
"Jangan banyak bertanya, kalau kau mau ikut, ya ikut saja," sahut Delisa sambil meraih kunci mobilnya.
Zola merasa perlu tahu apa yang akan dilakukan Delisa demi masa depannya. Ia ingin Alrega mengampuni kesalahan dan membawanya kembali pada karir impiannya. Karena Itu, ia mengikuti Delisa kemanapun ia akan pergi, lalu melaporkan kegiatan Dslisa itu pada Zen.
Delisa dan Zola mengendarai mobil, pergi ke suatu tempat. Mereka bertemu dengan seseorang penjaga, yang menanyakan apa keperluannya datang ke tempat itu. Sebuah tempat yang berpagar tinggi itu adalah Villa kediaman Hanza, bangunan mewah yang luas dan dikelilingi taman bunga. Dari jauh di luar pagar, Delisa melihat mobil Hanza terparkir di sana.
Setelah berbicara pada penjaga, akhirnya Delisa diizinkan masuk dan kedua wanita itu bertemu, dengan Hanza yang masih duduk di sofa besar, sambil mengangkat kakinya ke atas meja. seorang pelayan memberitahu bahwa ada dua orang wanita yang menemuinya. Hamza kemudian mempersilahkan Delisa dan Zola masuk, tanpa merubah posisi duduknya, dan berkata,
" Deli apa yang membawamu kemari, apakah karena Rega. Apa kau membutuhkan bantuanku?" Tanya laki-laki itu.
Hanza selalu seperti ini, tindakannya selalu cepat dan rapi, dugaannya sering sekali tepat. Ia adalah saingan Alrega dalam bisnis properti. Kadang dia juga bisa berubah-ubah dalam bersikap sesuai kondisi. Termasuk ketika ia bertemu dengan Sella, ia tampil menjadi pribadi yang hangat dan ramah. Akan tetapi saat ini, ia tengah menjadi pribadi yang masa bodoh.
"Han, aku tahu kau kenal dengan istri Rega, kan? Aku lihat tadi sikapmu berbeda padanya. Apa kau menyukai gadis itu?" tanya Delisa setelah duduk di hafapan Hanza, sementara Zola duduk di samping Delisa.
"Aku mengenalnya atau tidak, aku menyukainya atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu, kan? Yang penting adalah, apa yang kau inginkan dariku? katakan!" kata Hanza dengan tatapan serius, tepat ke bola mata Delisa.
"Begini, aku masih mencintai Alrega dan aku ingin menyingkirkan perempuan itu, dengan cara yang sangat bagus. Aku lihat kau seperti menyukainya, menurutku, dia cukup cantik!" kata Delisa sambil tersenyum tipis.
"Lalu?" Tanya Hanza.
"Aku ingin kau bisa menggodanya, hingga dia tertarik padamu dan membuat mereka berdua bercerai, tanpa kekerasan dan ... tanpa mengotori tanganku," kata Delisa dengan perlahan.
Ia memposisikan dirinya sebagai orang yang yang lebih tinggi kedudukannya dari Hanza, membuat laki-laki itu tertawa.
Ia berkata.
"Jadi, kau bermaksud menjadikan tanganmu tetap bersih dan membiarkan tanganku yang kotor, begitu? Memangnya kau pikir siapa dirimu berani bicara seperti itu kepadaku, ha?"
Delisa mengerutkan keningnya seketika dia tersadar bahwa dirinya bukanlah Delisa yang dulu lagi, lalu Hanza bukanlah orang yang lemah dan bisa ia manfaatkan begitu saja. Mereka hanya teman biasa yang dipertemukan karena Gedung Daville. Mengenai itu, Hanza sangat berterimakasih pada Delisa. Seandainya Delisa tidak menjual Daville kepada orang lain mungkin Hamza juga tidak bisa memiliki Daville seperti saat ini.
Demi menyelamatkan harga diri dan demi tujuannya tercapai, Delisa terus merendahkan Sella, ia kembali berkata,
"Han, wanita itu adalah orang yang sudah memfitnah Rega, aku benci sekali padanya! Ia sudah mengatakan hal yang tidak pantas pada Rega, bagaimana mungkin ia pantas mendampinginya? Gila, kan?" kata Dslisa. Mendengar ucapan Delisa, Zola menautkan alisnya.
