
Alrega baru saja membenamkan bibirnya di bibir Sella, ketika suara telepon maraung meminta perhatian. Alrega mengabaikannya, ia bersemangat karena mulai menemukan kenikmatan berciuman dengan Sella. Gadis dalam pelukannya ini mulai bisa mengimbangi gerakan bibirnya.
Tapi Sella mulai gelisah, ia berusaha menjauhkan kepala guna menghindari ciumannya, disaat itu pula Alrega menekan kembali kepalanya agar tidak menjauh. Akhirnya dengan wajahnya yang memelas dan hati yang berdebar karena takut, Sella menempelkan jari -jari-jarinya di bibir Alrega.
Alrega menghentikan ciuman seraya memundurkan lehernya melihat jari-jari Sella dengan mengerutkan alisnya.
"Sayang, aku angkat dulu ponselmu ya, siapa tahu penting," kata Sella, ia tersenyum manis.
Dengan gerakan cepat Sella membuka tas dan melihat layar ponsel Alrega, panggilan itu ternyata dari orang yang sudah membuat hati Sella berantakan.
'Ck! Bahkan dia masih menyimpan nomor ponselnya'
"Delisa. Apa kau akan menerimanya?"
Sementara suara ponsel terus menyala. Alrega menatap Sella dingin. Mereka tidak harus menghentikan ciuman hanya karena panggilan bodoh itu.
"Menurutmu?"
'Hais. Aku tidak tau! Seharusnya aku tidak perlu tahu, kan?'
"Terimalah, mungkin ini penting," kata Sella, muram. Ia beranjak membuka pintu mobil setelah memberikan ponsel pada pemiliknya.
Buk! Suara pintu mobil ditutup oleh Sella. Lalu bersandar disisi mobi. Alrega di dalam mobil hanya melihatnya dan menghela nafas berat. Ia melihat layar ponsel.
"Apa maumu!" kata Alrega begitu ponsel menempel ditelinga.
"Kenapa kamu bicara seperti ini, Rega?" kata suara di seberang sana. Alrega mendengar suara yang berbeda, dahinya berkerut.
"Nenek, apa yang nenek ingin kan?"
Alrega hanya diam ketika nenek terus bicara memakai ponsel Delisa. Wanita itu berharap Alrega mau memaafkan Delisa yang sudah pergi selama ini meninggalkan dirinya. Setelah itu suara berganti dengan suara Delisa yang berkata dengan lembut meminta maaf darinya.
"Kau hanya ingin Aku memaafkanmu?" tanya Alrega
"iya." jawab Delisa dari balik ponsel.
"Baik, aku maafkan. Dan jangan menggangguku."
"Rega.." suara terputus karena telepon sudah ditutup.
Sementara Sella berada diluar, memberi Alrega keluasan berbicara dengan kekasihnya. Ia mengingat kembali perjalanannya selama pernikahan ini yang baru berjalan beberapa pekan. Ia merasa terlena, tertipu dengan kemurahan hati Alrega. Bahkan beberapa hari terakhir ia merasa hatinya sempat goyah, ia hampir melupakan kebenciannya, ia terlena oleh kebaikan Alrega apalagi sikapnya saat mereka berciuman, ia merasakan seolah-olah Alrega menyukainya.
'Benarkah aku bisa menyukainya, tapi kenyataan yang aku lihat sekarang adalah kebenarannya, aku hanya orang yang jadi mainannya, sikap baiknya hanya untuk menghukumku saja'
Alrega melemparkan ponsel di kursi kosong sebelahnya. Lalu keluar dan mengitari mobil. Mendekati Sella.
"Kenapa kau keluar?"
"Aku hanya tidak ingin mengganggu," jawab Sella seraya memalingkan pandangan. Ia mencoba menutupi perasaan bimbangnya.
Alrega meraih tangan Sella lembut. Tangan yang kasar, kukunya tidak panjang tapi dipotong rapi menandakan wanita yang penyayang karena kuku yang panjang biasanya akan lebih sering melukai kalau tidak hati-hati.
"Tapi aku tidak menyuruhmu keluar,"
'Kenapa, karena kau belum puas memanfaatkan aku?'
"Maaf.." apalagi yang bisa ia kata kan selain kata itu.
"Kemasi tasmu," kata Alrega melepaskan tangan Sella.
Sella menuruti perintah Alrega mengambil tas dan ponsepnya, menutup pintu mobil dan menghampiri Alrega. Alrega mengulurkan tangannya dan Sella melihat tangannya yang kembali di sentuh Alrega.
