Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab. 136. Tawuran


__ADS_3

Zen menghampiri dan membuka pintu mobilnya, yang berada di halaman parkir VIP gedung sambil menelpon seseorang.


“Ikut aku sekarang juga. Aku share lokasinya.” Setelah berkata demikian ia mengirimkan alamat lokasi yang akan ia datangi, lalu melemparkan ponsel ke kursi kosong di sebelahnya. Ia memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, hingga sampai di lokasi pada saat yang tepat. Itu tempat di mana pertikaian antar pelajar yang berpikiran pendek terjadi.


Beberapa pengawal yang tadi ia hubungi, datang mendekat lalu ikut maju bersama Zen tanpa kenal takut. Mereka menembus amukan anak-anak yang gegabah membahayakan diri mereka sendiri.


Kedatangan Zen yang mengendarai mobil sport, bersama para pengawal, dengan stelan jas rapi itu, justru lebih menarik perhatian dan seketika semua mata memandang ke arah mereka. Yaitu beberapa orang yang terlihat sangat terlatih dan profesional.


Para pengawal itu adalah orang yang sudah mendapatkan pelatihan khusus, sebagai pengawal dan penjaga keluarga Leosan dan Haquel. Mereka berada di bawah lisensi resmi dan didukung penuh oleh pemerintah kota secara legal. Siapapun bisa menyewa mereka, dengan bayaran tertentu karena selain untuk kepentingan pribadi keluarga, keberadaan jaringan ini, untuk bisnis pula.


Para pengawal itu dengan cekatan menghentikan pertikaian penuh emosi sesaat yang membahayakan nyawa. Tidak sedikit di antara mereka yang membawa senjata tajam. Anak-anak remaja yang tidak menduga dengan kedatangan mereka, lari tunggang langgang.


‘Siapa mereka?’ batin semua anak yang melihat kedatangan mereka, yaitu orang-orang yang justru membuat mereka lebih takut dari pada melihat anggota keamanan kota.


Sementara Zen pergi mencari seseorang yang tadi menghubunginya. Ia berjalan dengan cepat sambil kembali menelpon.


“Kemana kau?” tanyanya, begitu ponsel tersambung.


Seorang wanita yang sedang duduk santai sambil menikmati segelas kopi, menjawab panggilan, ia mendengar seseorang menanyakan keberadaannya dan ia hanya diam. Lonisa, gadis itu melihat betapa kerennya aksi Zen dari kejauhan.


Ia melihat bagaimana Zen turun dari mobilnya sambil merapikan jas dan berjalan dengan cepat menyibak kerusuhan yang terjadi di sebuah jalan antar blok di tengah kota. Area itu, merupakan jalanan yang di kiri kanannya berjajar pertokoan dan perumahan.


Lokasi itu cukup ramai, tapi anehnya tidak ada warga yang berani menghentikan tawuran antar pelajar yang dipicu oleh kesalahfahaman itu. Hal ini bisa dimaklumi karena resiko terkena sabetan senjata tajam, sangat mungkin.


Setelah berada di tengah-tengah mereka, Zen dengan tenangnya menghindari sabetan senjata dengan merunduk tapi satu tangannya bergerak ke atas dengan cepat, untuk mencekal anak yang memegang senjata. Satu persatu anak dan beberapa senjata tajam bisa diamankan dalam waktu singkat, oleh Zen dan beberapa pengawal, sedang sisanya lari ketakutan.


‘Dari mana datangnya orang-orang ini? Kecepatan gerakannya melebihi polisi!’ batin beberapa anak.


Setelah berhasil menenangkan, Zen langsung menghubungi Lonisa yang mengatakan terlambat datang ke kedai kopi Zen, untuk membagikan makanan gratis karena terjebak tawuran. Pria itu menyuruhnya keluar dari tempat itu karena khawatir, dengan keselamatan Lonisa. Akan tetapi gadis itu justru menikmati kejadian yang jarang ditemuinya.


