
Sella tercengang begitu mobil memasuki area dalam dari pintu gerbang. Ini susah dicerna oleh otaknya.
'Bagaimana aku bisa kabur dari rumah ini kalau jarak gerbang sampai rumah begitu jauh, bisa-bisa aku sudah letih sebelum sampai pintu gerbang:
"Sekertaris Zen, berapa orang yang tinggal bersama dalam rumah ini?" tanya Sella sebelum ia turun dari mobil.
"Di sini ada tuan besar Rehandy, ada nyonya tua Marla, ibu tuan muda dan juga Yorin sering sekali menginap kalau ia sedang libur."
Sampai di depan pintu, Sella sudah disambut oleh pak Sim yang membungkuk pada Sella sambil berkata,
"Selamat datang kerumah, nona muda."
Sella tersenyum, ia ingat peraturan dari Alrega tidak boleh menunduk pada orang lain karena orang lain lah yang harus menunduk padanya. Sella hanya tidak mau merusak reputasi Alrega saja, meskipun ia sangat sungkan diperlakukan seperti ini.
Seorang pelayan membantu Sella membawa sebuah koper yang Sella bawa dari rumahnya. Ia hanya membawa sedikit pakaian sehari-harinya karena ia berpikir akan sering pulang menjenguk ibunya.
Pak Sim dan Zen terlihat berbincang sebentar kemudian Zen pergi setelah Sella dibawa masuk oleh seorang pelayan.
Pak Sim melangkah dengan cepat mendekati Sella dan menunjukkan dimana kamarnya. Ia memerintahkan seorang pelayan senior yang tadi membawa koper kecil Sella untuk menyusun isi koper ketempat yang seharusnya. Tidak semua pelayan atau asistant bisa masuk kedalam kamar tuan-tuan penghuni rumah. Satu kamar mempunyai asistant masing-masing dan cuma pak Sim yang bisa masuk kesemua kamar itu.
Mereka bertiga ada di dalam kamar itu.
"Padahal aku bisa melakukannya sendiri pak Sim. Kau tidak perlu repot," kata Sela sambil menatap sekeliling kamar.
Aroma maskulin tersebar lembut dalam ruangan itu, semua perkakas dan perabotannya terkesan manly. Kamar yang begitu rapi, semua kain pada sprei, bantal, tirai, dan taplak meja berwarna senada. Ukuran kamar ini kalau ditotal dengan kamar mandi dan kamar ganti pakaian, hampir sama dengan luas rumahnya.
Setelah selesai membereskan kamar.
Pak Sim mengajak Sella berkeliling area sekitar rumah. Ia menjelaskan beberapa hal dan kebiasaan tuan mudanya. Atau kebiasaan nenek dan tuan besarnya.
"Lalu kemana ibu tuan Rega, pak Sim? Kenapa aku tidak melihatnya di pesta?"
"Maaf, nona."
'Apa naksudnya minta maaf, kau tidak salah. Aku bahkan dilarang bertanya soal ibunya?'
"Ah, pak Sim. Anggap saja aku tidak menanyakan apapun, ya?"
"Baik, nona."
'Cepat atau lambat aku akan mengetahuinya'
Mereka kembali berkeliling di area yang lain dimana semua tanaman hias dikumpulkan menjadi sebuah taman yang indah. Ada air mancur dan juga sangkar aneka burung yang cukup besar.
"Pak Sim. Aku bisa tersesat kalau pergi sendiri di rumah ini," kata Sella sambil terkekeh. Lalu berkata lagi,
"Kuharap aku tidak akan merepotkanmu, Pak. Mungkin aku menelponmu hanya untuk menanyakan kemana arah jalan pulang."
Pak Sim mengangguk sopan. Lalu tersenyum dan berkata,
"Kalau begitu, berikan nomor ponsel anda, nona."
"Pak, sudah kubilang jangan terlalu sopan padaku," kata Sella sambil menggerakkan tangan mengambil ponsel dari saku dressnya.
'Tapi tuan Haquel sepertinya menyukai anda. Bagaimana aku bisa tidak sopan padamu?'
"Nona, andalah ratu rumah ini. Jadi saya harus sopan. Walau saya lebih tua."
'Iya, aku ratu tapi pembantu bagi tuan Rega. Bahkan aku tidak boleh tau urusannya, ratu apanya?'
"Ah, pak Sim. Kau sangat baik." kata Sella sambil memberikan nomor ponselnya pada pak Sim.
'Anda juga baik, nona. hanya orang baik yang bisa memuji orang lain baik'
__ADS_1
Setelah lelah berkeliling, Sella dipersilahkan untuk istirahat di kamarnya.
'Apa aku bisa tidur secara berpisah dengan tuan?'