'Kau Sebenarnya tidak perlu berbohong pada Hanza. Kau keterlaluan sekali' Zola.
"Aku pikir, Rega menikahinya karena ia ingin membalaskan sakit hatinya padaku. Sebab tidak mungkin Rega begitu bodoh menikahi wanita yang telah menipunya dua tahun, yang lalu," kata Delisa berapi-api.
"Ya, aku pernah mendengar berita itu, dan kau benar. Rega tidak mungkin menikahi wanita itu tanpa tujuan tertentu. Satu yang membuat aku heran, sebenarnya apa hubungan semua ini denganku? Aku tidak mau terseret dalam hubungan konyol kalian!" sahut Hanza sambil menurunkan kakinya. Ia mulai mengambil posisi duduk tegak.
"Aku tidak akan meliibatkanmu. Maafkan aku, mungkin aku hanya salah lihat saja. Aku kira kau menyukainya dan setelah kita bekerja sama, kau bisa memilikinya. Aku menggoda Rega dan kau merayunya. Selesai. Kalau Alrega cemburu, ia akan menceraikan wanita itu!"
"Kalaupun aku menyukainya, aku tidak akan menggunakan cara licik pada seorang wanita yang aku suka."
Hanza tahu kalau sebenarnya Sella menyukai Alrega, ia ingat apa yang Sella teriakkan waktu mereka berdua berada di Daville. Saat itu, Sella terlihat sangat menggemaskan, apa lagi wajahnya dan bibirnya yang mirip dengan kekasihnya yang telah tiada, ia menaruh harapan padanya, hingga Kemudian ia tahu, bahwa Sella adalah istri Alrega, ia tidak ingin mengganggunya. Bukan karena ia segan pada Alrega, tapi karena ia tidak ingin Sella mendapatkan masalah karena dirinya.
"Siapa namanya. Apa kau tau?"
"Kalau tidak salah ingat, Sella. Ya Sella," jawab Delisa.
"Aku lebih suka memanggilnya Davi."
__ADS_1
"Terserah kau, Han. Kurasa, apapun alasanku kau tidak akan mau membantuku,"
"Tidak, aku tidak akan berbisnis dengan cara kotor. Aku mengandalkan kemampuan, bukan kelicikan."
"Baiklah aku mengerti, aku hanya berusaha untuk mendapatkan Regaku kembali. Aku dulu terpaksa pergi karena aku sangat sakit hati, aku tak bisa menghadapi kenyataan kalau aku sudah dihkianati," kata Delisa dengan mengepalkan tangannya.
'Deli, kau tidak perlu membesar-besarkan masalah yang kau buat sendiri. Apalagi didepan orang ini. Siapa yang sudah menghkianati siapa di sini?' Zola.
"Aku mengerti, perasaanmu. Berhati-hatilah, sebab kau tahu kan siapa yang harus kamu hadapi?"
"Sebenarnya aku hanya tidak tahan dengan diriku sendiri" kata Delisa sambil tertawa. diakhir percakapan mereka.
***
Malam itu Sella berbaring di kamar Zania sambil memeluknya, ia mendengar Ibu mertuanya itu menyenandungkan sebuah lagu, dengan suara yang sangat lirih dan samar. Sella berpikir tentang lagu apa yang disenandungkan oleh Zania. Ia ingat bahwa lagu ini adalah salah satu lagu yang pernah dinyanyikan oleh ibunya, ketika ia masih kecil.
Kemudian ia berusaha mengikuti senandung yang di dilantunkan oleh Zania, tapi saat itu juga Zania menghentikan senandungnya. Ia melihat Sela dengan memiringkan kepalanya. Sella berkata,
"Ibu, hafal lagu ini, kau pasti ingin kita menyanyikannya. Maaf, tapi aku tidak hafal lagu ini. Aku harus pulang kalau mau menanyakannya pada Ibuku. Apakah aku boleh pulang? Kalau boleh, aku akan pulang besok dan kita akan bernyanyi bersama-sama, oke?" kata Sella sambil mengusap dan membelai punggung Zania. Ia tampak mengerjapkan matanya seolah dia mengerti apa yang dikatakan menantunya.
