
Pagi itu, begitu keluar dari rumah sakit, Alrega terus memegang tangan Sella dengan erat. Sikapnya itu menunjukkan bahwa mereka adalah, pasangan yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun juga. Bahkan ketika di dalam mobil pun kedua tangan itu terus terkait satu sama lain, sama seperti ikatan hati sepasang kekasih.
Sementara mobil yang dikemudikan oleh Zen itu meluncur dengan lancar menuju Kaki Langit, mereka harus pulang untuk melihat kondisi Zania setelah beberapa hari ditinggalkan oleh Sella.
Pria itu terlihat begitu mencintai Sellla. sebaliknya, gadis itu terlihat menahan panas di pipinya yang memerah dan enggan dilihat oleh orang lain. Berulang kali ia mencoba melepaskan genggaman tangannya, tapi Alrega tidak mengizinkannya lepas begitu saja.
Sikapnya yang seperti itu, dipicu oleh kejadian pagi ini, ketika ia terbangun dan tidak mendapatkan Sella di sisinya. Perasaan bahagia, mengiringi saat ia membuka mata karena Sella kembali menjadi gadis baik yang menurut padanya.
Setelah pergulatan semalam, ia sempat kelelahan karena Sella berhasil membuatnya tidak bisa menahan diri sampai berulang-ulang. Ia pun teridur begitu saja, namun ia yakin, bila wanita itu ada dalam pelukannya.
Ketika ia bangun di pagi harinya, Alrega sangat terkejut dan panik, hatinya berdebar karena tempat di sebelahnya kosong. Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya yang pucat dan kedua alisnya berkerut serta nafasnya memburu.
"Sial ...! Kemana dia?!" Alrega berkata dengan gusar sambil melompat dari tempat tidur.
'Apa ia pergi lagi, tapi tidak mungkin, kan? Ada banyak penjaga yang mengawasi di sini'
Segera ia memakai pakaiannya yang berada di atas tempat tidur, tampak seperti baru saja dirapikan karena sebelumnya teronggok di lantai. Setelah itu ia pergi mencari Sella, buru-buru keluar kamar, sambil menyelesaikan mengancing kemeja.
"Awas kalau dia berani pergi lagi, kukurung kau nanti selamnya." Bergumam tidak keruan sambil berjalan.
Tadi malam, Sella memang meninggalkan Alrega seorang diri di kamar, saat laki-laki itu sudah tertidur pulas. Ia teringat panggilan telepon, yang ia abaikan saat tengah bicara serius, ia tidak tahu siapa yang meneleponnya.
Sella meninggalkan ponsel dan semua benda miliknya dalam tas kecil, di ruangan Marla. Wanita itu masih tidur seperti sebelumnya, ketika ia kembali dan memeriksa keadaannya. Setelah itu ia melihat tasnya masih dalam keadaan yang sama saat ia meninggalkan.
Sella mengambil ponsel dari tasnya, untuk melihat siapa yang telah menghubunginya dan ternyata itu adalah Rejan, adiknya. Ia pun menelepon kembali laki-laki remaja itu dan menanyakan apa keperluannya.
"Maaf Kak, sudah malam baru menelpon. Soalnya nunggu ibu tidur baru aku bisa menelepon Kakak." Rejan berkata dari balik telepon genggamnya.
"Oh, aku pikir ada apa ... Apa ibu baik-baik saja?" Tanya Sella antusias, namun lirih karena khawatir suaranya akan membangun kan Marla.
__ADS_1
"Nah, itulah, Kak. Sepertinya kau harus menengok ibu. Dia khawatir padamu. Sudah lama kau tidak menelponnya."
Ucapan Rejan membuat Sella menyadari satu hal, dengan segala masalah yang dihadapi ia melupakan ibunya. Selama ini, walaupun ia jarang bertemu, tapi ia selalu rutin menghubungi ibunya, memastikan kalau wanita yang sangat penting baginya itu, baik-baik saja.
"Kak, ibu seperti tahu, kau sedang ada masalah. Dia sering terbangun kalau sedang tidur karena memimpikanmu, Kak."
"Mimpi apa?"
"Sepertinya mimpi buruk, ibu bilang melihatnya dimimpi, Kak Sese dengan pakaian yang basah!"
"Oh, Jangan bilang kau mengatakan semuanya pada ibu?"
"Tidak, aku mana berani ... aku tidak akan jadi anak durhaka yang buat ibunya menderita. Kalau bisa, ibu dan Runa tidak pernah tahu kejadian siang itu, selamanya!"
"Kau benar, kau memang adikku!"
