
Sampai di meja makan, Sella duduk di sebelah Delisa. Alrega tetap berada diposisi biasanya, yang mengatur posisi ini adalah nenek. Semua bertujuan untuk memisahkam Sella.
Sella menyapa semuanya dari mulai nenek, Rehandy, Yorin dan Delisa. Namun, semua tidak ada yang menanggapi seperti biasanya. Posisinya terpisah dengan Alrega, hingga ia tidak bisa melayani suaminya. Delisa yang melakukan semua kebiasaan yang dilakukan Sella pada Alrega, atas permintaan Marla.
"Sayang, makan yang banyak ya, ini kesukaanmu, kan?" kata Delisa sambil mengambilkan Alrega sesendok daging bulgogi ke piringnya.
Menu sarapan kali ini adalah bubur dengan aneka macam topping. Ketika mendengar Delisa mengatakan bahwa topping bulgogi adalah kesukaan Alrega, Sella merasa minder, sorot matanya menjadi redup menahan airmatanya, ia mengatupkan kedua bibirnya. Kepalanya menunduk hanya mengaduk-aduk bubur tanpa memakannya.
'Aku tidak tahu apa-apa tentang mu, apa yang kamu sukai saja aku tidak tahu. Jadi wajar kalau kau masih sangat mencintai kekasihmu'
"Ambilkan aku, itu!" kata Alrega melihat pada Sella, dan seketika itu juga Sella menoleh pada Alrega dengan wajah lesu.
"Apa kau tidak dengar?" menunjuk makanan yang ada dihadapan Sella.
Sella segera mengambilkan makanan yang dimaksud pada Alrega, ia berjalan memutar hingga sampai di sisi Alrega dan menambakan topping chikken salad dipiringnya.
"Apa kau suka ini juga, sayang?" tanya Sella membuat Delisa dan nenek cemberut.
"Tidak penting apa yang aku sukai," jawab Alrega.
"Berikan padaku juga," kata Rehandy.
Setelah selesai melayani Alrega dan Rehandy, Sella kembali ke tempat duduknya semula dan menikmati makanannya.
Jawaban Alrega Semakin membuat nenek marah, ia menyimpan sendoknya dan berkata.
"Rega! Apa kau masih ingat ada kejadian apa saja di meja makan ini dengan Deli?"
"Tidak ada yang perlu diingat," jawab Alrega.
"Apa kau lupa, sayang kau pernah menyuapiku dengan bubur bulgogi milikmu?" kata Delisa.
"Diam. Habiskan makanannya dan bicara setelah semua selesai." kata Rehandy.
"Re! Apa kau membela wanita rendah itu? Tadi Kau tidak melarangnya bicara!"
"Jangan salah faham, bu. Aku tidak enak mendengar pembicaraan kalian. Deli, kau memalukan sekali," kata Rehandy menangani kekakuan yang terjadi.
Sementara Alrega mengepalkan tangannya dan ia dengan cepat menghabiskan makananya lalu berkata pada Rehandy dan nenek,
"Aku pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan dengan cepat kali ini," sambil beranjak. Rehandi hanya mengangguk.
Saat Alrega berdiri dan hendak meninggalkan meja makan, Delisa menahan dan memegang tangannya sambil berkata dengan ekspresi memelas,
"Rega, kumohon jawab aku. Apakah kau sudah lupa dengan semua kenangan kita?"
"Kenangan yang mana maksudmu?" jawab Alrega sambil menepiskan tangan Delisa.
"Rega, aku masih ingat semua tentang kita. Aku tidak akan melupakannya. Rega, aku..." kata-kata terputus.
"Itu, bagus. Artinya kau ingat juga bagaimana kau pergi!" sahut Alrega sambil mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Sella, dan berkata,
"Bukankah kau mau iku?"
'Apa. Ikut? Hei, aku mau ikut kemana? Ahk, iya... lebih baik daripada berada di rumah'
"Baik, aku ikut." Sella memberikan tangannya untuk dipegang oleh Alrega.
