Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 129. Ujian Cinta Alrega


__ADS_3

Di dalam ruangan, Alrega menatap wajah Sella, yang tidak berdaya, dengan ekspresi datar, lalu perlahan mencium bibirnya. Ia mencoba meyakinkan diri tentang apa yang dikatakan oleh Hanza. Hatinya bagai dilubangi dengan serpihan kaca saat ia melihat perban yang membalut luka di beberapa bagian tubuhnya. Ia tidak tega dan tidak tahan.


Menyesal kenapa ia mengabaikan ponselnya. Sesekali ia melihat ponsel hanya untuk melihat foto-foto Sella dan dirinya saja, menciumi layar sambil tersenyum lalu kembali memasukkan ke saku jasnya. Ia hanya berpikir bahwa semua baik-baik saja.


Satu tangan Alrega menggenggam Sella, sedang yang lain memegang alat tes kehamilan yang ia lihat menyembul dari dalam tas kecil yang ada di atas meja pasien.


Beberapa saat kemudian, Zen mendekat dan ia membungkuk hormat menunggu perintah selanjutnya.


Alrega berkata, "hubungi Kakek dan penjarakan semua orang yang terlibat dengan ini."


"Bagaimana dengan Han, sepertinya bukan dia pelakunya."


"Apa kau yakin?" Alrega menoleh dan mengerutkan alisnya. "Jelas-jelas dia pelakunya, dia sudah menyentuh istriku!"


'Oh, jadi semua orang yang sudah menyentuh Nona, walaupun dia bermaksud menolong, dianggap pelaku?'


"Baik, Tuan."


"Pindahkan Istriku ke rumah sakit di kota, atau bawa dia ke rumah ibunya."


'Kenapa? Apa Anda terpengaruh ucapan bedebah itu? Ahk ... yang benar saja'


"Jangan percaya dengan ucapan Han, Tuan. Percayalah apa yang ingin Tuan percaya!"


"Kau tidak usah mengajariku. Lakukan saja yang aku perintahkan padamu!" Alrega hendak melangkah pergi, ia sudah berdiri di sisi pintu, tapi menoleh kembali menatap Sella yang masih tergolek tak sadarkan diri.


"Apa yang harus saya katakan pada Nona, nanti?"


"Katakan aku pergi ke luar kota."


'Pasti Nona heran karena tidak bersama saya'


"Baik."


Baru saja Alrega melangkah ...


"Euhh ... Al ... kau kah itu?" Sella membuka matanya perlahan namun terasa kabur, pandangannya tidak jelas. Ia hanya samar melihat punggung lebar milik seorang laki-laki yang berjalan menjauh.


***


Jendela kamar apartemen mewah itu terbuka lebar, Alrega duduk di sisinya sambil memegang sekaleng minuman soda dan ditenggaknya sampai habis. Lalu melemparkan kaleng kosong kedinding hingga penyok.


Matanya menatap kosong ke arah luar, tapi tidak dengan hatinya dan pikirannya yang penuh dengan segala macam duga serta rasa tidak percaya. Harga dirinya terluka.


'Mengapa dia tidak percaya padaku, apakah semua wanita selalu seperti ini? Ahk!'

__ADS_1


Laki-laki itu mengacak rambutnya sendiri. Sudah tiga hari ia seperti ini. Sama seperti dulu saat Delisa pergi, ia mengurung diri di apartemen dan tidak makan atau minum.


Dia merasa sudah melakukan apa pun untuk membahagiakan Sella dan memperlihatkan kasih sayangnya, ia menunjukkan pada wanita itu bahwa dirinya sangat membutuhkan dan menyayanginya. Kenapa Sella seperti tidak percaya padanya, tidak mengatakan dengan jujur soal kehamilan dan kepergiannya?


'Apa aku begitu menakutkan baginya, hingga dia tidak jujur padaku? Apa aku begitu kejam baginya lalu dia takut aku akan mengurungnya dan dia khawatir berbuat kesalahan aku akan menghukumnya?'


Alrega menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menyeringai, menyalahkan dirinya sendiri. Ia dulu pernah merasa kecewa seperti ini, tapi sekarang, lebih sakit lagi. Apalagi saat ia membayangkan tubuh istrinya disentuh dan digendong oleh laki-laki lain, hatinya tiba-tiba bergejolak panas seperti direndam bara api.


Ia sudah membenci semuanya manakala keadaan berjalan tidak seperti yang diinginkannya. Bagaimana mungkin menolong tanpa menyentuh, seperti yang dilakukan Hanza?


'Apa ini, apa aku cemburu padanya? Tidak ... seharusnya dia yang cemburu padaku!'


Meskipun berusaha menolak semua rasa negatif itu, tetap saja ia cemburu dan sakit. Ia memukul dinding sekuat tenaga sebagai pelampiasannya, hingga tangannya memerah dan terluka.


Alrega sudah tahu kebenarannya, Hanza hanya berusaha menolong Sella. Semua kejadian di kafe terbongkar dan Zola serta beberapa orang yang bekerja sama dengannya sudah tertangkap. Zola batal mendapatkan kebebasannya pergi dari kota, karena perbuatannya ia harus membusuk di penjara.


"Kalian salah! Aku sudah jujur tapi kalian menangkapku!" teriak Zola saat itu, tapi teriakannya tidak berguna.


Kesalahnnya bermula dari saat ia membongkar semua rahasia Sella. Itu cukup adil menurutnya karena Delisa sudah mendapatkan balasannya dan dirinya juga. Apalagi ibu Delisa yang kini tinggal sendiri tanpa anaknya. Ya, semua yang mencoba mengusik keluarga Haquel sudah mendapatkan hukumannya.


