Hukuman Itu Menikah

Hukuman Itu Menikah
Bab 115. Tak Ada Manusia Yang Sempurna


__ADS_3

Pria yang memakai stelan kemeja rapi itu, tidak bisa menahan diri untuk mencium Sella, bukan karena libido atau keserakahan jiwa, melainkan ungkapan rasa gelisah karena ras takut kehilangannya pada orang yang ia cintai.


Alrega tidak bisa menahan kesedihannya, setiap kali ia mengingatkan kematian Nigiro.


Mengingat kematian kakeknya, seperti mengulang kembali kesedihannya. Saat ia masih berduka, ia harus membantu mengurus pemakaman Nigiro, mewakili ayahnya, menanggapi para peziarah di rumah duka, bersama dengan paman-pamannya.


Sedangkan Rehandy, ayahnya, sibuk mengurus dan menjaga Marla yang sangat syok, ia akan sering pingsan. Hingga wanita itu seperti ini


ruguan Padahal, jangankan mengurus pemakaman, melihat mayat Nogiro saja hatinya sudah seperti di sayat ribuan pedang.


Ia tetap tenang, waktu itu, hanya saja ia terlihat berulang kali menghela pas dalam bdan mengusap wajah, atau mengepalkan kedua tangan sedang keringat membanjiri keningnya.


"Kau ini kenapa? Jujur ...." Sella berkata sambil memundurkan kepalanya.


Alrega tidak menjawab, hanya menatap Sella dengan tatapan menuntut untuk dimengerti.


'Dia ini aneh sekali'


Sella kini mengumpan tangannya di dagu Alrega, "ayo! Katakan ada apa?" katanya lagi, bersikap seperti kebiasaan yang dilakukan oleh laki-laki itu kepadanya, membuatnya tersenyum miring, lalu pergi.


Setelah itu, Alrega melangkah menuju tempat duduk di bagian yang agak jauh dari semua orang di sana. Sella mendekati Zen, untuk menanyakan Alrega.


"Apa kau lihat sesuatu yang berbeda, dari Al?" Saat berkata demikian, kedua orang itu melihat Alrega dari kejauhan.


Saat itu Zen berpikir bahwa semua orang pasti memiliki kelemahan, begitu juga dengan Alrega, ia adalah manusia juga. Sebaik apa penampilannya, ketenangan dan.juga keluwesan pribadinya, tetap saja tidak bisa menutupi sesuatu yang menjadi kelemahan terbesarnya. Memang hal seperti ini tidak selalu muncul, tapi biasanya hanya orang yang terdekat dan mengerti kebiasaan orang itu saja yang bisa menilainya.


Zen pun bercerita bagaimana dulu ketika Nigiro meninggal dunia, hanya dia yang menemani, semua orang sibuk. Ketika kejadian itu dia baru saja selesai mempelajari keuangan, mereka hanya berdua di kamar perawatan. Sama sekali ia tidak menyangka, kakek kesayangannya itu akan pergi setelah menceritakan banyak hal. Ia merasa pria tua itu sama sekali tidak terlihat akan mati, tapi begitu ia di bawa ke ruangan yang sama di mana sekarang Marla di rawat, terlihat para dokter menangani dan memasang semua alat di tubuhnya, tapi tak lama setelah itu Nigiro dinyatakan wafat. Tidak ada satupun alat itu yang bisa menolongnya.


Sella melangkah meninggalkan Zen yang belum selesai bercerita, meskipun demikian, ia sudah bisa menarik sebuah kesimpulan dan tahu apa yang harus ia lakukan.


Ia mendekati Alrega yang masih bersandar dan duduk di sampingnya, menempel padanya dan meraih keduan tangan yang ada di atas kedua paha. Menggenggam tangan besar milik suaminya yang senang sekali mencengkram dagunya dan memainkan rambutnya. Sekarang juga masih sama, hanya saja tangan berjari panjang dan ramping itu terasa dingin.


Alrega menghadapkan badan ke arah Sella dan menatapnya dengan alis yang bertaut.


"Al, sayang ...." Kata wanita itu sambil menggenggam tangannya erat di depan dada. "Kau tahu, aku mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu, jadi percaya saja bahwa semua baik-baik saja, walau ..."


"Apa?"


"Salah satu di antara kita tiada."


"Hah?" Alrega menarik tangannya tapi Sella kembali meraihnya. Sambil meneruskan kata-katanya, kali ini lebih lembut.


"Dengar, semua orang akan mati, termasuk Nenek. Aku tahu kau paling benci kehilangan, tapi soal kematian, siapa pun tidak bisa mengulangnya, kita pun akan mati suatu saat nanti. Karena kita hanya punya satu nyawa, dan itu tidak bisa di beli dengan kekayaan sebanyak apa pun juga."


"Jadi, kau mau bilang kalau sekarang nenek pergi itu tidak apa?"


"Bukan berarti aku membiarkan Nenek meninggalkan kita begitu saja, tapi setidaknya kita bisa melakukan satu hal yang bisa membuatnya senang sebelum kepeegiannya."


"Apa itu?"