Delisa menatap kepergian mereka berdua dengan mengepalkan tangannya. Kebencian terukir jelas dimatanya.
Alrega dan Sella melangkah menuju teras rumah dimana Zen sudah menyiapkan mobilnya. Laki-laki itu sedikit mengerutkan alisnya ketika melihat Alrega berjalan sambil menggandeng tangan Sella. Gadis itu tidak sadar sudah terlihat begitu mesra.
Pak Sim mengantar mereka keluar sambil berkata, "Hati-hati dijalan, Tuan, Nona...Semoga hari anda menyenangkan. Jangan lupa makan siang."
'Hei, itu kalimatku' Sella.
'Itu kata-kata istriku' Alrega.
Pak Sim menutup pintu mobil dan Zen langsung melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
"Kita mau pergi kemana?" tanya Sella begitu mobil sudah jauh dari Kaki langit. Ia tidak betah hanya diam disepanjang perjalanan mereka.
"Nanti kau juga tahu." kata Alrega sambil memperhatikan penampilan Sella dari rambut sampai ujung kakinya.
"Apa baju ini dari lemarimu? tanya Alrega sambil mengusap ujung baju Sella. Gadis itu mengangguk cepat.
Sejak bertemu dengan kakek Mett, Sella mulai memperhatikan penampilannya, ia mulai belajar berpakaian feminin meninggalkan kebiasaan lamanya.
Hari ini ia memakai dress warna putih diatas lutut, lengan bajunya panjang tapi transparant, mengikat rambutnya rapi dibalut syal warna senada.
" Zen. Carikan sepatu wanita!" kata Alrega ketika melihat sepatu yang dipakai Sella tidak sama dengan warna bajunya.
"Baik," jawab Zen tanpa bertanya.
'Hei, sepatu untuk siapa?'
Sella menatap Alrega dengan penasaran. Saat itu Alrega memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam, bulu matanya yang panjang tampak seperti kipas yang menempel dipipinya, kulit wajahnya bersih dan halus mirip kulit wajah wanita. Sella merasa saat itu Alrega begitu tampan, hingga timbul rasa ingin menjadi miliknya. Tanpa Sella sadari kalau ia terpanah sampai mulutnya sedikit terbuka.
__ADS_1
'Bolehkah aku egois? seandainya aku bisa memilikimu, mencintaimu dan merebutmu dari Dslisa dan membuatmu jatuh cinta. Akh..'
Alrega merasa dirinya diperhatikan, ia melihat Sella sedang menatap lekat padanya, ia menyunggingkan sedikit senyum yang semakin membuat Sella kagum dibuatnya.
'Ayo, perlihatkan lagi senyummu hanya untukku'
Dengan gerakan cepat tapi lembut, Alrega menarik dagu Sella dengan jari-jari tangannya mendekat kewajahnya lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Sella.
Sella menjadi gugup, mendapatkan ciuman secara tiba-tiba. Ia mendelik hingga terlihat wajah Alrega yang seolah menempel dan melihat dengan jelas apa yang dilakukan laki-laki itu pada bibirnya, seketika aroma Alrega memenuhi rongga hidungnya.
Mereka sudah beberapa kali berciuman, tapi sepertinya Sella tetap gugup, Alrega merasakan tubuh Sella tegang dan kaku, bahkan tidak membalasnya.
Alrega melepaskan pagutannya, lalu mengusap bibir Sella dengan jari-jarinya, sambil berkata, "Kau sudah sedikit pintar sekarang. Pelajaran kali ini cukup."
'Apa kau tidak malu? Ada orang lain di sini!'
"Sayang, tolong jangan lakukan lagi. Aku malu, kita tidak sendirian di sini" kata Sella berusaha menjauhi Alrega.
"Zen! Apa kau melihat sesuatu?" Tanya Alrega, menanggapi ucapan Sella.