“Zen!” Lonisa memanggil setelah pria itu cukup dekat. Ia melambaikan tangannya sambil menutup ponsel. Tadi, Zen terus berjalan mencarinya di setiap toko dan rumah yang ia lewati. Raut wajahnya terlihat panik dan berkeringat.


Begitu melihat Lonisa, Zen merangsek dengan cepat ke arahnya dan membenamkan tubuh ke dalam pelukannya.


“Kau baik-baik saja?” katanya dan Lonisa menjawab dengan anggukan, tidak menyangka Zen akan bersikap demikian.

__ADS_1


“Jangan kuatir, aku baik-baik saja,” kata Lonisa sambil berusaha melepaskan pelukan Zen. Ia malu karena dilihat banyak orang.


Zen tidak perduli, ia semakin mengeratkan pelukan, menganggap semua orang di sana tidak ada dan seolah suasana itu sepi, hanya ada mereka berdua. Ia tak ingin kehilangan lagi, sudah cukup baginya kehilangan kedua orang tuanya hampir bersamaan. Kehilangan seperti itu terlalu menyakitkan untuk diulang.


“Tolong jaga dirimu.” Zen berkata sambil melepaskan pelukan dan menunduk melihat seluruh tubuh wanita di depannya dari bawah ke atas guna memastikan ia tidak ada masalah yang dialami.


“Sudah selesai?” kata Zen sambil melirik gelas kopi yang hampir habis di meja. Lonisa mengangguk.


“Ayo! Kita pulang. Kau tidak usah membantu di kedai hari ini.”


Suasana yang terjadi hari ini sangat kacau, ia tidak ingin melibatkan Lonisa pada hal lain lagi.


“Tidak. Aku sudah berjanji mau datang hari ini.” Maksud Lonisa adalah ia akan datang seperti biasanya untuk membagikan makanan gratis setelah mengemasnya, karena semua rekan kerjanya belum tahu jika ia sudah tidak tinggal dengan bos mereka lagi.


Beberapa hari yang lalu, setelah Zen mengizinkannya pergi dan memberikan kunci serta sertifikat rumahnya. Ia benar-benar menempati rumahnya sendirian. Rasa gengsi menerima kebaikan laki-laki ini dibuangnya jauh-jauh karena keinginan untuk hidup mandiri jauh lebih besar lagi.


Selain itu ia memikirkan kehormatan dirinya, sebagai wanita dan lelaki normal yang tinggal satu atap bersama dan saling menyukai, kira-kira apa yang akan terjadi? Selama ini memang Zen bisa menjaganya dengan baik, tapi tidak ada yang bisa menjamin lebih lama lagi.


Hari ini, entah karena hati yang rindu atau keadaan yang menakutkan hingga ia membutuhkan kehadirannya. Ia sungguh merasa bersalah setelah Zen datang secepat itu dan membantu pihak keamanan menyelesaikan masalah.


“Ini akhir pekan, apa kau bekerja?” tanya Lonisa dengan memperhatikan pakaian Zen. Laki-laki itu mengangguk. Dia harus menyelesaikan urusan Daville hari ini karena Alrega akan mengadakan persemiannya beberapa pekan lagi.


Awalnya Zen tidak setuju dengan keputusan Alrega, sebab Sella sama sekali tidak bisa apa-apa dalam memimpin departemen seperti ini, sebab pasti dirinya lagi yang akan lebih repot nantinya mengurus dan mengajarinya.


Akan tetapi Alrega berkata, “kau tidak usah mengurus ini, biar aku dan istriku yang akan mengelolanya, aku mau lebih banyak berdua.” Lalu Zen hanya bisa tersenyum dan mengangguk menanggapi keputusan Alrega.


‘Benarkah orang akan menjadi segila ini hanya karena cinta? CK!’