"Aku tidak tahu, yang pasti, jangan berhenti mendo'akan Nenek."


"Apa yang mesti aku do'akan untuk dia?"


Sella berbisik lembut di telinga Alrega, "apalagi kalau bukan kesembuhannya, kalau ia tidak sembuh ... mungkin kematian lebih baik baginya, dari pada hidup tapi selalu sakit dan tidak bisa apa-apa, apalagi sudah melihatmu bahagia."

__ADS_1


Alrega menoleh, secara tiba-tiba, hingga secara sengaja, bibirnya menyambar bibir Sella, yang sedang membisikkan kata bijak padanya.


'Hais, dia ini'


Sella kembali melanjutkan ucapannya, ia menyadari bahwa sikap Alrega yang menyebalkan tadi, adalah reaksi atas senyumannya yang menunjukkan kebahagiaan ditengah kekhawatirnya.


"Apa kau kesal karena aku? Aku cuma senang lihat Ibu dan Ayah mesra, lihat mereka."


Sella dan Alrega menoleh bersamaan ke arah Zania dan Rehandy.


"Kita bisa melakukan hal yang lebih mesra dari mereka." Alrega bicara menunjukkan ketinggian cita-cita yang tidak ingin disaingi.


'Hei, memangnya apa yang akan kau lakukan?'


Alrega merengkuh bahu Sella dengan erat dan mereka duduk lebih rapat, saat itulah, Sella merasakan tubuh Alrega yang lebih hangat dari sebelumnya, ada sedikit gemetar seperti menahan sesuatu dalam dirinya.


"Apa kau gugup? Tenanglah, Nenek akan baik-baik saja."


Alrega menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Sella, dan gadis itu mengusap rambutnya perlahan. Ia melihat sisi lemah pria yang sudah meluluhkan hatinya ini seperti melihat tirai jendela yang baru saja terbuka. Menyadarkan dirinya bahwa tidak ada manusia yang sempurna.


"Dulu kakek pergi juga di tempat itu." kata Alrega terdengar manja.


"Al sayang, semua orang pernah kehilangan dalam hidup, aku pernah kehilangan ayah, kau kehilangan kakek, suatu saat ada orang lain yang kehilangan kita."


"Jangan bicara seperti itu."


"Kan, aku bilang suatu saat ... bukan sekarang. Kalau Nenek sembuh, itu artinya dia akan baik -baik saja bersama kita, walaupun Nenek meninggal, dia tetap baik-baik saja di sana bersama Tuhan."


"Hmm ..."


Alrega mengangkat kepalanya dan beranjak dari duduk, menggamit tangan Sella sambil berkata, "ayo! Kita melihat Nenek."


Sella berdiri sambil menatap heran, ia tidak berharap kata-katanya akan merubah Alrega secepat itu.


"Apa kau yakin akan melihatnya di tempat itu?"


"Iya, kan ada kau di sini." Alrega menggenggam tangan Sella lebih erat seolah takut melepaskannya dan seandainya ia lepaskan maka ia akan mati saat itu juga.


Kedua manusia itu masuk secara perlahan, dan pandangan mereka langsung tertuju pada Marla yang tergolek lemah di atas pembaringan. Sungguh keadaan yang mengerikan, di mana banyak selang terpasang dari sebuah alat seperti ventilator, kardiograf, infus juga tabung oksigen, semua yang terlihat membuat miris.


Sella melihat Marla yang membuka matanya dan ia berusaha tersenyum ketika melihat Sella. Lalu ia berkata dengan suara yang sangat lemah, hingga kedua cucunya itu harus mendekatkan telinganya.


"Aku percaya pada kalian, jaga keluarga Leosan jangan sampai hancur. Jangan rusak rumah tanggamu dan pertahankan pernikahan kalian. Sese, kau menantu terbaik dari semua menantuku. Jaga Rega, dia cucu kesayanganku, Rega ... kau jangan menyakiti istrimu ... aku sudah melunasi janjiku, jadi aku bisa pergi dengan tenang ...." Suaranya terputus-putus, namun Alrega dan Sella bisa mendengar semuanya dengan jelas.


'Janji, memangnya Nenek pernah berjanji apa? Kau berhutang penjelasan padaku, Al!'


Sella menoleh pada Alrega yang berwajah pucat, laki-laki itu tetap bergeming, tangan yang memegang Sella, terasa oleh gadis itu, semakin berkeringat. Sedangkan pandangan matanya tertuju pada Marla yang tersenyum tipis, sangat tipis, dan kembali memejamkan matanya secara perlahan.


Dia wanita ambisius dan juga penyayang, ia selalu campur tangan dalam pernikahan anak-anaknya, termasuk pernikahan Alrega, agar mau menikah dengan wanita pilihannya. Sebenarnya tujuannya baik yaitu agar kehidupan para lelaki itu sempurna dengan wanita yang menurutnya sempurna pula.


Ia selalu menilai bahwa masa depan seorang lelaki, ditentukan oleh wanita yang akan dinikahinya. Namun pada akhirnya, semua anak-anaknya menikah hanya sesuai keinginan mereka sendiri.


