
Zen berkata, "Jadi Bu, saya minta bantuan anda untuk mengurus Nona karena belum sembuh benar. Saya janji akan segera menjemput Nona kalau urusan kami sudah selesai."
"Oh, tidak perlu terburu-buru kalian selesaikan saja urusan kalian, biarkan Sella, kami senang dia di sini." Flina menyahut dengan tersenyum.
"Baik, terima kasih, kalau begitu saya permisi." Zen menundukkan kepalanya pada Flinna lalu pergi.
'Nona, percayalah Tuan akan menjemput anda secepatnya'
Sepeninggal Zen Flina memeluk Sella dengan erat,membelai punggung dan kepalanya penuh dengan kasih sayang.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya dan Sella mengangguk.
"Kakak, sebenarnya apa yang terjadi, ayo cerita pada kami," kata Runa duduk di samping Sella dan juga ikut memeluk tubuh kakaknya.
Sella memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dan kemudian tersenyum, sambil membalas pelukan ibunya.
"Tidak ada apa-apa, yang penting aku baik-baik saja," ujar Sella, sambil melepaskan pelukannya. Ia sebenarnya tidak mengerti, dengan semua yang terjadi, ketika ia tersadar, ia melihat bayangan Alrega pergi. Ia sempat memanggil, tapi pria itu tidak menyahut.
'Akh, apa dia marah? Oh, mungkin aku salah lihat'
Lagipula pandangan matanya masih kabur waktu itu, apalagi Zen menjelaskan bila Alrega pergi keluar untuk membereskan kecelakaan yang menimpa dirinya. Ia bahkan hampir tidak percaya bila kejadian di kafe itu disengaja, yang menyebabkan Alrega harus turun tangan sendiri mengatasinya.
Sella tersenyum memikirkannya, ia merasa Allrega sangat perduli padanya dan begitu mencintainya. Tiba-tiba saja ia merindukan laki-laki itu, ingin memeluk dan mengatakan semuanya. Ia harus percaya bahwa semua yang dilakukan Alrega, walaupun menyebalkan, adalah untuk kebaikannya.
Rezan mendekat sambil membawa segelas air minum untuk kakaknya. Ia duduk di depan tiga wanita penghuni rumah itu, sambil berkata, "pasti Kakak jatuh di tempat yang tidak biasa, sampai babak belur begitu."
Mendengar ucapan Rezan, Sella pun menceritakan semuanya, hingga ia mendapatkan semua perban di tubuhnya.
"Kakak, itu jebakan!" Rezan mengatakan pendapatnya.
"Mana mungkin di sengaja? Pelayan itu hingga sekarang masih di rumah sakit," sahut Sella.
"Maksud Kakak tidak mungkin orang bisa membahayakan nyawanya sendiri?" Kata Runa.
"Mungkin dia tidak berpikir panjang, sama seperti aku dulu," ujar Sella dengan nada sedih.
"Sudah, sudah, jangan bahas kejadian ini lagi. Kasihan Kakakmu. Ayo! Tidur saja, sudah malam!" Flina berusaha menengahi, ia tidak mau kejadian masa lalu yang disebabkan oleh dirinya itu diungkit kembali.
***
Sella terbaring di atas tempat tidur, Flinna memanjakan anaknya yang sedang hamil itu, melarangnya melakukan pekerjaan apa-pun. Aktifitas yang dilakukan tidak lepas dari kamar mandi dan tempat tidur.
Malam itu, begitu Flina mengetahui Sella hamil, ia bahagia sekaligus kesal pada menantunya, yang ia anggap tidak perhatian pada Sella. Membiarkannya pulang hanya diantar sekertaris Zen, lalu meninggalkannya dan sekarang tidak juga menjemputnya pulang walau sudah beberapa hari dia pergi.
__ADS_1
Sella melihat layar ponselnya yang setelah beberapa saat ia mengirimkkan pesan. Ia pun meneteskan air mata, berlinang membasahi pipinya.
'Seperti inikah rindu, apa dia juga merindukan aku? Dimana dia, apakah sekarang sudah waktunya aku dihempaskan setelah ia berhasil melambungkan perasaanku setinggi langit? Kau berhasil, Al. Kau berhasil membalaskan dendampadaku'
Sella meletakkan ponsel ke tempat kosong di tangkap sebelahnya. Sementara hatinya putus asa. Sudah beberapa kali ia menghubungi Alrega tapi pria itu tidak membalas panggilannya.
'Ada apa? Apa kau benar-benar sibuk? Kenapa kau mengabaikanku, aku hamil, Al?'
Ketika Sella belum memiliki sedikitpun rasa cinta dihatinya, sedangkan Alrega bersikap sangat baik padanya, ia menganggap bahwa seperti itulah cara Alrega membalaskan dendamnya. Laki-laki itu akan membuatnya terbang dan setelah itu ia akan dihempaskan begitu saja.
Ia menutup wajahnya dengan bantal di tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya.
'Sesakit inikah mencintai? Seperti ini kah perasaan Ibu saat Ayah pergi? Ibu, maafkan aku bila aku harus membesarkan bayi ini seorang diri'
Saat ia keluar dari rumah sakit, ia berjalan dibahtu seorang perawat menaiki taxi yang sudah di pesan oleh Zen. Entah bagaimana nasib mobilnya. Ia tak perduli karena ia sedih mendengar kabar kematian Leana yang sudah berjuang melindunginya.
