Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 137. Sebuah Hadiah


__ADS_3

Sebenarnya Lonisa belum mau menjalin hubungan apa pun dengan Zen saat ini, dia masih ingin bebas. Ia kuatir bila pria itu bersikap seperti Alrega pada Sella. Bukan ia tidak suka, melainkan ia tidak ingin berhutang Budi lebih banyak padanya.


“Haruskah kita menamai sebuah hubungan?” Ketika Lonisa bertanya, ia tampak seperti orang bodoh yang baru melihat dunia. Zen pun mengangguk.


“Apa kau benar-benar menyukaiku, Tuan Zen? Apa Anda tidak malu memiliki hubungan dengan pelayan di rumah, apa kata pegawai Anda nanti?”


Zen tidak menjawab pertanyaan Lonisa, tapi ia menaruh tangannya di belakang lehernya, lalu mendekatkan kepala dan mencium bibirnya. Itu ciuman yang dalam dan begitu lama, seolah Zen menunjukkan bahwa ia tidak akan malu ataupun sungkan pada siapapun saat bersamanya.


Ciuman itu seolah isi hati Zen yang mengatakan, “aku tidak perduli.”


Dia adalah wanita yang dicintainya, wanita yang secara perlahan mengukir kenyamanan dan kegelisahan secara bersamaan dihatinya.


Entah apa alasannya mencintai Lonisa karena menurutnya, seperti itulah cinta. Tidak butuh alasan apa pun untuk mencintai tapi butuh sebuah alasan untuk mengakhiri.


Lonisa membiarkan Zen menikmati ciumannya dan saat sudah berakhir,ia pun berkata, “aku tidak perduli, dengan apapun seperti yang kau katakan.. Jadi, bagaimana, apa kau masih meragukan aku?”


“Bukan soal ragu, tapi ... aku tidak ingin mengecewakanmu.”


Zen mengantarkan Lonisa ketempat yang ia inginkan, ikut berpartisipasi dalam membagikan makanan gratis di kedai. Gadis itu semangat melakukannya karena saat melihat antrian, ia seperti melihat dirinya dimasa lalu.


Setelah mengantarkan Lonisa, Zen kembali ke kantor dan menemui Alrega yang masih sibuk memilah-milah berkas yang sudah di tandatanganinya.


“Kau sudah selesai?” tanya Alrega tanpa mengalihkan atensi dari berkas yang terlihat hampir selesai. Zen mengangguk dan mendekat, hendak melanjutkan pekerjaan tuannya, saat Alrega mengambil pena dan segera membubuhkan tanda tangan.


Pria itu berkata. “Kau tidak usah datang ke sini kalau masih ingin bersama perempuan itu,” ia menutup bolpoin di tangannya, lalu menatap tajam pada Zen, sambil menyandarkan tubuhnya.


‘Eh, apa Tuan tahu isi hatiku, aku memang mau bersama Lonisa’


“Sebenarnya itu, oh bukan masalah,Tuan.”


“Aku tidak mau kau melakukan kesalahan-kesalahan mengerjakan tanggung jawabmu, hanya karena wanita itu. Jadi selesaikan urusanmu secepatnya.”


Alrega memang pernah meminta Zen untuk memikirkan dirinya sendiri, tapi tidak untuk saat ini karena ia masih sangat membutuhkan bantuannya. Urusan gedung baru harus selesai sesuai waktunya, yaitu saat hari ulang tahun Sella, Daville akan jadi hadiah terindah baginya.


“Baik, Tuan.” Zen menjawab sambil bergerak memilah-milah berkas yang hanya diketahui oleh mereka sebagai pemegang tertinggi perusAlrega Semua adalah berkas yang menjadi arsip pribadi di lemari dalam ruangan Alrega.


“Ah, ya sudah udah lanjutkan sisanya,” kata Alrega sambil mengambil ponsel di saku jasnya ia kemudian menghubungi Sella.


Alrega sudah merindukan istrinya walaupun mereka baru berpisah beberapa jam saja. Seperti itulah aktifitas tambahan yang dilakukan Alrega sekarang, berbicara dengan Sella di telepon seperti orang penting saja. Zen yang mendengar hanya melirik sambil mengedikkan bahunya.


“Apa yang kau lakukan sekarang?” katanya menunjukkan perhatian yang manis.


“Hmm ... apa calon bayiku sudah kau beri makan? Awas kalau dia lapar,” katanya lagi setelah terdiam beberapa saat mendengar suara orang berbicara dibalik telepon. Lalu entah apa lagi yang dikatakan Sella hingga pria itu menegakkan punggungnya, dengan kening yang berkerut.


“Aku tidak begitu, sekarang aku sedang mengerjakan kejutan untukmu!”

__ADS_1


Setelah diam beberapa saat lagi, ia kembali berkata sambil tertawa keras, “aku tahu itu.”


Alrega diam lagi cukup lama, lalu kembali berkata, “Itu tidak mungkin, aku akan membuktikannya lagi nanti malam.” Berhenti sejenak lalu berkata lagi. “Kapan aku pernah bercanda denganmu, ha? Baiklah, aku akan segera pulang.” Pria itu menutup ponsel dengan raut wajah penuh kepuasan.


“Bagaimana pemberitahuan untuk laki-laki itu, apa dia mau menemui ibu mertuaku?”


“Belum ada balasan Tuan. Mungkin saja dia takut.”


“Seharusnya dia lebih takut kalau tidak mau menurutiku!”


Zen mengerti maksud Alrega yang ingin masalah antara ibu Flinna dan mantan suaminya segera selesai. Itu adalah janji Alrega untuk mewujudkan keinginan ibu mertua.