Gadis itu berpikir kalau seandainya ia harus pulang, maka ia harus meminta izin pada Alrega.
Tadi siang, setelah mereka makan siang, Alrega mengantarkan Sella pulang ke rumah. Makan siang yang tidak romantis menurut Sella, karena makan siangnya hanya mereka berdua dan tempatnya terlalu mewah. Sebuah makan siang yang berlebihan baginya. Padahal di rumah juga banyak sekali makanan, tapi sekali lagi karena ia tidak berdaya dan ia adalah seorang terhukum, maka ia harus mengikuti apapun keinginan sang Hakim.
Setelah Alrega mengantarkan Sella, ia kembali menuju kantor untuk bekerja, hingga sampai malam ini Alrega belum juga menampakkan batang hidungnya. Tidak ada pesan apapun darinya yang menandakan bahwa laki-laki itu akan lembur dan pulang larut malam. Karena nya Sella memutuskan untuk tidur dengan Zania malam itu juga.
Ketika Alrega pulang, sudah sangat larut malam. Ia masuk ke kamarnya seperti biasa, setelah melepaakan jas dan sepatunya. Pak Sim mengikutinya dari belakang dan membawakan sebotol anggur serta gelas kosong untuk Alrega dipagi harinya. Kedua laki-laki itu melihat di atas tempat tidur, rupanya Sella sudah menyiapkan baju tidur yang akan Alrega pakai setelah pulang bekerja.
Tetapi karena sekarang ada Sela, istrinya yang bisa merawat ibunya. Ia tetap bertahan di rumah itu. Dan saat ini Alrega tidak melakukan sesuatu, ia berbaring dan mencoba untuk menenangkan hatinya, dan tidur.
Perempuan itu memang tidak harus tidur bersamanya. Namun anehnya, Ia tetap saja gelisah dan beberapa kali terbangun di tengah malam hanya untuk melihat ke arah sofap seolah-olah mengharap Sella ada disana. Padahal Pak Sim sudah memberitahunya, bahwa Sela tidur di kamar Zania.
Lewat tengah malam Alrega berjalan dengan perlahan keluar kamarnya menuju kamar Zania. Ia membuka pintu sedikit dan melihat apa yang dilakukan istrinya itu bersama dengan ibunya. Ia bernafas lega ketika melihat dua perempuan itu tertidur pulas. Tidak seperti beberapa malam yang lalu, ketika ia melihat Sella dipukuli ibunya sendiri.
Karena merasa gerakannya aman, Alrega membuka pintu agak lebar dan ia mendekat pada Sela dan Zania, perawat dan pelayan yang bertugas malam itu berdiri lalu membungkuk hormat melihat tuan muda mereka masuk dengan perasaan sama-sama tegang. Alrega memberi isyarat agar mereka semua diam, menganggap bahwa dirinya tidak ada. Alrega melihat wajah kedua wanita itu begitu tenang sehingga membuatnya tersenyum tipis dan ia kembali ke kamarnya sendiri. Setelah itu barulah ia bisa tidur dengan pulas.
Tak terasa waktu sudah berlalu sekian jam lamanya. Pagipun menjelang dan Sella terbangun, dengan wajah sedikit mengantuk. Saat ia membuka matanya, yang ia lihat pertama kali adalah wajah Zania, kyang juga membuka mata secara bersamaan. Kemudian wanita itu menatapnya juga.
Karena seperti biasa saat bangun Zania akan mengamuk. Sering juga ia menginginkan sesuatu, tapi semua yang menjaganya tidak mengerti keinginannya. Sehingga untuk mengantisipasinya, Sela kemudian langsung bercerita dan menyuruhnya untuk memilih satu makanan, atau minuman atau mainan.
