
Zen masih menghunjamkan tatapan tajamnya ke wajah Lonisa dan tangannya masih berada di kepalanya, ketika gadis itu bicara tentang kejelasan hubungan mereka. Zen menggerakkan tangannya kebelakang kepala dan mendekatkan kepalanya sendiri, dalam posisi sedikit miring lalu menempelkan bibir mereka dalam sebuah ciuman kecil tapi cukup dalam.
Lonisa tidak bisa mengelak karena Zen melakukan gerakan itu dengan cepat tapi lembut. Lonisa sempat terkejut, tapi ia membiarkan bibir Zen menyerap kehangatan dari bibirnya pagi itu.
Setelah ciuman selesai, pria itu berkata dengan suara lembut dan wajahnya yang masih begitu dekat.
"Hubungan seperti apa yang kau inginkan?"
'Aku tidak tahu, tqpi terserah!'
Sementara suasana pagi masih gelap, udara masih dingin dan keadaan masih sepi. Diluar mobil itu tak ada aktifitas lain selain kesibukan para penjaga keamanan yang berkeliling. Namun semua tidak membuat udara dalam mobil itu terpengaruh karena penghangat sudah menyala.
Lonisa memalingkan wajahnya kesal, tidak menyangka akan dicium seperti itu. Semalam, setelah ia selesai bicara, Zen membiarkannya pergi ke kamarnya karena mereka sudah sama-sama lelah. Ia begitu lega karena Zen bersikap sangat bermartabat. Tidak memaksanya untuk melakukan hal yang ingin ia lakukan, walaupun ia mampu melakukannya.
Mungkin ia tahu betul letak kekuatan sesungguhnya dari seorang pria, ketika ia mampu menahan diri dari segala keinginannya padahal semua keinginanya itu bisa ia dapatkan dengan mudah.
Zen tidak sewenang wenang dan tidak mau gegabah dalam bersikap. Ia tahu apa resikonya bila gadis keras kepala itu semakin merasa terpaksa. Ia ingin dicintai dengan elegan dan ia akan mencintai dengan cara elegan tanpa adanya pemaksaan. Semua yang dilakukan tuannya sudah banyak memberikan pelajaran berharga.
'Aku bersyukur dia tidak melakukan apa pun padaku semalam.Ahk, kenapa harus sepagi ini dia membuat masalah?:
Lonisa memutar kunci sambil mendengus kesal, setelah menyalakan mesin ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Zen menahan tangan Lonisa yang hampir memutar kemudi menuju jalan raya.
"Tunggu, jangan menyetir dengan marah, kalau tidak ingin kita celaka."
"Aku marah atau tidak,bitu tidak akan merubah caraku mengemudi."
"Baiklah, kalau begitu berikan yang terbaik agar aku bisa menilai pantas atau tidak kau menjadi pengawal temanmu itu"
Relina melepaskan tangannya dari stir mobil dan memutar badannya sambil berkata, "Aku menjadi pengawal? Pengawal siapa?"
"Istri Tuan Rega. Pengawalnya mati, aku pikir kau bisa menggantikannya."
"Tidak, aku tidak bisa bela diri!"
'Menjadi pengawal Sella. Ahk itu sangat berat, tinggi sekali standarnya. Sebenarnya apa yang ada di kepalanya?'
"Dengar, Tuan."
"Jangan panggil aku,.Tuan." Suara Zen meninggi.
"Aku tidak tahu harus memanggilmu apa?!" Suara Lonisa tidak kalah tinggi.
"Mana ada pasangan kekasih memanggil Tuan pada kekasihnya?"
'Oh, jadi kau ingin kita jadi pasangan kekasih?'
"Memangnya Anda mau dipanggil apa?"
"Panggil saja namaku!"
"Baiklah. Zen. Aku tidak mau menjadi pengawal Sella. Aku tidak akan bisa."
Alrega memang meningkat kualifikasi pengawal Sella sejak kematian Leana. Saat peristiwa yang mengerikan itu terjadi, memang tidak ada pengawal lain yang mengikuti Sella karena Sella tidak memberitahu, lagipula ia tidak ingin merasa terkekang. Sehingga jumlah pengawal dikurangi.
"Jadi, kau hanya mau menjadi pengawal pribadiku?" Zen bertanya.
'Apa ini, apa dia mencoba merayu? Akh yang benar saja. Aku jadi ingat waktu aku masih pacaran dulu'
__ADS_1
"Aku tidak akan menjadi pengawal siapa pun."
