Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 117. Seorang Pelayat Wanita


__ADS_3

Sementara di lantai dasar, walaupun jenazah sudah dimakamkan, tapi masih ada saja para tamu yang datang melayat, untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada keluarga. Seluruh sanak famili juga masih berkumpul di rumah utama.Kaki Langit, dalam suasana tengah berduka cita.


Karangan bunga yang berasal dari berbagai instansi dan lembaga serta perusahaan-perusahaan mitra mereka, masih berdatangan hingga memenuhi area halaman serta jalan, yang menghubungkan antara rumah dengan gerbang utama.


Para pelayat sudah berkurang saat hari sudah menjelang petang. Keluarga Sella pun sudah bersiap kembali ke rumah mereka. Flina dan kedua adik Sella, akan pulang dengan mengendarai mobil keluarga leosan, sama seperti saat mereka datang.


Keluarga Flinna mendapatkan kabar kematian Marla, langsung dari Sella. Mereka di jemput oleh sopir keluarga setelah jenazah tiba di rumah duka. Semua itu dilakukan oleh Alrega sebagai penghormatan kepada keluarga meetuanya. Apalagi selama ini mereka belum pernah bertandang ke Kaki Langit secara khusus, sehingga peristiwa ini sekaligus dijadikan momen ramah tamah antar keluarga.


Mereka tengah berkumpul di teras ketika seseorang yang wanita berpakaian sopan, lengkap dengan kerudung ..penutup kepala dan kacamata hitam, datang menekati Sella yang saat itu hendak melepas keluarganya yang akan pulang.


"Seya turut berduka cita," kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya dan Sella menyambut dengan tulus, ia tersenyum dan mengangguk.


Sementara dari dalam rumah, ada beberapa orang kerabat dan saudara Alrega yang sedang duduk-duduk. Dari balik jendela besar rumah, mereka bisa melihat wanita yang baru saja muncul di hadapan Sella.


Di antara orang-orang yang melihat kehadiran tamu wanita itu, adalah Alrega dan Zen. Dua laki-laki itu hendak menghampiri tamu yang baru datang, tapi mereka memilih diam di tempatnya, sambil mengamati keadaan. Mereka tidak ingin membuat keributan mengingat keluarga Sella masih ada di halaman, menunggu kedatangan mobil yang akan mengantarkan mereka pulang.


Wanita itu adalah orang yang ditugaskan untuk menjaga Delisa tapi ia tidak melakukannya dengan baik.


Zola datang untuk melayat karena ia mempunyai niat yang tersembunyi. Ia tengah mencari keberadaan Delisa, hingga ia perlu untuk menanyakannya pada Sella atau Alrega.


Beberapa hari yang lalu mama Delisa menangisi keberadaan anaknya, yang tidak kunjung pulang, hingga wanita itu selalu bertanya pada Zola, membuat Zola kesal. Kali ini a sudah gagal menjaga Delisa. Padahal ia sudah mendapatkan karir yang pantas, dan Delisa tidak melakukan hal-hal buruk pada Sella.


Wanita berkacamata hitam itu tidak terlihat jelas, siapa dirinya kecuali orang yang benar-benar dekat dengannya, wajahnya hampir separuhnya tertutup oleh kacamata yang sangat besar.


"Terima berima kasih Nona." Kata Sella. " Apa Anda ingin masuk"


Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Sella yang ramah, ia kemudian membuka kacamatanya dan membuat Sella pun tertegun. Sementara wanita yang ada di hadapannya itu tertawa dengan menyunggingkan sebelah bibirnya lalu berkata dingin.


"Jadi kau sudah mendapatkannya?"


'Apa maksud wanita ini?'


"Mendapat apa?" kata Sela, mereka berdua masih berdiri di depan teras. Sementara Flina dan kedua adiknya yang berada tak jauh dari sana, memperhatikannya.

__ADS_1


Flinna melihat interaksi yang aneh antara mereka berdua membuatnya menatap Sella dengan alis yang berkerut.


"Hmm, kalung itu, apakah mencurinya?" Zola melihat kalung berlian yang langka tergantung di leher Sella. Ia tahu tentang kalung itu dari Delisa. Namun sekarang, ia melihat kalung yang sangat diinginkan oleh sahabatnya itu, Zola merasa takjub. Bagaimana bisa wanita yang dinikahi hanya karena balas dendam ini bisa memilikinya?


"Apa urusanmu bertanya seperti itu?" Sella balik bertanya, ketus?"


"Apa salahnya bertanya? Kalau kau tidak mau menjawab, ya sudah."


"Aku tidak pernah menjadi pencuri."


Zola kembali tersenyum sinis, menanggapi ucapan Sella, lalu berkata, "tapi kau seorang pembohong!" tanpa melihat suasana, sepertinya Zola sengaja.


Sella menarik tangan Zola ke arah yang lebih sepi dan jauh dari pengamatan orang lain.


Ia pun menyahut, "Jadi, kita sama-sama pembohong ...." dengan suara rendah dan gigi gerahamnya beradu, menahan geram.