Setelah sambungan telepon terputus, Sella tidur di samping Marla yang terbangun dan mengeluh kedinginan. Tubuhnya panas tapi yang ia rasakan sebaliknya. Sella hanya memberikan sentuhan langsung pada.tubuh Marla yang menggigil. Ia memberinya kehangatan yang tidak pernah Marla dapatkan dari siapapun, selain suaminya dahulu, sebelum laki-laki yang dicintainya itu pergi.
Ketika Alrega memasuki kamar perawatan, ia mengedarkan pandangannya dengan sinar mata penuh harapan. Langkahnya cepat menuju tempat tidur nenekanya dan melihat dua wanita yang ada di sana, masih nyenyak dengan posisi saling memeluk. Tiba-tiba hatinya menjadi hangat. Ia tersenyum miring, menyadari kegalauan yang sama sekali tidak beralasan.
Alrega memutuskan untuk membersihkan diri, setelah Pak Sim dan Zen datang. Dua orang asisten laki-laki itu membawa semua keperluan untuk dirinya dan juga Sella, pagi itu.
Mendengar suara yang sedikit berisik, Sella perlahan-lahan membuka matanya, ia terbangun dengan hati bahagia. Menatap wajah Marla yang tidak memakai riasan apapun di depannya, riasan yang biasa ia pakai hingga ia terlihat sangat muda dan segar. Berbeda dengan yang dilihatnya kali ini, wajah Marla menunjukkan keaslian usia yang sebenarnya.
Ia tampak seperti melihat sebuah lukisan nyata, perjalanan seorang anak manusia tidak pernah bisa menghindari takdirnya.
Sekeras apa pun mencoba untuk tetap terlihat muda, berusaha menolak kekuasaan dan garis Tuhan, tetap saja tidak akan bisa. Semua manusia akan menjadi tua dan mati menempati kuburnya, suatu saat nanti, cepat atau lambat, baik sakit maupun sehat.
"Kau sudah bangun, apa kau baik-baik saja?" Tanya Alrega yang sejak tadi sudah berdiri di samping tempat tidur menunggunya bangun.
__ADS_1
Sella menoleh sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka, dengan menghela napas ia kembali memejamkan mata, untuk memulihkan seluruh kesadarannya. Ia tidak cukup tidur tadi malam, bahkan matanya hanya terpejam selama kurang dari tiga jam saja.
Alrega membantunya untuk duduk, dan membopong tubuh Sella secara perlahan ke kamar mandi.
'Gimana dia bisa tahu, si, aku mau ke kamar mandi'
"Turunkan aku, aku bisa sendiri." Alrega tidak mendengarkan Sella. Ia justru membantunya lebih banyak lagi. Setelah menurunkan tubuhnya, Alrega menuangkan pesta gigi, menyiapkan handuk dan pakaian gantinya. Kamar mandi rumah sakit tidak besar, juga tidak ada walk on closet, sehingga ia harus mengganti pakaiannya di sana.
Alrega sudah berpakaian rapi tapi ia tetap melakukan semuanya untuk Sella. Ia berdiri di belakang Sella yang masih menyikat gigi, lalu memeluknya dari belakang. Mereka berdua saling berpandangan dengan lekat melalui cermin di hadapan mereka.
"Sudah, pergi sana ...."
"Kenapa?" Tanya Alrega hampir mencium lehernya dari belakang, Sella melihat bayangan Alrega yang tengah berdiri dari cermin yang tergantung di atas wastafel.
'Aku malu, tahu? Aku juga mau buang air!'
Sella tiba-tiba menoleh, sambil menyudahi menyikat giginya, ia berkata dengan bisa yang masih ada di mulutnya.
"Aku bisa sendiri, temani nenek, siapa tahu dia butuh sesuatu."
Alrega cemberut seperti anak kecil, tapi menurutinya. Ia menunggu Sella selesai sambil mengawasi tim Dokter dan perawat melakukan pemeriksaan pada Marla pagi itu. Keadaannya stabil, hanya jantung yang bermasalah, itu hal wajar untuk orang seusianya. Mengingat wanita itu memang pernah sakit jantung sebelumnya.
Setelah semua urusan Marla selesai, Sella dan Alrega berpamitan untuk pulang, Yorin yang akan menemaninya hari ini.
Di sinilah sekarang, kedua manusia yang terlihat mesra itu berada, di teras rumah besar Kaki Langit.
Begitu kaki Sella menginjak lantai rumah, terdengar suara teriakan yang sangat keras dari dalam rumah.
"Aahk ...."
__ADS_1
Bersambung