Walaupun, pada akhirnya Zen yang mengurus semua keperluan Alrega dan istrinya, termasuk sekarang ia mencoba mewujudkan keinginan Flinna untuk bertemu dengan pria yang dulu pernah ia nikahi.


Entah apa yang akan dilakukan wanita itu saat bertemu lagi, padahal mereka sudah lama, bahkan bertahun-tahun tidak pernah saling bicara.


Saat peristiwa di mana Johan meminta hak kepemilikan atas rumah, yang dulu pernah ia tinggali, mereka juga tidak saling bertegur sapa. Flina mendadak bisu ketika berjumpa dengannya.


Mungkin saja dunia teluh dan santet itu memang ada, sehingga Flina tak berdaya dan hampir memberikan sertifikat rumah begitu saja. Untung lah kedua anaknya menahan, sampai akhirnya Sella datang dan Alrega yang membereskan sisanya.


***


Sella tersenyum sendiri begitu selesai menerima panggilan dari Alrega. Tidak biasanya dia menghubungiku, batinnya. Ia hanya menjawab asal saat bicara karena ia anggap Alrega hanya membuang kobosanan saja. Siapa yang mau di ganggu saat ia harus bekerja di akhir pekan? Alrega beralasan bahwa ia mengurus berkas yang akan segera selesai di awal pekan ini.


‘Ahk. Yang benar saja, bahkan dia bilang tidak bercanda dan mau cepat pulang’


Tiba-tiba ponselnya berdering, ibunya yang menghubungi dan menanyakan kabar kehamilannya.


“Jadi sekarang, kabar calon cucumu lebih penting dari pada aku?” tanya Sella.


“Bukqn seperti itu. Bayimu itu ada dalam tubuhmu, kebaikanmu adalah kebaikannya juga. Jadu kau tidak perlu cemburu.”


“Ha. Iya iya. Aku mengerti.”


“Apa kau mau ikut menemui ayahmu?”


“Ibu kan tahu aku tidak punya ayah?”


“Tanpa dia kau tidak akan lahir. Ingat itu.”


“Jadi, ibu mau memaafkannya?”


“Bukankah memaafkan lebih baik dari pada dendam?”


“Aku akan mendendam padanya seumur hidup.”

__ADS_1


Sella mengingat kembali penderitaan hidupnya setelah ditinggal pria, yang telah menyebabkannya lahir kedunia. Karena keadaan itu membuat Sella terpaksa berkomplot menipu Alrega dan keluarganya. Kemudian ia menikah pun karena alasan itu dan mengalami hal-hal yang merepotkan awal pernikahannya.


Walaupun demikian, ia mengakui bahwa masih jauh lebih baik mengalami penyiksaan saat bersama Alrega dari pada saat ia harus bekerja, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolahnya.


“Baiklah, Bu. Aku akan ikut,” kata Sella sebelum mengakhiri panggilannya. Ia ingin melihat seperti apa balas dendam yang akan dilakukan Flinna ataukah ia akan memaafkannya.


***


Lonisa masih membereskan pekerjaannya di kedai, ia akan segera pulang sore itu, setelah membantu teman-teman lamanya di sana. Walau, ia sudah tidak lagi bekerja di rumah Zen, ia tetap akan membantu jika tiba saatnya jadwal pembagian makanan gratis.


Sambil membenahi letak topi dan tasnya, ia melangkah keluar dari kedai yang masih akan buka hingga jam sepuluh malam. Disaat yang bersamaan, muncul mobil sedan hitam Zen yang biasa ia bawa untuk mengantarkan Alrega kemampuan perginya.


Zen keluar dari mobil dengan membawa satu kotak besar di tangannya. Ia tersenyum pada Lonisa yang kembali terpesona melihat sosok tinggi di hadapannya.


“Kau mau pulang?” Zen bertanya, sambil terus melangkah masuk dan Lonisa mengangguk. “Tunggulah,” katanya lagi. Lonisa menurut, ia duduk di salah satu kursi yang sengaja disusun di pinggir trotoar dengan payung besar sebagai naungannya.


Di dalam kedai terdengar suara ramai anak buah Zen yang selalu bekerja dengan baik dan setia bersorak kegirangan. Mereka seperti baru saja menang lotere. Tak lama, laki-laki itu muncul dan duduk di samping Lonisa sambil tersenyum.


“Coba tebak, apa yang aku bawa. Hmm...?” Tanyanya.


“Apa. Aku tidak tahu.”


“Aku membawakan mereka hadiah, masing-masing mendapatkan satu.”


“Oh.”


“Kau tidak mau?”


Lonisa menggelengkan kepalanya, “tidak. Mereka pantas mendapatkannya, mereka pegawaimu, tapi aku bukan.”


“Aku tanya, apa kau mau?”


“Tidak, terima kasih,” kata Lonisa sambil berdiri. “Baiklah, kalau tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku harus pergi.”


Zen mengikutinya berdiri dan menggamit tangannya, lalu memberikan sebuah kotak seukuran telapak tangan padanya. Lonisa’ tidak melihatnya saat Zen duduk di depannya karena itu ia sedikit terkejut.


“Apa ini?” Lonisa bertanya.


“Itu khusus buatmu, buka nanti kalau kau sudah tiba di rumah.”


Lonisa tampak tidak tertarik dan ia menyimpan hadiah itu dalam tasnya. Apa yang istimewa, pikirnya, karena semua karyawan mendapatkannya juga. Itu pasti hadiah yang sama dengan yang lainnya.


Bersambung


***Jangan tergesa-gesa memilih hati, sebab tidak semua kekaguman harus dicintai dan tidak semua kenyamanan harus dimiliki***

__ADS_1


__ADS_2