"Tidak, tidak aku tidak seperti dirimu!" Zola berkata sambil menunjuk Sella. "Aku sudah mengakui semuanya, bahkan di depan musuhku sendiri. Tapi kau selamanya tetap menjadi pembohong karena kau, tidak pernah mengatakan kebenaran tentang dirimu dihadapan semua orang."


"Kau pikir setelah kau mengembalikan uang itu berarti kau tidak bersalah?"


"Dari mana kau tahu? Aku mengembalikan uang itu sesuai janjiku!"


"Mama Delisa yang bilang, aku dan Delisa sudah seperti keluarga."


Setelah mama Delisa menerima uang dari Sella, ia langsung menghubungi Delisa, tapi teleponnya tidak pernah diangkat sampai hari ini. Oleh kaarenanya wanita itu menghubungi Zola untuk menanyakan keberadaan Delisa dan menceritakan kedatangan Sella yang membayar hutang dalam jumlah yang cukup besar.


"Oh jadi begitu. Jadi ini maksud kedatanganmu, hanya untuk mengungkit masa lalu? Sudahlah ... kita sudah sama-sama tahu!" Sella berkata sambil mendorong tubuh Zola.


"Haha, jadi kau sudah berani ya, sekarang?"


"Kau datang membawa masalah. Kenapa aku harus takut kepadamu?"


"Oh iya tidak apa-apa, aku maklum, kau berani karena sudah punya pelindung yang terkuat."

__ADS_1


"Zoola ... aku tidak harus membencimu hanya karena ini, kan?


Sheila hanya berpikir bahwa setelah mereka mengetahui kesalahan mereka masing-masing, bukankah mereka masih bisa berteman? Memiliki teman adalah sebuah keniscayaan bagi orang seperti Sella, tapi bukan orang seperti Zola.


Maksud dari perkataan Zola, orang yang terkuat di Jinshe adalah Alrega, tapi Sella tahu, pria terkuat itu juga tetaplah seorang laki-laki yang mempunyai kelemahan, bahkan dia saat ini begitu terpuruk dalam menghadapi kematian.


"Kau pikir sudah menjadi wanita berharga dengan membayar uang yang kau anggap sebagai hutang? Padahal harga dirimu tidak sepenuhnya terbayar, aku tahu uang itu bukan dari hasil jerih payahmu sendiri."


"Aku mendapatkan uang dari siapapun dengan cara apapun itu juga bukan urusanmu. Aku juga tidak membayar uang itu untukmu dan kalaupun aku mendapatkannya itu dari suamiku itu wajar ... aku istrinya." Sella mulai terbawa emosi tanpa ia sadari, ibunya berjalan ke arahnya karena curiga. Hingga ia mendengar semuanya.


'Bahkan aku merasa pantas untuk mendapatkannya karena semua yang sudah aku lakukan selama ini untuk keluarganya. Bukan aku yang mengkhianati keluarga mereka, tapi akulah yang dikhianati oleh mereka. karena mereka sudah tahu semuanya dari awal ... aku dulu melakukan penipuan itu karena aku terpaksa, tetapi mereka menipuku karena sengaja! Jadi aku pantas mendapatkan uang itu untuk membayar hutangku!'


"Cih! Kau sombong sekali pembohong!" Zola menghardik Sella dengan balas mendorong bahunya.


"Siapa yang berbohong? Kau yang sudah berbohong padaku, kalian bilang dulu bahwa kedua pasangan itu lebih baik dipisahkan, karena Tuan Rega orang yang jahat! Haha ... bodohnya aku mempercayai omong kosong itu!"


"Apa kau bangga sekarang jadi istri Tuan Rega, dia melakukan semua itu karena dendam, dengan menikahimu, Tuan Rega bisa membalas dendam pada dua wanita sekaligus."


'Ah, sayangnya aku sudah tahu, memang itu menjijikkan sekali'


"Setidaknya Tuan Rega memilihku atas kemauannya sendiri."


"Hah, jadi kau merasa berharga? Aku tahu siapa kau, orang yang menginginkan harta Tuan Rega memiliki gedung dan semuanya ..."


Kata-kata Zola langsung disela oleh Sella.


"Heh, tidak, aku tidak menginginkan semua itu, kau salah ... aku manusia yang diciptakan oleh Tuhan menjadi makhluk yang mulia dan harga diri manusia itu tidak ternilai. Begitu juga dengan harga diriku, tidak akan bisa dibayar walaupun dengan seluruh kekayaan yang dimiliki Tuan Rega."


'Sial! Kupikir dia sudah ditendang dari rumah ini! Awas kau Sella, aku akan berteriak kalau kau tidak mau mengatakan di mana Delisa!'


Bersambung


*Siapa yang menanam satu benih, maka ia akan menanam benih yang ditanamnya, bila ia menanam sebuah luka, maka suatu saat ia akan mendapat luka yang sama*

__ADS_1


__ADS_2