"Tidak, tuan,"!jawab Zen tegas.
'Kau bohong kan, sekertaris Zen? Awas, suatu saat aku akan membalasmu!'
"Kau, dengar? Aku hanya menuruti keinginanmu."
"Keinginanku? Aku tidak ingin berciuman denganmu."
"Bukan bibirmu yang ingin, tapi hatimu," kata Alrega sambil menunjuk dada Sella. Lalu ia menyandarkan tubuhnya. "Aku akan melakukannya kalau tidak ada orang lain."
'Kadang kau tidak bisa dipercaya kalau soal berciuman. Enak saja seolah aku yang ingin, padahal kau yang mencium lebih dulu. Sialan!'
Mobil mereka berhenti disebuah toko sepatu yang terkenal di jalan itu. Sella tahu toko ini hanya menjual sepatu rancangan desainer terkenal.
Para pelayan menyambut mereka ramah, begitu saja mereka masuk dan mempersilahkan mereka memilih sepatu yang mereka inginkan.
"Pilih sepatumu," kata Alrega setelah sampai di dalam dan ia duduk di kursi ruang tunggu.
"Tapi aku tidak butuh sepatu."
"Sepatumu tidak cocok."
'Hei, ini warna netral, cocok dipakai dengan pakaian apapun!'
Sella melihat sepatu yang warnanya senada dengan bajunya, ia hanya asal memilih, karena menurutnya sepatu itu terkesan sederhana dan tidak berhak tinggi.
Sella mengangguk dan langsung menggunakannya, sepatu itu nyaman. Ia seperti berjalan di atas kasur saja.
Zen mengeluarkan kartu debit dari saku dalam jasnya, untuk melakukan pembayaran dan Sella penasaran, dan ia terhenyak mengetahui harganya.
'Ya Tuhan, seharusnga aku tidak memilihnya. Ini sama dengan gaji Rere selama tiga bulan!'
"Pilihkan tasnya juga," kata Alrega tanpa melihat Sella dari kursinya, ia sibuk memainkan benda kecil ditangannya.
Beberapa pelayan membawakan beberapa tas, semua merk ternama dan tas putih kecil dengan logo LV menjadi pilihannya. Ia merasa percuma saja menolak, walaupun, ia tidak membutuhkannya.
Zen kembali melakukan pembayaran dengan kartunya, Sella hanya melirik saja merasa tidak perlu tahu berapa harganya.
'Ck! Tas di lemari juga banyak yang tidak pernah kupakai'
Alrega berdiri dan menggandeng tangan Sella, hendak beranjak meninggalkan toko, ketika Sella bergumam,
"Untuk apa membeli tas, aku tidak membawa apapun dari rumah tadi." ia menyesalkan tidak membawa serta ponsel dan juga dompetnya, ssmua tertinggal di rumah.
Mendengar ucapan Sella, Alrega menghentikan langkahnya, lalu berseru. "Zen, kemarikan hp-ku!"
Zen memberikan ponsel Alrega yang ia simpan di saku dalam jasnya, lalu berkata,
"Ini Tuan, apakah dengan yang lainnya juga?"
"Ya." sahut Alrega sambil membuka tas yang tergantung di pundak Sella, lalu memasukkan semua barang yang Zen berikan padanya, ada ponsel, dompet, kartu debit dan sebuah flasdisk.
Alrega berkata sambil menutup tas Sella, menatap lekat wajahnya sambil berkata, "Apa sekarang sudah cukup?"
Sella mengangguk pelan tanpa tahu maksudnya, ia hanya menurut saja. Alrega tersenyum ketika melihat Sella menurut seperti ini. Ia menundukkan kepalanya dan berbisik ditelinganya.
"Hati-hatilah menjaganya. Selama ini Zen yang menyimpan barang milikku, seperti ia menjaga harga dirinya."
"Sekertaris Zen, bisa kah aku mengembalikannya padamu?"
