Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 135. Apa Dia Cemburu


__ADS_3

Zania tercengang, merasa Alrega sudah berbuat kasar, dengan mencengkeram dagu Sella seperti itu.


"Rega! Apa yang kau lakukan? Biarkan istrimu makan, jangan mengganggunya!" Zania berkata dengan tegas, melihat Alrega yang bertingkah tidak tahu malu.


"Ibu. Anakmu itu, aku!" Alrega menyahut sambil melepaskan tangan, tapi mencium bibir Sella sekilas.


'Ahk, ibu tidak tahu ya. Itu memang kebiasaannya, dulu cuma pegang dagu, tapi sekarang berani menciumku di depan semua orang'


Alrega mengulangi pertanyaannya. "Apa kau tidak ingin aku tetap di sini bersamamu?"


Sella menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "bukan seperti itu, kau bilang mau kerja, kan? Aku hanya tidak mau mengganggumu. Jadi pergilah."


"Kau berani mengusirku?" Alrega berkata sambil meletakkan satu tangan di sandaran kursi yang diduduki Sella. Ia duduk merapat di kursi tempat duduk Sella. Sementara Zania hanya mencoba mengunyah makanannya, dengan bersikap seolah tidak melihat kedua munusia di hadapannya ini.


"Hais. Kau sepertinya tidak suka makanannya, jadi buat apa di sini?"


"Aku suka atau tidak suka makanan, apa itu penting?"


'Bagiku itu penting, perbedaan yang sedikit atau banyak tetaplah sebuah perbedaan yang harus diatasi, kan? Bila tidak, bisa akan menjadi masalah besar dikemudian hari'


Sella mengangguk.


"Bagiku, perbedaan kamu suka atau tidak suka soal makanan, itu tidak penting." Alrega berkata sambil beranjak menuju kamar kerjanya.


Sella meneruskan melahap makanan yang tersaji di meja, dengan Zania dan Yorin. Mereka berbincang mengenai banyak hal dan aktifitas mereka selama Sella tidak ada di rumah. Mereka merasa bahwa rumah seolah tidak lengkap tanpa kehadirannya.


Zania tidak menyangka bila kepergian Sella untuk memeriksakan diri waktu itu, berakhir dengan kejadian yang mengerikan. Saat ia tidak menemukan Sella di rumah, wanita itu panik, sedang hari sudah larut malam. Tak lama mereka mendapatkan kabar dari Alrega, tentang kejadian yang menimpa Sella, hingga Rehandy mulai mencari informasi bersama dengan ayah mertuanya Mett Haquel.


Dua lelaki itu merasa tertipu oleh tenangnya situasi dan mnganggap bahwa keadaan sudah aman, mengingat Delisa dan Zola, orang yang dianggap bermasalah itu, sudah mereka usir dari kota.


Awalnya karena mereka menghargai kelembutan hati Sella, yang memaafkan para pelaku kejahatan padanya. Membuat para tetua itu tidak menjatuhi hukuman mati, bagi kedua wanita licik ini. Namun setelah kejadian terakhir yang mencelakai Sella, sepertinya kata baik hati tidak diperlukan lagi.


Terkadang karena kelembutan hati dan cinta, membuat orang menjadi lemah membalas seorang yang dianggap bersalah, mereka memilih untuk memaafkan dari pada meninggalkan. Karena rasa cinta inilah yang membuat seseorang tidak pernah tega untuk menyakiti orang yang dicintainya.


Alrega menepati janjinya hanya sebentar berada di ruang kerjanya akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama Sella. Kini mereka duduk di kursi ayunan yang ada di samping taman kecil rumahnya Alrega memilih memandangi foto-foto istrinya di ponsel sedangkan Sella sibuk membalas chat dari keluarganya.


"Apa kau pernah bertemu dengan Hanza?" Tanya Alrega pada Sella yang masih sibuk melihat layar ponselnya.


"Tidak ...." Sella heran. Ia menoleh, menatap suaminya dengan alis yang berkerut.


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya soal dia? Diantara kami tidak ada hubungan apa-apa."


"Dia yang sudah menolongmu, membawamu ke rumah sakit, apa kau ingin mengucapkan terima kasih padanya?"

__ADS_1


"Benarkah? Mungkin hanya kebetulan saja dia ada di sana, tapi bagaimana aku harus berterima kasih padanya?"


"Kau tidak perlu berterima kasih padanya, " kata Alrega tanpa ekspresi.


'Kau ini seperti bisa membaca isi hatiku saja'


"Kenapa tidak boleh?"


"Dia sudah menyakitiku."


Mendengar ucapan Alrega Sella pun tersenyum tipis 'sepertinya tidak ada orang yang bisa menyakitimu'


"Ah, benarkah? mana yang sakit?" kata Sella sambil memegangi pundak dan wajah Alrega, seolah-olah ada sesuatu yang sakit di tubuh pria itu.


"Bukan sakit di situ, tapi di sini," kata Alrega sambil menunjuk dada di mana jantung berada.


"Bagaimana mungkin menyakiti hatimu? Kalian bukan pasangan kekasih, kan?"