"Mama... eh, ibu.. kau sudah bangun?" kata Sella sambil memeluknya, lalu memijit ibu jari kakinya agak keras, itu berfungsi sebagai pijat refleksi mengembalikan kesadaran orang yang baru bangun dari tidur, atau saat dalam pengaruh tertentu hingga menurunkan kesadaran.
Sejak Alrega melarangnya memanggil mama, Sella memanggil Zania dengan ibu, padahal Sella memanggil mama, ia maksudkan bahwa mereka, Flinna dan Zania adalah wanita yang berbeda.
"Ibu, apakah mau mandi, atau mau makan nasi?" begitu caranya berkomunikasi dengan orang yang mengalami gangguan kejiwaan harus berkomunikasi dengan bahasa yang lugas dan mudah difahami.
Pada kata kedua Zania menunjukkan reaksi berbeda, membuat Sella menyimpulkan kalau ibu Alrega ini ingin makan. Dengan segera Sella meminta pelayan menyiapkan makanan sederhana untuk dinikmati oleh Zania pagi itu.
Sejenak mereka sempat ragu karena harus menyediakan makanan sepagi ini untuk nyonya mereka, ini di luar kebiasaannya. Apalagi Zania belum membersihkan diri ataupun mandi. Tetapi Sella sekali lagi menegaskan bahwa ini adalah salah satu cara untuk mengurangi agar Zania tidak mengamuk atau menangis di pagi hari.
Tidak berapa lama makanan sederhana sudah disiapkan di atas meja dorong dan didekatkan kepada Zania dan Sella. Pak Sim memperhatikan apa yang dilakukan Sella pada nyonya Zania. Bahkan Sella ikut menikmati makanan itu, padahal ia belum pergi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Ternyata benar, Zania pagi itu tidak mengamuk, ia menikmati makanan sendiri tanpa dilayani. Hanya saja makanan yang ada di meja menjadi sedikit berantakan, sikapnya benar-benar seperti anak kecil. Tapi Sella memujinya dengan sangat manis. Stella membereskannya dan mengatakan hal-hal yang bagus untuk menasehati Zania seperti mengajarkan cara makan yang benar pada anak kecil.
Disebuah kamar yang mempunyai dua pintu penghubung, antara kamarnya dan kamar ssbelahnya. Seorang pria yang masih memakai piyama tidurnya memegangi dagunya sendiri, duduk di ssbuah single sofa yang besar dan mewah, ia menyipitkan matanya melihat ke arah layar monitor dimana kamar Zania terlihat jelas dari segala sisi. Kamar itu adalah ruang tempat layar monitor dimana seluruh kamera pengawas yang tersebar di rumah itu terhubung padanya.
Setelah selesai membantu membersihkan Zania, Sella kembali ke kamarnya, ia dengan cepat mandi dan berganti pakaian. Dan ia sudah selesai saat Alrega masih tertidur. Ia jadi merasa bersalah pada suaminya ini.
Saat di restoran, ia sudah bersikap acuh, semalam ia tidak menyambutnya pulang, membiarkannya tidur sendiri, bahkan pura-pura tertidur pulas saat Alrega masuk ke kamar Zania hanya untuk menenangkan diri. Ahk, Sella merasa frustasi, padahal ia sudah berjanji untuk menjadi istri yang baik. Tapi rasa takutnya pada laki-laki ini belum juga terobati.
Sella duduk di sisi ranjang sambil menatap jendela balkon yang masih tertutup. Sinar matahari lembut yang samar-samar masuk melalui tirai menghangatkan suasana. Matahari seolah menjadi harapan karena ia menjanjikan hari esok yang cerah secerah sinarnya setiap pagi.
Sheila menoleh melihat wajah Alrega yang tidur dalam posisi menyamping secara lirih ia berkata,
"Maaf. Maaf aku tidak menunggumu..." tangan Sella hampir saja membelai pipi Alrega, ketika tiba-tiba tangannya sudah ditarik sehingga tubuhnya pun terjerembab di atas tempat tidur Alrega, dengan posisi kaki masih terjuntai kebawah tempat tidur. Laki-laki itu sudah pindah posisi berada di atasnya. Sellla terbelalak, Ia tidak menyangka posisinya akan berubah secepat ini, ia dengan gugup meletakkan kedua tangannya di atas dada Alrega menahan agar laki-laki itu tidak semakin dekat ke tubuhnya.