Sella merebahkan diri di atas kasur yang nyaman, melihat sofa beaar yang ada di susun rapi dekat tempat tidur menghadap televisi yang menempel di dinding kamar.
Setelah beberapa lama, Sella mengisi waktunya dengan melihat televisi dan memeriksa pesan diponselnya. Terdengar suara ketukan di pintu saat Sella hampir saja tertidur. Sudah waktunya makan siang.
Kamar Sella ada di lantai dua, ia melihat ke bawah tidak ada siapapun di sana. Sella hanya berdiri di samping meja makan. Selain karena pak Sim yang tidak mempersilahkan Sella untuk duduk, ia juga ingat ketika sarapan tadi pagi, ia mendapatkan teguran yang jelek karena ia mendahului Alrega.
Sella berpikir jika Alrega tidak mau makan waktu itu karena ia tidak senang sudah didahului.
"Duduklah," kata seorang wanita yang duduk di kursi roda. Nenek Marla memang lebih senang bergerak kesana kesini dengan kursi rodanya bila di rumah.
Nenek duduk di salah satu sisi, dan pak Sim menarik salah satu kursi untuk Sella.
"Disini tempat duduk anda nona, silahkan," kata pak Sim memberi isyarat pada Sella untuk kedepannya disitulah tempat duduknya.
Seorang asistant melayani nenek makan, ia menunjuk beberapa makanan yang ingin ia makan. Setelah semua siap dipiringnya, nenek berkata,
"Makanlah."
"Baik, nyonya." kata Sella, ia mengambil beberapa makanan dan disimpannya diatas nasinya.
"Panggil aku nenek."
'Nenek? Tapi rambutnya tidak putih dan dia terlihat muda'
"Oh, nenek. Apa kabar? Nenek terlihat segar," kata Sella sambil tersenyum dan menyuap makanan kemulutnya.
Pak Sim terlihat cemas, dilarang banyak bicara saat makan. Terlihat nenek yang diam, mulutnya mengunyah perlahan sambil menatap Sella dengan tatapan aneh, seolah sorot mata itu berkata, anak tidak tau sopan santun dia terlalu banyak bicara!
'Apa aku dilarang bicara juga saat makan? Kalau tidak, kenapa nenek tidak menjawab, apa dia begitu membenciku?'
Setelah nenek selesai makan, ia asistant mendorong kursinya dan berhenti di dekat Sella, meliriknya sebentar dan berkata,
'Aku tau, nenek. Kau tidak perlu mengingatkan bahwa cucumu itu tidak mencintaiku. Seandainya kalian tau atas dasar apa dia menikahiku'
Kalau memang sebuah pernikahan dilakukan dengan tujuan dan alasan yang salah, kemudian tumbuh cinta diantara mereka, apakah cinta itu bisa disalahkan? Ahk, kadang cinta memang begitu, datang secara tak terduga, indah, tapi menyakitkan bila tak tepat.
***
Hari sudah sore, ketika pak Sim mengirimkan pesan pada Sella yang ada di kamarnya, memberi kabar kalau Alrega akan segera pulang.
"Nona, kalau tuan muda pulang, perhatikan apa yang saya lakukan. Kelak, tugas ini akan menjadi tugas nona seorang. Cuma nona yang berhak melakukannya pada tuan," kata pak Sim ketika Sella sudah berada di ruang tamu. Ia duduk sambil memainkan ponselnya.
"Nona, apakah nona sudah membersihkan diri?" tanya pak Sim.
"Belum," jaqab Sella jujur. Ia masih menggunakan dress yang tadi pagi.
"Nona, saya rasa masih ada waktu untuk menyambut kedatangan tuan muda dalam keadaan bersih."
'Ini juga bersih, aku tidak bau'
"Baiklah," kata Sella sambil bergegas ke kamarnya dan mandi secepat yang ia bisa lalu mengganti pakaian. Ia sempat heran ketika ia membuka lemari pakaian, ia melihat baju-baju wanita dengan berbagai model dan jenis tergantung rapi dilemari.
'Baju siapa ini. Sialan! Dimana pakaianku? Ah, mungkin saja semua baju ini milik semua wanita yang pernah tidur di sini, hii'
Akhirnya Sella menemukan bajunya berada dibagian paling bawah. Membuat ia menggeleng-geleng. Ia memakai bajunya sendiri yang menurutnya paling bagus.
Pak sim terlihat tenang saat menunggu, ia sudah terbiasa dengan pekerjaannya, sementara Sella terlihat gelisah. Dan yang membuat Sella lebih jengkel adalah Alrega datang saat hari hampir gelap.