Mendengar permintaan Sella, Zen memalingkan wajahnya menyembunyikan senyum.
'Memangnya apa yang Nona khawatirkan, kalau Nona sendiri sudah jadi sesuatu yang berharga bagi tuan?'
"Maaf, Nona." Zen berkata sambil membukakan pintu untuk kedua majikannya.
__ADS_1
Sella masuk, sambil memeluk tasnya erat-erat. Alrega menyusul dan duduk disebelah Sella, menyembunyikan senyum melihat tingkahnya.
Mobil kembali melaju melewati kantor dan gedung ADG, Sella melihat gedung itu dan teringat Rere.
'Hei, dia belum membayar hutang, awas kau nanti, Re'
Sampailah mereka di halaman Restoran mewah. Mereka turun dari mobil, ketika seorang pegawai membukakan pintu, menyambut ramah. Seorang pengawal mengantarkan mereka memasuki sebuah private room, udah ada seseorang yang menunggunya.
Tidak ada apapun yang terhidang di meja. Hanya orang tertentu yang bisa memesan ruang pada ssbuah restoran tanpa memesan makanan satupun di sana.
Alrega tidak melepaskan tangan Sella sejak turun dari mobil, ia mengaitkan jari-jarinya yang panjang dan ramping pada jari-jari tangan Sella, tangan Sell terlihat kecil dalam genggamannya.
Setelah mereka duduk, Alrega meletakkan jalinan tangannya di atas meja, seolah ingin menunjukkan kekuasaan. Ia memberi isyarat pada Sella untuk melihatnya. Sella sedari tadi hanya menunduk melihat kearah tangannya dan tangan Alrega.
'Ya Tuhan. Kenapa Hanza ada di sini? Hei, aku tidak ada hubungan apapun dengan urusan kalian!'
Ambiens dalam ruangan tiba-tiba berbeda, seperti ada angin yang datang menghembuskan hawa dingin. Selama itu, mata pria berpakaian resmi dengan stelan jas warna gelap di sana saling menatap serius.
"Silahkan, Tuan," kata Zen sambil meletakkan sebuah dokumen di atas meja. Setelah itu ia kembali berdiri di belakang Alrega.
"Sekarang aku sudah menuruti keinginanmu. Tanda tangani sekarang juga." kata Alrega dengan tenang. Ia duduk bersandar tapi tetap tegak menunjukkan keseriusan.
Hanza mengajukan syarat bila Alrega ingin mendapatkan kesepakatan dirinya demi Daville, maka ia harus membawa Sella bersamanya, tanpa paksaan. Hanza yakin bahwa Alrega tidak akan mampu melakukannya karena ia tahu masalah yang terjadi antara Alrega dan Sella yang sebelumnya tidak saling mencintai, bahkan pernikahan mereka hanyalah untuk membalas dendam semata.
Ia tahu dari Delisa dan mengatakan akan membantunya untuk memisahkan Alrega dan Sella. Ternyata sekarang ia harus menelan kekecewaannya, ia melihat sendiri mereka bergandengan tangan, Sella tampak malu-malu dan pasrah di hadapan Alrega, sedang Alrega menatap Sella dengan penuh cinta.
"Tunggu. Aku hari ini hanya ingin melihatmu, dan aku tidak membawa berkas yang kau minta,"!ata Hanza.
"Ck! sudah kuduga kau akan seperti ini." kata Alrega.
"Tuan Hanza. Anda salah sudah tidak mempercayai tuan Rega." kata Zen dari belakang Alrega.
Hanza tertawa dengan keras menertawakan dirinya sendiri. Memang apa yang tidak dapat dilakukan Alrega? Karenanya, ini adalah waktu yang tepat untuk bisa bermain-main sebentar dengan Alrega. Ini kesempatan langka, tidak semua orang bisa melakukan hal seperti ini dengan orang seperti Alrega.