Mungkin saat itu Zola dan Delisa lupa, bahwa ada rahasia yang sebaiknya tetap dijaga sampai tutup usia, kecuali Tuhan menguak melalui cara-Nya.


Mett Haquel mendapat laporan kejadian yang menimpa Sella, dengan segera mengirimkan beberapa orang untuk menyelidikinya dan tanpa menunggu waktu lama, mereka berhasil menangkap Zola yang tengah dalam perjalanan menuju bandara.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi masuk di ponsel. Alrega menyambar benda pipih itu dengan malas. Ia mengusap layar dan muncul foto Sella dan dirinya yang hanya mengenakan handuk saja.


'Dia manis. Apakah ini rindu, atau hanya sebuah keinginan menyalurkan gelora? Ahk ....'


Alrega membasahi bibirnya sambil tersenyum simpul, tiba-tiba ia ingin bertemu Sella. Sudah dua hari ia mengurung diri di apartemennya. Ia malas melakukan apa pun. Ia tidak behagia, tidak semangat menjalani hidup tanpa Sella.


Gadis yang dulu diabaikan nyatanya mampu membuat dirinya yang bertekuk lutut. Sejenak ia ragu, antara rindu atau hanya keinginan kuat menyalurkan gelora kelelakiannya pada wanita yang ingin disetubuhinya.


"Al, sayang. Di mana kau? Aku ingin mengatakan hal penting padamu." bunyi pesan itu dibaca oleh Alrega.


'Apa aku terlambat mengakuinya?'


Tidak ... cinta tidak pernah datang terlambat, hanya saja perasaan itu muncul disaat yang tidak tepat.


Alrega menarik nafas panjang. Ia harus kembali menghadapi kenyataan. Ia dulu begitu kecewa karena Delisa yang menghianatinya, tapi sekarang tidak demikian. Wanita itu hanya kurang percaya pada dirinya, dan menjadi kewajibannya untuk meyakinkan Sella.


Suasana hening di kamar itu menjadi sedikit hangat, ketika terdengar suara Alrega yang bicara di telepon.


"Apa kau masih hidup?" Tanya Alrega pada seseorang diujung telepon. Ia ingin memulai harinya, ia akan mencoba lebih baik yang akan dia mulai dengan menghubungi seseorang.


"Ada apa kau meneleponku?" Kata suara di ujung telepon.

__ADS_1


"Aku hanya meluruskan salah faham saja."


"Ha, salah faham seperti apa maksudmu? Aku tidak punya urusan apa pun lagi denganmu." Suara itu terdengar ketus dan ia seperti orang yang terganggu.


"Baiklah, aku tidak akan bertele-tele." Berhenti sejenak, "aku minta maaf padamu. Karena aku sudah memukul tanpa alasan."


Terdengar suara tawa yang sangat keras dari balik telepon itu. "Lalu?"


"Ya, aku juga berterima kasih atas pertolongan yang sudah kau berikan pada istriku."


"Lalu, apa itu saja?"


"Ya, itu saja. Aku minta maaf dan berterima kasih."


Suara di telepon kembali tertawa, "Rega, kau tidak biasanya seperti ini. Apa kau menjadi lemah hanya karena wanita? Keu sudah berubah rupanya dari seorang bayi menjadi banci!"


"Terserah!"


Alrega menutup ponselnya secara sepihak, merasa tidak perlu memperdulikan ucapan Hanza yang tidak kenal lelah mengganggunya. Ia membanting telepon ke tempat tidur. Lalu mengganti pakaian, bergegas keluar apartemen menuju suatu tempat.


***


Malam itu sudah larut, saat Zen mengantarkan Sella ke rumah ibunya. Sebenarnya ia tidak enak hati melakukan hal ini, tapi inilah yang diinginkan Alrega untuk dilakukannya. Walaupun Sella berulang kali bertanya, ia tetap harus menjawab seperti yang di katakan Tuan mudanya, bahwa pria itu keluar kota.


Kedatangan Sella disambut keluarga kecilnya yang kompak, kedua adik Sella segera memapah tubuh Kakaknya. Mereka, heran ada beberapa luka pada tubuh kakaknya. Rejan berpikir buruk, menduga bahwa semua yang dialami kakaknya pasti ada hubungannya dengan Delisa. Ia mengetahui kejadian beberapa pekan yang lalu, saat Delisa mengganggu Sella, membuat remaja itu menduga demikian.


"Maaf, saya mengganggu malam-malam begini, Bu?" Kata Zen sambil mengangguk hormat.


"Apa yang kalian lakukan padanya? Apa kalian menyiksanya lagi?!" Flinna berkata penuh emosi.


"Ibu ... tidak ada yang menyiksaku." Jawab Sella tenang sambil duduk di kursi ruang tamu.


"Lalu, kemana suamimu?" Tanya Flinna.


"Maafkan saya, atas nama Tuan Rega. Ada urusan penting, Tuan tidak bisa meninggalkannya, sedangkan Nona baru saja mendapat kecelakaan."


"Apa? Kecelakaan apa?" Tanya Flinna.


"Ibu, aku terjatuh."


"Benar, Bu. Silahkan dengar cerita dari Nona sendiri. Jarak rumah sakit lebih dekat ke mari. Jadi maaf, kalau membawa Nona pulang. Saya dan Tuan akan membereskan semua masalah, kalau sudah selesai, kami akan segera menjemput Nona kembali."


Zen sudah terbiasa bernegosiasi, sehingga mudah baginya untuk mencari alasan agar keluarga Sella tidak curiga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2