


Tidak ada yang mereka ketahui dari kehidupan keduanya di masa lalu, setelah lulus sekolah, sebab mereka tidak lagi menjadi teman dekat dan tidak saling memberi kabar.


Tahun ini, adalah waktu yang seolah telah sengaja mempertemukan Sella dengan beberapa kepingan masa lalunya.


Loni hanya tersenyum, ia tidak pernah berpikir untuk menikah diusia muda. Ia hanya fokus mencari uang dan bersenang-senang, tidak pernah menduga mendapatkan kejadian buruk hingga harus kehilangan orang tua dan seluruh kekayaannya.


"Aku malu, kau sekarang jadi majikanku." Loni tersenyum kecut.


"Jangan sungkan, Lon. Kita dulu teman, sekarang juga tetaplah teman, aku bukan majikanmu." Sella menepuk bahu Loni.


"Aku justru penasaran denganmu, Se. Bagaimana kau menjadi istri Tuan Rega. Aku banyak mendengar cerita, orang seperti apa dia?"


"Memangnya seperti apa? Biasa saja." Sella berbohong.


Selama hidup dengan Alrega ia seolah selalu berada di atas sebuah atap yang rapuh, bisa runtuh setiap waktu, hubungannya sangat rentan karena berdasarkan hukuman atas kesalahan semata. Ia hanya berharap mulai saat ini pengorbanannya tidak sia-sia, membina hubungan baiknya penuh ketulusan dan cinta.


"Jangan bohong, aku dengar dia laki-laki yang tidak bisa di ganggu. Aku mau dengar ceritamu, Se ...."'


"Aku lebih penasaran dengan dirimu, apa kau menyukai Sekertaris Zen?"


"Tuan, Zen? Tidak. Aku tidak berani jatuh cinta padanya. Aku hanya butuh pekerjaan dan uangnya, aku ingin punya usaha sendiri, bisa menghidupi diriku sendiri dan bebas ikatan dengan siapapun atau apapun."


"Apa itu artinya kau tidak mau menikah juga?" Terdengar sebuah suara yang tiba-tiba menggema di belakang mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2