Nyatanya dirinya pun begitu, mendatangi Lonisa dengan rasa kuatir, lalu mengerahkan pengawal hanya demi wanitanya yang ternyata baik-baik saja, bahkan menikmati kopi serta membuat video kerusuhan dengan tenangnya.


Lonisa mengerti, dia pun menggamit tangan besar Zen dan keluar dari kedai setelah membayar kopinya. Zen melihat gadis di sampingnya dengan takjub, wanita itu sudah berhasil membuatnya berpikir pendek.


Begitu para pengawal yang masih setia menunggu melihat Zen bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik, mereka pun mengerti bahwa mereka dikerahkan hanya karena wanita ini.


‘Apa dia pacar Tuan Zen? Pantas saja!’ batin mereka.

__ADS_1


Zen memberi isyarat dengan tangannya untuk segera pergi dan membiarkan pihak keamanan kota yang membereskan sisanya, mengamankan semua pelajar yang terlibat kekerasan di sana.


Selama dalam perjalanan menuju kedai kopi, kedua insan yang saling mencintai itu hanya diam, Zen fokus mengemudi dan Lonisa sibuk dengan ponselnya.


Laman momen media sosialnya, penuh dengan komentar saat ia membagikan video tawuran, yang berhasil diabadikannya. Termasuk adegan dimana sekumpulan orang-orang berjas rapi datang membereskan kerusuhan dengan gaya bak cerita aksi di flim ternama.


“Kau membagikan videoku?” tanya Zen, mencoba menebak apa yang dilakukan Lonisa.


“Iya, kenapa?”


“Tisak ada. Pasti banyak yang menyukai aksiku nanti.”


“Biarkan saja. Kau keren.”


“Oh, ya? Coba kulihat.” Zen berkata sambil menepikan mobilnya secara perlahan.


“Kenapa berhenti, aku sudah terlambat ke sana, pasti mereka sudah selesai mengemas makanan!”


“Kau masih memikirkan mereka padahal aku sudah membantumu di sini?” Zen berkata dengan mengernyit.


“Apa salahnya? Kau tinggal lihat di laman momenku. Apa susahnya? Jangan bilang kau tidak punya akun media sosial dan hanya sibuk mengurusi bisnis Tuan Rega?”


Zen, memang seperti itu. Ia tidak pernah menggunakan media sosial manapun selain untuk memeriksa seseorang atau mencari informasi dari berbagai sumber.


“Aku punya.” Jawabnya sambil menjalankan mobilnya kembali.


“Oke, kalau begitu follow aku. Kau bisa melihatnya.” Lonisa berkata sambil tersenyum ke arah Zen dan laki-laki itu hanya melihat dari sudut matanya. Terkadang aktifitas sosial seperti itu sangat mempengaruhi sebuah hubungan seseorang.


Seperti berteman di media sosial, sering memosting foto bersama atau membalas komentar, adalah cara menunjukkan cinta. Padahal bisatidak berbeda menurut sebagian orang, ada yang menganggap tidak harus demikian, karena ada banyak cara lainnya yang ukurannya pasti berbeda sesuai selera manusianya.


“Ayo ke kedaimu. Gas lebih dalam ... Cepat!”


Mobil baru saja berjalan sebentar dan Zen kembali menghentikannya. Ia melepas sabuk pengaman dan menghadap ke Lonisa. Sorot matanya lekat memandang wajah wanita yang ada di hadapannya seolah ia makanan lezat yang siap dinikmati dengan penuh minat.


“Dari tadi kau selalu memintaku ini dan itu, memangnya aku ini apa bagimu?” Zen berkata dengan nada suara rendah penuh tekanan, mirip saat ia tengah mengintimidasi seseorang yang membahayakan perusahaan.

__ADS_1


Lonisa tersadar, bahwa sebenarnya belum ada kejelasan tentang hubungan mereka. Mereka belum pernah menyepakati sesuatu.


Bersambung


__ADS_2