"Ayo," kata Alrega sambil menggandeng tangan Sella dan melangkah memasuki gedung, menaiki lift hingga sampai di kantornya. semua yang dilakukan Alrega tidak lepas dari rasa penasaran semua karyawan yang kebetulan melihat mereka berdua berjalan bergandengan tangan.
Para karyawan tidak ada yang tahu tentang pernikahan Alrega waktu itu karena ketika menikahi Sella, Alrega hanya mengundang saudara, kerabat dekat, kolega bisnis nomor satu dan orang berpengaruh di Jinse. Mereka yang hadir saat itu adalah orang-orang yang benar-benar harus tahu bahwa Sella adalah istri Alrega yang secara resmi menikahi wanita itu. Sehingga di kemudian hari, ketika mereka bertemu mereka harus tahu bagaimana bersikap kepada Sella.
Sella tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Walau Alrega tampak begitu menyayanginya tapi Sella tidak menerima hatinya kembali menolak perasaan itu.
'Tidak. Dia tuan Rega. Tidak mungkin dia akan menyukai wanita seperti aku. Dia orang berpengaruh di kota. Memangnya siapa aku berani jatuh cinta padanya?'
Begitu sampai di ruangan Alrega, Sela mendekati Zein yang sedang mengerjakan sesuatu di meja sofa yang ada di depan meja kerja Alrega.
__ADS_1
"Sekretaris Zen, ini barang-barang tuan Al, aku kembalikan lagi padamu, aku tidak pantas untuk menyimpannya. Kau jauh lebih baik dariku, karena aku sudah terlalu banyak berbuat kesalahan," kata Sella sambil memberikan seluruh isi tasnya kepada Zen.
Alrega melihat yang dilakukan Sella sambil duduk di kursi kebesarannya.
Zen yang sedang duduk di sofa itu menatap Sella sekilas, kemudian mengambil semua barang-barang yang diberikan Sella ke dalam saku jasnya sambil berkata,
"Semua barang ini adalah benda berharga milik Tuan. Apa Nona yakin tidak akan menyimpannya? seharusnya barang yang berharga disimpan juga oleh orang yang berharga."
Mendengar kata-kata Zen, Sella mengangkat kedua alisnya selalu mengedikkan bahu. Lalu berkata,
"Justru karena aku tahu barang ini berharga, jadi aku tidak mau menanggung resikonya. Hukumanku sudah berat," sambil duduk dihadapan Zen.
"Kau, kemari!" kata Alrega tiba-tiba memanggil Sella, ia menjentikkan jari telunjuknya memberi isyarat agar Sella mendekatinya.Sella mengerti dan segera mendekati Alrega. Ia berdiri di sampingnya tapi Alrega menjulurkan tangan, menarik tubuhnya perlahan, hingga Sella duduk di pangkuannya.
Sella memundurkan lehernya, punggungnya menjadi tegak dan kaku. Ia menatap Alrega tidak percaya, ketika laki-laki itu menyimpan kedua tangan Sella agar melingkar di lehernya.
'Apa yang bisa aku lakukan di sini, hei aku malu. Apa kau ini pengangguran?'
Alrega menoleh pada jam yang melingkar di tangannya, sambil berkata pada Zen,
"Apa agenda ku hari ini?"
"Jam sebelas, sebelum makan siang, ada penandatanganan proyek Bandara Juang, tuan," jawab Zen. Ia melihat pada Alrega dengan Sella yang ada di pangkuannya dengan tatapan dingin seolah-olah ini sudah biasa.
"Hmm." gumam Alrega lalu menatap Sella yang duduk dengan tegang di atas pahanya.
"Ikutlah nanti, kita akan makan siang setelah acaraku selesai,"
'Bolehkah aku membantahmu aku tidak ingin ikut denganmu aku lebih baik disini dan mengobrol dengan Rere'
"Baiklah."
"Nona, kalau anda bosan Anda bisa menemui teman anda yang masih bekerja disini, kembalilah sebelum jam sebelas nanti,"
Sella menoleh pada Zen, kemudian tersenyum lebar dan berkata,
"Sekretaris Zen, kau sangat baik sekali."
"Sayang boleh ya, aku menemui temanku? boleh ya?" ia tersenyum.
Walau terlihat kesal tapi Alrega mengizinkannya, dia mengangguk sambil bergumam, "hmm.." sepertinya senyuman wanita itu sudah meluluhkan hatinya.