"Aku hanya ingin melihat kebenarannya, itu saja. Haha. Selamat, kau selalu mendapatkan yang kau inginkan, kecuali Daville."
"Apalagi yang kau inginkan?" tanya Alrega.
"Aku ingin kau berjanji." kata Hanza sambil melirik Sella dan jalinan tangannya diatas meja.
"Davi!" kata Hanza memanggil julukan Sella. Tapi sebelum Sella bereaksi, Alrega mengeratkan pegangan tangannya, seolah memberi isyarat agar Sella tidak menanggapinya.
Sella diam dan hanya menunduk, ia tidak mengerti isyarat Alrega tapi ia tak ingin Alrega marah padanya bila ia menyahut panggilan Hanza. Melihat hal ini Hanza menghela nafas dan kembali bicara,
"Nona, apakah Nona datang atas kemauan anda sendiri?"
'Memangnya Kenapa? Aku lebih baik ikut dia dari pada aku harus berhadapan dengan Delisa di rumah'
"Iya."
"Tuan Rega tidak memaksamu?" Hanza bicara dengan nada tak percaya. Ia kembali menyimpulkan tujuan Alrega membeli Daville untuk siapa?
"Tidak."
Zen terlihat mengepalkan tangannya, ia juga tidak menyangka dengan pertanyaan tak terduga itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi tadi pagi, hingga ia melihat tuan dan nonanya berjalan dengan bergandengan tangan mesra. Semula ia pikir bahwa Alrega akan membawa Sella dengan memaksanya. Mendengar jawaban Sella, Zen menjadi lega.
'Tuan, Anda luar biasa'
Hanza melihat dokumen yang ada dihadapannya. Lalu berkata. "Aku ingin membuat kesepakatan, dan aku ingin Davi menjadi saksinya, bagaimana Nona?"
'Aku tidak mengerti urusan kalian'
"Katakan!" Alrega berkata dengan cepat, sebelum Sella sempat bicara. Padahal Sella ingin berkata bahwa ia tidak mau ikut campur urusan mereka.
Hanza mendengus kasar lalu berkata. "Aku ingin kau berjanji, tidak akan mengubah bentuk asli Daville."
Alrega hanya mengangguk, lalu berkata. "Hanya itu?" Baginya itu hal mudah. Ia memang tidak berniat merubahnya.
"Hiasi beberapa lantai dengan cat dan hiasan yang lebih indah. Ada kenangan ayahku sebagai perancang di sana."
"Masih ada lagi?"
"Pajang foto ayahku dan sematkan tanda sebagai perancang yang harus dikenang karena keberhasilannya."
"Tentu. Apa sudah cukup? Kau bisa membuktikannya nanti." Pantang bagi orang seperti Alrega melanggar janji. Walau kepribadiannya tegas, ia tetap tahu bahwa ada beberapa orang yang berbeda bahkan sentimentil seperti ini.
"Kurasa cukup. Aku akan memberikan dokumennya nanti," kata Hanza kembali melirik Sella yang terlihat bingung.
Alrega tidak menyukai tatapan Hanza pada Sella, hingga ia menjulurkan tangan ke dagu Sella, agar gadis itu hanya melihat dirinya, sambil berkata, "Apa kau ingat semua yang dikatakannya?"
Sikap Alrega memperlihatkan pribadinya yang posesif.
'Tentu saja aku ingat, semua yang dikatakan Hanza itu adalah ucapanku sendiri'
"Kurasa aku akan ingat," tandas Sella sambil tersenyum manis. Ia hanya berusaha agar cengkraman tangan Alrega tidak sakit di dagunya, karena itulah Sella merasa harus bersikap semanis mungkin padanya.
Hanza tertegun tak percaya. Melihat interaksi keduanya yang terlihat tanpa dibuat-buat. 'Apakah sekarang mereka saling mencintai?'
__ADS_1
"Davi. Apa kau tidak akan berteriak lagi di atas Daville?"
Bersambung