'Ahk, sayang sekali, dia belum menikah'
Ia ingat bahwa ia terjatuh di kafe karena menginjak lantai yang licin akibat cairan dan makanan. Ia mendengar Lea memanggil namanya untuk yang terakhir kali.
Ia tidak tahu apa yang terjadi sesudah ia jatuh. Waktu itu ia berusaha menghindar, dari pelayan yang menjatuhkan nampan minuman, namun karena lantai yang licin justru ia terjatuh. Setelah itu yang ia rasakan hanyalah kegelapan.
Zen menjelaskan semua kejadian dari sejak dia jatuh dan Hanza yang menolong dan membawanya ke rumah sakit. Menurut Zen, kebetulan sekali waktu itu Hanza melintas. Setelah diselidiki dengan cepat, barulah di ketahui bahwa yang terjadi pada dirinya adalah sebuah sabotase.
'Kenapa, Al? Apa kau sudah puas menyiksaku dan sekarang waktunya meninggalkanku? Atau kau hanya menguji cintaku?'
Dalam tangisannya Sella terus membayangkan bagaimana pria itu memanjakan dan memperlakukannya dengan lembut seolah-olah dirinya harta yang berharga dalam hidupnya. Ia sudah membuktikan bahwa tidak ada wanita lain kecuali dirinya. Ia mengingat semua ciuman dan belaian yang membuatnya melayang.
Wajahnya yang tampan dan cantik secara bersamaan, tangan Alrega yang lebih indah dari tangannya dan senang sekali mencengkram dagunya itu seolah-olah terasa hangat tak pernah hilang.
"Aku mencintaimu, Al ...." Sella bergumam sambil memejamkan matanya dan tak terasa setelah sekian lamanya ia menangis, akhirnya ia tertidur.
***
Sinar matahari lembut menerobos masuk melalui celah dan tirai jendela yang masih tertutup, seiring desiran angin musim hujan hingga terasa dingin. Aroma udara pagi menguar, bercampur dengan aroma khas pohon Pinus dan cengkeh di musim salju, memenuhi kamar Sella. Ini aroma yang biasa Sella hirup dari tubuh Alrega saat mereka berpelukan.
Serasa mimpi, Sella merasa ia tengah memeluk laki-laki itu dengan segala rasa nyaman yang terselubung. Ia tidak ingin membuka matanya, ia mencoba tetap tertidur walau kicauan burung dan suara-suara orang beraktivitas di luar kamarnya, jelas sekali terdengar ditelinganya.
'Tolong diamlah, jangan bangunkan aku!'
Sella mengeratkan pelukannya yang seolah nyata, namun rongga hidungnya menangkap aroma itu lebih kuat dan ia selah tertidur di atas sesuatu dan ini bukan kasur atau bantal.
'Apa aku masih bermimpi?'
__ADS_1
Perlahan-lahan ia membuka matanya dan pandangannya jatuh di dada seorang pria yang tidak berpakaian. Seketika matanya melebar, mengumpulkan nyawanya agar kembali utuh.
Ia melihat pria itu tidur di sampingnya sedang tangannya berada di perutnya. Ia mendorong tubuh pria yang memeluknya itu dengan kasar.
"Siapa kau?!" Sella berdiri dan mengambil guling lalu memukul pria itu berulang kali dan terus berteriak nyaring. "Pergi kau. Kurang ajar!" Sambil terus memukul.
"Ini aku ..." Alrega bangkit, mengambil guling dari tangan Sella.
Sella kembali tersadar bahwa kali ini yang ia lihat adalah Alrega, bukan orang asing berjenggot yang menerobos kamarnya. Ia segera berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi. Setelah selesai, ia kembali menghampiri pria yang setia menunggunya sambil duduk di sisi tempat tidur.
Begitu Alrega melihat Sella yang sudah menyelesaikan hajatnya, ia berdiri dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, lalu berkata, "kemarilah."
Mendengar suara Alrega, Sella pun membalas pelukannya dan berkata, "sayang kau kah itu?" Sella menurut ketika dibawa kembali ke tempat tidur.
Alrega mengangguk, memeluk Sella lebih erat dalam keadaan berbaring. Sella mengulurkan tangannya dan membelai pipi Alrega yang ditumbuhi bulu halus dan juga kumis.
"Maaf ... aku memukulmu, aku tidak tahu itu kau sayang. Selama ini aku tidak pernah melihat ada kumis dan jenggot ini di wajahmu," kata Sella sambil terus membelai wajah Alrega.
"Apa kau merindukanku?"
Sella mengangguk, "sangat, tapi aku hampir membencimu." Air matanya tiba-tiba menetes.
"Kenapa?" Alrega mengulurkan tangannya yang ramping menghapus air mata Sella.
"Aku pikir kau meninggalkan aku karena balas dendammu sudah selesai."
"Mana ada?" Alrega mencebik lalu mencium bibir Sella sekilas.
"Lalu kemarin kemana?"
"Membereskan semuanya."
'Termasuk hatiku. Maafkan aku yang salah membaca maksud dan pikiranmu. Kau yang membuatku lemah. Jadi jangan pergi, jangan katakan pada orang lain kalau aku hanya akan menjadi lemah dihadapanmu saja'
"Lalu, sekarang sudah selesai?"
Alrega mengangguk.
Sella melepaskan pelukan, ia beranjak sambil berkata, "sayang aku hamil." Lalu melangkah mengambil alat tes kehamilan dari tasnya dan menunjukkan pada Alrega.
Bersambung
*Maunya gimana, Alrega marah, biasa saja, atau dia akan pura-pura lupa? eh, pura-pura belum tahu?*
__ADS_1