Sella bergegas keluar sambil menunjukkan jari jempolnya pada Zen. Laki-laki itu hanya menarik nafas dalam, ia bersiap untuk mendapatkan kemarahan dari tuannya karena ia memisahkan Alrega dari Sella. Tapi siapa yang tahan melihat kemesraan itu ada di depannya padahal dirinya belum memiliki pasangan.
'Kalau tuan Rega memiliki hati, pasti dia tidak akan melakukan hal itu secara terus-menerus kan? Bahkan ia menganggap aku seperti tidak ada ketika berciuman di dalam mobil'
Ya, Zen memang setia tapi dia tetap saja manusia biasa.
Plletakk! sebuah pulpen melayang di hadapan Zen tepat di mejanya.
'Ternyata hanya seperti ini kemarahanmu tuan?' Zene mengambi pulpen berlapis emas itu, lalu berdiri membungkuk sambil berkata, "Maafkan saya, tuan" menyimpan pulpen di meja.
Alrega hanya mendengus, mencibir melihat Zen yang menyembunyikan senyumnya.
"Ck! kau ini. Cari pasangan sana!"
"Baik, mungkin sebentar lagi. Tuan jangan menghawatirkan saya, terima kasih atas perhatian tuan." berkata sambil duduk kembali mengerjakan tugasnya.
Sementara itu.
Di ruangan khusus petugas kebersihan berada. Sella masuk dan mendapati ruangan itu lengang, tidak ada seorangpun di sana kecuali Rere yang tengah duduk sambil memegang ponselnya. Begitu Rere melihat Sella masuk, ia berdiri sambil berkata,
"Sese,kau kah itu?"
"Rere, Iya ini aku."
Sella menghampiri Rere, mereka berpelukan kemudian duduk berdua di sofa. Rere bercerita,
"Aku tidak percaya itu kau, Sese. Bu kepala bagian memintaku untuk menunggu seseorang di sini, ternyata itu kau?"
Sella sedikit berkerut di keningnya, ia memikirkan sesuatu. Itu adalah perbuatan Zen yang membuat suasana khusus untuk Sela, hingga bisa menghabiskan waktu bersama Rere. Sella sekarang dia adalah istri presdir.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak mengira kau akan datang, jadi Aku tidak membawa uang untuk membayar hutang, tapi Sese kau terlihat berbeda. Apa kau bekerja di sini sekarang?"
"Aku tidak datang untuk memnagih hutangmu. Dan iya aku tidak sengaja datang dan mampir kemari."
Sella bercerita bahwa sejak kejadian di atap gedung waktu itu, ia bekerja dengan tuan Rega hingga ia bisa ke kantor bersamanya.. Dan Sella memberikan tas Lv yang ia bawa kepada Rere sebagai hadiah. Ada beberapa karyawan yang melihat Sella sebagai seorang wanita yang tadi bergandengan tangan dengan boa mereka menjadi heran karena wanita itu kini sedang berbicara dengan seorang petugas kebersihan.
"Sese, kau baik sekali. Aku sangat berterimakasih padamu, aku menyayangimu," kata Rere sambil memeluk dan mencium kedua pipi Sella.
"Jangan kekanakan. Kau menggelikan!" kata Sella membalas pelukan Rere. Lalu berkata lagi,
"Seringlah membuat kue, dan kirim buat ibu dan adikku di rumah."
"Baiklah. kalau kau memaksaku,"
"Re. Bagaimana menurutmu kalau aku mencintai seseorang tapi orang itu mencintai wanita lain? Apakah aku harus meninggalkannya?"
" Tentu, tinggalkan saja dia, mencintai dengan cara seperti itu akan menyakitkan," sahut Rere.
"Tapi bagaimana bila aku tidak bisa meninggalkannya, karena hidup dan matiku tergantung padanya?"
"Sese, kau lucu, kalau dia mencintaimu maka dia tidak butuh wanita lain di sisinya, laki-laki yang mencintai seorang wanita maka dia tidak akan membiarkan wanita lain menggodanya dan hanya menjadikan kau sebagai satu-satunya wanita dalam hidupnya."
Mereka terus mengobrol sambil bercanda. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kamera CCTV dengan tatapan kesal.
Hampir jam sebelas siang dan Sella kembali ke ruang Alrega dengan wajahnya yang ceria. Bertemu sahabat, bercanda dengan bebas adalah kesenangan tersendiri baginya.
"Apa kau bersenang-senang?" tanya Alrega.
"Iya, tentu saja." jawab Sella tanpa tahu bahwa jawaban itu semakin membuat Alrega muram.