Alrega menggelang dan berkata pelan, "dia bilang, kemungkinan kau hamil karena dirinya. Sekarang katakan apa kau memang pernah melakukan itu dengannya?"


"Melakukan apa?"


'Ahk, tidak mungkin Hanza sejahat itu, mengatakan kebohongan pada Alrega, temannya sendiri?'


"Jangan-jangan kau masih menyukainya?"


"Ya Tuhan. Apa lagi itu ... apa kau mencoba mengujiku atau orang lain yang mengujimu? aku tidak pernah melakukan hal itu dengan orang lain, kecuali dengan dirimu!" Sella berkata sambil beranjak pergi.


Ia mulai melangkahkan kaki saat Alrega mengikutinya dari belakang dan menggamit tangannya. Mereka berjalan beriringan memasuki rumah.


Saat berjalan Alrega terus bicara, "ada orang yang mengujiku karena mereka iri padaku, orang yang mengujimu karena mereka cemburu, kau jadi istriku."


"kalau begitu lebih baik aku pergi saja, biar aman tidak ada yang menyakitimu juga tidak ada yang menyakitiku."


Mendengar ucapan sella, ia memegang lengan atas Sella dan membalikkan tubuhnya lalu berkata "beraninya kau berkata seperti itu? kau mau pergi dariku?"


'Memang boleh?'


Tanpa menunggu jawaban Sella, Alrega menarik tangan istrinya dan berjalan dengan cepat ke kamar. Semua orang di ruang tengah yang melihat mereka berjalan beriringan menaiki tangga, dengan tergesa-gesa, hanya bisa diam melihat punggung pasangan itu menjauh, sampai akhirnya hilang, bersama dengan pintu yang tertutup.


***Ribuan purnama mungkin akan melewati kita bersama tapi purnama tak pernah janji kalau sinarnya akan selalu sempurna***


Alrega menidurkan mendorong tubuh Sella ke kasur, secara perlahan dan kemudia ia mengungkungnya, menatap wajah yang tak berdaya di bawahnya, sambil terus bicara. Ia tak marah, hanya saja ucapan Sella sudah berhasil menyinggungnya, tidak ada yang berani mengatakan hal sembarangan di depannya, selain Sella.

__ADS_1


"Jangan katakan ingin pergi, atau kau akan meninggalkan aku seperti tadi. Kalau kau bicara begitu, aku benar-benar akan mengurungmu, kau tidak bisa kemanapun selain ke kasur ini dan ke kamar mandi! Apa kau mengerti?"


'Hais kau ini kejam sekali'


"Apa kau tega membuat aku menderita bahkan tidak bisa melihat ibu kita?"


Alrega mengernyit, sebutan ibu kita adalah hal indah masuk ke telinganya seperti angin di musim semi. Sedangkan kata aku pergi bagai angin musim salju yang membekukan hatinya saat ia mendengar dan keluar dari mulut istrinya.


"Jangan katakan hal bodoh itu lagi."


'Kan, kamu yang mulai. Ck!


"Iya, baiklah."


Saaat Sella selesai bicara, bibir Alrega sudah menempel di bibir Sella, ⁰mencium dengan ******* yang lama dan lembut, menyatukan lidah, solah-olah tidak akan pernah puas hanya bila sebentar saja melakukannya, sangat lama sampai napas mereka habis di dada.


***


Alrega dan Zen berjalan menuju lift saat Zen menerima panggilan di telepon genggamnya. Pria itu menerimanya saat sudah berada di dalam lift. Begitu benda pipih itu ia tempelkan ke telinga, dia mengernyit.


"Kau, untuk apa menelponku!"


Zen diam seperti mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh orang yang ada di seberang teleponnya.


"Kau bodoh sekali, pergi dari sana, cepat!" Kata Zen lagi setelah cukup lama terdiam.


Alrega yang ada di sampingnya, mengernyit dan melirik Zen, ia ingin tahu siapa yang sudah berani menghubungi Zen sepagi ini dan membuatnya marah seperti. Ini untuk yang kesekian kali bila ia marah, tanpa memikirkan sopan santun di hadapan Alrega, tidak lain karena satu masalah besar.


Zen menutup panggilan sambil mengusap wajahnya yang tampak gelap penuh mendung membayang di sana. Di saat itu juga Alrega bicara sambil melangkah keluar lift.


"Apa ada yang menggangumu?"


Zen menghentikan langkahnya sambil menghadap Alrega dan Pria itu melakukan hal yang sama. Mereka sekarang berdiri di koridor menuju ruangan Alrega.


"Tuan, bolehkah saya izin ke luar hari ini?"


"Apa itu penting?"


Zen mengangguk.


"Tapi bukan masalah kantor, lalu apa masalah perempuan?"


Zen kembali mengangguk yang membuat Alrega mencebiknya sambil kembali melangkahkan kaki memasuki ruangannya, tanpa melihat ke arah Zen.

__ADS_1


Sekertaris pribadi Alrega itu diam sambil melihat tuannya menutup pintu kantornya sendiri, seolah-olah meyakinkan dirinya bahwa majikannya itu, dalam keadaan baik-baik saja saat ia tinggalkannya.


Bersambung


__ADS_2