Posisi Alrega yang ada di atasnya seperti mengungkungnya bahkan ia sama sekali dalam keadaan yang secara suka rela harus menyerah kalah. Walaupun dia berusaha sekuat tenaga mendorong dada Alrega, bahkan seolah-olah tubuh itu tidak bergerak sama sekali. Kini ia sadar bagaimana perbedaan kekuatan dirinya sebagai wanita dengan Alrega sebagai laki-laki dan suami yang berhak atas dirinya.
" Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sella dengan suara tercekat.
"Lalu menurutmu?" jawab Alrega dengan suara perlahan tapi penuh penekanan.
"Apa kau mau segelas anggur?" tanya Sela untuk mengalihkan perhatian Alrega.
Maksud dari pertanyaannya adalah agar ia terlepas dari posisi yang menakutkan seperti ini. Menurut dirinya, saat itu Alrega sangat menakutkan.
"Apakah boleh?" kata Alrega, dan Sella mengangguk menanggapinya.
"Bukankah kau selalu melarangku?" tanya Alrega lagi, dan kini Sella menggeleng.
"Bagaimana kalau kau yang minum dan aku yang menikmatinya dari bibirmu?' kata Alrega dengan senyum menyeringai.
Sejenak Sella menjadi kaku, persendian tubuhnya seolah-olah menegang. Ia tidak bisa menjawab kata-kata Alrega lagi. Ia hanya menatap Alrega penuh kewaspadaan. Alrega menatapnya dengan pandangan sedikit lucu, raut wajah tidak berdaya yang ada dibawahnya itu sungguh menggelitik hatinya dan ingin sekali ia tertawa.
" Aku tidak bisa minum... aku belum pernah minum, jadi jangan paksa aku ya?" Sella memohon.
"Lalu, apa gantinya untukku?"
Alrega mengulurkan tangan merapikan beberapa helai rambut yang menutupi pipi Sella. Ia merapikan rambut itu ke belakang telinganya, kemudian membelai pipinya dengan lembut. jari-jari tangan Alrega yang ramping dan panjang itu membelai rambut, hidung, mancung bibir, dagu hingga ke leher dan kemudian berhenti di tengkuknya.
"Tidak ada... anda bisa minum sepuasnya, maafkan aku, tuan.. aku tidak punya apa-apa," Sella tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba lidahnya seolah kaku.
'Apa dia akan menciumku lagi? Tidak, kan? Mandi dulu sana!'
Wajah Alrega semakin dekat dengan wajahnya, tapi ia tidak menciumnya dia hanya mengendus aroma yang keluar dari tubuh Sella. Alrega memejamkan mata seolah-olah menahan dan mengendalikan sesuatu yang bangkit dari dalam tubuhnya. Ia kemudian merebahkan diri di samping Sela mengulurkan tangan ke belakang punggungnya dan menarik tubuh Sela hingga menempel di tubuhnya dan kemudian menggunakan satu kakinya untuk mengunci bagian bawah tubuh Sela agar tidak bisa bergerak. Alrega semakin mendekatkan tubuh Sella pada tubuhnya, memeluk erat dan menghayati pelukan itu semakin lama semakin hangat.
"Jangan panggil aku tuan, aku bukan tuanmu.." Alrega berkata perlahan sambil menunduk melihat wajah Sella yang mendongak ke arahnya, dalam posisi miring. Nafas mereka saling bertemu tatapan mereka saling mengunci. Sella membuka mulutnya, ia berkata,
"Tapi di sini tidak ada orang ...." jawaban Sella membuat Alrega kembali memejamkan matanya dan rahangnya terlihat mengeras kemudian ia menyahut,
"Lalu kau menganggapku apa?" sambil mengunci tubuh Sella dan pelukannya menjadi lebih kuat.
__ADS_1
Bersambung