Ia ingin Sella hanya bersenang-senang saat bersamanya. Ia ingin gadis itu datang menyerahkan diri secepatnya, menjadi sangat tergantung padanya hingga ia tidak bisa melarikan diri darinya. Ia belajar dari masalalunya saat wanita yang ia cintai pergi meninggalkannya karena wanita itu merasa mampu, walau hidup tanpa Alrega pun ia bisa. Alrega tidak akan membiarkan Sella seperti itu.
Alrega melihat Philip Patex yang melingkar dipergelangan ditangannya. Ia menggamit tangan Sella sambil beranjak keluar, Zen membuka pintu untuk mereka.
"Ayo." kata Alrega.
Kembali mereka menjadi pusat perhatian para karyawan, hingga bayangan mereka hilang dibalik pintu mobil yang tertutup.
Di dalam mobil, Alrega mengambil beberapa lembar tisu kemudian Ia mengusakan berulang-ulang di pipi Sella.
Dengan wajah berkerut Alrega melihat pipi Sella seolah-olah sangat kotor. Sella memegang pipinya, ia merasa tidak ada kotoran apapun dipipinya.
Sella bertanya, "apa ada kotoran di pipiku?"
Alrega menjawab sambil menghentikan gerakan membersihkan kedua pipi Sella,
"Ada tapi hanya aku yang bisa melihatnya,"
Shella mencibir, dalam hati dia berkata mana ada kotoran seperti itu. Ia kembali mengusap pipinya. Sella tidak tahu perbuatan Alrega itu dipicu oleh perbuatannya sendiri yang membiarkan Rere mencium kedua pipinya, Alrega tidak rela.
Setelah Alrega merasa cukup membersihkan pipi Sella ia melingkarkan sebelah tangannya dari belakang punggung Sella dan meremas pinggulnya. Shella melebarkan kedua matanya karena tak percaya Alrega berbuat seperti itu pada dirinya. Dengan segera ia meraih tangan Alrega.
Ia menggenggam jari-jari tangan Alrega yang panjang dan ramping sambil berkata, "Sayang sudah cukup, ya. ini geli."
Sesampai di ruang pertemuan Sella tidak mengikuti mereka. Sella Hanya duduk di salah satu sudut ruang. Zen menyerahkan ponsel Alrega agar Sela merasa tidak bosan sendirian.
'Memangnya apa yang bisa aku lihat di sini aneh mengapa dia tidak membuat kuncinya'
Sella heran melihat ponsel itu benar-benar tidak terkunci dan ia kembali melihat fotonya menjadi wallpaper dalam ponsel Alrega. Ia membuka pesan chatnya, tidak banyak pesan disana hanya beberapa pesan yang benar-benar penting tentang pekerjaan dan bisnisnya. Melihat email semua ternyata berisi bisnis. Lalu melihat akun media sosial ternyata akun media sosialnya kosong. Beberapa pesan grup Chat juga berisi sesuatu yang tidak menarik bagi Sella.
Ada pesan sedikit dengan dirinya, saat mereka pertama kali bertemu dulu, dan yang menarik baginya adalah saat ia melihat nama dirinya dalam chat itu, 'istri manisku'
Tia-tiba hatinya berdebar keras dia tidak percaya Alrega memberinya nama semanis itu. Padahal dia sendiri menamai Alrega di ponselnya dengan sebutan Dark Devander, menurutnya waktu itu julukan yang tepat bagi Alrega, itu nama aktor jahat.
Sheila kembali berpikir ketika ia melihat isi ponsel tidak ada chat antara Alrega dan Delisa, atau dengan wanita lain, panggilan juga hanya satu dari Delisa, itu panggilan tadi pagi. Selain itu panggilan dari keluarga dan kolega bisnisnya.
Hingga Sella berpikir, apa Alrega benar benar-benar menyukainya. Setidaknya, isi ponsel Itu menjelaskan sesuatu bahwa Alrega tidak pernah berhubungan dengan Delisa dan juga wanita lainnya. Dan hanya dirinyalah satu-satunya wanita yang ada dalam chat pribadinya. Tapi chat itu tidak dihapusnya, padahal itu adalah pesan chat yang sudah cukup lama.
'Akh Mungkin saja dia sudah menghapusnya siapa tahu kan?'
Sella segera berdiri dengan gugup dan mematikan ponsel Alrega, ketika ia melihat Alrega berjalan mendekat ke arahnya. Setelah mereka saling berhadapan, Alrega berkata, "apa kau menemukan sesuatu di ponselku?"
__ADS_1