'Tuhan, jika aku benar-benar jatuh cinta padanya, izinkan aku memohon agar dia menjadi milikku selamanya. Sebab patah hati bukanlah saat yang menyenangkan untuk diulangi'
"Ck! Kau itu keras kepala sekali." Zen mengejak Lonisa.
"Kau juga sama keras kepala. Apa boleh aku coba memukul kepalamu?" Lonisa tidak mau kalah.
"Sudah, ayo jalan."
"Untuk apa? Aku tidak mau menjadi pengawal Sella!"
"Dia Nona muda kita! Jangan panggil namanya bila kau bicara di hadapannya!"
"Aku tidak perduli!" Lonisa menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya
"Ya setidak-tidaknya kita jalan-jalan saja."
"Baiklah!" Lonisa melirik Zen sekilas. Ia kagum dengan ketenangan pria di sampingnya dalam menghadapi dirinya.
Lonisa pun memacu mobil Zen seperti caranya yang biasa ia lakukan saat mengemudi. Kacau sekali. Ia memacu dalam kecepatan tinggi dan menerobos lampu lalu lintas dan menyalip kendaraan lain tanpa memberi peringatan.
"Cukup, cukup, hentikan sekarang!"
Mobil direm secara mendadak, berhenti di tengah jalam. Untung saja mereka menggunakan sabuk pengaman dengan baik hingga tak terjadi apa-apa. Jalanan sangat sepi karena Zen yang mengarahkannya ke jalan itu.
"Kau ini." Kata Zen sambil melepas sabuk pengamannya. "Turun. Biar aku saja!"
"Kenapa, apa kau tidak percaya padaku?" Lonisa berkata tanpa melepaskan tali pengannya. Ia sudah lama tidak mengemudi dan ia pikir mobil Zen ini sangat nyaman dipakai untuk kecepatan tinggi.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kau celaka. Jangan mengemudi lagi mulai saat ini."
"Ayo, naik. Kita pulang." Zen berkata dari dalam mobil.
"Kau saja!"
'Apa? Apa dia menguji kesabaranku? Ahk ... yang benar saja'
"Apa kau senang dipaksa, ha?" Zen mengoceh sambil membuka pintu mobil dan mendekati Lonisa lalu menarik tangannya, memaksanya masuk kembali.
Pintu mobil di tutup, Zen masih berdiri di luar, mengusap wajah dan rambutnya gusar. Saat itu Lonisa menatap laki-laki itu bergeming di sana, jelas sekali ia mencoba menenangkan diri. Mungkin ia tidak ingin berbuat di luar batas pada Lonisa.
'Lihat kita, pada akhirnya aku dan kamu hanyalah sebatas ego yang akan memberi luka. Di antara kita tidak ada yang benar-benar mampu untuk saling meluluhkan. Aku tidak ingin, kelak kita menjadi pasangan yang selalu ingin di mengerti tapi tidak tahu cara menghargai'
Beberapa saat lamanya akhirnya laki-laki itu kembali, memakai sabuk pengaman, memutar mobil dan memacunya kembali dengan kecepatan sedang.
"Kalau caramu mengemudikan mobil seperti itu, kau bukan hanya akan melukai orang lain tapi dirimu sendiri." Zen berkata tanpa menoleh pada orang yang ia ajak bicara.
"Kau tidak perlu repot-repot mengkuatirkan aku."
'Bagaimana aku tidak kuatir, aku mencintaimu, bodoh!'
Kejadian seperti ini mengingatkan tentang harga diri wanita yang kadang terlalu tinggi. Dia seperti seorang putri yang meremehkan uang berlimpah sang raja, lalu memilih menjalani kehidupan yang sulit saat hidup mewah bersamanya bisa ia nikmati.
Setelah itu hening. Tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut mereka, sampai mereka tiba di rumah. Kedua orang itu seperti orang asing yang pertama kali bertemu. Suasana di antara mereka sangat canggung, hingga Zen akhirnya selesai sarapan yang dibuat oleh Lonisa seperti biasanya.
Sebelum berangkat ke kediaman Alrega, laki-laki itu berdiri di depan pintu, sambil menatap Lonisa yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Kebiasaan itu sudah berlangsung selama beberapa bulan ini sejak gadis itu tinggal bersamanya.