Mobil Alrega berhenti di dipan teras, ia keluar setelah Zen membukakan pintu mobilnya. Lalu pak Sim dan Sella berdiri menyambut dengan senyum dan menunduk. Lalu Alrega mamberikan isyarat pada Sella untuk mendekat. Ia menjentikkan jarinya pada Sella. Zen yang melihat hal itu tidak heran kemudian dia memasuki ruang kerja.
"Pak Sim biar dia yang melakukan semuanya. Pergilah," kata Alrega pada pak Sim. Laki-laki tua itu mengerti dan berlalu dari sana setelah melirik Sella sekilas, memastikan gadis itu bisa melakukan tugasnya dengan baik.
__ADS_1
Pak Sim meninggalkan Alrega dan Sella yang berada di ruang tamu.
"Buka bajuku," kata Alrega, ia menatap Sella sambil mengacungkan jasnya. Sella mengerti, ia memutari tubuh Alrega bergerak kebelakang sambil melepaskan jas. Sesudah itu Alrega berkata,
"Mana sendalku?"
Sella melihat ada sandal khusus rumah yang ada di dekat sofa, lalu memberikannya pada Alrega.
'Ini pasti sandal yang sudah pak Sim siapkan untuk dia'
Alrega duduk di sofa dan mengacungkan kakinya pada Sella.
'Apa. Apa, melepaskan sepatu mu begitu? Apa sih susah nya ngomong?'
Sella melepas sepatu dan kaus kaki Alrega lalu mengganti dengan sandal rumah, lalu ia berdiri, beranjak meninggalkan Alrega menuju kamarnya hendak menyimpan jas yang ada ditangannya.
Sampai di tangga, pak Sim mengiringi langkah Sella ke kamar sambil membawa sebotol anggur dan gelas bersih diatas nampan.
"Terimakasih pak Sim," kata Sella ketika sudah sampai di kamar dan pak Sim menyimpan botol anggur dan Sella menyimapa jas dikeranjang pakaian.
Ketika pak Sim keluar, Alrega sudah berada di depan pintu. Pak Sim keluar dengn menutup pintunya perlahan. Sella nampak bingung akan melakukan apa, ia berdiri kaku dengan kepala menunduk.
"Apa anda mau makan malam, tuan?" tanya Sella mencoba mencairkan suasana. Alrega berdiri tepat dihadapannya.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan di sini?" jawab Alrega dengan nada mengejek.
"Saya akan menemani anda makan," kata Sella melirik Alrega sekilas.
"Kau pikir itu perlu, ha?"
'Iya, aku tau kau tidak butuh ditemani, tapi aku harus apa?'
"Urus saja urusanmu sendiri."
'Memangnya aku punya urusan apa di sini?'
"Tuan, tidak ada yang bisa saya urus di sini. Semua sudah ada pelayan yang mengurus," kata Sella memberanikan diri untuk bicara, bahkan ada suara tawa kecil di akhir kalimatnya seolah menertawakan dirinya sendiri.
'Hukuman apa, ini bahkan terlalu mudah'
"Jadi kau pikir ini mudah, ha?" tanya Alrega sambil berjalan lebih dekat dengan Sella dan ia mencengkeram dagu Sella dengan jari-jari tangannya yang ramping. Matanya menatap mata Sella yang seperti bulan sabit dengan bulu mata panjang yang melengkung.
Sella mencoba menggelengkan kepalanya mencoba melepaskan dagunya tapi tidak bisa, ia kini sadar kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pria yang ada di hadapannya.
Sella membuka bibirnya dan berkata,
"Bukan begitu, aku hanya melakukan yang baik untuk anda. Sesuai janji saya, saya akan menjalani hukuman ini dengan baik."
"Cuma dengan menemaniku makan malam?" masih mencengkram dagu. Sella mengangguk. Saat lamaran juga ia pernah diperlakukan seperti ini lalu berakhir dengan ciumman.
"Baiklah," kata Alrega melepaskan tangannya dari dagu Sella.
Sella mengusap-usap dagunya yang sudah memerah. Ia tidak berani menatap mata pria itu lagi, tatapannya sungguh membuat jantung Sella seperti berlomba lari.
"Kalau begitu siapkan semuanya, aku mau mandi," kata Alrega sambil menyunggingkan senyum kecil diujung bibirnya.
'Apa aku harus membawakan air mandimu kesini? Mandi ya, mandi saja sana'
"Ayo cepat. Aku tidak suka menunggu lama!"
'Apa aku harus menyiapkan air hangat? Siaal! kenapa tadi aku tidak menanyakannya pada pak Sim?'
"Baik, apa anda mau mandi air hangat tuan?"
"Bukannya kau, seharusnya sudah tau?"
__ADS_1
Bersambung