Rehandy adalah satu-satunya yang menikah dengan wanita pilihannya, tapi saat ia menyadari kekurangan Zania, ia pun kecewa. Walau Zania anak seorang penguasa, tetap saja ia kecewa, tapi di saat yang sama, Rehandy yang semula tidak menyukai Zania, wanita yang dipilihkan ibunya, justru mulai mencintainya.


Begitu juga saat ia memilih Delisa, wanita yang sudah ia pilih untuk Alrega, ia merasa bahwa gadis itu adalah orang yang tepat mendampingi cucunya.

__ADS_1


Namun, setelah kejadian beberapa hari yang lalu, ia mengetahui sebuah kebenaran tentang Delisa dan membuatnya kembali kecewa. Ia pun menyadari kesalahannya, bahwa ternyata Delisa adalah orang yang sudah menghancurkan pernikahan sendiri dan mempermalukan seluruh keluarga, dengan cara seolah-olah Alrega lah yang bersalah.


Begitu melihat semua bukti yang ada dan merasa bahwa sikapnya pada Sella sangat keterlaluan, ia menjadi sangat merasa bersalah. Ia merenung, diam mengunci diri di kamar, membayangkan kejadian di pesta, ini terjadi kedua kalinya dan semua dilakukan oleh Delisa. Ia ingin sekali minta maaf pada Sella saat itu juga, tapi perempuan itu pergi entah ke mana, ia hanya memegangi kalung berlian yang sudah ia berikan pada Sella.


"Nyonya, Nona Sella sudah ditemukan, beliau ada di hotel dengan Tuan Rega," kata Pak Sim saat itu, memberikan kabar baik padanya dari luar pintu kamarnya. Saat itu juga Marla membuka pintu padahal tubuhnya sudah sangat lemah.


"Syukurlah, berikan ini pada Rega," kata Marla sambil memberikan kalung berlian pada pelayan itu, namun di tariknya kembali.


"Akh, tidak, aku akan memberikannya sendiri, aku harus meminta maaf padanya."


Belum sempat Marla melanjutkan ucapannya, tubuhnya sudah tergolek lemas dan jatuh ke lantai, hingga Rehandy membawanya ke rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan. Diagnosis dokter mengatakan bahwa ia lemah jantung.


Meskipun demikian, keinginannya untuk menyerahkan kalung berlian itu kembali kepada Sella, bisa ia laksanakan ketika mereka bertemu dan saling memaafkan.


Sekarang ia berada di ruang ICU setelah merasa lega. Ia sudah meminta maaf pada Sella, sudah memberi restu dengan sesungguhnya pada pernikahan cucunya. Ia pun sudah melunasi janjinya untuk memberikan kalung berlian langka, hanya untuk menantu yang ia anggap pantas memakainya.


"Nenek!" Panggil Alrega saat melihat mata Marla terus tertutup dan tidak lagi bicara. Pria itu gusar. Sesaat kemudian Rehandy masuk.


Sella menyentuh tangan Marla, masih hangat, nadinya juga masih berdenyut.


"Tidak apa-apa, nenek sepertinya tidur." Sella berkata sambil menepuk pundak Alrega, memberi kekuatan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rehandy.


"Kenapa Ayah di sini?" Alrega balik bertanya, sebab di ruang ICU, tidak diizinkan menjenguk lebih dari dua orang, mereka pun harus mengikuti prosedur kesehatan sebelumnya karena ruang itu harus steril.


"Tidak ada, Ayah. Aku saja yang keluar." Sella berkata sambil melangkah keluar dan menutup pintunya.


"Nenekmu baik-baik saja?"


"Entahlah, dia tidak membuka matanya setelah selesai bicara."


"Apa yang dia katakan?"


"Tidak ada, hanya nasehat buat Sella."


"Oh, tidak ada nasehat untukmu?"


"Ada, Ayah tidak perlu tahu."


Rehandy akan mengatakan sesuatu lagi, saat mesin radiograf di sebelah mereka berbunyi tidak normal. Kedua laki-laki itu panik, dokter yang berjaga pun segera menangani. Mereka semua adalah dokter ahli yang dibayar cukup tinggi.


Semua orang yang di luar ruangan terlihat panik dan gelisah, begitu juga dengan Zen. Padahal Marla tidak mempunyai hubungan dekat dengannya, tapi ia tetap merasa bahwa keluarga Leosan adalah keluarganya juga.


Beberapa saat kemudian, beberapa dokter itu keluar dan memberikan kabar duka, bahwa mereka tidak bisa mempertahankan kehidupan seorang Marla.


Alrega menarik kerah seorang dokter, sambil berkata penuh emosional. "Kalian tidak becus bekerja! Kalian sudah kubayar mahal hanya untuk ini, hah?!"


Sella beringsut maju, menarik tangan Alrega dari kerah baju dokter itu, lalu memeluknya agar tidak melakukan hal yang lebih buruk padanya.


"Sayang, sayang ... tenanglah!" Katanya sambil mengusap punggung Alrega mencoba memberikan ketenangan.


Alrega memundurkan badanya dari dokter yang terlihat bernapas lega. Setelah itu rombongan kecil para dokter itu pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2