__ADS_1
"Kalau kau ingin pergi, pergilah. Kau ingin bebas, melakukan apapun yang kau sukai tanpa ada yang melarangmu, seperti kebiasaanmu dulu, kan?" Zen bicara sambil menunjuk sebuah map berwarna coklat di atas meja.
"Ambil itu, semua surat kepemilikan rumah dan kuncinya ada di sana. Tinggallah sesukamu." Ia hampir keluar saat pintu sudah terbuka, tapi kembali menoleh dan melanjutkan ucapannya. "Hati-hati, jaga dirimu baik-baik." Lalu menutup pintu secara perlahan, lalu pergi melakukan tugas seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian.
Alrega dan Sella sudah menyelesaikan ziarah ke makam Leana. Pasangan itu berjalan perlahan mendekati mobil di mana Zen tengah berdiri menunggu mereka, dengan pintu mobil yang sudah terbuka.
Setelah berada di dalam, Alrega melepaskan genggaman tangan Sella mereka sama-sama menatap keluar jendela, melihat pemandangan dengan perasaan yang mulai lega, ujian cinta sudah berhasil mereka lewati bersama.
Alrega masih menatap ke luar saat ia bicara, "Zen, dengarkan Aku." suaranya memecah keheningan.
"Ya Tuan." Zen menyahut dari balik kemudi dan tetap fokus ke jalanan.
"Sese ...." Alrega menoleh pada Sella mengulurkan tangan untuk memegang wajah dan menggenggam tangannya.
"Uum ..." gumam Sella.
Alrega tersenyum lalu melanjutkan ucapannya, "aku memang harus mengurus banyak hal daj melindungi banyak orang, tapi sekarang aku sadar ternyata yang sebenarnya harus aku urus itu hanya dirimu. Apa kau mengerti?"
Mendengarkan itu Sella mengerutkan keningnya, menatap Alrega tidak mengerti.
'Bukannya Zen yang dia suruh untuk mendengarnya berbicara, tapi kenapa sekarang berbicara padaku?'
'Baik, saya mengerti maksud Tuan'
"Apa maksudmu?" kata Sella.
"Kau ingat sekarang harus menjaga nyawa lain dalam tubuhmu? Jadi kau harus lebih hati-hati mulai sekarang, jangan sampai terjadi lagi hal seperti itu."
"Oh ... iya, maaf ... aku sudah merepotkanmu."
"Kau tahu itu salah?"
"Iya aku tahu. Kadang orang berbuat salah itu wajar, sampai orang itu bisa mempelajari sesuatu."
"Yang salah itu kau, bukan orang," kata Alrega menatap Sella dengan kening berkerut.
"Iya, aku ini juga kan orang."
"Maaf Nona, sebaiknya Anda dengarkan kata-kata Tuan, semuanya demi kebaikan Anda sendiri." Zen menyela percakapan majikannya yang duduk di belakang.
"Iya, ya aku mengerti." Sahut Sella.
Setelah mereka tiba di rumah dan Sella masuk ke ruang tamu, ia disambut oleh Zania dan Yorin dengan hangat. Yorin memeluknya erat, seperti mereka sudah lama sekali berpisah. Semalam, ketika Sella pulang, dua wanita ini sudah tidur.
Zania dan Yorin sudah mendengar kabar kehamilan Sella dan mereka memasak sesuatu yang menurut mereka akan disukai wanita hamil seperti dirinya. Wanita itu bersyukur tidak merasakan ngidam atau hal yang biasa terjadi pada wanita hamil lainnya, hanya sedikit mual dan pusing adalah hal yang wajar baginya. Jadi, ketika ia melihat aneka makanan yang tersaji di meja, ia sangat berselera.
Alrega menatap semua tingkah ketiga wanita itu dengan ekspresi biasa saja. Ia mendekati Sella yang tengah makan makanan pedesaan itu dengan lahapnya.
"Apa kau menyukainya?" Tanyanya kemudian dan Sella mengangguk.
"Kalau begitu, makanlah ... aku akan bekerja sebentar," kata Alrega.
"Hmm ... pergilah, lama juga tidak apa-apa." Sella menyahut dengan makanan yang masih dikunyahnya, sambil mengibaskan tangannya
__ADS_1
Alrega hampir saja beranjak, tapi ia mendekati Sella kembali, mengulurkan tangan untuk mengangkat dagunya, lalu berkata, "apa kau tidak suka aku disini?"
Bersambung